Monthly Archives: October 2012

Cara Menyelamatkan Diri Dari Neraka Bag 53 ( Insya Allah )

Standard

 faedah tauhid ( 2)

Kuat Dan Sabarnya

ALLAH Subhaanaahuwata’aalaa

Selasa, 19 Juni 2012 18:00 Muhammad Abduh Tuasikal Belajar Islam
Allah begitu penyabar walau ada yang menyakiti-Nya. Orang NASHRANI mengklaim Allah memiliki ANAK atau KETURUNAN. Allah TIDAK MENYETUJUI  hal ini. Namun di balik itu, Allah masih memberikan pada makhluk-Nya rizki walau mereka menyakiti-Nya. Allah Maha KUAT dan Maha BERSABARlebih dari makhluk-Nya.

عَنْ أَبِى مُوسَى الأَشْعَرِىِّ قَالَ قَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « مَا أَحَدٌ أَصْبَرُ عَلَى أَذًى سَمِعَهُ مِنَ اللَّهِ ، يَدَّعُونَ لَهُ الْوَلَدَ ، ثُمَّ يُعَافِيهِمْ وَيَرْزُقُهُمْ »

Dari Abu Musa Al Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada seorang pun yang lebih SABAR terhadap GANGGUAN yang ia DENGAR daripada Allah. Manusia menyatakan Allah memiliki ANAK. Akhirnya, Allah MEMAAFKAN dan masih memberi RIZKI pada mereka.” (HR. Bukhari no. 7378)

Hadits di atas menerangkan sifat SABAR bagi Allah, yaitu Allah begitu PENYABAR lebih dari orang-orang yang BERSABAR ketika menghadapi COBAAN. Imam Bukhari telah memasukkan hadits ini pada Bab firman Allah Ta’ala,

إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ

Sesungguhnya Allah Dialah Maha PEMBERI rezki Yang mempunyai KEKUATAN lagi Sangat KOKOH.” (QS. Adz Dzariyat: 58). Hal ini karena Imam Bukhari menilai bahwa yang dimaksudkan SABARNYA Allah kembali pada makna kuatnya Allah. Dari sinilah terlihat kaitan antara hadits di atas dengan judul bab yang dibawakan oleh Imam Bukhari. Hadits ini didukung pula oleh hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda bahwa Allah Ta’ala berfirman,

شَتَمَنِى ابْنُ آدَمَ وَمَا يَنْبَغِى لَهُ أَنْ يَشْتِمَنِى ، وَتَكَذَّبَنِى وَمَا يَنْبَغِى لَهُ ، أَمَّا شَتْمُهُ فَقَوْلُهُ إِنَّ لِى وَلَدًا . وَأَمَّا تَكْذِيبُهُ فَقَوْلُهُ لَيْسَ يُعِيدُنِى كَمَا بَدَأَنِى

Manusia telah mencela-Ku dan tidak PANTAS baginya mencela-Ku. Dan manusia mendustakan-KU dan tidak PANTAS baginya berbuat seperti itu. Celaan manusia pada-Ku yaitu Aku dikatakan memiliki ANAK. Sedangkan mereka mendustakan-Ku dengan mengatakan bahwa Aku tidak mungkin MENGHIDUPKANNYA kembali sebagaimana Aku telah menciptakannya” (HR. Bukhari no. 3193).

Beberapa faedah dari hadits di atas:

1. Menyatakan Allah memiliki ANAK atau KETURUNAN termasuk menyakiti Allah sebagaimana yang dilakukan oleh orang Nashrani dan orang musyrik.

2. Wajib MENSUCIKAN Allah dari ANAK. Allah sendiri telah MENSUCIKAN  diri-Nya dari demikian dalam berbagai ayat Al Qur’an sebagaimana dalam surat Al Ikhlas dan selainnya. Dan ini sebagai bantahan untuk orang YAHUDI, NASHRANI dan orang MUSYRIK.

3. Allah disifati dengan sifat SABAR terhadap yang menyakiti-Nya.

4. Tidak ada yang lebih SABAR dari Allah Ta’ala. Adapun menetapkan bahwa Allah memiliki nama “Ash Shobuur”, maka sebenarnya tidak ada dalil yang mendukung hal ini. Sebagian ulama ada yang menetapkan Allah dengan nama Ash Shobuur (Maha Penyabar) dan ada yang tidak menetapkannya. Di antara ulama yang menyebutkannya adalah Imam Tirmidzi dalam rangkaian nama-nama Allah (asmaul husna). Yang tepat menurut para ulama muhaqqiqin, merangkaikan 99 NAMA bagi Allah tidaklah disebutkan dalam hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun hanya dikumpulkan oleh para perowi hadits saja.

5. Perbedaan antara “adza” (menyakiti) dan “dhoror” (mendatangkan bahaya atau memudhorotkan) bagi Allah Ta’ala. Tidak ada perbuatan manusia yang dapat memudhorotkan (mendatangkan BAHAYA pada) Allah. Namun kalau sebagian perbuatan hamba MENYAKITI Allah, kita katakan iya. Oleh karenanya, Allah menafikan (meniadakan) dhoror (bahaya) bagi diri-Nya sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala,

إِنَّهُمْ لَنْ يَضُرُّوا اللَّهَ شَيْئًا

Sesungguhnya mereka tidak dapat membahayakan Allah sedikitpun.” (QS. Ali Imran: 176).

Dalam hadits qudsi disebutkan, Allah Ta’ala berfirman,

يَا عِبَادِى إِنَّكُمْ لَنْ تَبْلُغُوا ضَرِّى فَتَضُرُّونِى

Wahai hamba-Ku, kalian sungguh tidak dapat memberikan dhoror (bahaya) sehingga memudhorotkan-Ku.” (HR. Muslim no. 2577).

Namun kalau Allah disakiti (diberi “adza”) maka telah disebutkan dalam ayat,

إِنَّ الَّذِينَ يُؤْذُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآَخِرَةِ وَأَعَدَّ لَهُمْ عَذَابًا مُهِينًا

Sesungguhnya orang-orang yang MENYAKITI Allah dan Rasul-Nya. Allah akan melaknatinya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan” (QS. Al Ahzab: 57).

Begitu juga dalam hadits qudsi, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah Ta’ala berfirman,

يُؤْذِينِى ابْنُ آدَمَ ، يَسُبُّ الدَّهْرَ وَأَنَا الدَّهْرُ

Manusia telah menyakiti-Ku, mereka mencela WAKTU, padahal Aku-lah yang mengatur WAKTU” (HR. Bukhari no. 7491 dan Muslim no. 2246).

6. Konsekuensi dari sifat sabar bagi Allah adalah Dia MEMAAFKAN orang yang mencela-Nya dengan mengatakan Allah memiliki ANAK dan Dia masih tetap memberikan rizki padanya.

7. Nikmat dunia diberikan Allah pada orang baik dan orang jahat sekaligus. Jadi diberikan nikmat dunia pada seseorang tidak menunjukkan dia mulia.

8. Allah memiliki sifat MENDENGAR.

9. Allah Maha Mendengar orang yang mencela dan menyakiti-Nya. Lalu Allah memaafkan dan masih tetap memberi rizki pada mereka. Inilah yang menunjukkan sifat hilm atau kasih sayang Allah.

10. Haramnya melakukan segala yang dapat MENYAKITI Allah Ta’ala baik dengan perbuatan atau perkataan. Segala sesuatu yang menyakiti Allah menunjukkan bahwa Allah tidak menyukainya.

Moga menjadi faedah berharga bagi yang mau merenungkan indah dan mulianya nama dan sifat Allah.

(*) Faedah tauhid di sini adalah kumpulan dari faedah pelajaran tauhid bersama Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir Al Barrok hafizhohullah. Beliau seorang ulama senior yang sangat pakar dalam akidah. Beliau menyampaikan pelajaran ini saat dauroh musim panas di kota Riyadh di Masjid Ibnu Taimiyah Suwaidi (27 Rajab 1433 H). Pembahasan tauhid tersebut diambil dari kitab Shahih Bukhari yang disusun ulang oleh Az Zubaidi dalam Kitab At Tauhid min At Tajriid Ash Shoriih li Ahaadits Al Jaami’’ Ash Shohih.

@ Ummul Hamam, Riyadh, KSA, 29 Rajab 1433 H

www.rumaysho.com

Advertisements

Cara Menyelamatkan Diri Dari Neraka Bag 52 ( Insya Allah )

Standard

KESOMBONGAN ITU TERBAGI 2

( DILIHAT DARI SISI SUDUT  PANDANGNYA )

KESOMBONGAN itu terbagi 2 BAGIAN wahai Pembaca YangBudiman ……  akan tetapi ……….  dari sisi sudut Pandangnya  yaitu YANG PERTAMA dari sisi sudut Pandang MANUSIA dan YANG KEDUA dari sisi sudut Pandang  ALLAH SUBHAANAAHUWATA’AALAA. Kesombongan itu Apabila Di Ukur Dari Sudut PANDANG Manusia …… BELUM TENTU  SOMBONG Dihadapan Allah Subhaanaahuwata’aalaa …….  Akan Tetapi  Wahai Pembaca Yang Budiman ……. ! Apabila KESOMBONGAN itu Di UKUR dari Sudut Pandang ALLAH Subhaanaahuwata’aalaa ……. Sudah menjadi KEPASTIAN dan itu PASTI SOMBONG di hadapan MANUSIA ……… Insya Allah Kita akan Mengambil Beberapa Permisalan  Yang mudah – mudahan Permisalan – Permisalan ini memberikan MANFAAT Buat Kita SEMUA …… Wahai Pembaca Yang Budiman Kita akan Mengambil Permisalan KESOMBONGAN dari sudut PANDANG Manusia ……….  :  Kita Berikan Permisalan  antara Si A dan Si B ………. pada suatu Waktu si A melihat Temannya Si B  yang sedang Mengendarai Sepeda MOTOR , Kemudian Si A memanggil temannya yaitu Si B ….. kita berikan contoh nama si B adalah BUDI ( Qadarullah / sudah takdir dari Allah ………. Si Budi Sedang Membelakangi Si A  ) …… Lalu … Si A memanggil …… “ BUDI ….. BUDI …… BUDI …….. Bud ……. Bud ……..Budd…….. mau kemana ……… Bud………Bud Mau Kemana …….. sampai 3 Kali ….. tidak Dijawab Panggilan Si A oleh  Si Budi ……….”  Kemudian Bersangka Buruklah Si A  dengan Mengatakan……. “ SOMBONG Sekali si Budi ……. Di panggil 3 kali ngga Nengok……. “ Pertannyaannya adalah ….. Apakah Sibudi Benar benar SOMBONG Menurut Allah Subhaanaahuwata’aalaaa…… Sebagaimana SANGKAAN Si A ? …….. Insya Allah Jawabannya adalah “ BELUM TENTU Wahai Pembaca Yang Budiman ….. ! Mengapa ? Karena ….. BOLEH Jadi Ketika SI A Memanggil Si BUDI ……. Budi Sedang Melamun ………. Atau BOLEH JADI BUDI ….. Sedang MEMIKIRKAN Sebuah Masalah Pribadinya yang sangat PELIK ………..  atau MEMIKIRKAN Masalah KELUARGA atau masalah masalah lainnya yang berkaitan dengan DIRINYA  sehingga BUDI tidak Mendengar panggilan yang di tujukan Kepadanya. Akan tetapi SEBALIKNYA wahai Pembaca Yang Budiman …….. Apabila SESUATU Hal itu Di Katakan SOMBONG Oleh Allah Subhaanaahuwata’aalaa Sang Pencipta Jagad Raya ini , MAKA ….. Sudah Menjadi KEPASTIAN Bahwasanya Hal itu PASTI Sombong Di Hadapan MANUSIA………………. !  Insya Allah Kita akan Memberikan SEBUAH permisalan lagi yang mudah –mudahan permisalan ini bisa memberikan MANFAAT Bagi Kita SEMUA di dunia dan Di akhirat kelak ….. aamiin …… , .         Contoh yang sering sekali kita melihat yaitu Menjulurkan Kain Di bawah MATA KAKI atau memakai SARUNG atau CELANA PANJANG melebihi MATA KAKI atau dalam istilah Syar’i di kenal dengan sebutan ” ISBAL” / Menjulurkan KAIN atau yang SEMACAMNYA sampai melebihi batas MATA Kaki …….. Baik Karena SOMBONG ataupun TIDAK ….

Dari Abu Juray Jaabir bin Salim radliyallaahu ‘anhu ia berkata : Aku melihat Seorang LAKI-LAKI yang pemikirannya senantiasa DITERIMA oleh RAKYAT banyak dan tidak ada seorang pun yang mengomentari ucapannya. Aku bertanya : “Siapa ini ?”. Mereka menjawab : “Ini Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam”. Lalu aku katakan : “Alaikas-Salaam ya Rasulullah”. Sebanyak dua kali. Maka beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Jangan kamu ucapkan ‘alaikas-salaam, karena ucapan ‘alaikas-salaam itu adalah ucapan selamat terhadap orang yang mati. Tapi ucapkanlah : Assalamu ‘alaika”. Aku bertanya : “Apakah engkau Rasulullah ?”. Beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam menjawab : “Aku adalah Rasulullah (UTUSAN ALLAH). Apabila kamu tertimpa MARABAHAYA lalu berdoa kepada-Nya, maka MARABAHAYA tersebut akan lenyap darimu. Apabila daerahmu sedang dilanda KEGERSANGAN lalu kamu BERDOA kepada-Nya, maka BUMIMU akan kembali SUBUR. Apabila kamu berada di sebuah padang TANDUS lalu kendaraanmu HILANG kemudian kamu berdoa kepada-Nya, maka Dia akan MENGEMBALIKAN kendaraanmu itu”. Aku katakan : “Berikan kepadaku SEBUAH Wasiat”. BELIAU bersabda :“Jangan CELA Siapapun. Maka ia (Juray bin Salim) berkata : “Maka mulai saat ini TIDAK ada seorang pun yang aku CELA, baik orang MERDEKA, Budak, Unta, maupun Kambing”. Beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Jangan engkau SEPELEKAN perbuatan BAIK walau Sedikit. Berbicaralah kepada saudaramu dengan WAJAH Berseri-Seri sebab hal itu juga sebuah Kebaikan. ANGKAT Kain SARUNGMU Hingga SETENGAH Betis. Jika engkau ENGGAN, maka JULURKAN Persis di ATAS Mata Kaki. JANGANLAH kamu Melakukan ISBAL, sebab ISBAL itu TERMASUK perbuatan SOMBONG (al-makhillah). Sesungguhnya ALLAH tidak Menyukai KESOMBONGAN. Apabila ada seseorang yang mencela atau mencacimu dengan sesuatu yang ia ketahui dari dirimu, maka jangan engkau BALAS mencercanya dengan sesuatu yang engkau ketahui dari dirinya. Sebab, BENCANA tersebut hanya akan MENIMPA dirinya sendiri [HR. Abu Dawud nomor 4084; dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud juz 2 halaman 515-516].

 

“Mari kita perhatikan kalimat { وارفع إزارك إلى نصف الساق فإن أبيت فإلى الكعبين وإياك وإسبال الإزار فإنها من المخيلة وإن الله لا يحب المخيلة } ANGKAT kain SARUNGMU hingga Setengah BETIS. Jika engkau ENGGAN, maka JULURKAN Persis di ATAS MATA KAKI. JANGANLAH Kamu melakukan ISBAL, sebab ISBAL itu termasuk perbuatan SOMBONG (al-makhillah). Sesungguhnya Allah tidak Menyukai  KESOMBONGAN.

Di sini Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam menyebut TIGA keadaan KAIN SARUNG. Dua DIPERBOLEHKAN, dan SATU DILARANG. Dua diperbolehkan yaitu keadaan SETENGAH Betis; dan KEADAAN Dijulurkan SAMPAI batas Maksimal Mata Kaki. HAL INI adalah PENEGASAN Perintah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam : irfa’ izaarak ( ANGKATLAH Kain Sarungmu ) !! . Kemudian Dua keadaan yang DIPERBOLEHKAN tersebut diikuti dengan SATU keadaan yang TIDAK DIPERBOLEHKAN, yaitu MELEBIHI BATAS KAKI dengan kalimat larangan : wa iyyaaka wa isbaala (JANGANLAH/JAUHILAH kamu dari melakukan ISBAL). Kalimat ini adalah kalimat larangan MUTHLAQ tanpa ada indikasi KEBOLEHAN jika TANPA Kesombongan ……. (  maksudnya menjulurkan kainnya dengan Sombong atau tidak sombong sama saja ……… tetap saja KITA diperintahkan oleh Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam ……. agar jangan Menjulurkan Kain Sampai Melewati Batas Mata Kaki )

Wahai Pembaca yang budiman ……. Berdasarkan Hadist di atas kita Insya Allah Mengetahui bahwasanya ISBAL atau Menjulurkan Kain Di bawah MATA KAKI itu termasuk KESOMBONGAN dan kita juga mengetahui Insya Allah bahwasannya Sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam itu BERASAL dari Allah Subhaanaahuwata’aalaa ……………Jadi …….. pada hakekatnya yang mengatakan ” ISBAL atau Menjulurkan Kain sampai Melewati Batas Mata Kaki itu SOMBONG…….. ” adalah ALLAH SUBHAANAAHUWATA’AALAA …… yang Mengatakannya Adalah Allah Subhaanaahuwata’aalaa wahai pembaca yang budiman ….  ! hal ini mengindikasikan bahwasanya Siapa Saja yang menjulurkan kainnya melebihi batas Mata kaki ……….. BERARTI orang tersebut sedang Melakukan KESOMBONGAN …… TERKECUALI orang yang melakukannya itu BELUM Mengetahui Hukumnya yaitu Belum mengetahui Jikalau MENJULURKAN Kain sampai Melewati BATAS Mata Kaki Itu Merupakan KESOMBONGAN……………….. insya Allah Orang Seperti ini ( Yang Belum Tahu itu ) Di MAAFKAN ….. Akan Tetapi Apabila orang tersebut sudah Mengetahui HUKUMNYA Paham Maknanya dan Tahu MAKSUDNYA kemudian ia TIDAK mau Mengamalkannya ……… maka hal ini URUSANNYA kita serahkan saja Ilmunya Kepada Allah Subhaanahuwata’aalaa…………Jika Allah Menghendaki Maka Allah Subhaanaahuwata’aalaa akan Mengadzabnya dan jika Allah Menghendaki Maka Allah Subhaanaahuwata’aalaa Bisa saja akan Mengampuninya1……. dan kita memohon kepada Allah Yang Maha Pengampun Semoga kita termasuk Hamba-hamba-NYA yang mendapatkan Pengampunan dari – NYA.

Wallahu a’lam Bisshowaab

 

Catatan Kaki :

  1. Selama Orang tersebut Masih MUSLIM

Cara Menyelamatkan Diri Dari Neraka Bag 51 ( Insya Allah )

Standard

ADAB-ADAB BERCANDA

Oleh : Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc

ADAB BERCANDA

1. Tidak berkata DUSTA.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: CELAKA bagi orang yang berbicara DUSTA agar orang-orang TERTAWA, CELAKA dan CELAKA“. (HR Abu Dawud, An Nasai dan At Tirmidzi).
Anekdot-anekdot yang FIKTIF masuk dalam kategori DUSTA, seperti CERITA-CERITA yg dibuat-buat.

2. Tidak BERLEBIHAN.

Karena banyak tertawa dapat mematikan hati, Nabi bersabda: “Jauhilah banyak tertawa, karena banyak tertawa mematikan hati”. (Shahih targhih).

3. Tidak menjadikannya sebagai PROFESI, berdasarkan hadits di atas poin 1.

4. Tidak MENYAKITI Hati seorang MUSLIM.
Karena menyakiti HATI Muslim adalah HARAM. Nabi bersabda: Allah berfirman: “Siapa yang MENYAKITI waliKu maka Aku mengumumkan PERANG dengannya”. (Bukhari Muslim).

5. Tidak berisi GHIBAH.
Seperti MEMPRAKTEKAN Jalan seseorang yg CACAT, untuk Memperolok dan lainnya.

6. Tidak mengandung perolokkan terhadap AL QUR’AN dan AGAMA Allah.

7. Bercanda untuk menimbulkan suasana keakraban dan menghilangkan kesenjangan merupakan hal yg baik, selama dihindari perkara-perkara di atas.

Cara Menyelamatkan Diri Dari Neraka Bag 50 ( Insya Allah )

Standard

Bercanda Menurut Pandangan Islam

BERCANDA MENURUT PANDANGAN ISLAM

Oleh
Ustadz Abu Ihsan al-Atsari

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu SURI TELADAN yang baik bagimu, yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat, dan dia banyak menyebut Allah. [al-Ahzâb/33:21].

RASULULLAH SHALLALLAHU ALAIHI WA SALLAM JUGA BERCANDA
Sebagai MANUSIA biasa, KADANG kala beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga BERCANDA. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam SERING mengajak istri, dan para sahabatnya BERCANDA dan BERSENDA GURAU, untuk mengambil hati, dan membuat mereka GEMBIRA. Namun CANDA beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam TIDAK berlebihlebihan, tetap ada BATASANNYA. Bila TERTAWA, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam TIDAK MELAMPAUI BATAS tetapi hanya TERSENYUM. Begitu pula, meski dalam keadaan BERCANDA, beliau Tidak BERKATA kecuali yang BENAR.

Dituturkan ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha:

مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّه صلىاللّه عليه وسلم مُستَجْمِعًا قَطُّ ضَا حِكًا حَتَّى تُرَى مِنْهُ لَهَوَاتُهُ إِنَمَا كَانَ يَتَبَسَّمُ

Aku belum pernah melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam TERTAWA terbahak-bahak hingga kelihatan lidahnya, namun beliau hanya tersenyum.[1]

Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu menceritakan, para sahabat bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Wahai, Rasulullah! Apakah engkau juga BERSENDA GURAU bersama kami?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: Betul, hanya saja aku selalu berkata benar. [2]

BEBERAPA CONTOH CANDA NABI SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM
1. Anas Radhiyallahu ‘anhu menceritakan salah satu BENTUK canda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memanggilnya dengan sebutan:

يَا ذَا الاُّ ذُ نَيْنِ

WAHAI, Pemilik Dua Telinga! [3]

2. Anas Radhiyallahu ‘anhu mengisahkan, Ummu Sulaim Radhiyallahu ‘anha memiliki seorang putera yang bernama Abu ‘Umair. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sering bercanda dengannya setiap kali beliau datang. Pada suatu hari beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang mengunjunginya untuk BERCANDA, namun tampaknya anak itu sedang SEDIH. Mereka berkata: “Wahai, Rasulullah! Burung yang biasa diajaknya BERMAIN sudah MATI,” lantas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam BERCANDA dengannya, beliau berkata:

يَا اَبَا عُميرٍ مَا فَعَلَ النُغَيْرُ

WAHAI Abu ‘Umair, apakah gerangan yang sedang dikerjakan oleh BURUNG kecil itu?” [4]

3. Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu bercerita, ada seorang pria dusun bernama Zahir bin Haram. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam SANGAT menyukainya. Hanya saja TAMPANG pria ini JELEK.

Pada suatu hari, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menemuinya ketika ia sedang MENJUAL barang DAGANGAN. Tiba-tiba Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam MEMELUKNYA dari BELAKANG, sehingga ia TIDAK dapat melihat beliau. Zahir bin Haram pun berseru: “Lepaskan aku! Siapakah ini?”

Setelah menoleh iapun mengetahui, ternyata yang MEMELUKNYA ialah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka iapun tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk merapatkan punggungnya ke dada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berkata: “Siapakah yang SUDI membeli Hamba Sahaya ini?”

ia menyahut,”Demi Allah, wahai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika demikian aku tidak akan Laku dijual!”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam MEMBALAS: “Justru di sisi Allah  engkau SANGAT MAHAL harganya!” [5]

4. Diriwayatkan dari Anas Radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya seorang laki-laki datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata: “Wahai Rasulullah, bawalah aku?” Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Kami akan membawamu di atas anak onta.” Laki-laki itu berkata: “Apa yang bisa aku lakukan dengan anak onta?” Maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “BUKANKAH Onta yang Melahirkan Anak Onta?” [6]

5. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga sering kali BERCANDA dan MENGGODA Aisyah Radhiyallahu ‘anha.

Suatu kali beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya: “Aku tahu KAPAN engkau SUKA kepadaku dan KAPAN engkau MARAH kepadaku,” Aku
(‘Aisyah) menyahut: “Darimana engkau tahu?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Kalau engkau SUKA kepadaku engkau akan mengatakan, ‘TIDAK, Demi Rabb Muhammad,’ dan kalau engkau marah kepadaku engkau akan mengatakan, “TIDAK, Demi Rabb Ibrahim”. Aku (‘Aisyah) menjawab: “Benar, demi Allah! Tidaklah aku menghindari melainkan namamu saja.”[7]

6. Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu menceritakan: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah MENJULURKAN lidahnya BERCANDA dengan al-Hasan bin Ali Radhiyallahu ‘anhu. Ia pun melihat merah lidah beliau, lalu ia segera menghambur menuju beliau dengan RIANG gembira.” [8]

CANDA YANG DIBOLEHKAN

Ada kalanya kita mengalami KELESUAN dan KETEGANGAN setelah menjalani KESIBUKAN. Atau muncul RASA JENUH dengan berbagai RUTINITAS dan KESIBUKAN sehari-hari. Dalam kondisi seperti ini, kita membutuhkan penyegaran dan bercanda. Kadang kala kita BERCANDA dengan KELUARGA atau dengan SAHABAT. Hal ini merupakan sesuatu yang sangat MANUSIAWI dan DIBOLEHKAN. Begitu pula Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga MELAKUKANNYA. Jika kita ingin melakukannya, maka harus memperhatikan beberapa hal yang PENTING dalam BERCANDA.

1. Meluruskan Tujuan.
Yaitu bercanda untuk MENGHILANGKAN kepenatan, rasa BOSAN dan LESU, serta MENYEGARKAN Suasana dengan CANDA yang DIBOLEHKAN. Sehingga kita bisa memperoleh GAIRAH baru dalam melakukan hal-hal yang BERMANFAAT.

2. Jangan Melewati Batas.
Sebagian orang sering KEBABLASAN dalam BERCANDA hingga MELANGGAR Norma-Norma. Dia mempunyai MAKSUD Buruk dalam BERCANDA, sehingga bisa MENJATUHKAN Wibawa dan Martabatnya di hadapan MANUSIA. Orang-orang akan memandangnya RENDAH, karena ia telah Menjatuhkan martabatnya sendiri dan tidak menjaga wibawanya. Terlalu BANYAK Bercanda akan MENJATUHKAN wibawa seseorang.

3. Jangan Bercanda Dengan Orang Yang Tidak Suka Bercanda.
Terkadang ada orang yang bercanda dengan seseorang yang TIDAK SUKA bercanda, atau TIDAK suka dengan CANDA orang tersebut. Hal itu akan menimbulkan AKIBAT BURUK. Oleh karena itu, LIHATLAH dengan siapa kita hendak BERCANDA.

4. Jangan Bercanda Dalam Perkara-Perkara Yang Serius.
Ada beberapa kondisi yang tidak sepatutnya bagi kita untuk BERCANDA. Misalnya dalam majelis PENGUASA, majelis ILMU, majelis HAKIM, ketika memberikan PERSAKSIAN, dan lain sebagainya.

5. Hindari Perkara-Perkara Yang DILARANG Allah Subhanahu Wa Ta’ala Saat BERCANDA.
TIDAK BOLEH bercanda atau bersenda gurau dalam perkara yang dilarang oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, di antaranya sebagai berikut.

– Menakut-nakuti seorang muslim dalam BERCANDA. Ada orang yang BERCANDA dengan memakai sesuatu untuk menakut-nakuti temannya. Misalnya, seperti memakai TOPENG yang menakutkan pada wajahnya, BERTERIAK dalam kegelapan, atau MENYEMBUNYIKAN barang milik temannya, atau yang sejenisnya. Perbuatan seperti ini TIDAK dibolehkan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ يَأْ خُذَنَّ أحَدُكُمْ مَتَا عَ أَخِيهِ لاَ عِبًا وَلاَ جَادًّا

Janganlah salah seorang dari kalian MENGAMBIL barang milik saudaranya, baik BERCANDA maupun BERSUNGGUH-SUNGGUH.[9]

Pernah terjadi, ketika salah seorang sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang tidur, datanglah seseorang lalu MENGAMBIL cambuknya, dan MENYEMBUNYIKANNYA. Pemilik cambuk itupun merasa takut. Sehingga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَيَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يُرَوِّعَ مُسلِمًا

TIDAK HALAL
bagi seorang muslim membuat takut muslim yang lain.[10]

INTINYA, tidak boleh menakuti-nakuti seorang muslim MESKIPUN Hanya untuk BERCANDA, terlebih lagi jika dengan Sungguh-Sungguh.

– BERDUSTA saat bercanda.
Banyak orang yang dengan SESUKA hatinya BERCANDA, tak segan BERDUSTA dengan ALASAN Bercanda. Padahal BERDUSTA dalam BERCANDA ini TIDAK dibolehkan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْت فِي رَبَضِ الْجَنّّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كََانَ مُحقًّا وَبِبَيْتٍ فِي وَسَط الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِ بَ وَإِنْ كَانَ مَازِ حًا وَبِبَيتِ فِي أَغلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسَّنَ خُلُقَهُ

Aku MENJAMIN dengan sebuah istana di bagian TEPI SURGA bagi orang yang MENINGGALKAN DEBAT meskipun ia berada di PIHAK yang BENAR, sebuah istana di bagian TENGAH SURGA bagi orang yang MENINGGALKAN DUSTA meski ia sedang BERCANDA, dan istana di bagian ATAS SURGA bagi seorang yang Memperbaiki AKHLAKNYA.

Demikianlah yang dilakukan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau tetap berkata jujur meskipun sedang bercanda. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنِّي لأَمْزَحُ وَلاَ أَقُوْلُ إِلاَّ حَقًا

Sesungguhnya aku juga BERCANDA, Namun aku TIDAK mengatakan KECUALI yang BENAR. [11]

Oleh karena itu, tidak boleh BERDUSTA ketika BERCANDA. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan ANCAMAN terhadap orang yang BERDUSTA untuk membuat orang lain TERTAWA dengan sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

وَيْلٌ للَّذِي يُحَدِّ ثُ فَيَكْذِبُ لِيُضْخِكَ بِهِ الْقَوْمَ ويْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ

Celakalah seseorang yang BERBICARA DUSTA untuk membuat orang TERTAWA, Celakalah Ia, Celakalah Ia. [12]

Apalagi bila dalam candanya itu ia Menyebut AIB dan RAHASIA orang lain, atau MENCELA dan MENGEJEK orang lain.

– Melecehkan sekelompok orang tertentu.
Misalnya BERCANDA dengan MELECEHKAN orang-orang tertentu, penduduk daerah tertentu, atau PROFESI tertentu, atau BAHASA tertentu, atau menyebut AIB mereka dengan MAKSUD untuk bercanda dan membuat orang lain TERTAWA. Perbuatan ini SANGAT dilarang.

– Canda yang berisi TUDUHAN dan FITNAH terhadap orang lain.
Kadang kala ini juga terjadi, terlebih bila CANDA itu sudah LEPAS kontrol. Sebagian orang BERCANDA dengan temannya lalu ia MENCELA, MEMFITNAHNYA, atau MENYIFATINYA dengan Perbuatan KEJI. Seperti ia mengatakan kepada temannya, ‘hai Anak Hantu,’ dan kata-kata sejenisnya untuk membuat orang TERTAWA. SANGAT Disayangkan, hal seperti ini nyata terjadi di tengah orang-orang KEBANYAKAN dan JAHIL. Oleh karena itu, hendaklah kita jangan KETERLALUAN dalam BERCANDA, sehingga Melampui Batas.

6. Hindari Bercanda Dengan Aksi Dan Kata-Kata Yang Buruk.
Banyak orang yang TIDAK MENYUKAI bercanda seperti ini. Dan seringkali berkembang menjadi PERTENGKARAN dan PERKELAHIAN. Sering kita dengar kasus PERKELAHIAN yang terjadi BERAWAL dari CANDA. Maka TIDAK sepatutnya BERCANDA dengan aksi kecuali dengan orang yang sudah terbiasa dan bisa menerima hal itu. Sebagaimana para sahabat saling melempar kulit semangka setelah memakannya. [13]

Adapun bercanda dengan kata-kata yang BURUK tidak dibolehkan sama sekali. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman:

وَقُل لِّعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنزَغُ بَيْنَهُمْ ۚ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلْإِنسَانِ عَدُوًّا مُّبِينًا

Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: “hendaklah mereka MENGUCAPKAN perkataan yang lebih BAIK (benar). Sesungguhnya SETAN itu Menimbulkan PERSELISIHAN di antara Mereka. Sesungguhnya SETAN itu adalah MUSUH yang NYATA bagi manusia”. [al-Isrâ`/17:53].

7. Tidak Banyak Tertawa.
Banyak orang yang TERTAWA berlebihlebihan sampai Terpingkal-Pingkal ketika BERCANDA. Ini BERTENTANGAN dengan SUNNAH. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah MENGINGATKAN agar TIDAK Banyak TERTAWA, beliau bersabda :

وَيْلٌ للَّذِي يُحَدِّ ثُ فَيَكْذِبُ لِيُضْخِكَ بِهِ الْقَوْمَ ويْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ

“Janganlah kalian BANYAK Tertawa. Sesungguhnya banyak TERTAWA dapat MEMATIKAN hati.”

Seperti yang telah dijelaskan di atas dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha. Banyak tertawa dapat mengeraskan hati dan mematikannya.

8. Bercanda Dengan Orang-Orang Yang Membutuhkannya.
Seperti dengan kaum wanita dan anak-anak. Itulah yang dilakukan oleh Nabi Shalalllahu ‘alaihi wa sallam, yaitu sebagaimana yang beliau lakukan terhadap ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha dan al Hasan bin Ali, serta seorang ANAK KECIL bernama Abu ‘Umair.

9. Jangan Melecehkan Syiar-Syiar Agama Dalam Bercanda.
Umpamanya celotehan dan guyonan para pelawak yang mempermainkan SIMBOL-SIMBOL agama, AYAT-AYAT AL-QUR‘AN dan syiar-syiarnya, wal iyâdzu billâh! Sungguh perbuatan itu bisa menjatuhkan pelakunya dalam KEMUNAFIKAN dan KEKUFURAN.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَحْذَرُ الْمُنَافِقُونَ أَن تُنَزَّلَ عَلَيْهِمْ سُورَةٌ تُنَبِّئُهُم بِمَا فِي قُلُوبِهِمْ ۚ قُلِ اسْتَهْزِئُوا إِنَّ اللَّهَ مُخْرِجٌ مَّا تَحْذَرُونَ وَلَئِن سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ ۚ قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ

Orang-orang MUNAFIK itu TAKUT akan DITURUNKAN terhadap mereka sesuatu SURAT yang MENERANGKAN apa yang TERSEMBUNYI di dalam HATI mereka. Katakanlah kepada mereka: “Teruskanlah EJEKAN-EJEKANMU (terhadap Allah dan Rasul-Nya)”. Sesungguhnya Allah akan MENYATAKAN apa yang kamu TAKUTI. Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentu mereka akan menjawab: “Sesungguhnya kami hanya BERSENDA GURAU dan BERMAIN-MAIN saja”. Katakanlah: “Apakah dengan ALLAH, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu BEROLOK-OLOK?”. [at-Taubah/9:64-65]

Dan MENGANGUNGKAN syiar agama merupakan tanda KETAKWAAN hati. Allah berfirman:

ذَٰلِكَ وَمَن يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقْوَى الْقُلُوبِ

Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati. [al-Hajj/22:32].

Demikianlah, semoga dengan tulisan ini kita bisa mengetahui kedudukan BERCANDA dalam pandangan ISLAM, mengetahui CANDA Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan batasan-batasan yang DIBOLEHKAN dalam bercanda. Sehingga kita dapat membedakan antara bercanda yang DIBOLEHKAN dan yang TIDAK DIBOLEHKAN.

Maraji‘:
1. Tafsîr al-Qur‘ânil-’Azhîm, Imam Ibnu Katsîr.
2. Bahjatun-Nâzhirîn Syarh Riyâdhish-Shâlihîn, Syaikh Salîm bin ‘Id al-Hilâli.
3. Durruts-Tsamîn min Riyâdhish-Shâlihîn, ‘Abdul-’Azîz Sa’ad al-’Utaibi.
4. Mausû’ah al-Adabil-Islâmiyyah, ‘Abdul Azîz bin Fathis-Sayyid Nadâ, Dâruth-Thayyibah, Cetakan Kedua, Tahun 1425 H – 2004 M.
5. Shahîh al-Jami’ish-Shaghir, Syaikh Muhammad Nâshiruddîn al-Albâni, al-Maktab al-Islami, Cetakan Ketiga, Tahun 1410 H – 1990.
6. Silsilatul Ahâdits Shahîhah, Syaikh Muhammad Nâshiruddîn al-Albâni, disusun oleh Syaikh Abu ‘Ubaidah Masyhur Hasan Salman, Maktabatul-Ma’ârif, Riyadh, Cetakan Pertama.
7. Sirah Shahîhah, Dhiyâ al-‘Umari. 8. Sunan Abu Dawud, Tashih: Syaikh Muhammad Nâshiruddîn al-Albâni, dan disusun oleh Syaikh Abu ‘Ubaidah Masyhur Hasan Salman, Maktabatul-Ma’ârif, Riyadh, Cetakan Pertama.
9. Yaumun fî Baiti Rasulillah, ‘Abdul-Malik bin Muhammad al-Qâsim, Darul-Qasim, Cetakan Pertama, Tahun 1419 H.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 09/Tahun XI/1428H/2007M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondanrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]
_______
Footnote
[1]. Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhâri dan Imam Muslim.
[2]. Diriwayatkan oleh Ahmad dengan sanad yang shahîh.
[3]. Diriwayatkan oleh Ahmad (III/117, 127, 242, 260), Abu Dawud (5002), at-Tirmidzi (1992). Lihat Shahîh al- Jâmi’ (7909).
[4]. Diriwayatkan oleh Abu Dawud.
[5]. Diriwayatkan oleh Ahmad (III/161), at-Tirmidzi dalam asy-Syamil (229), al-Baghawi dalam Syarh Sunnah (3604).
[6]. Abu Dawud (4998), dan at-Tirmidzi (1991) dari Anas. Shahîh Abu Dawud (4180).
[7]. Muttafaqun ‘Alaihi, Shahîh al-Bukhâri, sebagaimana terdapat dalam Fathul-Bari (9/325), Shahîh Muslim (3/1890, hadits nomor 2439).
[8]. Lihat Silsilah Ahâdîts Shahîhah, nomor hadits 70.
[9]. Diriwayatkan oleh Abu Dawud (5003), dan at-Tirmidzi (2161). Lihat Shahîh Abu Dawud (4183).
[10]. Diriwayatkan oleh Abu Dawud (5004). Lihat Shahîh Abu Dawud (4184).
[11]. Diriwayatkan oleh ath-Thabrâni dalam al-Kabir (XII/13443). Lihat Shahîh al-Jâmi’ (2494).
[12]. Diriwayatkan oleh Ahmad (V/5), Abu Dawud (4990), at-Tirmidzi (2315). Lihat Shahîh al-Jâmi’ (7126).
[13] Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhâri dalam al-Adabul-Mufrad, hlm. 41. Lihat as-Silsilah ash-Shahîhah (436).

Cara Menyelamatkan Diri Dari Neraka Bag 49 ( Insya Allah )

Standard

Lanjutan ……..

Oleh : Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron

BAHAYA SERING TERTAWA

TERTAWA  dapat mengeluarkan seseorang dari IMAN dan ISLAM. TERTAWA yang TIDAK Terkendali bisa berdampak BURUK bagi DIRI dan ORANG LAIN. Sering kita jumpai awalnya orang SENDA GURAU lalu BERAKHIR dengan KEBENCIAN dan PERTENGKARAN.

Imam Ibnu Hibban rahimahullah berkata : “Banyak dalil yang menjelaskan LARANGAN Tertawa yang berlebih­-lebihan, karena Sering TERTAWA pasti BERDAMPAK Ti­dak Baik.” Kemudian beliau membacakan hadits Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam

“Seandainya kalian MENGETAHUI apa yang aku Ketahui, niscaya kalian akan Sedikit TERTAWA dan banyak MENA­NGIS.” [20]

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu mengatakan : “Tidak ada hari yang lebih menyedihkan bagi para sahabat dari pada hari itu.” Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata lagi : “Me­reka menutupi kepala mereka Sambil Terdengar Isak Tangis mereka.” [21]

Bahkan orang yang sering TERTAWA akan me­nerima DAMPAK yang BURUK. Di antara dampak itu adalah :

1. Mendapat hukuman dari Alloh Ta’ala

“Maka hendaklah mereka SEDIKIT Tertawa dan BA­NYAK Menangis, sebagai PEMBALASAN dari apa yang Selalu mereka Kerjakan.”

2. Hati sulit mengingat Alloh Ta’ala

Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Dan janganlah terlalu Banyak TERTAWA. Sesungguh­nya terlalu BANYAK Tertawa dapat MEMATIKAN Hati.” [22]

3. Tertawa membatalkan sholat.

Jabir bin Abdulloh radhiyallahu ‘anhu berkata : “Apabila se­seorang TERTAWA di dalam sholat maka ia ha­rus MENGULANGI sholatnya dan tidak MENGULANGI wudhunya.” [23]

4. Terkadang tertawa merupakan bentuk EJEKAN kepada orang, lantas bagaimana jika yang diejek adalah AHLI IBADAH?

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, berkata : “Ketika Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sholat di dekat Ka’bah ada Abu jahl beserta kawan- kawannya sedang duduk-duduk di situ. Sehari sebelumnya ada unta korban disembelih. Abu jahl berkata: ‘Siapakah di antara kalian yang mau mengambil Kotoran Unta di Banifulan lalu MELETAKKANNYA di atas kedua pundak MUHAMMAD sewaktu ia SUJUD? Bangkitlah seorang yang PALING JAHAT di antara mereka dan segera mengambil KOTORAN itu. Di saat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam SUJUD, ia letakkan KOTORAN itu di atas kedua pundak beliau. Lalu mereka pun TERTAWA terpingkal-pingkal sambil saling melirik, sedangkan aku berdiri menyaksikan kejadian itu. Seandainya aku mempunyai kekuatan, niscaya akan aku buang kotoran itu dari punggung Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap saja bersujud, tidak mengangkat kepalanya hingga seseorang mengabarkan kepada Fathimah. Kemudian Fatimah yang saat itu masih gadis kecil datang membuang kotoran dari tubuh ayah-nya. “ [24]

5. Orang yang suka mengundang tawa biasanya BERBOHONG untuk membuat orang lain TERTAWA.

Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bersabda :

CELAKALAH orang yang BERBICARA padahal ia BERBOHONG, Hanya Sekedar untuk Membuat orang-orang lain TERTAWA. Celakalah dia, dan celakalah dia.” [25]

Hadits ini merupakan PERINGATAN bagi PARA PELAWAK dan Da’i yang ceramahnya mengundang Tawa hadirin.

6. Menertawakan Alloh Ta’ala, ayat-ayat-Nya dan Rosul-Nya akan menyebabkan jatuh kepada perbuatan KUFUR.

Bacalah surat at-Taubah ayat 65-66, dan bacalah firman-Nya :

“Maka tatkala dia datang kepada mereka dengan membawa mukjizat-mukjizat Kami dengan serta merta mereka MENERTAWAKANNYA.” (QS. az-Zukhruf [43]: 47)

7. Menertawakan orang-orang yang mengamalkan SUNNAH.

Mereka dihukum Alloh  Ta’ala dengan dilupakan dari mengingat Alloh Ta’ala.

“Lalu kamu menjadikan mereka BUAH EJEKAN, sehingga (kesibukan) kamu MENGEJEK mereka, menjadikan kamu LUPA Mengingat Aku, dan adalah kamu selalu MENER­TAWAKAN mereka.” (QS. al-Mu’minun [231: :110)

8. Orang yang suka menertawakan Urusan AGAMA adalah PENDUSTA Wahyu dan Utusan Alloh Ta’ala.

Baca surat az-Zukhruf [43]: 47, surat an-Ni­sa’[4]:140, al-An’am [6]: 5 dan 10, at-Taubah [9]: 64 dan 65, ar-Ro’du [13]: 32, al-Hijr [15]: 11, al-Kahfi [18]: 56 dan 106, al-Anbiya’ [21]: 36 dan 41, al-­Furqon [25]:41, ar-Rum [30]: 10, dan surat lainnya.

WASPADALAH DENGAN TANGISANMU

Suatu ketika orang-orang MUNAFIK merasa GEMBIRA karena tidak ikut BERPERANG bersama Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan mereka MENGACAU orang yang hendak BERPERANG, maka Alloh Ta’ala mengi­ngatkan dengan ayat-Nya :

“Maka hendaklah mereka sedikit TERTAWA dan banyak MENANGIS, sebagai PEMBALASAN dari apa yang selalu me­reka kerjakan.” (QS. at-Taubah [9]: 82)

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu menerangkan ayat ini : “Dunia ini hanya SEBENTAR, silahkan TERTAWA wahai Orang Yang Suka Tertawa. Jika Anda meninggalkan DUNIA dan mengahadap Alloh Ta’ala, KALIAN akan MENANGIS Sepanjang Masa.”

Imam al-Qurthubi rahimahullah berkata : “Ayat di atas menunjukkan ANCAMAN bagi orang yang SERING Tertawa atau MENERTAWAKAN orang. Dan bukan berarti kita disuruh MENERTAWAKAN orang.”[26]

PENYANYI ADALAH PENERTAWA AL-QUR’AN

Janganlah kita membenarkan adanya DAKWAH yang diiringi dengan LAGU, NASYID, REBANA dan Semisalnya.

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu ketika menafsirkan ayat pemba­hasan kita ini berkata : “Maksud ayat, Sedang kamu melengahkannya MEREKA itu adalah PENYANYI ketika Mendengar Ayat Al-Qur’an dan Berlagak SOMBONG.

Ibnul Qoyyim al-Jauzi rahimahullah berkata : “Jika ayat ini dipahami NYANYIAN maka itu Pemahaman yang BENAR, karena NYANYIAN mengakibatkan orang BENCI mendengarkan AL-QUR’AN, dan orang yang menyanyi suka SENDA GURAU, Melupakan al-Qur’an, BERPALING dan Berlagak SOMBONG. INI SEMUA membuat orang LUPA Ibadah. [27].

Dalam kitabnya Adabul Qodho’, Imam Syafi’i rahimahullah berkata : “Orang Yang Sering Mendengarkan NYANYIAN Tidak Boleh menjadi SAKSI dan Kesaksiannya BATAL.” Lalu beliau rahimahullah membacakan surat an‑ Najm [53] ayat 59-61 dan surat Luqman [31] ayat 6

Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya “Sesung­guhnya Alloh MELARANG Dua suaranya Orang Yang BODOH: Berdendang Riang pada saat mendapat NIKMAT dan Suara Tangisan pada saat terkena MUSIBAH (mer­atapi kematian).” [28]

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, berkata : “NYANYIAN adalah AWAL mula ZINA.” Makhul             , berkata : “NYANYIAN menumbuhkan KEMUNAFIKAN dalam HATI. [29]

KAPAN PENERTAWA AKAN DITERTAWAKAN?

Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam, SEBELUM menyeru umat agar beribadah kepada Alloh Ta’ala dan tidak menyekutu­kan dengan lainnya, beliau diberi GELAR al-Amin (orang yang dapat dipercaya). Tetapi setelah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyeru manusia agar BERIBADAH kepada Alloh Ta’ala saja, GELAR beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam diganti dengan sya’ir majnun (Penyair Gila)[30] kahin (dukun dan para normal)[31].

Setiap utusan Alloh Ta’ala sebelum Rosululloh Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam digelari dengan sahirun/majnun (tukang sihir atau gila)[32].

Begitu pula PADA ZAMAN SEKARANG ketika dak­wah SALAFUS SHOLIH menyebar di masyarakat, para Da’inya Dicela, orang BERJENGGOT dan BERCELANA di atas Mata Kaki Dicaci dan Dihina, padahal mereka Mengamalkan SUNNAH Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

Alloh Ta’ala mengingatkan kaum muslimin, SE­BENARNYA Siapa PELAKU Pencela SUNNAH Rosu­lulloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam?

“Sesungguhnya orang-orang yang BERDOSA, adalah me­reka yang MENERTAWAKAN orang-orang yang beriman.” (QS. al-Muthoffifin [83]: 29)

Mereka MELIRIKKAN Mata ketika BERTEMU de­ngan orang yang beriman, Orang Beriman dicap orang TERSESAT. Walaupun demikian Kaum Mus­limin hendaknya BERSABAR dan tetap ISTIQOMAH di atas yang BENAR sebagaimana ISTIQOMAHNYA para utusan Alloh Ta’ala dan Para Sahabatnya. Kelak pada HARI KIAMAT Orang MUKMIN akan MENERTAWAKAN mereka.

Firman-Nya :

“Maka pada hari ini, orang-orang yang beriman MENERTA­WAKAN orang-orang KAFIR.” (QS.al-Muthofifin [83]: 34)

KAPAN KITA BOLEH TERTAWA?

1. Saat hati gembira atau ada sebab lain yang dibenarkan syar’i.

TERTAWA yang DIPERBOLEHKAN adalah TERTAWA yang tidak MENGERASKAN suara seperti KEBIASAAN orang JAHILIYAH, akan tetapi CUKUP Senyum dan BOLEH menampakkan Gigi Seri

“Sesungguhnya aku dilarang MERATAP. Dilarang dua su­ara yang JAHAT: MENGERASKAN Suara ketika TERTAWA pada saat mendapatkan NIKMAT, Bermain-Main, Senda Gurau dan Terompet Setan, dan dari SUARA JERITAN MENANGIS pada saat kena MUSIBAH, Menggaruk WAJAH, Menyobek saku dan Teriakan Setan.” [33]

2. Saat memberi sesuatu kepada orang lain

Anas bin Malik berkata radhiyallahu ‘anhu: “Aku pernah berjalan bersama Rosululloh              beliau mengenakan selendang dari Najran yang pinggirnya kasar. Tiba-tiba seorang badui berpapasan dengan beliau, lalu menarik selendang beliau dengan kuat. Ketika aku memandang ke leher Rosululloh, ternyata pinggiran selendang telah membekas di lehernya karena kuatnya tarikan. Orang itu kemudian berkata : “Hai Muhammad, berikan aku sebagian dari harta Alloh Ta’ala yang ada padamu. Rosululloh, berpaling kepadanya, lalu TERTAWA dan memberikan suatu pemberian kepadanya.” [34]

3. Saat bergembira ketika mendapatkan nikmat terutama nikmat iman dan Islam

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata : “Ketika Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama kami, tiba-tiba beliau terlena sesaat, kemudian beliau mengangkat kepala sambil TERSENYUM. Kami bertanya : ‘Wahai Rosululloh, apa yang MEMBUAT Anda TERTAWA?’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab : ‘Baru saja satu surat diturunkan kepadaku, yaitu surat Al-Kautsar.” (Shohih Muslim 607)

4. Senyum bila menjumpai saudara yang beriman.

Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu berkata : “Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Jangan MEREMEHKAN Kebaikan, walaupun hanya SEDIKIT semisal Berwajah Ceria (Senyum) ketika bertemu dengan TEMAN.” [35]

SENYUM seperti ini sungguh sangat baik, karena menunjukkan LAPANG DADA. Tetapi harus benar dalam penempatannya. Di antara senyuman yang dianjurkan adalah SENYUMNYA Istri kepada Suami, Orang Tua kepada Anaknya atau sebaliknya, tuan rumah kepada tamunya, dan kepada manusia secara umum walaupun kepada orang yang HATI kita kurang SENANG kepadanya.

DO’A MENGHILANGKAN DOSA TERTAWA

Terkadang manusia LALAI atau LUPA sehingga salah dalam berbicara bahkan kadang tanpa disadari telah MENYAKITKAN hati orang lain. Sebaiknya orang yang Suka TERTAWA atau BERGURAU segera ISTIGHFAR dan Banyak BERDO’A.

Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu berkata : “Saya mendengar Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdo’a : “Ya Alloh, AMPUNILAH dosaku, KEBODOHANKU, KEBO­ROSANKU dalam Urusanku, dan apa-apa yang Engkau lebih mengetahuinya daripada diriku. Ya Alloh AM­PUNILAH diriku, KESALAHANKU, KESENGAJAANKU, KEBODOHANKU, SENDA GURAUKU dan Semuanya yang ada padaku. Ya Alloh, AMPUNILAH diriku dari DOSA yang aku lakukan, apa yang aku SEMBUNYIKAN, apa yang aku TAMPAKKAN. Engkau yang Memajukan, Engkau yang Mengundurkan, dan Engkau berkuasa atas segala sesuatu.” [36]

Akhirnya semoga semua amal kita senantiasa sesuai dengan SUNNAH Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , TANGISAN dan TAWA yang diridhoi oleh Alloh Ta’ala.

Sumber: Majalah Al-Furqon, edisi: 12 thn ke 9 Rojab 1431.H, Juni/Juli 2010.M

Artikel: ibnuabbaskendari.wordpress.com

Catatan Kaki:

Sumber: Majalah Al-Furqon, edisi: 12 thn ke 9 Rojab 1431.H, Juni/Juli 2010.M

Artikel: ibnuabbaskendari.wordpress.com

Catatan Kaki:

[20] Shohih Bukhori 8/217

[21] Shohih Muslim 4351

[22] HR. Tirmidzi 2/50. Dishohihkan Syaikh al-Alba­ni, Silsilah Shohihah 3/4

[23] Diriwayatkan oleh Said bin Man­shur dan ad-Daruquthni

[24] Shohih Muslim 3349

[25] Hadits hasan riwayat Abu Dawud 4/454, Baca Shohihul jami’ 7136

[26] Tafsir al-Qurthubi 8/217

[27] Badaai’ut Tafsir oleh Ibnul Qoyyim al-Jauzi rahimahullah 4/312

[28] HR. Tirmidzi 1005

[29] Rowaiut Tafsir oleh Ibnu Rajjab 2/320

[30] Baca surat al-Shofat [37] : 36,

[31] Baca surat ath-Thur [52] : 29

[32] Baca surat al-Dzariyat [51] : 52

[33] HR. Tirmidzi 4/226

[34] Shohih Muslim 1749

[35] HR. Muslim 8/37

[36] Shohih Bukhori 5/2350

Cara Menyelamatkan Diri Dari Neraka Bag 48 ( Insya Allah )

Standard

MENANGIS  DAN  TERTAWA

MENURUT  SUNNAH

Oleh : Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron

Pengantar Redaksi

Isak tangis orang dewasa tidaklah sama dengan tangisan anak kecil. Menangis bukanlah aib, bukan pula pintu kesengsaraan. Terkadang tangisan dapat menghidupkan hati, menghapus kesalahan dan men

datangkan ampunan ar-Rohman. Dan jangan dikira TERTAWA atau MENERTAWAKAN sesuatu adalah hal yang SEPELE. Apalagi yang menjadi bahan LELUCON adalah SYARI’AT ISLAM yang mulia. Dalam Islam, TERTAWA dan MENANGIS ada rambu-rambu syar’inya, namun masih banyak saudara kita BELUM mengetahuinya. Benarlah bahwa hal-hal yang dianggap REMEH oleh sebagian kalangan ternyata jika DIKAJI secara RINCI merupakan hal yang perlu diwaspadai.

“Maka apakah kamu merasa heran terhadap pemberitaan ini? Dan kamu mener­tawakan dan tidak menangis. Sedangkan kamu melalaikannya? Maka bersujud lah kepada Alloh dan sembahlah (Dia).” (QS. an-Najm 1531: 59-62)

MAKNA AYAT SECARA UMUM

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah, ketika menafsirkan ayat ini berkata :

“Ayat ini ditujukan kepada para pendusta Ro­sululloh Shallallahu ‘alaihi wasallam.Pertanyaan pada ayat ini menun­jukkan INGKAR dan HERAN, mengapa mereka MENDUSTAKAN Rosululloh          , yang membawa AYAT dan BUKTI yang BENAR. Bukankah Rosu­lulloh Shallallahu ‘alaihi wasallam, pemberi PERINGATAN seperti para UTUSAN sebelumnya. Mengapa mereka tidak Khawatir DISIKSA se­perti disiksanya PENDUSTA Risalah para UTUSAN sebelumnya. Oleh sebab itu Alloh Ta’ala berkata : “Maka apakah kamu merasa HERAN terhadap PEMBERITAAN ini wahai PENDUSTA Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wasallam? Sehingga kamu MENERTAWAKAN pemberi­taan berupa AL-QUR’AN ini ?

Kamu MENERTAWAKAN Hukum-Hukumnya, ME­NERTAWAKAN Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wasallam, MENERTAWAKAN Ibadahnya dan Menghinanya. Kalian merasa HERAN dan MENERTAWAKAN dia Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Mengapa kamu tidak MENANGIS ketika MENDE­NGAR al-Qur’an karena rasa TAKUT kepada Alloh Ta’ala dan tidak mau KEMBALI kepada yang HAQ ? Akan tetapi HATIMU bertambah KERAS? – maka kami BERLINDUNG kepada. Alloh Ta’ala dari HATI yang KERAS ini- dan mengapa kamu menjadi orang yang MELUPAKAN al-Qur’an dengan SEN­DA GURAUMU dan NYANYIANMU? Sebagian kamu bila MENDENGAR ayat Alloh, kamu MENYANYI, bukankah itu sifat Orang KAFIR, Alloh ‘Azza wa jalla berfirman : “Dan orang-orang yang KAFIR berkata : “Janganlah kamu MENDENGAR dengan Sungguh-Sungguh akan AL-QURAN ini dan buatlah HIRUK-PIKUK terhadapnya, supaya kamu dapat MENGALAHKAN mereka.” (QS. Fushshilat 1411: 26) [1]

MENGAPA BAYI LAHIR MENANGIS

Dari Abu Huroiroh radhiyallahu ‘anhu Rosululloh Shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda :

“Tidak seorang bayi pun yang dilahirkan kecuali telah disentuh oleh SETAN sehingga ia MENANGIS, kecuali Maryam dan putranya.” [2]

Oleh karena itu orang tua sebaiknya segera memohon PERLINDUNGAN kepada Alloh Ta’ala untuk anak dan keturunannya yang sedang lahir dari godaan setan yang terlaknat. Silakan membaca surat Ali Imron ayat 31.

BILA MENANGIS MEMBAWA MALAPETAKA

Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bersabda : “Sesungguhnya Alloh Ta’ala tidak MENYIKSA karena air mata atau karena kesedih­an hati. Tetapi Dia MENYIKSA atau mengasihi sebab ini, -beliau menunjuk ke LIDAH beliau-.” [3]. Maksudnya Alloh Ta’ala MENYIKSA karena RATAPAN yang diucapkan LIDAH ketika MENOLAK takdir Alloh Ta’ala atas si Mayit.

Meratapi orang MATI adalah hal yang TERCELA karena menunjukkan PELAKUNYA tidak BERIMAN kepada TAKDIR Alloh Ta’ala atau tidak Ridho ketentuan Alloh Ta’ala.

Ummu Athiyyah radhiyallahu ‘anha berkata : “Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengambil bai’at (janji setia) pada kami agar tidak MERATAPI Kematian.” [4].

Tatkala suami Ummu Salamah radhiyallahu anha meninggal dunia, Ummu Salamah          radhiyallahu ‘anha hendak MENANGIS bersama wanita yang datang di rumahnya, lalu Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bersabda : “Apakah kamu akan Memasukkan SETAN di rumah yang Alloh Ta’ala telah MENGUSIRNYA.” Beliau mengulangi dua kali. Lalu Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha DIAM dan TIDAK Menangis lagi. [5]

Ibnul Mubarok rahimahullah, berkata : JERITAN TANGISAN akan BERBAHAYA kepada si mayit apabila sebe­lum meninggal dunia si mayit TIDAK Melarang keluarganya dari MERATAP. Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ber­sabda :“Sesungguhnya MAYAT Disiksa lantaran TANGISAN keluarganya.” [6]

Inilah salah satu contoh MENANGIS yang BERBAHAYA. Demikian juga TANGISAN ketika DIRINYA atau KELUARGANYA terkena MUSIBAH. Manusia memang boleh BERSEDIH tetapi tidak boleh MENANGIS  dengan MENGERASKAN Suara.

Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Mua’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu: “Barangkali kami akan melewati masjidku dan kuburanku.” Lalu Mua’adz MENANGIS karena sedih. Lantas Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata : “Jangan menangis wahai Mu’adz, sungguh menangis dengan KERAS adalah perbuatan SETAN.” [7]

KEUTAMAAN MENANGIS KARENA TAKUT KEPADA ALLOH TA’ALA

MENANGIS pada umumnya karena SEDIH, SAKIT atau tertimpa MUSIBAH. Akan tetapi terkadang karena rasa GEMBIRA dan HARU, semuanya itu hu­kumnya BOLEH asal TIDAK seperti Tangisan JAHILIYAH.

MENANGIS terkadang MENDAPAT Pahala bila di­karenakan TAKUT Siksaan Alloh, seperti orang yang berbuat MAKSIAT lalu dia SADAR dan ISTIGHFAR, atau MENANGIS karena Mengingat kebesaran kekua­saan-Nya atau Berharap rohmat dan Surga-Nya. Menangislah karena takut kepada Alloh Ta’ala.

Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bersabda :

“Tidaklah masuk neraka orang yang MENANGIS karena takut kepada Alloh.” [8]

Ibnu ‘Ajlan rahimahullah berkata : “Setiap Tetesan Air Mata yang mengalir karena MEMBACA al-Qur’an maka dia DIROHMATI oleh Alloh Ta’ala.” [9]

Adapun di antara contoh MENANGIS karena TA­KUT kepada Alloh Ta’ala adalah :

1. Menangis ketika sedang sholat

Dari Muthorrif dari ayahnya, dia berkata : “Aku. melihat Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang SHOLAT, dan di dada­nya ada SUARA seperti SUARA Air yang Mendidih karena MENANGIS.”[10]

2. Menangis tatkala membaca al-Qur’an atau membaca Sunnah Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam

“Apabila dibacakan ayat-ayat Alloh Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka MENYUNGKUR dengan BERSUJUD dan MENANGIS.” (QS. Maryam [19]:58)

Ibnu Umar  radhiyallahu ‘anhu, ketika membaca Surat al-Hadid ayat 16 (yang artinya): “Belum datangkah waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk TUNDUK HATI mereka MENGINGAT Alloh.” beliau radhiyallahu ‘anhu MENANGIS se­hingga Membasahi JENGGOTNYA dan berkata : Wa­hai Alloh.” [11]

3. Menangis pada saat berdzikir dan berdo’a ke­pada Alloh Ta’ala.

Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bersabda : “Ada TUJUH orang yang akan mendapat NAUNGAN pada hari kiamat, tidak ada NAUNGAN kecuali Naungan-Nya …

“…Dan orang yang berdzikir kepada Alloh dengan BERSEPI lalu Menetes Air Kedua Matanya… “ [12]

4. Menangis saat melintasi daerah yang berge­limang kemaksiatan.

Abdulloh bin Umar radhiyallahu ‘anhu, berkata : “Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam, berkata kepada Ashabul Hijr : ‘janganlah kalian MEMASUKI daerah suatu KAUM yang telah DISIK­SA, kecuali dengan MENANGIS. Kalau kamu TIDAK MENANGIS, janganlah memasuki daerah mereka AGAR KALIAN tidak tertimpa apa yang MENIMPA me­reka.” [13]

5. Menangis apabila keluarga dan masyarakat meninggalkan sholat atau berbuat maksiat.

Az-Zuhri rahimahullah, berkata : “Saya datang kepada Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu di DAMASKUS dan ia sedang MENANGIS. Lalu saya bertanya : ‘Mengapa engkau MENANGIS?’ Ia menjawab : ‘Saya tidak tahu lagi amal yang aku dapati di masa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang masih dipedulikan orang sekarang, Selain SHOLAT, itu pun sudah Disia-Siakan.” [14]

6. Menangis ketika mendengar khutbah atau ceramah.

Abu Said al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, berkata : “pada suatu hari Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam, berada di atas mimbar lalu bersabda : ‘Ada seorang HAMBA ( Pent : Seorang Hamba itu Maksudnya adalah Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam ) yang diberi pilihan Alloh Ta’ala antara diberi KEMEWAHAN dunia atau di­beri SESUATU yang ada Di Sisi-Nya ( Pent : disisi Allah Subhaanaahuwata’aalaa ). Ternyata HAMBA itu memilih sesuatu yang ada di sisi-Nya.’ Setelah itu Abu Bakr  radhiyallahu ‘anhu, tampak MENANGIS.” [15]

7. Menangis bila menjumpai ulama sunnah sakit mendekati ajalnya.

Said bin Jubair, berkata : “Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu; pernah bertanya : ‘Apakah hari KAMIS itu?’ lalu be­liau MENANGIS hingga Air Matanya membasahi ba­tu-batu kerikil. Aku bertanya : ‘Wahai Ibnu Abbas, ada apa dengan hari KAMIS?’ Beliau menjawab : ‘Pada hari itu penyakit Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Bertambah Parah kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ‘Kemarilah, aku akan menyampaikan untukmu suatu WASIAT sehingga kamu tidak akan tersesat setelahku…’.” [16]

8. Menangis karena mengingat dosa

Tholhah Ibnu Mushorif rahimahullah berkata : “Ada orang yang berbuat DOSA, maka setiap DOSA yang dia INGAT dia MENANGIS.” [17]

9. Menangis ketika mendengar adzan

Al-Qodhi Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah MENANGIS di masjid ketika mendengar ADZAN hingga pasir di hadapannya basah olehnya. [18]

10. Menangis ketika berkhutbah

Abu Zaid rahimahullah berkata : “Saya melihat Umar bin Abdul Aziz rahimahullah, MENANGIS di atas mimbar, TIDAK mampu BICARA karena TANGISANNYA sangat KUAT.” [19]

  Bersambung Insya Allah …………

Catatan Kaki:


[1] Tafsir al-Quran al-Karim, Ibnu Utsaimin rahimahullah 11/40

[2] Shohih Bukhori 4/199

[3] Shohih Muslim 1532

[4] HR. Bukhori 2/106

[5] HR. Muslim 3/39

[6] HR. Bukhori 2/101

[7] HR. Ahmad. Dishohihkan Syaikh al-Albani rahimahullah dalam Silsilah Shohihah 5/665

[8] HR. Tirmidzi dishohihkan oleh al-Albani rahimahullah dalam al-Misykah 3828

[9] ar-Riqqotu wal-Buka’ 1/83

[10] Dikeluarkan oleh Imam Lima Ibnu Majah dan dishohihkan oleh Syaikh al-Albani rahimahullah dalam Shohih at-Targhib 3/162

[11] ar-Riqqotu wal-Buka’ 1/81

[12] HR. Bu­khori 1/168

[13] Shohih Muslim 5292

[14] HR. Muslim 3089

[15] Shohih Mus­lim 4390

[16] Shohih Muslim No.3089

[17] ar-Riqqotu wal-Buka’ 1/183

[18] ar-Riqqotu wal-Buka’ 1/153

[19] Ar-Riqqotu wal-Buka’ 1/111

Cara Menyelamatkan Diri Dari Neraka Bag 47 ( Insya Alah )

Standard

(Oleh: Ustadz Abu Isma’il Muslim al-Atsari)

ILMU ADALAH SEBAB TANGISAN

KARENA ALLÂH TA’ALA

Semakin BERTAMBAH ilmu agama seseorang, semakin tambah pula TAKUTNYA  terhadap KEAGUNGAN Allâh Ta’ala.

Allâh Ta’ala berfirman yang artinya:

Dan demikian (pula) di antara manusia,
binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak,
ada yang bermacam-macam warna (dan jenisnya).
Sesungguhnya yang TAKUT kepada Allâh di antara hamba-hamba-Nya,
hanyalah Ulama ( Pent Ahli ilmu Agama ).
Sesungguhnya Allâh Maha Perkasa lagi Maha Pengampun
”.
(Qs Fâthir/35:28)
Nabi Muhammad Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

hadist

SURGA dan NERAKA ditampakkan kepadaku,
maka aku tidak melihat KEBAIKAN dan KEBURUKAN seperti hari ini.
Seandainya kamu MENGETAHUI apa yang aku ketahui,
kamu benar-benar akan sedikit TERTAWA dan banyak MENANGIS
”.

Anas bin Mâlik radhiyallâhu’anhu –perawi hadits ini- mengatakan,

Tidaklah ada satu hari pun yang lebih berat bagi para Sahabat selain hari itu.
Mereka menutupi kepala mereka sambil MENANGIS sesenggukan
”.
(HR. Muslim, no. 2359)
Imam Nawawi rahimahullâh berkata,

“Makna hadits ini, ‘Aku tidak pernah melihat KEBAIKAN sama sekali melebihi apa yang telah aku lihat di dalam SURGA pada hari ini. Aku juga tidak pernah melihat KEBURUKAN melebihi apa yang telah aku lihat di dalam NERAKA pada hari ini. Seandainya kamu melihat apa yang telah aku lihat dan mengetahui apa yang telah aku ketahui, semua yang aku lihat hari ini dan sebelumnya, sungguh kamu pasti sangat TAKUT, menjadi sedikit TERTAWA dan banyak MENANGIS”.
(Syarh Muslim, no. 2359)


Hadits ini menunjukkan anjuran MENANGIS karena TAKUT terhadap SIKSA Allâh Ta’ala dan tidak memperbanyak TERTAWA, karena banyak TERTAWA menunjukkan kelalaian dan KERASNYA hati.

Lihatlah para Sahabat Nabi radhiyallâhu’anhum, begitu MUDAHNYA mereka TERSENTUH oleh NASEHAT ! Tidak sebagaimana KEBANYAKAN orang di zaman ini. Memang, mereka adalah orang-orang yang paling lembut hatinya, paling banyak pemahaman agamanya, paling cepat menyambut ajaran agama. Mereka adalah Salafus Shâlih yang mulia, maka selayaknya kita meneladani mereka.
(Lihat Bahjatun Nâzhirîn Syarh Riyâdhus Shâlihin 1/475; no. 41)

Seandainya kita mengetahui bahwa tetesan air mata karena TAKUT kepada Allâh Ta’ala merupakan tetesan yang paling dicintai oleh Allâh Ta’ala, tentulah kita akan MENANGIS karena-Nya atau BERUSAHA menangis sebisanya. Nabi Muhammad Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam menjelaskan keutamaan tetesan air mata ini dengan sabda Beliau:

hadist

Tidak ada sesuatu yang yang lebih dicintai oleh Allâh
daripada DUA tetesan dan DUA bekas.
Tetesan yang berupa air mata karena TAKUT kepada Allâh
dan tetesan darah yang DITUMPAHKAN di jalan Allâh.
Adapun DUA bekas, yaitu bekas di jalan Allâh
dan bekas di dalam (melaksanakan) suatu KEWAJIBAN
dari kewajiban-kewajiban-Nya
”.
Namun yang perlu kita perhatikan juga bahwa MENANGIS tersebut adalah benar-benar karena Allâh Ta’ala, bukan karena MANUSIA , seperti dilakukan di hadapan jama’ah atau bahkan dishooting TV dan disiarkan secara nasional. Oleh karena itu Nabi Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam menjanjikan kebaikan besar bagi seseorang yang MENANGIS dalam keadaan SENDIRIAN. Beliau Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

hadist

Tujuh (orang) yang akan diberi NAUNGAN oleh Allâh
pada naungan-Nya di hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya. ……
(di antaranya): Seorang laki-laki yang menyebut Allâh
di tempat yang SEPI sehingga kedua matanya meneteskan air mata
”.
(HR. al-Bukhâri, no. 660; Muslim, no. 1031)
Hari Kiamat adalah hari pengadilan yang agung. Hari ketika setiap hamba akan mempertanggung-jawabkan segala amal perbuatannya. Hari saat ISI HATI  manusia akan DIBONGKAR, segala RAHASIA akan DITAMPAKKAN di hadapan Allâh Yang Maha Mengetahui lagi Maha Perkasa. Maka KEMANA orang akan berlari? Alangkah bahagianya orang-orang yang akan mendapatkan naungan Allâh Ta’ala pada hari itu. Dan salah satu jalan keselamatan itu adalah MENANGIS karena takut kepada Allâh Ta’ala.

Syaikh Muhammad bin Shâlih al-‘Utsaimîn rahimahullâh berkata,

Wahai saudaraku, jika engkau menyebut Allâh Ta’ala, sebutlah Rabb-mu dengan HATI yang kosong dari memikirkan yang lain. JANGAN pikirkan sesuatu pun selain-Nya. Jika engkau memikirkan sesuatu selain-Nya, engkau tidak akan bisa MENANGIS karena takut kepada Allâh Ta’ala atau karena rindu kepada-Nya. Karena, seseorang tidak mungkin MENANGIS sedangkan hatinya tersibukkan dengan sesuatu yang lain. Bagaimana engkau akan MENANGIS karena rindu kepada Allâh Ta’ala dan karena takut kepada-Nya jika hatimu tersibukkan dengan selain-Nya?“.
Oleh karena itu, Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

Seorang laki-laki yang menyebut Allâh di tempat yang SEPI”,
yaitu hatinya kosong dari selain Allâh Ta’ala,
badannya juga kosong (dari orang lain),
dan tidak ada seorangpun di dekatnya
yang menyebabkan tangisannya menjadi RIYA dan SUM’AH
Namun, dia melakukan dengan ikhlas dan konsentrasi
”.
(Syarh Riyâdhus Shâlihîn 2/342, no. 449)
Setelah kita mengetahui hal ini, maka ALANGKAH pantasnya kita mulai MENANGIS karena TAKUT kepada Allâh Ta’ala.

Wallâhul Musta’ân.

[1]

HR. at-Tirmidzi, no. 1633, 2311; an-Nasâ‘i 6/12; Ahmad 2/505; al-Hâkim 4/260; al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah 14/264.
Syaikh Salîm al-Hilâli hafizhahullâh mengatakan, “Shahîh lighairihi”. Lihat penjelasannya dalam kitab Bahjatun Nâzhirîn Syarh Riyâdhus Shâlihîn 1/517; no. 448)

(Majalah As-Sunnah Edisi 10/Tahun XIII)

Cara Menyelamatkan Diri Dari Neraka Bag 46 ( Insya Allah )

Standard

(Oleh: Ustadz Abu Isma’il Muslim al-Atsari)

          SEHARUSNYA  KITA  SELALU  MENANGIS ………….!

Pernahkah Anda menangis -dalam keadaan sendirian- karena TAKUT siksa Allâh Ta’ala? Ketahuilah, sesungguhnya hal itu merupakan jaminan (pent  Insya Allah ) selamat dari NERAKA. Menangis karena takut kepada Allâh Ta’ala akan mendorong seorang hamba untuk selalu istiqâmah di jalan-Nya, sehingga akan menjadi perisai dari api NERAKA. Nabi Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

hadist

“Tidak akan masuk NERAKA seseorang yang MENANGIS
karena TAKUT kepada Allâh sampai air susu kembali ke dalam teteknya.
Dan debu di jalan Allâh tidak akan berkumpul dengan asap neraka Jahannam”.
[1]
MENGAPA HARUS MENANGIS?

Seorang MUKMIN yang mengetahui keagungan Allâh Ta’ala dan hak-Nya, setiap dia melihat dirinya banyak melalaikan KEWAJIBAN dan menerjang LARANGAN , akan khawatir DOSA-DOSA itu akan menyebabkan SIKSA Allâh Ta’ala kepadanya.

Nabi Muhammad Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

hadist

“Sesungguhnya seorang MUKMIN itu melihat dosa-dosanya
seolah-olah dia berada di kaki sebuah GUNUNG,
dia khawatir GUNUNG itu akan menimpanya.
SEBALIKNYA, orang yang DURHAKA melihat dosa-dosanya
seperti seekor LALAT yang hinggap di atas Hidungnya,
dia mengusirnya dengan tangannya –begini–, maka LALAT itu terbang”.
(HR. at-Tirmidzi, no. 2497 dan dishahîhkan oleh al-Albâni rahimahullâh)
Ibnu Abi Jamrah rahimahullâh berkata,

“Sebabnya adalah, karena hati seorang MUKMIN itu diberi CAHAYA. Apabila dia MELIHAT pada dirinya ada sesuatu yang menyelisihi hatinya yang diberi CAHAYA, maka hal itu menjadi BERAT baginya. Hikmah perumpamaan dengan  GUNUNG yaitu apabila musibah yang menimpa manusia itu SELAIN runtuhnya GUNUNG , maka masih ada KEMUNGKINAN  mereka selamat dari MUSIBAH-MUSIBAH itu. LAIN HALNYA dengan GUNUNG, jika GUNUNG runtuh dan MENIMPA seseorang, UMUMNYA dia tidak akan SELAMAT. Kesimpulannya bahwa rasa TAKUT seorang MUKMIN (kepada SIKSA Allâh Ta’ala -pen) itu mendominasinya, karena KEKUATAN imannya menyebabkan dia tidak MERASA aman dari HUKUMAN itu. Inilah KEADAAN seorang Mukmin, dia selalu takut (kepada SIKSA Allâh-pen) dan bermurâqabah (Pent Selalu merasa diawasi Allâh). dia Menganggap KECIL amal shalihnya dan KHAWATIR terhadap amal BURUKNYA yang KECIL”.
(Tuhfatul Ahwadzi, no. 2497)
Apalagi jika dia memperhatikan berbagai BENCANA dan MUSIBAH yang telah Allâh Ta’ala timpakan kepada orang-orang kafir di dunia ini, baik dahulu maupun sekarang. Hal itu membuatnya tidak MERASA aman dari siksa Allâh Ta’ala.

Allâh Ta’ala berfirman yang artinya:

Dan begitulah adzab Rabbmu apabila DIA mengadzab
penduduk negeri-negeri yang berbuat ZHALIM.
Sesungguhnya adzab-Nya sangat pedih lagi keras.
PELAJARAN
bagi orang-orang yang takut kepada adzab AKHIRAT.
Hari Kiamat itu adalah suatu hari
dimana manusia dikumpulkan untuk (menghadapi)-Nya,
dan hari itu adalah suatu hari yang DISAKSIKAN (oleh segala makhluk).
Dan KAMI tiadalah mengundurkannya, melainkan sampai waktu yang tertentu.
Saat hari itu tiba, tidak ada seorang pun yang BERBICARA, melainkan dengan izin-Nya;
maka di antara mereka ada yang CELAKA dan ada yang BAHAGIA.
Adapun orang-orang yang CELAKA, maka (tempatnya) di dalam NERAKA,
di dalamnya mereka mengeluarkan dan menarik nafas (dengan merintih)
”.
(Qs Hûd/11:102-106)
Ketika dia merenungkan berbagai kejadian yang mengerikan pada hari Kiamat, berbagai kesusahan dan beban yang menanti manusia di akhirat, semua itu pasti akan menggiringnya untuk TAKUT kepada Allâh Ta’ala al-Khâliq.
Allâh Ta’ala berfirman yang artinya:

Hai manusia, bertakwalah kepada Rabbmu.
Sesungguhnya kegoncangan hari Kiamat itu
adalah suatu kejadian yang sangat besar (dahsyat).
(Ingatlah), pada hari (ketika) kamu melihat kegoncangan itu,
semua wanita yang menyusui anaknya lalai terhadap anak yang disusuinya,
dan semua wanita yang hamil gugur kandungannya.
Kamu melihat manusia dalam keadaan MABUK,
padahal sebenarnya mereka TIDAK mabuk.
Akan tetapi adzab Allâh itu SANGAT KERAS
”.
(Qs al-Hajj/22:1-2)
Demikianlah sifat orang-orang yang beriman. Di dunia, mereka TAKUT terhadap SIKSA Rabb mereka, kemudian berusaha MENJAGA diri dari siksa-Nya dengan TAKWA, yaitu melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Maka, Allâh Ta’ala memberikan balasan sesuai dengan jenis amal mereka. Dia memberikan KEAMANAN di hari Kiamat dengan memasukkan mereka ke dalam surga-Nya.

Allâh Ta’ala berfirman yang artinya:

Dan sebagian mereka (penghuni surga-pent) menghadap
kepada sebagian yang lain; mereka saling bertanya.
Mereka mengatakan:
“Sesungguhnya kami dahulu sewaktu berada di tengah-tengah keluarga,
TAKUT
Kemudian Allâh memberikan karunia kepada kami
dan memelihara kami dari azab neraka.
Sesungguhnya kami dahulu beribadah kepada-Nya.
Sesungguhnya Dia-lah yang melimpahkan kebaikan lagi Maha Penyayang
”.
(Qs ath-Thûr/52:25-28)

Wallahu a’lam

Cara Menyelamatkan Diri Dari Neraka Bag 45 ( Insya Allah )

Standard

JANGANLAH BANYAK TERTAWA ……… !

Seorang penyair berkata :

تَزَوَّدْ مِنَ التَّقْوَى فَإِنَّكَ لاَ تَدْرِي*** إِذَا جَنَّ لَيْلٌ هَلْ تَعِيْشُ إِلَى الْفَجْرِ

Berbekallah KETAKWAAN karena sesungguhnya engkau tidak tahu…

Jika MALAM telah tiba apakah engkau MASIH bisa HIDUP hingga pagi hari

وَكَمْ مِنْ صَحِيْحٍ مَاتَ مِنْ غَيْرِ عِلَّةٍ *** وَكَمْ مِنْ عَلِيْلٍ عَاشَ حِيْناً مِنَ الدَّهْرِ

Betapa BANYAK orang yang SEHAT kemudian MATI tanpa didahului SAKIT

Dan betapa BANYAK orang yang SAKIT yang masih bisa HIDUP beberapa WAKTU

فَكَمْ مِنْ فَتًى أَمْسَى وَأَصْبَحَ ضَاحِكًا *** وَقَدْ نُسِجَتْ أَكْفَانُهُ وَهُوَ لاَ يَدْرِِي

Betapa banyak PEMUDA yang TERTAWA di pagi dan petang hari

Padahal Kain KAFANnya sedang ditenun dalam keadaan dia tidak TAHU

وَكَمْ مِنْ صِغَارٍ يُرْتَجَى طُوْلُ عُمْرِهِمْ *** وَقَدْ أُدْخِلَتْ أَجْسَامُهُمْ ظُلْمَةَ الْقَبْرِ

Betapa banyak anak-anak yang diharapkan panjang umur

Padahal tubuh mereka telah dimasukkan dalam Gelapnya KUBURAN

وَكَمْ مِنْ عَرُوْسٍ زَيَّنُوْهَا لِزَوْجِهَا *** وَقَدْ قُبِضَتْ أَرْوَاحُهُمْ لَيْلَةَ الْقَدْرِ

Betapa banyak mempelai wanita yang dirias untuk dipersembahkan kepada mempelai lelaki

Padahal RUH mereka telah dicabut tatkala  Malam lailatul qodar…

 Wallaahu a’lam BisShowaab

Cara Menyelamatkan Diri Dari Neraka Bag 44 ( Insya Allah )

Standard

Banyak Tertawa Mematikan Hati

June 25th 2010 by Abu Muawiah

12 Rajab

Banyak Tertawa Mematikan Hati

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
لَا تُكْثِرُوا الضَّحِكَ فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ الْقَلْبَ
“Janganlah kalian banyak TERTAWA, karena banyak tertawa akan mematikan hati.” (HR. At-Tirmizi no. 2227, Ibnu Majah no. 4183, dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 7435)
Dari Aisyah isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa dia berkata:
مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُسْتَجْمِعًا ضَاحِكًا حَتَّى أَرَى مِنْهُ لَهَوَاتِهِ إِنَّمَا كَانَ يَتَبَسَّمُ
“Saya tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam TERTAWA terbahak-bahak hingga kelihatan tenggorokan beliau, beliau biasanya hanya tersenyum.” (HR. Al-Bukhari no. 6092 dan Muslim no. 1497)

Penjelasan ringkas:
Sebaik-baik perkara adalah yang sederhana dan pertengahan. Tatkala Islam mensyariatkan untuk banyak tersenyum, maka Islam juga melarang untuk banyak TERTAWA, karena segala sesuatu yang kebanyakan dan MELAMPAUI BATAS akan membuat HATI menjadi MATI. Sebagaimana banyak makan dan banyak tidur bisa mematikan HATI dan melemahkan tubuh, maka demikian pula banyak TERTAWA bisa mematikan HATI dan melemahkan tubuh. Dan jika HATI sudah MATI maka hatinya tidak akan bisa terpengaruh dengan PERINGATAN Al-Qur`an dan tidak akan mau menerima NASEHAT , wal ‘iyadzu billah.

Karenanya tidaklah kita temui orang yang paling banyak TERTAWAkecuali dia adalah orang yang paling jauh dari Al-Qur`an.

Adapun hukum banyak TERTAWA, maka lahiriah hadits Abu Hurairah di atas menunjukkan HARAMNYA, karena hukum asal setiap LARANGAN adalah HARAM. Apalagi disebutkan sebab larangan tersebut adalah karena bisa mematikan hati, dan sudah dimaklumi melakukan suatu AMALAN yang bisa mematikan hati adalah hal yang diharamkan.

Adapun TERTAWA sesekali atau ketika keadaan mengharuskan dia untuk tertawa, maka ini adalah hal yang diperbolehkan. Hanya saja, bukan termasuk tuntunan Nabi shallallahu alaihi wasallam jika seorang itu TERTAWA sampai terbahak-bahak. Karenanya TERTAWA terbahak-bahak adalah hal yang dibenci walaupun tidak sampai dalam hukum HARAM,

wallahu a’lam.

Cara Menyelamatkan Diri Dari Neraka Bag 43 ( Insya Allah )

Standard

Jangan Pernah Menyepelekan Doa !!!Kepada saudaraku yang hatinya terluka…kalbunya dimakan kesedihan dan kegelisahan…Kepada saudaraku yang dilindas dan digilas beratnya kemiskinan…dililit hutang yang menggunung….Kepada saudaraku yang memikul segunung problematika….yang merasa seluruh jalan dan sebab telah tertutup…

Apakah kau lupa senjatamu yang sangat ampuh…??, Doa…dialah permohonan yang ditujukan kepada Pencipta alam semeseta ini…?? Apakah kau meremehkannya???

Al-Imam As-Syaafi’i rahimahullah berkata :

أَتَهْزَأُ بِالدُّعَاءِ وَتَزْدَرِيهِ *** وَمَا تَدْرِي بِمَا صَنَعَ الدُّعَاءُ
Apakah engkau mengejek doa dan menyepelekannya….
Tidakkah engkau tahu apa yang bisa diperbuat oleh doa?

سِهَامُ اللَّيلِ لا تُخْطِي وَلَكِنْ *** لَهَا أَمَدٌ وَلِلْأَمَدِ انْقِضَاءُ
Anak panah yang dilepaskan di malam hari, tidak akan meleset, akan tetapi…
Anak panah tersebut ada waktunya/tempo untuk mengenai…dan setiap waktu pasti ada akhirnya

Janganlah pernah meremehkan doa… ia adalah senjata kaum sholihin… bahkan senjata para Nabi ‘alaihim as-salaam.
Angkatlah kedua tanganmu…mintalah kepada Robmu…
jangan pernah malu untuk meminta kepada Robmu yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang kepada para hambaNya…

Curahkan segala keluh kesahmu kepada Robmu yang lebih rahmat kepada seorang hamba dari kasih sayang seorang ibu kepada anaknya…
Masihkah engkau berburuk sangka kepadaNya…, masihkah engkau enggan untuk berdoa… ??!!
Bangunlah di gelapnya malam tatkala semua orang tertidur pulas…keluhkan seluruh bebanmu kepada Allah….

لاَ تَسْأَلَنَّ بَنِي آدَمَ حَاجَةً *** وَسَلِ الَّذِي أَبْوَابُهُ لاَ تُحْجَبُ
Jangan sekali-kali engkau meminta hajatmu kepada anak Adam…
Akan tetapi mintalah kepada Dzat yang pintu-pintunya tidak pernah tertutup

اللهُ يَغْضَبُ إِنْ تَرَكْتَ سُؤَالَهُ *** وَبَنِي آدَمَ حِيْنَ يُسْأَلُ يَغْضَبُ
Allah murka jika engkau tidak meminta kepadaNya
Adapun anak Adam jika engkau meminta-minta kepadanya maka ia marah

—– Ditulis oleh Ustadz Firanda Abu Abdul Muhsin ——

Tiga Filter Informasi

Standard

Terkadang begitu banyak prasangka buruk yang kita tujukan kepada seseorang yang belum tentu itu benar, walaupun benar tetaplah salah. Karena prasangka buruk dapat merugikan orang lain dan diri sendiri, maka dari itu sebelum kita menceritakan apa pun pada orang lain saringlah informasi itu. Dikisahkan pada jaman Yunani kono.

Suatu hari seseorang datang dan berkata, “Tahukah anda apa yang saya dengar tentang teman anda?”

“Tunggu beberapa menit.” Socrates menjawab.

“Sebelum anda menceritakan apa pun pada saya, saya akan memberikan suatu test sederhana. ini disebut Triple Filter Test”.

“Triple filter Test?”

“Benar,” kata Socrates.

“Sebelum kita bicara tentang teman saya, saya kira bagus kalau kita mengambil waktu beberapa saat dan menyaring apa yang akan anda katakan. Itulah sebabnya saya menyebutnya triple filter test.

“Filter pertama adalah KEBENARAN. “Apakah anda yakin sepenuhnya bahwa yang akan anda katakan pada saya benar.”

“Tidak,” jawab orang itu.

Sebenarnya saya hanya mendengar tentang itu.”

“Baik,” kata Socrates. “jadi anda tidak yakin bila itu benar.

Baiklah sekarang saya akan berikan filter yang kedua, filter KEBAIKAN.

Apakah yang akan anda katakan tentang teman saya itu sesuatu yang baik?”

“Tidak, malah sebaliknya…”

“jadi socrates melanjutkan, “Anda akan berbicara tentang sesuatu yang buruk tentang dia, tetapi anda tidak yakin apakah itu benar.

Anda masih memiliki satu kesempatan lagi karena masih ada satu filter lagi, yaitu filter KEGUNAAN.

Apaka yang akan anda katakan pada saya tentang teman saya itu berguna bagi saya?”

“Tidak, sama sekali tidak.”

“Jadi.” Socrates menyimpulkannya, “bila anda ingin mengatakan sesuatu yang belum tentu benar, sesuatu yang buruk, dan bahkan tidak berguna, mengapa anda harus mengatakannya kepada saya?”

Hikmah dari kisah ini adalah ….

1. buruk sangka merupakan pebuatan yang tercela

2. saringlah setiap kita mendapat informasi apakah BENAR, BAIK, dan BERGUNA

3. jauhkan diri kita dari prasangka buruk

Kisah ini dikutib dari majalah Campus Indonesia, Mei 2011

Maskur, guru Al Hikmah Bintara