Category Archives: Syar’i

tulisan permasalahan agama oleh guru SDIT AL HIKMAH

MEMBANGUN RUMAH SURGA

Standard

rumah di surgaMempunyai rumah indah dan nyaman adalah keinginan setiap manusia. Di dunia ini, untuk mempunyai rumah yang indah dan nyaman harus memeras keringat dahulu mencari uang, karena harganya yang mahal. Bahkan kita suka memandang sebelah mata saudara kita yang rumahnya masih ngontrak,kendaranya butut ,pakainnya lusuh dll tapi bisa jadi di sisi Allah di lebih mulia dibandingakan orang yang punya rumah dan kendaraan mewah di dunia ini karena dia terlepas dari transaksi riba, menjaga keinginan hawa nafsunya dari hal hal yang diharamkan oleh Allah, dan dia lebih focus untuk membangun istana di surge dengan memperbanyak amal sholeh yang bisa mengantarkan kepada hunian nan indah dan abadi yang keindahan dan kenyamananny tidak bisa digambarkan dengan kata kata. Yang diperlukan adalah kekuatan untuk beramal shalih dan menahan hawa nafsu.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengabarkan kepada umatnya tentang amalan-amalan yang apabila dilakukan oleh manusia, maka Allah akan membangunkan sebuah rumah untuknya di surga. Yaitu:

  1. Membangun masjid walaupun hanya sedikit.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

من بنى لله مسجداً، ولو كمفحص قطاةٍ أو أصغر بنى الله له بيتاً في الجنة  .

Barangsiapa yang membangun masjid karena Allah walaupun hanya sebesar sangkar burung atau lebih kecil dari itu, Allah akan bangunkan untuknya sebuah rumah di surga.” (HR Ibnu majah dari hadits Jabir, dan dishahihkan oleh Syaikh Al AlBani).

  1. Menjaga sholat dluha empat raka’at dan qobliyah dzuhur 4 raka’at.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

من صلى الضحى أربعاً، وقبل الأولى أربعاً بُنى له بيتٌ في الجنة)

(حسن رواه طبراني في الأوسط.

Barangsiapa yang shalat dluha empat raka’at dan qobliyah dzuhur empat raka’at, akan dibangunkan untuknya sebuah rumah di surga.” (HR Ath Thabrani dan dihasankan oleh Syaikh Al AlBani dalam silsilah shahihah no 2346).

  1. Menjaga sholat sunnah rawatib 12 raka’at.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

من صلى في اليوم الليلة اثنتي عشرة ركعةً تطوعاً، بنى الله له بيتاً في الجنة

Barangsiapa yang shalat (rawatib) sehari semalam 12 raka’at, maka Allah akan bangunkan untuknya sebuah rumah di surga.” (HR Muslim, An nasai, Abu dawud, ibnu majah dari Ummu Habibah).

Shalat 12 raka’at itu adalah dua raka’at qobliyah shubuh, empat sebelum dzuhur dan dua setelahnya, dua setelah maghrib, dan dua setelah ‘isya sebagaimana yang disebutkan dalam riwayat imam At Tirmidzi. Read the rest of this entry

Advertisements

Cara Menyelamatkan Diri Dari Neraka Bag 68 ( Insya Allah )

Standard

2. Yang Kedua Adalah Beriman Kepada Malaikat Allah Ta’aalaa.

Beriman kepada malaikat maksudnya adalah kita mengimani segala penjelasan Allah Subhaanaahuwata’aalaa dan Rasul-Nya Shallallahu’alaihi wa sallam tentang malaikat.

Malaikat adalah makhluk Allah Ta’aalaa yang berada di alam ghaib yang senantiasa beribadah kepada Allah Ta’aalaa, mereka tidak memiliki sedikitpun sifat-sifat ketuhanan dan tidak berhak di sembah. Allah Ta’aalaa menciptakan mereka dari cahaya dan mengaruniakan kepada mereka sikap selalu tunduk kepada perintah-Nya

Jumlah mereka (malaikat) sangat banyak, tidak ada yang mengetahuinya selain Allah Ta’aalaa sendiri. Di sebutkan dalam hadist Israa Mi’raj bahwa Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda :

“ Lalu ditampakkan kepadaku (Rasulullah) Al-baitul Ma’mur (Ka’bah), setiap harinya 70000 malaikat (silih berganti) shalat di tempat tersebut (Albaitul Ma’mur). Setelah keluar dari tempat tersebut mereka (malaikat) tidak pernah kembali lagi sebagai kewajiban terakhir mereka” (Hadist Riwayat Bukhari).

Malaikat juga merupakan makhluk Allah Ta’aalaa yang sangat besar. Dalam sebuah Hadist di sebutkan :

“ Telah di Ijinkan bagiku (Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam) untuk menceritakan Malaikat-malaikat Allah Ta’aalaa yang Memikul Arsy (Singgasana). Sesungguhnya jarak antara Pundak dan Daun Telinga (Malaikat) sejauh 700 tahun perjalanan (HR.Ahmad Di Shahihkan oleh Al-bani.

Seandainya kita memperhatikan kepada ciptaan Allah Ta’aalaa itu yaitu Malaikat yang begitu sangat besarnya maka kita akan mengetahui bagaimana kebesaran dan keagungan Allah Ta’aalaa Yang telah menciptakan Malaikat tersebut.

Apakah kita mengetahui bahwasanya Malaikat itu mempunyai Sayap. Perhatikanlah Firman Allah Ta’aalaa :

“ Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, Yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai Sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Q.S. Al-Fathir : 1)

Termasuk beriman kepada malaikat adalah :

a. Mengimani wujud mereka.

b. Mengimani malaikat yang telah di beritahukan kepada kita namanya, sedangkan yang tidak kita ketahui namanya, maka kita mengimaninya secara global (garis besar).

c. Mengimani sifat-sifat malaikat yang telah di beritahukan kepada kita sifatnya, Misalnya : Malaikat Jibril. Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam pernah melihatnya (malaikat Jibril) dalam wujud aslinya, di mana ia (malaikat Jibril) memiliki 600 sayap yang masing-masing sayapnya menutupi ufuk (sebagaimana dalam riwayat Bukhori).

d. Mengimani tugas malaikat yang telah di beritahukan kepada kita. Di antara tugas mereka adalah bertasbih malam dan siang, beribadah, bertawaf di Baitul Ma’mur dsb.

3. Yang Ketiga adalah Beriman Kepada Kitab-Kitab Allah Ta’aalaa.

Kita juga wajib beriman bahwa Allah Ta’aalaa telah menurunkan kitab-kitab-Nya dan telah memberikan Suhuf (Lembaran-lembaran yang berisi wahyu) kepada beberapa Rasul.

Semuanya adalah firman Allah Ta’aalaa yang di wahyukan kepada Rasul-rasul-Nya, agar mereka menyampaikan Syariat-Nya kepada manusia. Adapun firman Allah Ta’aalaa ini bukanlah makhluk, di sebabkan firman Allah adalah Sifat-Nya (Allah Ta’aalaa) sedangkan sifat Allah Ta’aalaa bukanlah makhluk.

Termasuk beriman kepada kitab-kitab Allah Ta’aalaa adalah :

a. Beriman bahwa kitab-kitab itu turun dari sisi Allah Ta’aalaa.

b. Beriman kepada kitab-kitab Allah tersebut baik secara tafshil (Rinci) ataupun secara Global (Garis Besar). Secara Tafshil maksudnya adalah kita mengimani penjelasan yang berasal dari Alqur’an dan Assunnah yang menyebutkan tentang kitab-kitab Allah Ta’aalaa tersebut. Seperti kitab Taurat di berikan kepada Nabi Daud, Injil di berikan kepada Nabi Isa, serta Al-Quran di berikan kepada Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi wa sallam dan lain sebagainya. Sedangkan secara Global (Garis Besar) maksudnya kita mengimani bahwa Allah Ta’aalaa menurunkan kitab-kitab kepada Rasul-rasul-Nya meskipun tidak di sebutkan namanya.

c. Membenarkan berita-berita yang ada di dalam kitab tersebut yang masih MURNI (Belum Di rubah). Seperti berita-berita Alqur’an dan berita kitab-kitab yang belum di rubah. Dikatakan masih MURNI “ karena kitab-kitab selain Alquran tidak di jaga kemurniannya sedangkan Alquran di jaga kemurniannya oleh Allah Ta’aalaa” mengapa ! karena Ahlul kitab (pendeta Yahudi & Nashrani) telah merubah kitab-kitab terrsebut dengan tangan-tangan mereka sendiri. Ada yang di rubah, di tambah, dikurangi bahkan ada juga yang di hilangkan. Sebagaimana firman Allah Ta’aalaaa:

“Yaitu orang-orang yahudi telah merubah perkataan dari tempatnya…..” (Terjemah Annisa : 46). Maka standar membenarkan atau menyalahkan isi kitab-kitab tersebut adalah yang di benarkan oleh Al quran.

d. Mengamalkan hukum yang terkandung di dalam kitab-kitab tersebut selama belum di hapus hukumnya, disertai dengan sikap ridho dan menerima namun setelah di turunkan Alqur’an, maka kitab-kitab sebelumnya (Zabur, Taurat Injil dll) sudah di hapus Hukumnya, sehingga tidak bisa di amalkan oleh ummat islam kecuali yang di benarkan oleh Al-qur’an.

Sulaiman bin Habib pernah berkata

“Kita hanya di perintahkan beriman kepada Taurat & Injil dan tidak di perintahkan untuk mengamalkan isi yang ada di antara keduanya”

4. Yang Ke Empat adalah Makna Beriman Kepada Rasul-Rasul Allah Ta’aala

Rasul adalah orang yang mendapatkan Wahyu dengan membawa syariat baru sedangkan Nabi adalah orang yang di utus dengan membawa syariat Rasul yang datang sebelumnya atau dengan kata lain melanjutkan misi dakwah Rasul sebelumnya.

Para Rasul adalah manusia, mereka tidak memiliki sedikitpun sifat Rububiyyah (Mencipta, Mengatur, dan Menguasai alam semesta), mereka juga tidak mengetahui yang Ghaib, mereka tidak mampu mendatangkan manfaat ataupun menolak Mudharat atau Bahaya. Allah Ta’aalaa memerintahkan Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi wa sallam untuk mengatakan :

“ Katakanlah : aku (Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam) tidak berkuasa menarik Kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman.” (Al-a’araaf : 188)

Di antara sebab-sebab yang menghalangi orang-orang kafir beriman kepada Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi wa sallam adalah karena beliau adalah manusia biasa seperti mereka, mereka mengatakan : “mengapa Allah Ta’aalaa mengutus Rasul dari kalangan Manusia?” Jikalau seandainya mereka mau berfikir, tentulah mereka akan mengetahui bahwa di antara hikmah Allah Ta’aalaa mengutus Rasul dari kalangan Manusia adalah agar Rasul tersebut dapat di Teladani, Di tiru, dan Di ikuti perbuatannya. Sebab jikalau Rasul tersebut berasal dari kalangan Malaikat bagaimana dapat di ikuti, karena malaikat tidak sama sifatnya dengan sifat Manusia.

Termasuk beriman kepada Rasul- rasul Allah Ta’aalaa adalah

a. Beriman bahwa risalah mereka benar-benar dari sisi Allah Ta’aalaa. Oleh karena itu siapa saja Yang INGKAR kepada salah seorang Rasul di antara mereka, maka sama saja Ia telah INGKAR kepada semua para Rasul secara keseluruhan.

b. Mengimani Rasul yang telah di beritahukan kepada kita Namanya, sedangkan Rasul yang tidak di beritahukan namanya, maka kita Imani secara Global (Garis Besar).

c. Membenarkan berita-berita mereka yang Shahih (yang jelaas kebenarannya).

d. Mengamalkan syariat Rasul yang di utus kepada kita yaitu Muhammad Shallallahu’alaihi wa sallam beliau adalah penutup para Nabi dan Rasul, Maka tidak ada lagi Nabi setelahnya (Muhammad Shallallahu’alaihi wa sallam).

5. Yang Ke Lima adalah Makna Beriman Kepada Hari Akhir.

Beriman kepada hari akhir maksudnya adalah mengimani semua penjelasan Allah Ta’aalaa dan Rasul-Nya yang menyebutkan penjelasan tentang keadaan / kejadian setelah kematian/ mati, seperti : Fitnah Kubur, Adzab Kubur, Nikmat Kubur, Ba’ats (Kebangkitan dari Kubur), Hasyr (Pengumpulan Manusia di padang Mahsyar), di berikannya catatan amal, Hisab, Mizan (Timbangan amal), Haudh (Telaga), Shiroth (Jembatan), Syafaat, Syurga, Neraka dll.

Termasuk beriman kepada hari akhir adalah beriman kepada tenda-tanda hari kiamat seperti : Keluarnya Dajjal, Turunya Nabi Isa ‘alaihissalam keluarnya Ya’juj dan Ma’juj dan terbitnya matahari dari sebelah Barat, sebelum tanda-tanda tersebut juga aka4n di dahului oleh tanda-tanda kecilnya di antaranya adalah di Angkatnya Ilmu Agama (yakni dengan banyak di wafatkan para Ulama), Perzinahan banyak di lakukan (Merajalela), Jumlah Wanita lebih banyak daripada laki-laki, Amanah akan di sia-siakan dengan di serahkan segala urusan kepada yang bukan AHLINYA., banyaknya Pembunuhan, dan banyaknya Gempa Bumi (berdasarkan hadist yang Shahih).

Di antara hikmah mengapa Allah sering menyebutkan hari Akhir di dalam Alqur’an adalah karena beriman kepada hari akhir memiliki pengaruh yang kuat dalam memperbaiki keadaan seseorang, sehingga ia akan mengisi hari-harinya dengan mengerjakan amal-amal shaleh, ia pun akan lebih semangat dalam mengerjakan ketaatan itu sambil berharap akan di berikan pahala di hari akhir tersebut, demikian juga akan membuatnya semakin takut ketika mengisi hidupnya dengan kemaksiatan, apalagi merasa tentram dengannya. Beriman kepada hari akhir juga membantu seseorang untuk tidak berlebihan terhadap dunia dan tidak menjadikannya (Dunia Itu) sebagai tujuan hidupnya. Di antara hikmahnya juga adalah menghibur seseorang Mukmin yang kurang mendapatkan kesenangan Dunia, karena di hadapannya ada kesenangan yang lebih baik dan lebih kekal.

6. Yang Ke Enam adalah Makna Beriman Kepada Qodho dan Qodhar atau Takdir Allah Ta’aalaa.

Takdir ini merupakan ketentuan Allah Untuk Seluruh Makhluk Nya sesuai dengan Ilmu dan Hikmah Allah Ta’aalaa . Takdir bahwasanya Allah Ta’aalaa Menakdirkan segala sesuatu ini di Jelaskan di dalam Alquran :

“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran ( Qodar ).” ( Q.S : Al-Qomar : 49 )

“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu “ ( QS:At-Taghoobun : 11 )

Beriman kepada Takdir ini Mencakup kepada 4 Tingkatan :

1. Beriman bahwa Allah Ta’aalaa mengetahui segala sesuatu baik secara Global atau Secara Rinci baik yang terdahulu maupun yang terakhir, baik dengan perbuatan Allah Sendiri maupun dengan perbuatan para Hamba-Nya baik yang ada yang tidak ada ataupun yang mustahil ada atau sesuatu yang tidak ada seandainya ia menjadi ada Allah Tetap mengetahuinya.

2. Allah mencatat segala sesuatu di Catat di Lauhul Mahfudz ( Kitab yang terpelihara ) sebagaimana di jelaskan di dalam Alqur’an :

“Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi?; bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah.” ( QS : Al-Hajj : 70 ).

“ Allah telah mencatatkan semua takdir makhluk 50000 Tahun sebelum di ciptakan langit dan bumi “ ( HR. Muslim ). Jadi Allah telah mencatat Takdir Semua Makhluk 50000 Tahun sebelum diciptakannya Langit dan Bumi.

3. Segala sesuatu yang tejadi di jagad raya tidak akan terjadi kecuali dengan

kehendak oleh Allah jadi tidak ada sesuatu yang terjadi yang tidak di

kehendaki oleh Allah , sama saja baik yang menjadi perbuatan diri-Nya atau

makhlukNya:

“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu] dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.” ( QS : Ibrahiim : 27 )

“Dialah yang membentuk kamu dalam rahim sebagaimana dikehendaki-Nya. Tak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. “ ( QS : Al-Imran : 6 ). Jadi kita seperti ini sudah kehendak Allah : Seperti Yang Cantik, Yang Jelek, yang Cacat, yang Buta, yang Pincang, yang Bisu, yang Gagu, Yang Kaya , Yang Miskin, Yang Susah, Yang Senang, Yang Sakit, Yang Sehat dan lain sebagainya. Ini sudah di kehendaki oleh Allah Ta’aalaa dan ini merupakan Perbuatan yang berkaitan dengan perbuatan Allah Ta’aalaa, dan kita harus menerima semua yang sudah di kehendaki oleh Allah Ta’aalaa dan tidak boleh Menolak takdir dan tidak boleh merasa SOMBONG atau membanggakan diri terhadap apa yang telah di berikan kepada kita dari harta, kedudukan, jabatan maupun Ilmu.

“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan”
( QS : Al-An’am : 112 )

2. Beriman bahwa semua yang terjadi di alam Jagad Raya ini adalah Ciptaan Allah Ta’aalaa.

“ Alloh menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu “ (QS Az zumar : 62)

“ dan dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya. “ ( QS : Al furqon : 2)

“ Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.” (QS : As-Shaffat : 96).

Jadi segala sesuatu itu adalah Ciptaan Allah Ta’alaa Oleh karena itu semua yang ada di Alam Semesta ini, dan yang telah terjadi di alam semesta ini adalah Allah Ta’alaa yang telah menciptakannya termasuk apa yang telah di perbuat oleh manusia, di antaranya : Penemuan Tekhnologi-Tekhnologi Canggih Seperti Komputer, Mobil, Motor, Pesawat, Televisi, Video, Game , Senjata Kimia, Alat-Alat kedokteran, Minyak Bumi, Gas bumi dan semua yang ada di Bumi ini adalah Ciptaan Allah subhaanaahuwa ta’aaalaa. Semua itu dan Seluruhnya itu wahai pembaca yang Budiman ! Telah di Ketahui, Telah di Catat, Telah di Kehendaki, dan Telah di Ciptakan oleh yang Maha Kuat, Oleh yang Maha Perkasa, Oleh Yang Maha Gagah, Oleh Yang Maha Tinggi, Oleh Yang Maha Besar, Oleh Yang Maha Mengetahui yaitu Allah Subhaanahu wa ta’aalaa.

Maksud beriman kepada Qodar atau Takdir Allah Ta’aalaa itu adalah Kita mengimani bahwa semua yang terjadi di alam semesta ini, yang baik maupun yang buruk adalah Qodho dan Qodar-Nya. Semuanya telah di KETAHUI Allah Ta’aalaa, telah di TULIS, telah di KEHENDAKI, dan di CIPTAKAN oleh Allah Ta’aalaa.

Allah Ta’aalaa berbuat Adil dalam Qodha dan Qodhar-Nya. Semua yang di takdirkannya adalah sesuai hikmah yang sempurna yang di ketahui oleh Nya. Allah tidaklah menciptakan keburukan tanpa adanya Maslahah (Manfaat), namun keburukan dari sisi buruknya, tidak di nisbatkan (di Tujukan) kepada-Nya. Tetapi keburukan tersebut termasuk dalam Ciptaan-Nya. Dan apabila hal tersebut di hubungkan kepada Allah Ta’aalaa, maka itu adalah Keadilan, kebijaksanaan dan sebagai rahmat dan kasih sayang-Nya. Allah Ta’aalaa telah menciptakan kemampuan dan iradah (kenginan) untuk hamba-hamba-Nya. Di mana ucapan yang keluar dan perbuatan yang di lakukan sesuai kehendak mereka, Allah Ta’aalaa tidaklah memaksa mereka bahkan mereka berhak memilih antara yang benar dan yang salah, dan antara yang selamat dan yang sesat. Manusia merasakan bahwa mereka atau dirinya memiliki kehendak dan kemampuan yang dengannya (kehendak dan kemampuan) ia akan berbuat atau tidak. Ia juga bisa membedakan antara hal yang terjadi dengan keinginannya seperti berjalan, dengan hal yang tidak dia inginkan seperti Gemetar atau Sakit dan lain-lain. Akan tetapi dari itu semua, Tetaplah bahwa kehendak dan kemampuan seseorang tidaklah terjadi baik ucapan atau perbuatan kecuali dengan kehendak Allah Ta’aalaa atau dengan kata lain semua yang telah terjadi di muka bumi ini apakah perbuatan atau ucapan manusia yang baik dan yang buruk itu terjadi dengan KEHENDAK ALLAH Ta’aalaa. Hal tersebut bukanlah berarti Manusia tidak mempunyai kemampuan dan kehendak / kenginan. Akan tetapi Allah Ta’aalaa jugalah yang telah menciptakan kemampuan dan kehendak manusia. Oleh sebab itu apa saja yang di lakukan oleh manusia maka hal tersebut tidaklah lepas juga dari kehendaknya Allah Ta’aalaa. Hal tersebut sebagaimana firman Allah Ta’aalaa :

“Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.” (Q.S. At-Takwir : 29).

Di dalam Masalah Takdir Ini Ada 2 Golongan yang menyimpang dari golongan Ahlussunnah wal Jama’ah :

1. Qodariyyah.

2. Jabariyyah.

YANG PERTAMA QODARIYYAH : Qodariyyah itu adalah kelompok yang Menyatakan bahwasanya Manusia itulah yang menciptakan perbuatannya sendiri sebab manusia itu murni melakukan perbuatannya sendiri tanpa di paksa oleh siapapun juga sedangkan Allah Ta’aalaa tidak menciptakan perbuatan manusia dan Qodariyyah juga mengatakan Allah Ta’aalaa hanyalah menciptakan perbuatan baik sedangkan perbuatan buruk bukanlah ciptaan-Nya dan juga mengatakan Allah Ta’aalaa tidak mengetahui suatu perbuatan apapun kecuali setelah perbuatan itu telah terjadi (ini berarti Qodariyyah mengingkari Ilmu Allah Ta’aalaa hal ini merupakan suatu perbuatan yang kufur ), dan generasi Qodariyyah sebelumnya juga mengatakan sesungguhnya amal perbuatan itu tidak tertulis di Lauhul Mahfudz. ( Kitab Catatan Takdir segala sesuatu), dan juga mengatakan sesungguhnya perintah Allah Ta’aalaa itu susulan. Oleh karena itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan Qodariyyah ini MAJUSI ummat ini

Sebab MAJUSI berkeyakinan bahwasanya ada 2 pencipta ( Tuhan ). Pertama Allah menciptakan semua Kebaikan dan yang Kedua Syaiton menciptakan semua Keburukan atau Kejelekan itu jadi Allah bukanlah pencipta Keburukan ( Kata Mereka ) sedangkan Keburukan itu di ciptakan oleh Syaiton. Oleh karena itu Qodariyyah itu di samakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan MAJUSI ummat ini. Atau dengan kata lain Qodariyyah mengatakan “ Semua perbuatan Baik maupun Buruk kitalah yang mengerjakan sedangkan Allah tidaklah ikut Campur dalam perbuatan kita , dan juga kitalah yang mempunyai Kehendak sedangkan kehendak Allah tidak ikut Campur dengan Kehendak Kita (manusia ) dan Qodariyyah yang paling Ekstrim yang Mengatakan : Allah tidak mengetahui sama sekali sampai suatu kejadian atau suatu perbuatan itu Terjadi ( Kata Mereka )

Sebelum membantah Aliran Qodariyyah Ini ada baiknya Kita mengetahui Bahwasanya Kehendak Allah itu terbagi atas 2 Bagian :

[1]. Kehendak Syari’at (Ira’dah Syari’at)
Adalah kehendak Allah yang telah Allah syariatkan kepada hambanya. Kehendak ini berupa amal-amal wajib dan amal-amal sunnah yang Allah Mencintainya atau meridhoinya. Allah berkehendak dan menyukai hamba-hamba-Nya untuk melakukan shalat, puasa, sedekah, jihad, meninggalkan Kemaksiatan dan lain-lain ( Seperti Allah memerintahkan Kita Shalat Kemudian Kita Melaksanakannya dengan Penuh Rasa Cinta, Harap dan Takut Berarti Allah Menghendaki Kepada Kita untuk Kita Berbuat Baik dengan Kehendak Syar’i Begitu Juga Kita Meninggalkan Larangan –Larangan-Nya lalu Kita Meminggalkannya Ini Berarti Juga Kita sedang Menjalankan Takdir Nya Yang di berikannya Kepada Kita, dan Kehendak Syar’i ini hanya terjadi kepada diri Orang yang Beriman Saja sedangkan Pada Diri Orang Kafir tidak terjadi ) .
[2]. Kehendak Kauni (Ira’dah Kauniyah)
Adalah kehendak Allah yang pasti terjadi di dunia ini. Kejadian ini kadang-kadang berupa sesuatu yang diridhai oleh Allah dan kadang-kadang berupa sesuatu yang dibenci oleh Allah Seperti adanya Iblis, Syaton, Orang Kafir, Nashrani, Yahudi, Budha, Hindu, Adanya, Pembunuh, Penjagal, Pezina,Perampok, Penipu, Pemakan Riba, Penggunjing, Pencela, ada yang kaya, Miskin , Sakit, Susah, Senang dan Lain sebagainya )

Akan tetapi dari Kehendak Kauni ini akan menimbulkan sesuatu yang di Sukai dan Di Ridhoi oleh Allah Ta’aalaa. Contoh : Allah Telah Menciptakan dan Menghendaki adanya IBLIS untuk MENGUJI Manusia Sedangkan Menurut kita ( Manusia ) mengatakan ” Mengapa Allah Menciptakan IBLIS, Padahal IBLIS banyak menyesatkan Manusia ! ”. Maka Jawabnya adalah sebagai Berikut ; Dengan adanya IBLIS ini, maka Jelaslah, Mana Yang Sebenarnya Orang Yang Benar-benar Beriman dengan keimanan sesungguhnya dari orang yang tidak Beriman, dan juga menjadi Jelas Mana Orang Mu’min Sejati dan Mana Yang Munafik, Dan juga Menjadi Jelas Mana Yang Muslim dan Mana Yang kafir dan Akhirnya akan menjadi Jelas Pula Mana Orang-orang Yang akan di masukan Kedalam SYURGA dan Mana Pula Yang Akan Di Masukan ke dalam NERAKA, Oleh Karena Itu, Tidaklah Allah itu Menciptakan dan Menghendaki adanya IBLIS dengan Sia-Sia, Tidak Juga Menciptakan Orang Kafir dengan Sia-Sia, Tidak Juga Menciptakan Perbuatan Baik dan Buruk dengan Sia-Sia ( Perlu di perhatikan wahai pembaca yang budiman, dalam hal Penciptaan Baik dan Buruk, Ketahuilah, Kuburukan itu tidaklah di Sandarkan Kepada Allah Ta’aalaa ; memang Benar Allah Yang telah Menciptakan Keburukan akan tetapi dari keburukan itu Akan Menghasilkan Kebaikan yang Luar Biasa) Istilah Kehendak Kauni ini diambil dari Al-Qur’an surat Yasin : 82.
“Artinya : Sesungguhnya Allah itu apabila menghendaki sesuatu, Dia mengatakan Kun (=jadilah). Maka jadilah apa yang Dia kehendaki”
Kata ‘SESUATU’ dalam ayat tersebut bentuknya nakiroh (bersifat umum). Bisa berupa ketaatan atau bisa pula berupa kemaksiatan, bisa sesuatu yang diridhai atau bisa pula berupa sesuau yang dibenci Allah.
Inilah yang terkenal dengan nama Qadha dan Qadhar, yaitu segala sesuatu yang terjadi pada diri kita, yang kita alami, yang kita rasakan, yang kita perbuat, bahkan yang kita inginkan, semuanya tidak mungkin terjadi tanpa kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Akan Tetapi yang perlu kita Ketahui wahai pembaca yang budiman adalah bahwa segala sesuatu yang terjadi pada diri kita itu ada dua macam.
[a] Yang berdasarkan kemauan dan usaha kita, seperti ; shalat, puasa, nikah, jual beli, zina, mencuri, dan lain-lain. Hampir semua perbuatan masuk ke dalam kategori ini. Di mana perbuatan-perbuatan ini akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat. Perbuatan taatnya akan dibalas dengan SURGA dan perbuatan maksiatnya akan dibalas dengan NERAKA.
[b] Yang tidak berdasarkan kemauan dan usaha kita, seperti ; sakit, kecelakaan, miskin, sehat, gila, cacat, dan lain-lain. Semua kejadian ini tidak akan dimintai pertanggung jawaban di akhirat, karena semuanya bukan merupakan bentuk ketaatan atau kemaksiatan.
Adapun bantahan Terhadap Qadariyah adalah sebagai Berikut :

1. Telah di atas dan juga di jelaskan di dalam Al-qur’an : ““ Alloh menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu “ (QS Az zumar : 62).

“ Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.” (QS : As-Shaffat : 96). Ayat ini menunjukkan bahwasanya perbuatan Manusia baik yang buruk atau yang baik, yang di perbuat manusia, yang di kehendaki manusia, yang di ciptakan manusia itu semua juga merupakan Perbuatan Allah , Kehendak Allah, dan Ciptaan Allah dan Telah di Catat dalam sebuah kitab Yang terpelihara ( Lauhul Mahfudz ) Dalilnya sebagaimana di sebutkan di dalam Alquran Al Kariim :

“Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.” (Q.S. At-Takwir : 29).

“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah “.
( QS: Al-Hadid : 22 )

Berdasarkan ayat di atas Manusia tidak akan pernah bisa berkehendak, tidak akan pernah bisa berbuat, tidak akan pernah bisa mencipta KECUALI Allah memberikan Kehendak kepadanya ( Manusia ), KECUALI Allah memberikan Kemampuan kepadanya ( manusia ) KECUALI Allah Memberikan Ilmu Kepadanya dan Kecuali Allah lah Yang Memberikan Kekuatan Kepadanya. Begitu juga manusia tidak akan bisa berbuat taat dan berbuat maksiat barbuat jahat, berbuat Keji, Kecuali karena Allah telah Menghendakinya perbuatan itu semua Kecuali Allah telah Mengizinkan agar perbuatan itu semua untuk terjadi di muka bumi ini dan juga telah tercatat seluruh perbuatan manusia itu di Lauhul Mahfudz 50000 Tahun sebelum penciptaan langit dan bumi. Sebagaimana telah di jelaskan dalam Alqur’an :

“ Dan kalau Allah menghendaki, niscaya tidaklah berbunuh-bunuhan orang-orang (yang datang) sesudah rasul-rasul itu, sesudah datang kepada mereka beberapa macam keterangan, akan tetapi mereka berselisih, maka ada di antara mereka yang beriman dan ada (pula) di antara mereka yang kafir. Seandainya Allah menghendaki, tidaklah mereka berbunuh-bunuhan. Akan tetapi Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya. “ ( QS : Al-baqarah : 253 ).

Dari hal-hal yang telah disebutkan di atas itu, bukan berarti meniadakan sama sekali kehendak, keinginan dan kemampuan manusia. Untuk menjelaskan kedua hal yang terlihat bertentangan tersebut Insya Allah akan di jelaskan contoh berikut ini :

Contoh : Apabila ada 2 buah perkara yang pada saat itu Kita harus memilihnya yang pertama Belajar, dan yang kedua Bermain, Tiba-tiba atau Spontan kita memilih BERMAIN, Bukankah kita memilih bermain itu kehendak atau keinginan kita ( Inilah Kehendak Manusia ), akan tetapi wahai pembaca yang budiman Bagaimana Jika Allah Ta’aalaa memberikan kepada kita sebuah Penyakit, apakah kita masih bisa BERMAIN ( Inilah Kehendak Allah ) ! Begitu juga apabila kita memilih BELAJAR, Bukankah kita sendirikah yang memilih untuk BELAJAR ( Inilah Kehendak Manusia ) akan tetapi wahai pembaca yang budiman Jikalau Allah Ta’aalaa tidak memberikan kemampuan atau kehendak atau keinginan untuk Belajar, apakah kita bisa untuk belajar ( Inilah Kehendak Allah ) ! Begitu juga Bisa kita Samakan atau analogikan Permisalan di atas dengan orang-orang Shalih dan Orang-Orang Yang Berbuat Maksiat, mereka bisa berbuat Ta’at dan mereka Bisa juga berbuat Maksiat , Apapun bentuknya yang mereka Memilihnya di antara keduanya ( Berbuat Shalih atau Berbuat Maksiat ) itu semua tidak Terlepas dari Kehendak Allah Ta’aalaa. Akantetapi wahai Pembaca yang Budiman , Janganlah Sekali-Kali Kita Mengerjakan Sesuatu Perbuatan maksiat seperti : Tidak Shalat, Puasa, Tidak Zakat, Haji atau Kita Melakukan Perzinahan , Perampokkan dan Hal-hal lain yang Keji Sifatnya, kemudian Kita Beralasan dan Mengatakan “ INI ADALAH TAKDIR DAN KEHENDAK ALLAH, Saya Sudah Di Takdirkan Seperti ini, Saya tidak Bisa Berbuat apa-apa “ Jika Seperti Ini adanya, Maka Ini adalah Pemahaman Orang-Orang Yang SESAT ( Yaitu Pemahaman JABARIYYAH Kebalikan dari QODARIYYAH ). Sebab Orang Seperti Ini hanyalah ingin memuaskan Hawa Nafsunya lalu berkata “ ini terjadi Atas Kehendak dan Takdir Allah “, Apabila Orang Seperti ini Di Katakan kepadanya ( Orang yang SESAT Tadi) “ Mana Yang Engkau Pilih ? aku memukulmu atau Tidak “ Pasti ia akan menjawab “ Tidak “, Kemudian katakan kepadanya Lagi “ Di sini ada Jalan Yang Berduri sedangkan Di sana Ada Jalan Yang Tidak Berduri ! mana Yang Engkau Pilih ? Pasti Ia akan menjawab “ Yang Tidak Berduri yang Aku Pilih “, kemudian Tanyakan lagi Ketika ia Sedang Kehausan “ di sisiku ada air yang dingin lagi menyegarkan dan di sisiku yang lain ada air yang Panas lagi Menyakitkan “ mana yang engkau Pilih ? Pasti ia Akan menjawab “ Air yang dingin lagi Menyegarkan “, jikalau seperti ini jawaban orang tersebut , Seharusnyalah ia Mengatakan “ aku memilih SURGA “ jika di katakan kepadanya sekali lagi “ Mana Yang Engkau Pilih SYURGA ataukah NERAKA ?

Apabila ia Sudah memilih jalannya menuju SURGA, maka sudah semestinyalah ia melakukan hal-hal yang baik yang di perintahkan Allah dan Rasul-Nya, yang bisa menghantarkannya menuju SYURGA. Dan Katakanlah Apabila orang tersebut yang sudah mengerjakan KETAATAN kepada Allah dan Rasul-Nya dengan Perkataan “ Ini adalah Takdir dan Kehendak ALLAH ). Jika seperti ini adanya maka ini adalah perkataan yang benar yang Layak untuk di ucapkan Oleh seorang Mu’min laki-laki maupun Perempuan.

YANG KEDUA ADALAH JABARIYYAH Jabariyyah Ialah pemahaman sesat yang meyakini bahwa semua apa yang terjadi adalah perbuatan Allah dan tidak ada perbuatan makhluk sama sekali atau dengan kata lain JABARIYYAH adalah Aliran kebalikan dari Pemahaman QODARIYYAH. Manusia tidak mempunyai kehendak sama sekali karena yang ada hanya kehendak Allah. Sehingga semua perbuatan mansuia adalah ketaatan semata kepada kehendak Allah, dan tidak ada perbuatan maksiat. Orang berzina tidaklah dianggap maksiat karena perbuatan zina itu adalah perbuatan Allah dan kehendak-Nya. Semua manusia dianggap sama tidak ada muslim dan kafir, karena semuanya tidak mempunyai usaha (ikhtiar) dan tidak pula mempunyai kehendak apapun. Golongan Jabariyyah juga salah dalam memahaminya, mereka memahami, bahwa seorang hamba melakukan amal perbuatan karena terpaksa, dia tidak memiliki keinginan dan kemampuan apapun, ( Sehingga kata mereka ) Orang-orang yang berdosa, berzina, Merampok, membunuh, Orang Muslim, Orang Hindu, Orang Kafir, Orang Yahudi, Nashrani, Budha, Majussi, dan lain Sebagainya Mereka itu semua tidak lah berbuat pada hakekatnya ( kata Mereka ), akan tetapi yang berbuat Adalah Allah Ta’aalaa Sang Pencipta Alam Semesta, Sehingga mereka ( Orang – Orang JABARIYYAH ) MENOLAK banyak ayat yang menjelaskan, bahwa seorang hamba JUGA memiliki KEINGINAN dan KEMAMPUAN dan bahwa amal perbuatan seorang hamba terbagi menjadi dua : ikhtiyaari (berdasarkan keinginan) dan ghoiru ikhtiyaari (paksaan).

Sebelum Kita membantah Golongan JABARIYYAH, hedaklah kita mengetahui terlebih dahulu Bahwasanya TAKDIR Allah Juga terbagi kepada 2 Bagian :

1. Takdir Syar’i

2. Takdir Kauni

Takdir Syar’I ini Mencakup Hal-hal yang di Ridhoi oleh Allah Ta’aalaa sedangkan Takdir kauni mencakup hal-hal yang di Senangi atau yang dibenci oleh Allah Ta’aalaa

Kita telah megetahui bahwasanya Kehendak Allah Itu Juga terbagi menjadi 2 bagian :

1. Kehendak Syar’i

2. Kehendak Kauni.

Kehendak SYAR’I itu hanya mencakup hal-hal yang di sukai, di Ridhoi oleh Allah Ta’aalaa sahaja Sedangkan kehendak KAUNI yaitu mencakup hal-hal yang di Sukai dan juga menckup hal-hal yang dibenci atau di Murkai oleh Allah Ta’aalaa. Ketahuilah, wahai pembaca yang budiman ? janganlah Kita melupakan 2 Kehendak ini ( Syar’i dan Kauni ). Kita telah Mengetahui ” Bahwasanya semua yang terjadi di Muka Bumi itu tidaklah akan terjadi Kecuali dengan Kehendak Allah Ta’aalaa ” Ini adalah Kehendak Kauni ( Secara Umum ) Kehendak Kauni ini mencakup semua Kebaikan dan Keburukan : kecelakaan, Sakit, Perampokan , pembunuhan, Penganiayaan, Peminum Minuman Keras, Bunuh Diri, Orang Yang baik, orang yang Jahat, Orang Kafir, orang Hindu, Nashrani, Budha, Majussi dan lain sebagainya, Dan Juga Masuk padanya Takdir Kauni ( Takdir Umum ). dan Kehendak dan Takdir KAUNI ini TERJADI Kepada Diri Orang MUSLIM Maupun Orang KAFIR ( SECARA UMUM ). Itu semua Memang Benar terjadi atas KEHENDAK DAN TAKDIR ALLAH akan tetapi yang Takdir dan Kehendak Yang Bersifat KAUNI. Mengapa hal tersebut di kategorikan atau di masukan kedalam Takdir dan Kehendak Yang bersifat Kauni ? Sebab Apabila Allah Tidak Menghendaki atau tidak Mentakdirkannya, Tentulah Semua Perbuatan Yang di sebutkan diatas tidak akan pernah terjadi untuk Selama-lamanya akan tetapi hal tersebut telah terjadi, hal ini menjukkan bahwa Allah Ta’aalaa telah menghendakinya untuk terjadi sehingga terjadilah ia. Wahai Pembaca yang Budiman, yang Kedua adalah KEHENDAK SYAR’I hal ini mencakup hal-hal yang baik sahaja seperti Beriman Kepada Allah, dan Semua Para Rasul, Shalat, Zakat, Puasa, Haji dan Mengerjakan Seluruh Kebaikan Yang di perintahkan oleh Allah dan Rasulullah Shalallahu ’alaihi wa sallam, kehendak Syar’i ini tidak terjadi kecuali Pada diri Orang-orang yang beriman Sahaja sedangkan Orang Kafir tidak Masuk kedalam Kehendak Syar’i ini.

Adapun Bantahan terhadap JABARIYYAH adalah sebagai berikut:

1. Firman Allah Ta’aalaa :

“Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.” (Q.S. At-Takwir : 29).

Di dalam ayat di atas bantahan Sekaligus bagi QODARYYAH dan JABARIYYAH : “Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu)” Ini Bantahan untak JABARIYYAH yang mengatakan manusia tidak punya kehendak akan tetapi di dalam ayat di atas Allah menyebutkan Manusia Tetap mempunyai Kehendak. Dan Firman-nya “kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.” Bantahan untuk QODARIYYAH yang mengatakan : Manusialah Yang Mempunyai Kehendak Sedangkan Allah Ta’aala Tidak Mempunyai Kehendak Sama Sekali Akan tetapi dalam ayat di atas Allah Menyebutkan Allah mempunyai KEHENDAK ( maka dengan 1 ayat ini Batallah Hujjah atau Argumen QODARIYYAH dan JABARIYYAH )

Ketahuilah Wahai Pembaca yang Budiman perlu kita ingat kembali bahwasanya segala sesuatu yang terjadi pada diri kita itu ada 2 macam.
[a] Yang berdasarkan kemauan dan usaha kita, seperti ; shalat, puasa, nikah, jual beli, zina, mencuri, dan lain-lain. Hampir semua perbuatan masuk ke dalam kategori ini. Di mana perbuatan-perbuatan ini akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat. Perbuatan taatnya akan dibalas dengan surga dan perbuatan maksiatnya akan dibalas dengan neraka.
[b] Yang tidak berdasarkan kemauan dan usaha kita, seperti ; sakit, kecelakaan, miskin, sehat, gila, cacat, dan lain-lain. Semua kejadian ini tidak akan dimintai pertanggung jawaban di akhirat, karena semuanya bukan merupakan bentuk ketaatan atau kemaksiatan.

Dua hal di atas adalah sesuatu yang tidak bisa dibantah lagi, baik secara dalil maupun secara akal. Bila dilihat secara dalil, banyak ayat-ayat dan hadits-hadits yang menyuruh kita melaksanakan suatu perbuatan atau melarang kita melaksanakan suatu perbuatan. Dan kita bebas memilih, mau taat atau tidak. Sedangkan bila dilihat secara akal, sangat jelas bagi kita yang berakal sehat bahwa ketika kita berbicara, berjalan, makan, minum dan lain-lain, semuanya adalah berdasarkan kemauan kita sendiri, bukan kemauan siapa-siapa. Kita bebas memilih, mau melaksanakan perbuatan-perbuatan tersebut atau meninggalkannya.
Akan tetapi pelaksanaan perbuatan-perbuatan tersebut tidak lepas dari takdir Allah dan Kehendak-Nya Subhanahu wa Ta’ala. Dan pembatalan perbuatan-perbuatan tersebut juga merupakan takdir. Dan takdir tersebut terjadi bersamaan dengan kemampuan kita untuk melaksanakan perbuatan-perbuatan tersebut atau membatalkannya.
Jadi .. sekali lagi, perbuatan manusia itu dibagi 2, yang berdasarkan kemauan dan yang tidak berdasarkan kemauan. Yang tidak berdasarkan kemauan tidak perlu kita Membahas Lebih Lanjut karena semuanya sudah jelas ( Insya Allah ), tidak ada hubungannya dengan syari’at ( yang di luar Kemampuan Kita seperti Sakit, tidur dll ). Yang ada hubungannya dengan syari’at adalah perbuatan yang berdasarkan Kemauan kita. Inilah hakikat sebenarnya. Seandainya hal ini kita tancapkan betul-betul dalam keyakinan kita, Inysa Allah kita bisa memahaminya. Wallahua’lam

Cara Menyelamatkan Diri Dari Neraka Bag 67 ( Insya Allah )

Standard

III. IMAN KEPADA ULUHIYYAH ALLAH (TAUHID ULUHIYYAH).
Di antara kandungan iman kepada Allah tabaaroka wa ta’aalaa yang ketiga yaitu Iman kepada Tauhid Uluhiyyah artinya mengesakan Allah tabaaroka wa ta’aala dengan perbuatan para hamba Nya (Yaitu Kita sebagai para Hamba-Nya) bardasarkan niat taqorrub (mendekatkan diri kepada Allah ) yang di syari’atkan. Seperti shalat, puasa, do’a, nadzar, kurban, pengharapan, takut, tawakkal, senang ,kembali atau taubat danlainnya, yang berkaitan dengan ibadah. Dalam Definisi di atas terdapat Terdapat Kata-kata ” Mengesakan Allah Ta’aalaa dengan segala Perbuatan Para HAMBA ”. Siapakah yang di maksud Para HAMBA di sini ! Yang di maksud Para HAMBA di sini adalah Kita Sebagai Hamba Allah Ta’aalaa, Sehingga Kita mengesakan Allah Ta’aalaa dengan Perbuatan Kita Yaitu seperti Shalat, Puasa, haji, Doa, Nadzar dan segala Macam Bentuk Ibadah yang Kita Lakukan Wajib Di TUJUKAN hanya Untuk Allah Semata. Hal tersebut harus di lakukan karena Allah tabaaroka wa ta’aala sahaja dan tidak boleh Ibadah tersebut di peruntukkan bagi selain Allah Ta’aalaa. Apabila Kita Menujukan Suatu ibadah Kepada Selain Allah maka Berarti Kita telah Menyekutukan Allah dalam Hal Ibadah atau Penyembahan Kepada-Nya. Maka tidak Benar Apabila ada seseorang mengaku Allah Ta’aalaa sebagai Tuhannya akan tetapi tidak Mau Ibadah kepada-Nya Atau Mengaku Allah Ta’aalaa sebagai Tuhanya akan tetapi MENYEKUTUKAN Allah Ta’aalaa dalam beribadah Kepada-Nya atau dengan kata lain Mengaku Tauhid Rububiyyah Akan tetapi Mengingkari Tauhid Uluhiyyah. Apabila seseorang telah mengakui Tauhid Rububiyyah, maka wajib bagi orang tersebut mengamalkan Tauhid Uluhiyyah, agar dia tidak termasuk seperti orang Musyrik (mengakui Tauhid Rububiyyah akan tetapi mengingkari Tauhid Uluhiyyah artinya mengaku bahwa Allah Sang Pencipta akan tetapi tidak mau ibadah kepada-Nya atau Menyekutukan dalam Ibadah Kepada-Nya).
Oleh karena itu orang Musyrik tidak di kategorikan sebagai seorang muslim di zaman Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam sebagaimana yang telah di jelaskan di atas (di bagian Tauhid Rububiyyah). Ketahuilah, wahai Saudaraku jenis Tauhid ini (Uluhiyyah) adalah inti dakwahnya Para Rasul, mulai dari Rasul yang pertama, Nuh ’alaihissalaam sampai Rasul yang terakhir Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam, bahkan Nabi Isa pun menyerukan tentang Tauhid ini (penyembahan hanya kepada Allah semata), sehingga Nabi Isa pasti akan berlepas diri dari para penyembahnya dari kalangan orang-orang Nashrani pada hari kiamat nanti.
Sebagaimana Allah tabaaroka wa ta’aala berfirman : Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul kepada tiap-tiap ummat (untuk menyerukan) : ”Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thogut (segala sesuatu yang di sembah selain Allah)itu ”(QS An-nahl:36).
Ketika Allah bertanya kepada Nabi Isa dalam Firman-Nya: Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: “Hai Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: “Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?.” Isa menjawab: “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku (Isa) pernah mengatakan maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku (Isa) dan aku (Isa) tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau MahaMengetahui perkara yang ghaib.” (QS Al Maidah : 116).
Kemudian Isa mengatakan, dalam Firman Nya selanjutnya : Aku (Isa) tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan)nya yaitu: “Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu“, dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu.”
(QS Al Maidah : 117).
Setiap Rasul selalu memulai dakwahnya dengan perintah TAUHID ULUHIYYAH (penyembahan kepada Allah). Karena kewajiban setiap mukallaf (yang di bebani syari’at) atau setiap manusia itu adalah bersaksi laa ilaaha illallah(tidak ada tuhan yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah), kemudian mengamalkannya sesuai dengan konsekuensinya Siapa yang tidak mengakui atau mempraktekkan atau mengamalkan Tauhid ini (Uluhiyyah), maka berarti ia bukan termasuk golongan orang Muslim, bahkan bisa menghantarkan orang tersebut sampai ke derajat Musyrik atau Kafir.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan para shahabatnya untuk memulai dengan apa yang dimulai oleh beliau sendiri yaitu da’wah kepada TAUHID.
Rasul yang pertama di antara para rasul yang mulia adalah Nuh ‘Alaihis sallam telah mengajak kepada masalah Aqidah hampir seribu tahun. Dan semua mengetahui bahwa pada syariat-syariat terdahulu tidak terdapat perincian hukum-hukum ibadah dan muamalah sebagaimana yang telah dikenal dalam agama kita ini (ISLAM), karena agama kita ini adalah agama terakhir bagi syariat-syariat agama-agama lain. Bersamaan dengan itu, Nabi Nuh ‘Alaihis sallam tetap mengajak kaumnya selama 950 tahun dan beliau menghabiskan waktunya bahkan seluruh perhatiannya untuk berda’wah kepada Tauhid. Meskipun demikian, kaumnya menolak da’wah beliau sebagaimana telah dijelaskan dalam Al-Qur’an.
“Artinya : Dan mereka berkata :’Janganlah sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan kepada) Wadd, dan jangan pula Suwaa’, Yaghuts, Ya’uq dan Nasr“. [Nuh : 23].
Ini menunjukkan dengan tegas bahwa sesuatu yang paling penting untuk di prioritaskan oleh para da’i Islam adalah da’wah kepada TAUHID. Dan ini adalah makna firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.
“Artinya : Maka ketahuilah, bahwa sesunguhnya tidak ada sesembahan (yang berhak diibadahi) melainkan Allah“. [Muhammad : 19]
Demikian Juga sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam secara amalan maupun pengajaran. Adapun Secara Amalan beliau, maka tidak perlu dibahas, karena pada periode Mekkah perbuatan dan da’wah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kebanyakan terbatas dalam hal menda’wahi kaumnya agar beribadah kepada Allah saja, tidak ada sekutu bagi-Nya.
Sedangkan dalam hal pengajaran, disebutkan dalam hadits Anas bin Malik Radhiyallahu anhu yang diriwayatkan di dalam Ash-Shahihain. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mengutus Muadz ke Yaman, beliau bersabda.
“Artinya : Hendaknya hal pertama yang engkau serukan kepada mereka adalah pesaksian bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi kecuali Allah saja, maka jika mereka mentaatimu dalam hal itu ….. dan seterusnya sampai akhir hadits. [Hadits Shahih diriwayatkan oleh Al-Bukhari (1395) dan ditempat lainnya, dan Muslim (19), Abu Daud (1584), At-Tirmidzi (625), semuanya dari hadits Ibnu Abbas Radhiyallahu anhu]
Hadits ini telah diketahui dan masyhur, Insya Allah.
Mengapa setiap Rasul memulai dakwah mereka dengan Tauhid Khususnya TAUHID ULUHIYYAH (penyembahan kepada Allah semata) ! karena hal ini merupakan masalah yang paling dasar, yang paling pokok serta kebaikan yang paling Mulia, yang menyebabkan seseorang di selamatkan dari Neraka dan di masukan kedalam Syurga serta hal ini merupakan Fondasi dasar atau Fundamental yang wajib di amalkan oleh setiap MANUSIA. Sebagaimana Firman Allaah Ta’aalaa.
“ Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka Menyembah kepada-Ku.” (QS. ADZ-DZARIAAT : 56).
Hal ini menunjukkan bahwasanya wajib bagi setiap Da’i (penyeru kepada kebenaran), atau Ustadz, untuk memulai dakwah mereka, untuk memulai pengajaran mereka, untuk memulai Tasfiyyah dan Tarbiyyah mereka dari masalah yang terpenting yakni TAUHID atau AQIDAH.
Oleh karena PENTINGNYA masalah TAUHID ini maka wajib bagi setiap muslim untuk mengetahui apa Makna Syahadat, Rukun Syahadat, syarat-syarat Syahadat, serta mengamalkannya sesuai dengan konsekuensinya. Insya Allah hal tersebut akan di jelaskan berikut ini:

A). MAKNA SYAHADAT (LAA ILAAHA ILLALLAH).
Apa makna syahadat laa ilaaha illallah (tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah )?” Al-ilaah artinya Al-Ma’luh, yaitu sesuatu yang disembah atau di ibadati dengan penuh kecintaan serta pengagungan. Di dalam istilah Nahwu atau dalam Kaidah Bahasa Arab, di dalam penggalan kalimat “ laa ilaaha“ (Tidak ada tuhan) ini tersimpan khabar (kalimat atau kata penjelas) yangdi hilangkan atau ada yang di buang atau tidak di sebutkan kalimatnya. Khabar (kata) yang dibuang atau di sembunyikan itu adalah “bi haqqin” (Artinya Yang haq). Sehingga, Makna yang benar secara ijmal (global) dari makna LAA ILAAHA ILLALLAH adalah tidak ada yang berhak di ibadati dengan benar kecuali Allah tabaaroka wa ta’aala. Jadi, salah jika ada yang mengatakan khabar (kata penjelas) yang di buang atau di sembunyikan itu adalah “Maujud” (Artinya Ada), sehingga maknanya menjadi tidak ada tuhan selain Allah (bukan ini yang dimaksud karena ini terjemahannya, bukan maknanya). Ini masih batil (Salah), karena jika di tafsirkan demikian, maka tuhan yang Ada atau yang Maujud itu berarti Allah, di karenakan tuhan yang Ada di dunia itu banyak sekali yang di sembah selain Allah akan tetapi tuhan-tuhan itu tidak berhak di sembah seperti patung, dewa, nabi Isa ,Kuburan, matahari, Bintang, Bulan dan lain sebagainya.
Oleh karena itu wajib bagi setiap Muslim mengetahui perkara ini dengan sejelas-jelasnya. Oleh karena itu, makna yang benar tentang laa ilaaha illallaah yaitu beri’tikad (berkeyakinan) dan berikrar (mengucapkan), bahwasanya tidak ada yang berhak disembah dan menerima ibadah kecuali Allah subhanahu wa ta’ala, mentaati hal tersebut dan mengamalkan konsekuensinya.

B). RUKUN SYAHADAT (LAA ILAAHA ILLALLAH)
Sesungguhnya syahadat laa ilaaha illallah itu mempunyai 2 Rukun :
1). An-Nafyu (peniadaan):”laa ilaaha”artinya membatalkan atau meniadakan syirik dengan segala bentuknya dan mewajibkan kekafiran terhadap apa saja yang di sembah selain Allah.

2). Al-Itsbat (Penetapan):”illallah”artinya menetapkan bahwa tidak ada yang berhak di sembah kecuali Allah dan mewajibkan pengamalan sesuai dengan konsekuensinya.

Makna dua rukun ini banyak di sebut dalam ayat Al-Qur’an, sebagaimana Firman Allah Ta’aalaa : Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut(segala sesuatu yang di sembah selain Allah) dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus………………(QS Albaqarah 256).
Firman Allah ta’aalaa “siapa yang ingkar kepada thogut” itu adalah makna dari “laa ilaaha” (Tidak ada yang berhak di ibadahi) rukun yang pertama. Yaitu An-nafyu (peniadaan), Sedangkan Firman Allah Ta’aalaa “dan beriman kepada Allah” makna dari rukun yang kedua yaitu Al-itsbat (Penetapan), “illallah” (kecuali Allah).
Dan sebagaimana juga dalam Firman-Nya : Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: “Sesungguhnya aku berlepas diri terhadap apa yang kamu sembah ,tetapi (aku menyembah) Tuhan Yang menjadikanku”
(QSAzzukhruf:26-27).
Firman Allah Ta’aalaa “”Sesungguhnya aku berlepas diri” ini adalah makna dari “laa ilaaha” (Tidak ada yang berhak di ibadahi) dari rukun pertama yaitu An-nafyu (Peniadaan). Sedangkan Firman-Nya , “ tetapi (aku menyembah) Tuhan Yang menjadikanku” adalah makna dari rukun yang kedua yaitu Al-itsbat (Penetapan), “illallah” (kecuali Allah).

C). SYARAT-SYARAT SYAHADAT (LAA ILAAHA ILLALLAH).
Sesungguhnya syahadat laa ilaaha illallah itu mempunyai syarat-syarat yang WAJIB diKetahui, diPahami, diPelajari serta di Amalkan. Bersaksi dengan laa ilaaha illallah harus dengan 7 syarat, tanpa syarat-syarat tersebut syahadat tidak akan bermanfaat bagi yang mengucapkannya. Secara global 7 syarat itu adalah :

1). Ilmu (Mengetahui lawan dari jahil atau kebodohan).
Artinya Memahami makna dan maksudnya. Mengetahui apa yang di tiadakan dan apa yang di tetapkan untuk Allah, yang meniadakan ketidaktahuannya tentang hal
tersebut (apa-apa yang wajib bagi Allah). Sebagaimana Firman Allah Ta’aalaa:
Dan sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memberi syafa’at; akan tetapi (orang yang dapat memberi syafa’at ialah) orang yang mengakui yang hak (tauhid) dan mereka meyakini(nya). (QS Az-zukhruf:86)
Maksudnya adalah orang yang bersaksi dengan laa ilaaha illallah, dan memahami dengan hatinya apa yang di ikrarkan oleh lisannya, Seandainya ia
mengucapkannya, akan tetapi tidak mengerti apa maknanya, maka persaksian itu tidak sah dan tidak berguna.

2). Yaqin (lawan dari keraguan).
Seseorang yang mengikrarkannya harus meyakini kandungan syahadat itu.
Manakala ia meragukannya maka sia-sia belaka persaksiannya itu. Sebagaimana Allah
Ta’aalaa berfirman :
“sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada
Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu…..” (QS.Al-hujurat: 15).

3). Qabul (Menerima lawan dari penolakan).
Menerima kandungan dan konsekuensi dari syahadat; menyembah Allah semata dan meninggalkan ibadah kepada selain-Nya.
Siapa yang mengucapkan, akan tetapi tidak menerima dan menta’aati, maka ia
termasuk orang-orang yang di firmankan Allah Ta’aalaa:
Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka: “Laa ilaaha illallah” (Tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah) mereka menyombongkan diri, dan mereka berkata: “Apakah sesungguhnya kami harus meninggalkan sembahan-sembahan kami karena seorang penyair gila?” (QS.As-shaffat: 35-36)
hal ini sama halnya dengan para penyembah kuburan dewasa ini. Mereka mengucapkan laa ilaaha illallah, akan tetapi tidak mau meninggalkan penyembahan terhadap kuburan. Bukan berarti Ziarah kubur tidak di perbolehkan, hanya sahaja seseorang harus benar-benar mengetahui bagaimana Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam mengajarkan tata-cara berziarah kubur!

4). Inqiyad (patuh lawan dari meninggalkan).
Sebagaiman firman Allah Ta’aalaa :
Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh. Dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan. (Qs.Lukman: 22).
Al ‘urwatulwutsqo adalah laa ilaaha illallah. Dan makna yuslim wajhahu adalah
yanqoddu (patuh, pasrah).

5). Shidq (jujur lawan dari dusta).
Yaitu mengucapkan kalimat ini dan hatinya juga membenarkannya. Manakala lisannya mengucapkan, akan tetapi hatinya mendustakan, maka ia adalah Munafik dan Pendusta. Sebagaiman afirman Allah Ta’aalaa :
Di antara manusia ada yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan Hari
kemudian,” pada hal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman
Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya
menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar. Dalam hati mereka ada penyakit, lalu
ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka
berdusta. (QS.Al baqarah: 8-10).

6). Ikhlas (lawan dari syirik).
Yaitu membersihkan amal dari segala debu-debu syirik, dengan jalan tidak
mengucapkannya kecuali karena mengingkari isi dunia, Riya, atau Sum’ah. Dalam hadits ‘itban rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda :
“ sesungguhnya Allah mengharamkan atas neraka orang yang mengucapkan laa ilaaha
illallah karena menginginkan Ridho Allah” (HR.Al-Bukhori dan Muslim).

7). Mahabbah (kecintaan lawan dari kebencian).
Maksudnya mencintai kalimat ini serta isinya, juga mencintai orang-orang yang mengamalkan konsekuensinya. Sebagaimana firman Allah Ta’aalaa :
Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. (QS.Al-baqarah: 165).
Maka dari itu ahli Tauhid itu mencintai Allah dengan cinta yang Tulus Bersih. Sedangkan ahli syirik mencintai Allah dan mencintai yang lainnya, hal ini sangat bertentangan sekali dengan isi kandungan laailaaha illallah.

D). KONSEKUENSI DARI SYAHADAT (LAA ILAAHA ILLALLAH).
Yaitu meninggalkan ibadah kepada selain Allah dari segala macam yang di pertuhankan, sebagai keharusan dari peniadaan (laa ilaaha). Dan beribadah kepada Allah semata tanpa syirik sedikitpun, sebagai keharusan dari penetapan (illallah).
Banyak orang yang mengikrarkan akan tetapi melanggar konsekuensinya. Sehingga mereka menetapkan ketuhanan yang sudah di tiadakan, baik berupa para makhluk, kuburan, pepohonan, bebatuan serta para thaghut lainnya.
Mereka berkeyakinan bahwa Tauhid adalah Bid’ah. Mereka menolak para ulama atau para da’I yang mengajak kepada Tauhid dan mencela orang yang beribadah kepada Allah semata.
Di samping wajibnya mengetahui tentang syahadat laa ilaaha illallah, wajib pula bagi setiap muslim mengetahui makna syahadat Muhammad Rasulullah (bahwa Muhammad itu utusan Allah), rukun-rukun syahadat, syarat-syaratnya, serta mengamalkannya sesuai dengan konsekuensinya. Karena syahadat itu berisi 2 persaksian yaitu “ Asyhadu Allaa ilaaha illallah wa Asyhadu anna Muhammadan Rasuulullah”. Diantara yang wajib di ketahui dan dipahami serta di amalkan adalah :

A). MAKNA SYAHADAT (MUHAMMAD RASULULLAH)
Yaitu mengakui secara lahir batin bahwa beliau adalah hamba Allah dan Rasul-Nya yang diutus kepada manusia secara keseluruhan, serta mengamalkan konsekuensinya, menta’ati perintahnya, membenarkan ucapannya, menjauhi larangannya, dan tidak menyembah Allah kecuali dengan apa yang di syari’atkan.

B). RUKUN SYAHADAT “MUHAMMAD RASULULLAH”
Syahadat ini (MUHAMMAD RASULULLAH) ini juga mempunyai 2 Rukun yaitu kalimat (‘Abduh wa Rasuuluh) artinya hamba dan rasul-Nya atau utusan-Nya. Kedua Rukun ini menafikan (meniadakan sikap) ifrath (berlebih-lebihan) dan Tafrith (Meremehkan) pada hak rasulullah shallallahu’alaihiwasallam. Beliau adalah hamba dan Rasul-Nya. Beliau adalah makhluk yang paling sempurna dalam Dua Sifat yang mulia ini, yang kedua sifat tersebut telah di berikan oleh Allah Ta’aalaa kepadanya. yang pertama :
1). Hamba-Nya (‘Abduh).
Artinya Hamba disini adalah hamba yang menyembah. Maksudnya, beliau adalah manusia yang di ciptakan dari bahan yang sama dengan bahan ciptaan manusia yang lainnya (yaitu berasal dari tanah). Juga berlaku atas beliau sebagaimana berlakunya atas orang selain beliau. Sebagaimana Firman Allah Ta’aalaa :
“ katakanlah: Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu……….”.(QS.Al-kahfi: 110).
Beliau hanya memberikan hak ubudiyyah (ibadah) kepada Allah dengan sebenar-benarnya, dan oleh karenanya Allah Ta’aalaa memujinya:
“Bukankah Allah cukup untuk melindungi hamba-Nya” (QS.Az sumar: 36).
Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al Kitab (Al-Quran) dan Dia tidak mengadakan kebengkokan di dalamnya; (QS.Al kahfi: 1)
Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ……………………(QS.Al israa: 1).
2). Utusan-Nya (Rasuuluh).
Artinya orang yang di utus kepada seluruh manusia dengan misi dakwah sebagai Basyiir (pemberi kabar gembira) dan Nadziir (pemberi peringatan).
Persaksian untuk Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam dengan 2 sifat ini meniadakan sikap Ifrath (berlebih-lebihan) dan Tafrith (meremehkan) pada hak Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam. Karena banyak orang yang mengaku umatnya (beliau), lalu melebihkan haknya atau bahkan mengkultuskannya hingga mengangkatnya di atas martabat sebagai hamba, bahkan sampai kepada martabat ibadah (penyembahan) untuknya selain dari Allah subhaanahuwata’aalaa. Mereka beristighasah kepada beliau, dari selain Allah. Dan juga meminta kepada beliau sesuatu yang tidak
sanggup melakukannya kecuali Allah. Akan tetapi di pihak lain, sebagian orang mengingkari kerasulannya atau mengurangi haknya, sehingga banyak orang yang Menyalahi Ajarannya (beliau), atau bahkan Bergantung kepada pendapat-pendapat yang menyelisihi Ajarannya (beliau), serta memaksakan diri dalam mena’wilkan hadits-hadits dan hukum-hukumnya agar sesuai dengan Pendapat Mereka. Na’udzu billah.
Adapun setelah itu, wajib bagi setiap muslim mengetahui apa syarat-syarat syahadat Anna Muhammad Rasulullah (bahwa Muhammad itu utusan Allah)! Yang Insya Allah akan di jelaskan berikut ini.

C). SYARAT-SYARAT SYAHADAT “MUHAMMAD RASULULLAH”.
1). Mengakui kerasulannya dan meyakininya di dalam hati.
2). Mengucapkan dan mengikrarkan dengan lisan.
3). Mengikutinya dengan mengamalkan ajaran kebenaran yang telah di bawanya
serta meninggalkan kebatilan yang telah di cegahnya.
4). Membenarkan segala apa yang di kabarkan dari hal-hal yang ghaib, baik yang
sudah lewat, maupun yang akan datang.
5). Mencintainya melebihi cintanya kepada dirinya sendiri, harta, anak, orang tua
Serta umat manusia seluruhnya.
6). Mendahulukan sabdanya atas segala pendapat orang lain serta mengamalkan
sunnahnya.

D). KONSEKUENSI DARI SYAHADAT “MUHAMMAD RASULULLAH”.
Yaitu menta’atinya, membenarkannya, meninggalkan apa yang di larangnya, mencukupkan diri dengan mengamalkan Sunnahnya, dan meninggalkan yang lain dari hal-hal Bid’ah dan Muhdatsat (baru), serta mendahulukan Sabdanya di atas segala pendapat manusia seluruhnya.

Hal-hal yang membatalkan Islam atau dua kalimat syahadat itu banyak sekali. Mengucapkan Keduanya itu (dua kalimat syahadat) adalah pengakuan terhadap kandungannya serta konsisten mengamalkan konsekuensinya, berupa segala macam syi’ar-syi’ar yang ada di dalam islam. Apabila ia menyalahi apa yang di ikrarkannya, berarti ia telah membatalkan perjanjian dengan Keduanya (syahadatain).
Para Fuqoha (Ahli Fiqih) di dalam kitab-kitab Fiqih telah menulis bab khusus, tentang hal-hal yang membatalkan dua kalimat syahadat atau membatalkan islam. Diantaranya adalah bab khusus yang di beri judul bab Riddah (kemurtadan atau keluar dari islam), dan yang terpenting adalah 10 hal berikut ini :
1. Syirik dalam beribadah kepada Allah.
Sebagaimana Allah Ta’aalaa berfirman:
“ Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang di kehendaki-Nya.”(QS.An nisaa: 48).
Termasuk di dalamnya yaitu menyembelih karena selain Allah, Misalnya menyembelih untuk kuburan yang di keramatkan atau di peruntukkan bagi jin atau supaya menyembuhkan penyakit dan lain sebagainya.

2. Orang yang menjadikan antara ia dan Allah itu perantara-perantara, ia berdoa kepada mereka, meminta syafa’t kepada mereka dan bertawakal kepada mereka. Orang seperti ini kafir secara ijma’.

3. Orang yang tidak mau mengkafirkan orang-orang Musyrik atau orang Kafir dan orang yang masih ragu terhadap kekufuran mereka atau membenarkan madzhab mereka, maka ia itu kafir.

4. Orang yang meyakini bahwa selain petunjuk Nabi shallallahu’alaihiwasallam
lebih sempurna dari petunjuk beliau atau hukum yang lain lebih baik dari hukum beliau. Seperti orang yang mengutamakan hukum perundang-undangan buatan manusia di atas hukum islam. Maka ia kafir

5. Siapa yang membenci sesuatu dari ajaran yang di bawa oleh Rasulullah
shallallhu’alaihiwasallam sekalipun ia mengamalkannya, maka ia kafir.

6. Siapa yang menghina sesuatu dari agama Rasulullah
shallallahu’alaihiwasallam atau pahala maupun siksanya, maka ia kafir. Hal
ini di tunjukkan oleh Firman Allah Ta’aalaa:
“ Katakanlah: ‘Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?’ Tidak Usah kamu meminta maaf, sengguh telah kamu kafir setelah beriman.”(QS.At-taubah:65-66).

7. Sihir, di antaranya sharf dan ‘athf (amalan yang bisa membuat suami benci
kepada istrinya atau membuat wanita cinta kepadanya atau pelet). Barang siapa yang melakukan atau menyetujuinya atau meridhoinya, maka ia kafir. Sebagaimana firman Allah Ta’aalaa:
“….sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seseorangpun sebelum mereka mengatakan: ‘Sesungguhnya kami hanyalah cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir’.”(QS.Al-Baqarah: 102).

8. Mendukung kaum Musyrikin dan menolong mereka dalam memusuhi umat islam. Dalilnya firman Allah Ta’alaa:
“Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepda orang-orang dzalim.” (QS.As-sajdah: 22)

9. Siapa yang meyakini bahwa sebagian manusia ada yang boleh keluar dari syari’atNabi Muhammad shallallahu’alaihiwasallam,seperti Nabi Hidir boleh keluar dari syari’at Nabi Musa ‘alaihissalaam, maka ia kafir. Seperti ghulat sufiyyah (sufi yang berlebihan atau melampaui batas) bahwa mereka dapat mencapai suatu derajat atau tingkatan yang tidak membutuhkan untuk mengikuti ajaran Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam.

10. Berpaling dari agama Allah, tidak mau mempelajarinya dan tidak pula mengamalkannya. Dalilnya Firman Allah Ta’aala :
“ Dan siapakah yang lebih dzalim daripada orang yang telah di peringatkan dengan ayat-ayat Tuhannya, kemudian ia berpaling daripadanya? Sesungguhnya kami akan mengadakan memberikan pembalasan kepada orang-orang yang berdosa.” (QS.As-sajdah: 22).

Syaikh Muhammad At-Tamimy berkata: “Tidak ada bedanya dalam hal yang membatalkan syahadat ini antara orang yang bercanda, yang serius (bersungguh-sungguh) maupun yang takut, kecuali orang yang di paksa. Dan semuanya adalah bahaya yang paling besar serta yang paling sering terjadi. Maka setiap muslim wajib berhati-hati dan mengkhawatirkan dirinya serta mohon perlindungan kepada Allah subhaanaahuwata’aalaa dari hal-hal yang bisa mendatangkan murka Allah dan Siksa-Nya yang pedih ( didalam kitab Majmu’ At-Tauhid An-najdiyah, hal. 37-39).

Adapun di antara 10 pembatal-pembatal Syahadatain atau pembatal islam seseorang yang telah di sebutkan itu adalah SYIRIK. Apakah yang di maksud dengan SYIRIK?
SYIRIK adalah menyamakan selain Allah dengan Allah dalam perkara yang menjadi kekhususan atau hak bagi Allah. Dari definisi ini, maka jelaslah bagi kita Apa definisi SYIRIK itu ! SYIRIK itu tidak hanya sebatas menyembah dan sujud kepada berhala, patung, matahari ,Bulan, Bintang dan lain-lain, namun lebih luas daripada ini, Dan pelaku SYRIK itu disebut MUSYRIK. Kita bisa melihat kaum MUSYRIKIIN (orang-orang Musrik) yang diperangi oleh Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam dulu, apakah mereka MURNI benar-benar menyembah Berhala? Ternyata tidak, Allah menceritakan ucapan mereka: “Tidaklah kami menyembah mereka melainkan agar
mereka dapat mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” (QS Az-Zumar: 3). Mereka menyembah berbagai sesembahan tersebut dengan harapan dapat menjadi perantara bagi Allah. Padahal Allah Ta’aalaa tidak lah BUTUH kepada Perantara, Jikalau Kita Mau Berdoa, Berdoalah Langsung kapada Allah sebagaimana Firman Allah Ta’aalaa :
“Berdoalah Kepada Ku Niscaya Aku kabulkan Permintaanmu Sesungguhnya orang yang sombong dari berdoa kapada KU Kelak Mereka akan masuk ke dalam Neraka Jahannam dalam keadaan Terhina” (QS:Al-ghofir / Al-Mukmin :40)
Bahkan, Mendatangi DUKUN atau yang Sejenisnya termasuk Kesyirikan. Barang Siapa yang mendatangi DUKUN, PARA NORMAL, PENYIHIR, PESULAP, PERAMAL dan bertanya tentang sesuatu hal yang menjadi Permasalahanya kepada MEREKA, Maka Ia ( yang bertanya ) Shalatnya tidak di Terima oleh Allah 40 Hari 40 Malam, Barang siapa MEMBENARKAN Apa yang di katakan MEREKA berarti ia
( yang bertanya Lalu MEMBENARKAN itu ) telah Ingkar kepada Ajaran yang di bawa oleh Muhammad Shallallahu’alaihi wa sallam, dan Siapa Saja yang Mendatangi Kuburan Para Nabi, Kuburan Para Wali, Kuburan Para Kyai, Kuburan Para Ustadz Untuk Berdoa, Meminta BERKAH, REZEKI, JODOH, dan KEKAYAAN, di sana ( di Kuburan tersebut), Berarti ia telah berbuat seperti perbuatan orang YAHUDI dan NASHRANI. Ketahuilah Wahai Saudaraku ! Inilah perbuatan-perbuatan Syirik yang di ancam pelaku-pelakunya dengan Ancaman yang sangat berat, dan di Murka dengan Murka Yang sangat Dahsyat, Bahkan di Ancam Apabila perbuatan Tersebut Memasukan Pelakunya Kepada SYIRIK BESAR, dengan Ancaman NERAKA Selama-lamanya yang ia Tidak akan pernah Keluar daripadanya (Neraka). ( Na’uudzu billah Min Dzalik)
Bahkan, SYIRIK juga tidak terhenti sampai di sini, ada juga SYIRIK dalam KETAATAN, yang di namakan Syirik, Bukan Sekedar Sujud Kepada Patung, matahari, pohon ,kuburan, Batu-batuan, Jimat-jimat dan lain sebagainya, Bahkan menta’ati pendapat ulama atau mengikuti pendapat mereka ketika kita mengetahui bahwasanya pendapatnya salah dalam berijtihad, maka ini termasuk ke dalam kategori syirik, yang kita mengetahui bahwasanya dosa syirik itu dosa yang paling besar dari dosa-dosa yang besar, dosa yang tidak akan pernah di ampuni oleh Allah ta’aala jika pelakunya meninggal sedang ia belum bertaubat. Sebagaimana Firman Allah ta’aalaa : Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa SYIRIK, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (SYIRIK) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.(QS Annisa : 48). Lain Halnya Apabila Kita Tidak mengetahui Bahwasanya Pendapat Ulama tersebut SALAH, Lalu Kita Melakukannya, Ketahuilah Wahai Saudaraku ! Orang yang tidak Mengetahui atau orang yang Jahil atau orang yang Bodoh itu Terbagi kepada 2 Bagian : Yang Pertama, Orang yang Tidak Mengetahui atau orang yang Bodoh akan tetapi Ia Mau Belajar atau Mau Mencaritahu kebenaran, INSYA ALLAH akan di ampuni oleh Allah Ta’aalaa, Walaupun Ia Tersalah dalam Memilih, Yang Kedua adalah Orang yang Tidak mengetahui atau orang Bodoh akan tetapi tidak mau Belajar atau tidak ada Niat dalam Hatinya untuk menghilangkan kebodohan dalam dirinya untuk mencari KEBENARAN, Maka orang seperti ini Di bawah Kehendak Allah Ta’aalaa, Jika DIA berkehendak DIA (Allah) akan Menyiksanya, Jika Berkehendak, DIA (Allah) akan mengampuninya, Ketahuilah ! Bahwasanya orang yang kedua ini termasuk orang yang SOMBONG dan TAKABBUR. Mengapa ! Karena Sudah tahu ia tidak mengetahui, akan tetapi ia tidak mau Berusaha untuk menghilangkan KETIDAKTAHUAN dalam dirinya, Serta merasa Cukup dengan ILMU yang Di Milikinya. Oleh karena itu, Orang Yang tidak Mengetahui Terhadap Ilmu Agama WAJIB Baginya Menuntut Ilmu AGAMA ( Dimanapun Tempatnya Ia Harus Mencarinya ), agar ia Dapat Mengetahui Bagaimana Tatacara ia Beribadah kepada Allah, Agar ia Mengetahui Mana TAUHID dan Mana SYIRIK, Mana SUNNAH dan Mana BID’AH. Mana Yang HALAL dan Mana Yang HARAM. DanJuga agar ia Mengetahui ManaYang BENAR danMana Yang SALAH. Maka dari itu, Apabila Kita Mengetahui Bahwasanya Pendapat Ulama tersebut Jelas-Jelas Menyelisihi Alquran dan Assunnah atau SALAH, Setelah kita pelajari bahwa Pendapat tersebut Memang Benar-benar SALAH Lalu kita Tetap Sahaja Bersikeras Mengikuti Hawa nafsu, Mengikuti Ulama tersebut atau Ustadz tersebut, Berarti sama saja Kita Membuang Alquran dan Sunnah Jauh-jauh, Tidak mau mempelajarinya dan mengikuti Pendapat Ulama tersebut atau Ustadz tersebut Dengan MEMBABI BUTA.Wahai Saudaraku ! Bagaimana Kita BISA Mengetahui pendapat Ulama tersebut itu SALAH atau BENAR Jikalau kita tidak Pernah belajar Agama atau Menuntut Ilmu Agama, yang kita perhatikan hanyalah masalah DUNIA!. Ketahuilah Wahai Saudaraku, Ulama itu terbagi kepada 2 Macam ? Yang Pertama, Ulama yang Benar dan Yang Kedua, Ulama Suu’ (Buruk ), Ketahuilah Wahai Saudaraku ! Ulama Pertama itu adalah Ulama Ahlussunnah Sedangkan Ulama yang Kedua adalah Ulama Ahlul Bid’ah, Adapun Ulama Ahlussunnah Apabila Berijtihad maka ada 2 kemungkinan, Bisa SALAH Bisa Juga BENAR Ulama Ahlussunnah tersebut tidaklah SALAH dalam menjelaskan akan tetapi kitalah yang SALAH dalam MENGAMALKAN (Artinya Mengikuti pendapat Seseorang atau Ulama dengan Membabi Buta atau hanya mengikuti IJTIHAD Ulama tanpa harus meneliti apakah pendapatnya sesuai atau tidak dengan Alquran dan Sunnah) kita mengetahui Bahwasanya Ulama tersebut sudah berijtihad (artinya mengerahkan seluruh kemampuannya untuk mencari kebenaran dengan Sebenar-benarnya) dan kita Juga mengetahui bahwasanya Manusia itu SEMUANYA Bisa BENAR dan juga Bisa SALAH, dan kita Juga Mengetahui Bahwasanya IJTIHAD itu ada yang BENAR dan ada yang SALAH, Jikalau kita mengikuti yang BENAR berarti kita MENTAATI Allah Ta’aalaa,
Jika TIDAK ! Di Khawatirkan Kita Masuk ke dalam perbuatan yang di Haramkan oleh Allah dan RasulNya, Adapun yang kedua yaitu Ulama Suu’(Ulama Buruk), ia ( Ulama Tersebut ) Juga Mempunyai Ijtihad atau Fatwa, apabila Ijtihad Tersebut BENAR di Bolehkan bagi Kita Mengikuti kebenaran Yang keluar dari Lisannya ( Ulama Buruk itu ), Bahkan Bisa WAJIB bagi kita untuk mengikutinya, Akan Tetapi apabila kita mengetahui bahwasanya Ijtihadnya Salah Lalu kita menta’atinya dengan Mencampakkan Alqur’an dan Suunnah BERARTI Kita telah Ikut Andil Menghalalkan apa yang Allah Ta’aala Haramkan atau Mengharamkan yang Allah Ta’aalaa Halalkan Apabila Sudah Seperti demikian Jadinya Ini BERARTI kita MENYEKUTUKAN Allah Ta’aalaa dalam Hal KETAATAN kepada-NYA.
Ketahuilah wahai saudaraku, “SESUNGGUHNYA LADANG IJTIHAD ITU HANYA ADA DALAM HAL-HAL YANG SIFATNYA FURU’IYYAH ATAU CABANG(SEPERTI FIQH), ADAPUN TENTANG MASALAH AQIDAH(POKOK) TIDAK ADA SEORANG PUN YANG BERHAK MELAKUKAN IJTIHAD KECUALI APA YANG TELAH DIJELASKAN ALLAH DAN RASUL-NYA DALAM AL QUR’AN DAN AS SUNNAH”.
Adapun ulama yang tersalah, jika ia berdosa (akibat kesalahan karena berijtihad). Insya Allah, Allah akan mengampuni dosanya. Sebab, beliau (ulama tersebut) telah mencurahkan segala pemikirannya untuk mencari kebenaran (dalam masalah Fiqh atau dalam berfatwa), Jika ulama itu, benar, ia (ulama itu) mendapatkan 2 pahala, jika salah maka mendapat 1 pahala. Pada umumnya banyak orang awam, mengambil dalil ini atau hadits ini untuk memperkuat pendapatnya atau bid’ahnya, Padahal Para Imam sangat mencela sekali akan adanya bid’ah (apakah itu bid’ah yang baik ataupun buruk). Dan banyak pula orang menisbatkan (menuduh), bahwa yang melakukan kebid’ahan itu adalah para sahabat, tabi’iin, tabii’u-ttabi’iin serta aimmatul hudaa (para Imam, khususnya imam 4 yang masyhur di kalangan kaum muslimin), sehingga banyak di antara mereka yang melakukan bid’ah tersebut tanpa harus mengkaji dari mana asal bid’ah tersebut. Padahal mereka semua (para shahabat, tabiin, dan para imam 4 yang masyhur) sangat takut menyelisihi Rasulullah dalam hal-hal yang baru dalam agama (bid’ah), karena mereka mengetahui bahwasanya Binasanya orang-orang terdahulu akibat menyelisihi Nabi-nabi mereka. Apakah dalam hal penentangan ataupun dalam hal mengada-adakan dalam agama (bid’ah). Bahkan semua Para ulama mengatakan : jika ada pendapatku yang menyelisihi Alqur’an dan Alhadits, maka tinggalkan pendapatku.
Diantara mereka yang mengatakan seperti itu adalah para imam Ahlussunnah wal jama’aah yaitu Imam As Syafi’i . Imam Malik dan Imam Abu hanifah, serta Imam Ahmad bin Hambal :
PRINSIP DALAM FIQIH MEREKA ADALAH
1. Al imam As Syafi’i, berkata setiap orang harus Bermadzhab kepada Rasulullah shallallohu’alaihiwasallam dan mengikutinya. Apapun pendapat yang aku (syafi’i) katakan atau Sesuatu yang aku katakan itu berasal dari Rasulullah shallallohu’alaihiwasallam padahal berlawanan dengan pendapatku, apa yang di sabdakan Rasulullah shallallohu’alaihiwasallam itulah yang menjadi pendapatku.(HR.Hakim dengan sanad bersambung kepada imam As syafi’i seperti tersebut dalam kitabTarikh Damsyik karya Ibnu ‘Asakir (XV/1/3), I’lam Almuwaqqi’in (II/363-364), Al-iqozh hal 160).
• As Syafi’i berkata, “Semua hadits yang shahih dari Nabi shalallahu a’laihi wassalam maka itu adalah pendapatku meskipun kalian tidak mendengarnya dariku.”(Ibnu Abi Hatim hal 93-94).
• As Syafi’i mengatakan, “Jika hadits itu shahih itulah Madzhabku”(An-Nawawi, dalam Al-Majmu’).
2. Imam Malik Rohimahullah, berkata saya hanyalah seorang manusia biasa, terkadang salah, terkadang benar. Oleh karena itu, telitilah pendapatku, apabila sesuai dengan Al qur’an dan Sunnah, Ambillah; dan apabila tidak sesuai dengan Al qur’an dan As sunnah, tinggalkanlah (Ibnu ‘Abdil Baar dan dari ia Ibnu hazm dalam kitabnya Ushul Al Ahkam (VI/149)).
• Imam Malik Rohimahullah, berkata siapapun perkataannya bisa di tolak dan bisa di terima kecuali hanya Nabi shallallahu’alaihiwsallam sendiri. (di kalangan Ulama Mutaakhiriin hal ini masyhur (terkenal) di nisbatkan (di sandarkan) kepada Imam Malik dan di nyatakan shahihnya oleh Ibnu ‘Adil Hadi dalam kitabnya Irsyad As-salik, di riwayatkan juga oleh Ibnu ‘Abdil Baar dalam kitab Al jamii’ (II/291), Taqiyyudin menyebutkan dalam kitab Al Fatawa dari ucapan Ibnu ‘Abbas karena ia merasa takjub dengan kebaikan ucapan itu ia berkata : ucapan ini diambil oleh Mujahid (tabi’iin) dari Ibnu ‘Abbas (sahabat), lalu Imam Malik mengambilnya dari perkataan mereka, kemudian orang-orang mengenalnya dengan perkataan beliau sendiri yaitu Imam Malik).
3. Imam Abu hanifah (nu’man bin tsabit), berkata tidak halal bagi seseorang mengikuti perkataan kami, apabila ia tidak tahu dari mana kami mengambil sumbernya, pada riwayat lain di katakan orang yang tidak mengetahui dalilku (hujjahku), haram baginya menggunakan pendapatku untuk memberikan fatwa, pada riwayat lain di- tambahkan “ kami hanya seorang manusia, hari ini kami berpendapat demikian tetapi besok kami mencabutnya, pada riwayat lain dikatakan (di sebabkan imam ini sering mendasarkan pendapatnya pada Qiyas, karena ia melihat qiyas itu lebih kuat (kemudian setelah itu datanglah Hadits Nabi yang belum datang kepada beliau) lalu ia mengambil Hadits tersebut, lalu ia tinggalkan pendapatnya yang terdahulu.” Sya’rani dalam kitab Al-Mizan(1/62)).
4.Ahmad bin hambal, berkata janganlah kalian Taklid (mengikuti pendapat membabi buta) kepadaku, Malik, Syafi’i, Auza’i, dan Atsauri, tetapi ambillah dari sumber mana mereka mengambil. (Al-filani hal 113 dan Ibnul Qoyyim dalam Al ‘I’lam hal 302).
Inilah sebagian perkataan Ulama yang mereka berprinsip dalam Bidang Fiqh, Apalagi dalam hal-hal yang terkait dalam masalah AQIDAH, jelas mereka akan mengembalikannya (Aqidah itu) kepada Alqur’an dan Assunnah, dan masih banyak lagi perkataan para ulama yang semisal dengan mereka. Mereka mengatakan seperti itu agar semua orang itu mengetahui bahwasanya mereka (para imam itu) tidak pernah menganggap dirinya merasa paling benar dan terbebas dari kesalahan, para imam Ahlussunnah itu hanyalah manusia biasa yang tidak pernah luput dari dosa sehingga semua para ulama mengatakan seperti apa yang telah mereka katakan.
Oleh karena itu, semua Para Imam (Khususnya, Imam Asyafi’i, Malik, Abu hanifah, dan Ahmad bin hanbal ) akan berlepas diri dari semua orang yang hanya mengikuti atau bertaklid buta atas pendapat-pendapat mereka yang keliru (salah) pada hari kiamat kelak atau mengikuti yang mudah-mudah sahaja dari pendapat mereka.
Maka dari itu Bukan berarti, kita tidak boleh mengikuti Para Imam, yang tidak di perbolehkan adalah mengikuti salah seorang di antara mereka dengan membabi buta dan mencampakkan Para Imam yang lainnya tanpa mengetahui sejauh mana kebenarannya. Yang benar adalah, kita Bedah/BukaSemua kitab para ulama, dan kita pelajari kemudian kita Ambil mana di antara mereka yang sesuai dengan kitab Al qur’an dan Sunnah, tentunya dengan penjelasan Ahli ilmu (agama) yang benar-benar mengetahui tentang Alqur’an dan seluk beluk hadits (yang bisa membedakan mana hadits shahih dan mana hadits dhoif, maudhu atau mungkar atau lainnya, tidak terkenal pendusta, dan tidak fanatik dengan kelompok, golongan atau madzhab tertentu) dan Ulama-ulama yang benar-benar menegakkan sunnah sesuaipemahaman para sahabat Radhiallahu’anhum jamii’an, bukan menurut pemahaman individu (orang awwam atau orang yang tidak mengetahui Ilmu hadist beserta syarat dan kaidahnya). Apabila kita tidak mengambil penjelasan dari para ulama! Dari mana lagi kita akan mendapatkan penjelasan! Sebab mereka itu adalah Pewarisnya para nabi. sehingga mereka menjelaskan (dengan segenap kemampuan mereka) dan dengan merekalah sunnah Nabi shallallahu’alaihiwasallam berjalan dan karena penjelasan dari merekalah kita mengetahui. Oleh karena itu seseorang boleh mengikuti pendapat ulama, jika pendapatnya (ulama itu) sejalan dengan Alqur’an dan Assunnah sesuai dengan pemahaman para shahabat Radhiallahu’anhum jamii’an, adapun yang salah (menyelisihi Alqur’an dan As sunnah) kita tinggalkan, “DAN KITA MENDO’AKAN UNTUK MEREKA AGAR DI AMPUNI KESALAHAN MEREKA BUKAN MENGHINA ATAU MENCACI SALAH SEORANG DI ANTARA MEREKA” dan adapun yang benar (yang berdasarkan Kitab dan Sunnah sesuai pemahaman para Shahabat radiallahu’anhum) kita amalkan, sebab jika kita mengikuti yang benar, berarti kita telah mengikuti Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam, sedangkan jika kita mengikuti pendapatyang salah dari ulama (tersebut), berarti kita telah menyekutukan Allah dalam hal pengesahan Halal dan Haram (penghalalan dan pengharaman). Hal ini sangat berbahaya sekali, yang kebanyakan Orang Awwam itu tidak mengetahui hakekat perkara ini.
Tatkala Rasulullah shallallahu ’alaihi wassalam membacakan ayat: “Mereka menjadikan orang-orang Alimnya dan Rahib-rahib mereka sebagai Tandingan (tuhan) selain Allah.” (At-Taubah: 31). Sahabat Adi bin Abi Hatim radhiallahu ‘anhu yang pada waktu itu baru masuk Islam menyanggah: “kami itu Tidaklah menyembah mereka”. Maka Rasulullah shallallahu ’alaihi wassalam menjawab: “Bukankah mereka mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Allah lalu kalian pun ikut mengharamkannya, dan bukankah mereka menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah lalu kalian pun ikut menghalalkannya?” Maka Adi bin Abi Hatim radhiallahu ‘anhu pun menjawab: “Benar”. Rasulullah shallallahu ’alaihi wassalam berkata: ”Itulah peribadahan kepada mereka”. Lalu sekarang, betapa banyak kaum muslimin yang mereka ikut menghalalkan yang semestinya haram dengan landasan hawa nafsu atau taklid (ikut-ikutan)? Na’udzu billah.

Syirik tidak hanya terbatas pada amalan badan, namun juga amalan HATI dan LISAN. Allah berfirman: “Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah.” (Al Baqoroh: 165).
Bahkan ¡ Riya (Ingin di puji Masyarakat), Sum’ah (Ingin di dengar Masyarakat), ‘Ujub (Merasa Bangga dengan dirinya atau merasa bangga dengan Ilmunya Merasa Cukup dengan Kekayaannya) itu semua masuk dalam kategori SYIRIK.
Dalam sebuah hadits qudsi Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
قال الله تبارك وتعالى : أنا أغنى الشركاء عن الشرك من عمل عملا أشرك فيه معي غيري تركته وشركه
Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa berfirman : “Aku Dzat yang paling tidak membutuhkan sekutu. Barang siapa yang beramal dengan menyekutukan Aku, maka Aku tinggalkan dia dan Sekutunya.” (HR Imam Muslim no 2985).
Dan Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam juga telah bersabda :
إن أخوف ما أخاف عليكم الشرك الأصغر قالوا يا رسول الله وما الشرك الأصغر قال الرياء إن الله تبارك وتعالى يقول يوم تجازى العباد بأعمالهم اذهبوا إلى الذين كنتم تراءون بأعمالكم في الدنيا فانظروا هل تجدون عندهم جزاء
“Sesungguhnya yang paling saya (Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam) takutkan pada kalian adalah SYIRIK KECIL” Para sahabat bertanya : “Apa yang dimaksud SYIRIK KECIL itu?” Beliau menawab : “Riya`” Sesungguhnya Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa berfirman pada hari semua amal hamba dibalas (hari kiamat) : “ Datangilah orang yang dulu kalian tunjukkan amal (RIYA) kalian padanya di dunia, lihatlah apakah kalian mendapatkan balasan dari mereka.” (HR Ahmad no 22742 dan Al Baghawi. Syekh Al Albani berkata : sanadnya baik (jayyid) (lihat Silsilah Hadits Shahihah no 951)
Abu Umamah al Bahiliy melihat seorang lelaki di dalam masjid sedang menangis ketika sujud, kemudian beliau berkata : “Anda, seandainya ini anda lakukan di rumah anda (tentu lebih baik).”

…………..Apabila seseorang telah beriman kepada keberadaan-Nya, Rububiyyah-Nya, Uluhiyyah-Nya, maka mengharuskan ia beriman kepada Asma wa sifat (Nama-nama dan Sifat-Nya yang Agung), Karena TAUHID itu di bagi menjadi 3 BAGIAN yaitu Rububiyyah, Uluhiyyah, dan Asma Wa Sifat. Dan Setiap Manusia wajib Beriman kepada 3 TAUHID ini. Dan iman seseorang itu belum dikatakan lurus, sebelum ia beriman kepada Tauhid Al Asma wa sifat (Nama dan Sifat Allah) ini, sebagaimana yang insya Allah akan di jelaskan Berikut ini.

IV. IMAN KEPADA ASMA WA SIFAT allah.

(TAUHID ASMA WA SIFAT ) ATAU NAMA DAN SIFAT allah.

Di antara kandungan iman kepada Allah tabaaroka wa ta’aala yang keempat adalah iman kepada NAMA dan SIFAT-SIFAT Allah tabaaroka wa ta’aala yaitu iman kepada Tauhid Asma wa sifat yang artinya menetapkan NAMA dan SIFAT-SIFAT bagi Allah, yang NAMA dan SIFAT-SIFAT itu telah Allah tetapkan untuk dirinya sendiri yang layak bagi Allah sesuai dengan keagungan-Nya baik dalam kitab-Nya maupun dalam sunnah rasul-Nya tanpa (jangan) tahrif (menyimpangkan makna), ta’til (menghilangkan makna), takyiif (membicarakan bagaimana hakekatnya), dan tamtsil (menyerupakan dengan makhluk). Inilah kaidah-kaidah Ahlussunnah wal jamaa’ah dalam menetapkan Asma’ wa sifat Allah ta’aala.

Sebaiknya 4 kaidah ini, wajib atau harus di hafal terlebih dahulu sebelum melanjutkan ke pembahasan berikutnya, dan selain kaidah ini, kita juga harus mengetahui kaidah berikut ini ”TIDAK SEMUA SIFAT ITU MENGANDUNG NAMA UNTUK ALLAH AKAN TETAPI SUDAH MENJADI KEPASTIAN BAHWA SETIAP NAMA ITU MENGANDUNG SIFAT) karena hal ini sangat penting sekali agar tidak terjadi kesalah-pahaman.

Contohnya: Arrohman dan Arrohiim dalam ayat ini terkandung nama dan juga sifat Allah subhaanahu wa ta’aala, contoh lainnya Al-‘aliim (Maha mengetahui), As-samii’ (Maha mendengar), Al-hayyu (Maha Hidup), Al-qoyyum (Maha Berdiri Sendiri), Al-Maliik (Maha Memiliki), Al-qowiyyu (Maha Kuat), Al-‘aziiz (Maha Perkasa), Al Mutakaabbir (Yang Maha Agung), didalam Nama-Nama tersebut terkandung Nama sekaligus Sifat untuk Allah subhaanaahuwata’aalaa. Dan di dalam Al Qur’an dan Al Hadits Allah mensifatkan diriNya dengan Al ’Ainaini (Dua Mata), kedua mata tersebut Allahlah yang telah mensifatkan diriNya dengan kedua mata itu dan ini (kedua mata itu) termasuk Sifat Allah Yang Maha Agung, akan tetapi bukan Nama-Nya (karena sesuai dengan kaidah “tidak semua sifat yang ada di Al qur’an dan Al-hadits itu mengandung Nama untuk Allah dan sudah menjadi kepastian bahwa setiap Nama itu mengandung Sifat untuk Allah”), karena Allah subhaanahu wa ta’aala telah menjelaskan kepada kita di dalam Alquran, dan juga Rasulullah telah memberitahukan kepada kita seperti DEMIKIAN, dalam haditsnya dan sunnahnya, kewajiban kita adalah MEMBIARKAN apa adanya, karena hal itu datangnya dari SISI Allah yang Maha Mengetahui atas diri-Nya.

Sebagaimana Firman Allah ta’ala Tentang SIFAT (kedua mata-Nya): “Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Tuhanmu, maka sesungguhnya kamu berada dalam mata-mata (Al-a’yuninaa) Kami….”,(QS Ath-thuur: 48)

Dan juga didalam hadits Rasulullah shallahu’alaihiwasallam : “ Sesungguhnya Allah ta’aalaa tidaklah buta, Ketahuilah, bahwa sesungguhnya Almasih Ad-dajjal itu buta sebelah mata kanannya. Seakan-akan matanya itu sebuah biji yang menonjol” (HR.Muslim)

Dan juga di dalam Al Qur’an, Allah mensifatkan diri-Nya dengan Al-wajhu (Wajah), sebagaimana Firman Allah ta’ala : ”Dan tetap kekal Wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan”,(QS.Ar Rahmaan : 27)

Bahkan, di dalam Al Qur’an Allah mensifatkan diri-Nya dengan yad (tangan). ”…apakah yang menghalangi mu (hai iblis) untuk sujud kepada (adam) yang telah Aku ciptakan dengan kedua tangan Ku.

Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya (QS.Az-Zumar : 67)

Dan juga di dalam Al Qur’an, Allah mensifatkan diri-Nya dengan Kalam (Firman) :

“dan Allah telah berfirman langsung kepada Musa dengan sebenar-benarnya.” (Surah An-Nisa:164).

“Dan tatkala Musa datang untuk memenuhi waktu yang telah kami janjikan kepadanya dan Tuhannya berfirman langsung kepadanya..”(Al-A’raf:143).

“Dan bila salah seorang dari kalangan musyrikin minta perlindungan kepadamu, maka lindungilah dia sampai dia mendengarkan ucapan Allah ( KALAAMULLAH)” (At Taubah : 6)

Ini semua (Wajah, Mata, Tangan, Kalam) adalah SIFAT-SIFAT Allah ta’aala yang maha tinggi bukan nama-Nya yang tidak BOLEH di tahrif (menyimpangkan makna), ta’til (menghilangkan makna), takyiif (membicarakan bagaimana hakekatnya), dan tamtsil (menyerupakan dengan makhluk). Jadi, Tidak boleh ”tangan” disini di tahrif (merubah maknanya) tangan menjadi kekuasaan, atau di ta’til (di hilangkan ma’nanya) takut serupa dengan makhluk maksudnya, akan tetapi malah kebablasan, atau mentakyiif (membagaimanakan atau menanyakan bagaimana tangan-Nya) membicarakan hakekat tangan tersebut, atau mentamtsil (menyerupakan dengan makhluk). Begitu juga dalam masalah Alquran, Alquran adalah Kalamullah ( Firman Allah )Bukan Makhluk.Alquran adalah KALAM ALLAH sedangkan KALAM ALLAH itu Sifat ALLAH sedangkan sifat ALLAH itu bukanlah MAKHLUK. Hukum seseorang yang berpendapat bahwa Al Qur’an adalah MAKHLUK, dianggap sebagai AHLUL BID’AH yang sesat Bahkan SEBAGIAN ULAMA ada yang MENGKAFIRKAN orang yang mengatakan Al Qur’an adalah MAKHLUK.

Mengapa ! Di karenakan hal tersebut menyangkut masalah Aqidah yang tidak bisa di- tetapkan kecuali melalui Al Qur’an dan As sunnah, dan di sebabkan juga yang lebih mengetahui tentang Allah adalah Allah Sendiri sedangkan makhluk tidak mempunyai pengetahuan tentang nama dan sifat Allah, karena hal ini termasuk hal ghaib yang tidak ada yang mengetahuinya (nama dan sifat Nya) kecuali Allah tabaaroka wa ta’aala , oleh karena itu untuk mengetahui nama dan sifat Allah, jelaslah harus melalui apa yang telah Allah jelaskan di dalam kitab-Nya serta penjelasan Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam di dalam sunnahnya, Sehingga KITA tidak BOLEH Menafsirkannya atau Meniadakan Maknanya atau Membagaimanakan Hakekatnya , atau Menyerupakan dengan Makhluk-NYA, Akan Tetapi yang WAJIB bagi KITA adalah MEMBIARKAN Apa Adanya Sebagaimana DATANGNYA yaitu MENGIMANINYA. Sesungguhnya MAKNA yang benar tentang makna ”tangan” yang di sebutkan di dalam ayat di atas yaitu tetapkanlah atau Biarkanlah makna “Yad” (tangan) itu adalah ”tangan”, tanpa (jangan) di tahrif (merubah ma’na), ta’til (menghilangkan ma’na), takyiif (menanyakan bagaimana) dan tamtsil (sengaja menyerupakan dengan makhluk-Nya), Di karenakan Allah telah berfirman dengan lafaz ”yad” di dalam kitab Nya yang makna asalnya adalah ”tangan”. Hanya saja tidak boleh kita menggambarkan atau membayangkan atau membagaimanakan sifat ”tangan” tersebut, yang wajib bagi kita adalah membiarkan apa adanya sesuai dengan apa yang datang dari Allah dan rasul-Nya tanpa tahrif (merubah ma’na), ta’til (menghilangkan ma’na), takyiif (menanyakan bagaimana) dan tamtsil (sengaja menyerupakan dengan makhluk Nya).

Karena Allah berfirman : tidak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya dan Dialah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS Assyu’ara :11).

Oleh karena itu, kita tidak boleh menetapkan NAMA-NAMA dan SIFAT-SIFAT Allah subhaanahu wa ta’aala yang tidak di tetapkan atau tidak di jelaskan oleh Allah subhaanahu wa ta’aala Sendiri di dalam Al Qur’an dan di dalam As sunnah (hadits) Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam. Misalkan : sesungguhnya Allah itu wujud, qidam, baqoo, mukholafatullilhawadits, dan seterusnya sampai tiga belas atau dua puluh.

Hal atau sifat tersebut tidak boleh di peruntukkan bagi Allah subhaanahu wa ta’aala, di karenakan wujud, qidam, baqoo, mukholafatullilhawadits, itu tidak ada sama sekali di dalam Al Quran dan As sunnah Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam, bahkan yang membuat sifat-sifat yang 20 adalah manusia yaitu (Abul hasan Al ’Asy ’arii) sedangkan beliau sendiri sudah bertaubat atau merujuk Aqidah beliau kepada Aqidah Ahlussunnah wal jama’ah., dengan menulis Kitab Al-Ibanah A’n-Usuuliddiyaanah. Sedangkan yang ada atau yang benar dalam Alqur’an selain dari yang di sebutkan tadi (wujud, qidam ,baqoo, dll) adalah Firman Allah Ta’aalaa :

” Dialah yang Awwal , dan Yang Akhir, dan Yang Dzahir, dan Yang Bathin”(QS.Al-Hadid:3).

Dan sungguh Rasulullah telah menafsirkan 4 nama ini dengan tafsir yang ringkas, yang mencakup dan jelas. Nabi shallllahu’alaihiwasallam bersabda:

”Engkaulah Yang Awal, maka tidak ada sesuatu sebelum-Mu. Engkaulah Yang Akhir, maka tidak ada sesuatupun sesudah-Mu, Engkau Yang Tampak, maka tidak ada sesuatupun di atas-Mu. Engkau Yang Tersembunyi, maka tidak ada sesuatupun di bawah-Mu”

(HR.Muslim (No.2713), At tirmidzi (No.3397),Abu Daud (No.5051), Ahmad (11/381-404), Al Baihaqi dalam kitab asma wa sifat (hal 34 dan 226) dari hadits Abu Hurairah).

Kata Awwal menunjukkan kepada Allah itu Azali (yang ada sebelum sesuatu itu ada), kata Akhir menunjukkan pada Tetap dan Abadinya Allah. Kata Zhahir menunjukkan pada Tinggi dan Agungnya Allah. Kata Bathin menunjukkan kepada Dekat dan Bersamanya Allah. (syarah khalil harras, hal. 89).

Jika kita hanya membatasi nama dan sifat Allah hanya sebatas 13 nama dan sifat atau 20 NAMA dan SIFAT Allah, maka bagaimana dengan sifat Allah yang sembilan puluh sembilan serta NAMA dan SIFAT yang lainnya (selain dari 99 nama dan sifat Nya). Oleh karena itu sifat-sifat yang telah di sebutkan di atas (wujud, qidam, baqoo, mukholaftullilhawadits, wahdaniiyyah, qudrah, iradah, dan lain sebagainya) itu BATIL ATAU SALAH. Nama-nama dan sifat-sifat Allah subhaanahu wa ta’aala itu tidak TERBATAS sehingga kita tidak boleh membatasinya kecuali dengan berdasarkan Al qur’an dan Sunnah.

Di dalam Al quran Allah subhaanahu wa ta’aala berfirman : ”Hanya milik Allah asma’ul husna (nama-nama yang baik bagi Allah ta’ala) ,maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asma’ul husna(nama-nama yang baik) itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Kelak mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (QS Al A’raf : 180) dan di dalam hadits Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam di sebutkan : sesungguhnya Allah itu mempunyai sembilan puluh sembilan nama siapa yang menghitungnya (menghafal dan mengamalkan sesuai dengan konsekwensinya) akan masuk syurga.(HR.Muslim).

Adapun para shahabat, tabi’in, tabi’ut at-tabi’in dan semua para ulama Ahli Sunnah wal Jama’ah menempuh metode yang sama dalam menetapkan Nama dan Sifat Allah yaitu MEMBIARKAN apa adanya tanpa tahrif (merubah makna), ta’til(menghilangkan makna), takyif (membagaimanakan) dan tamtsil (menyerupakan) diantaranya :

(1). Imam al-Auza’ii yang dianggap Imam ahli Syam di zamannya. Beliau telah menegaskan: “Kami dan para Tabi’in semuanya menetapkan dengan kesepakatan qaul (perkataan) kami Bahwa: Sesungguhnya Allah di atas ‘Arasy-Nya dan kami beriman dengan apa yang telah di- nyatakan oleh Sunnah berkenaan SIFAT-SIFAT Allah Taala”.[1]

(2). Imam Abu Hasan Al-Asy’ari rahimahullah( yang dahulunya berpemahaman Mu’tazilah, As’ariyyahkemudian merujuk kepada Aqidah ahlussunnah wal jama’ah), yang dikenali sebagai Imam Ahli sunnah wal-Jamaah, beliau telah menegaskan bahwa Al Qur’an Bukan Makhluk dan di turunkan oleh Allah yang berada di langit dan beliau seterusnya menjelaskan: “Allah mempunyai SIFAT, mempunyai tangan, bersemayam di atas ArasyNya dan mempunyai wajah. Al Qur’an itu Kalamullah bukan makhluk dan Al Qur’an diturunkan dari langit”.[2]

(3). Imam As-Syafi’i rahimahullah menjelaskan (sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abi Talib setelah beliau ditanya tentang sifat Allah): “Dan bagi-Nya dua tangan sebagaimana firman-Nya: (Tidak demikian), tetapi kedua-dua tangan Allah terbuka (QS.Al Maidah: 64). sebagaimana firman-Nya: Dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Allah mempunyai wajah sebagaimana firman-Nya: Setiap sesuatu akan binasa kecuali Wajah-Nya (QS.AR-Rahman: 27). Bagi-Nya kaki sebagai sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: Neraka Jahannam masih saja di isi (dengan penghuninya), maka ia (Neraka) senantiasa mengatakan: “Masih adakah Tambahan?”Sehingga Rabbul Izzah (Dia) meletakkan Kaki-Nya dalam riwayat lain- meletakkan telapak kaki-Nya di atasnya, maka sebagiannya merapat kepada sebagian yang lainnya. Lalu ia (Neraka) itu berkata: “cukup….cukup”(Muttafaq’alaih).

Dia Mempunyai Jari sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: Tiadalah hati itu kecuali antara jari-jari dari jari-jari Ar-Rahman (Allah). Kami menetapkan sifat-sifat ini dan menafikan (meniadakan) dari menyerupakan sebagaimana dinafikan (di tiadakan) sendiri oleh Allah sebagaimana Firman-Nya: (Tiada sesuatu yang serupa denganNya dan Dia Maha Mendengar dan Maha Melihat)”.[3]

Beliau (Imam Syafi’i) seterusnya menjelaskan: “Dan Allah Ta’ala di atas ‘Arasy-Nya (Dan ‘Arasy-Nya) di langit”.[4]

Imam Syafi’i seterusnya menjelaskan lagi: “Kita menetapkan SIFAT-SIFAT (Allah) sebagaimana yang didatangkan oleh Al Qur’an dan yang warid tentang-Nya dari sunnah, kami menafikan (meniadakan) tasybih (penyerupaan) tentang-Nya karena telah dinafikan (di tiadakan) oleh diri-Nya sendiri sebagaimana firman-Nya (Tiada sesuatu yang serupa dengan-Nya)”.[5]

Imam Syafii telah menjelaskan juga tentang turunnya Allah: “Sesungguhnya Dia (Allah) turun setiap malam ke langit dunia (sebagaimana) menurut khabar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam”.[6]

Imam Asyafi’i berlandaskan kepada sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Tuhan kita turun ke langit dunia pada setiap malam apabila sampai ke satu pertiga dari akhir malam, maka Ia berfirman: siapa yang berdoa akan Aku perkenankan, siapa yang meminta akan Aku tunaikan dan siapa yang meminta Keampunan akan Aku Ampunkan”.[7]

(4). Abdullah bin al-Mubarak rahimahullah ketika ditanya tentang bagaimana kita mengetahui di mana Allah? Beliau menyatakan: “Ketika ditanyakan kepada Abdullah bin al-Mubarak: Bagaimana kita mengetahui di mana Tuhan kita? Beliau menjawab: Dengan mengetahui bahwa Dia di atas langit ketujuh di atas Arasy”.[8]

Sebagaimana firman Allah Ta’aalaa : Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arasy (QS.Al-a’raaf : 54)

Di sebuah hadits shahih, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengakui dan menerima penjelasan seorang hamba bahawa Allah itu di langit. “Berkata Muawiyah bin Hakam as-Sulami: Aku memiliki seorang hamba wanita yang menggembalakan kambing di sekitar pegunungan Uhud dan Juwainiyah. Pada suatu hari aku melihat seekor serigala menerkam dan membawa lari seekor kambing gembalaannya. Sedang aku termasuk seorang anak Adam kebanyakan. Maka aku mengeluh sebagaimana mereka. Oleh karena itu, wanita itu aku pukul dan aku marahi. Kemudian aku menghadap Rasulullah, maka Rasulullah mempersalahkan aku., Aku berkata: Wahai Rasulullah! Adakah aku harus memerdekakannya” Jawab Rasullullah: Bawalah wanita itu ke sini. Maka Rasulullah bertanya kepada wanita itu. Di mana Allah” wanita itu menjawab: Di langit. Rasullullah bertanya lagi: Siapa aku” Dijawabnya: Engkau Rasullullah. Maka Rasulullah bersabda: Merdekakanlah wanita ini, karena dia adalah seorang mukminah”.[9].

Dalam satu riwayat hadis mutaffaq ‘alihi, bahwa Allah itu “ad-Dahr” atau “masa”. “Janganlah kamu memaki ad-dahr (masa), karena sesungguhnya Allah itu adalah Masa”[10]

Adapun Seandainya ada di antara Ulama Ahlussunnah Yang menta’wil (Menafsirkan) Nama dan SIfat-Sifat Allah, tetaplah bagi KITA tidak Boleh Mengikuti Pendapat Ulama tersebut, Di Karenakan dalam Penta’wilan itu membutuhkan dalil (Petunjuk) yang Kuat dari Alqur’an dan Sunnah, bukan dengan Akal-akalan, Sedangkan Penta’wilan (Penafsiran) tanpa Dasar atau Dalil itu Bukanlah Hujjah dalam Agama, Apalagi Berbicara Masalah Nama dan Sifat Allah Ta’aalaa yang Bersifat AQIDAH, dalam hal Masalah FIQIH saja berbicara Tanpa Dasar Dalil saja Tertolak, Apalagi berbicara Masalah AQIDAH Yang Jelas-Jelas hal tersebut Masalah GHAIB (yang tidak bisa Di Tembus oleh PANCA INDRA) , jelas harus di kembalikan kepada Alquran dan As-Sunnah, karena kita bisa mengetahui Yang GHAIB hanya dari WAHYU ( Alquran dan Sunnah) sedangkan AKAL manusia tidak mengetahui sedikitpun tentang Masalah Yang GHAIB. Yang benar bagi kita adalah Mengimaninya, menetapkan Apa adanya sebagaimana datangnya Tanpa (Jangan) TAHRIF (Menyimpangkan Makna), TA’TIL (Meniadakan Makna ), TAKYIIF (Membagaimanakan Makna), TAMTSIL (Menyerupakan Makna dengan Makhluk) Karena kita Telah Mengetahui Bahwasannya Pendapat Ulama tersebut TERSALAH, BUKAN berarti kita harus Mencelanya atau Membid’ahkannya atau Bahkan Mengkafirkannya, Karena yang berhak Mengkafirkan Hanyalah Allah dan Rasul-Nya. Kewajiban kita adalah Mengikuti yang BENAR, Adapun kesalahan ULAMA tersebut kita MELURUSKANNYA Kemudian Memohonkan Ampunan Untuknya, Bukan Mencelanya.

Di dalam masalah Asma wa Sifat ini ada dua Kelompok ( 2 golongan ) yang menyimpang :

Mu’atthilah (Golongan yang mengingkari Nama dan Sifat Allah)

Yaitu golongan yang mengingkari nama dan sifat Allah subhanahu wa ta’ala baik sebagiannya (nama dan sifat-Nya) atau seluruhnya. Di antara golongan yang termasuk mu’atthilah yaitu kelompok Jahmiyyah (orang yang mengikuti pendapat jahm bin shofwan), mu’tazilah (orang yang mengikuti pendapat Wasil bin ’Atho), ’Asy ’Ariiyyah(orang yang mengikuti pendapat Abul Hasan Al ’Asy’arii). Alasan mereka adalah Apabila Allah subhanahu wa ta’ala mempunyai SIFAT, ini berarti Sifat Nya sama dengan SIFAT makhluk-Nya. Karena makhluk juga mempunyai SIFAT (itu kata mereka).

Misalnya, Allah mempunyai Tangan makhlukpun mempunyai Tangan, Allah mempunyai Wajah makhlukpun mempunyai Wajah, Allah mempunyai Mata makhlukpun mempunyai Mata. Oleh karena itu (kata mereka) kita mengingkari NAMA-NAMA dan SIFAT-SIFAT yang telah di sebutkan di dalam Al qur’an dan As sunnah di khawatirkan serupa dengan makhluk, baik yang di ingkari sebagian atau seluruhnya. (kata mereka).

Adapun BANTAHANNYA :

1. apabila kita mengingkari NAMA dan SIFAT Allah subhaanahu wa ta’aala baik sebagian atau seluruhnya yang ada di dalam Alqur’an atau Al hadits (sunnah), maka akan melahirkan beberapa akibat-akibat yang BATIL atau FATAL. Seperti akan menimbulkan kontradiksi atau pertentangan antara firman Allah satu sama lain, sehingga seakan-akan bertentangan ayat-ayat Allah yang satu dengan yang lainnya. Hal ini tidak mungkin terjadi di dalam Al qur’an atau firman Allah subhaanahu wa ta’aala dan tidak mungkin pula Al qur’an bertentangan dengan hadits.

2. Alasan ke dua Tidaklah berarti jika ada dua NAMA dan SIFAT yang sama berarti SERUPA. Kita bisa mengetahui manusia Melihat, Bersuara, Mendengar dan kita juga mengetahui bahwa hewan Melihat, Bersuara, Mendengar. Apakah mendengar dan melihatnya manusia sama dengan mendengar, dan melihatnya hewan! kita juga mengetahui manusia mempunyai Tangan, Mata dan Wajah, dan kita juga mengetahui hewan, ada yang mempunyai Tangan, Mata dan Wajah Apakah sama tangan,mata,dan wajahnya manusia dengan tangan,mata dan wajahnya hewan! Jika makhluk dengan makhluk saja sudah BERBEDA, Apalagi makhluk dengan Sang Kholik (Allah subhanahu wa ta’ala) JELAS, lebih tidak sama lagi dengan makhluk-Nya. Sebagaimana dalam firman Allah subhaanahu wa ta’aala : Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya dan Dialah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS Assyu’ara :11).

2.Musyabbihah.(Golongan yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya)

Yaitu menetapkan NAMA dan SIFAT Allah sekaligus menyerupakan NAMA dan SIFAT Allah dengan NAMA dan SIFAT makhluk-Nya.

Mereka beranggapan atau beralasan :

1. Karena makna yang di tunjukan oleh Nash-Nash Alqur’an atau Dalil itu Tekstual,yaitu Allah Berbicara sesuai dengan apa yang di pahami oleh manusia sepertiAllah menyebutkan mempunyai ”Tangan” di dalam Al qur’an berarti sama Tangan-Nya dengan tangan makhluk-Nya, Allah menyebutkan mempunyai Mata di dalam Al qur’an berarti sama Mata Allah dengan Mata makhluk-Nya, Allah menyebutkan mempunyai Wajah di dalam Al qur’an berarti sama Wajah Allah dengan wajah makhluk-Nya (Itu kata mereka).

Oleh karena itu Mereka di namakan Musyabbihah atau (kelompok yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya). Anggapan seperti itu juga sama-sama BATIL ATAU SALAH dengan sesalah-salahnya

Adapun BANTAHANNYA :

1. menyerupakan Allah dengan makhluk itu merupakan sesuatu yang BATIL atau SALAH secara akal atau ngawur dengan sengawurnya-ngawurnya, Apalagi secara Syariat, Akal yang sehat sahaja pasti tidak akan menerima jika pencipta makhluk disamakan dengan makhluk yang diciptakan-Nya.

Sebagaimana tukang kayu membuat bangku. apakah sama tukang kayu dengan bangku!.

2. Sesungguhnya Allah subhaanahu wa ta’aala memang benar berbicara kepada manusia dengan apa yang di pahami oleh manusia, akan tetapi ini hanya dari segi makna asal atau asal makna, sedangkan hakekat atau esensinya atau bagaimana (Tangan-Nya, Wajah-Nya, Mata-Nya) itu hanya Allah saja yang mengetahui tentang hakekatnya. Sebagaimana jika Allah menyebutkan Allah Maha mendengar. Kita mengetahui bahwa makna asal mendengar itu adalah sampainya suara ke telinga, kemudian jika Allah menyebutkan Allah Maha Melihat. Kita mengetahui bahwa makna asal melihat itu adalah sampainya cahaya ke mata atau ke retina mata, akan tetapi bagaimana cara mendengar dan melihat Allah, hal itulah yang kita serahkan hakekatnya (bagaimananya) kepada Allah subhanaahu wa ta’aala.

Inilah penjelasan tentang ASMA ( NAMA ) dan SIFAT Allah Yang Maha Agung, yang tidak ada sesuatupun yang SERUPA dengan-Nya. Dan ini pulalah penjelasan tentang kelompok-kelompok yang menyimpang dari jalan Ahlussunnah wal jama’aah dengan segala bantahannya.

Semua ini adalah penjelasan tentang Iman kepada Allah subhaanahu wa ta’aala, di mana iman seseorang itu kurang jika tidak mengetahui dan juga menyimpang jika menyimpang dari padanya, bahkan bisa sampai kederajat Musyrik atau Kafir, jika tidak mengimani salah satunya seperti Tauhid Uluhiyyah (Menyembah Allah saja). Apabila seorang beriman kepada keberadaan, Rububiyyah, Uluhiyyah, dan Asma wa sifat Allah subhaanahu wa ta’aala, maka barulah iman seseorang tersebut di katakan lurus imannya atau sempurna. Apabila salah satu dari yang empat ini tidak ada pada dirinya berarti imannya bengkok atau tidak lurus kepada Allah subhaanahu wa ta’aala.

ADAPUN HIKMAH KITA BERIMAN KEPADA NAMA-NAMA DAN SIFAT-SIFAT ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALA YAITU :

Tertanamnya TAUHID kepada Allah subhaanaahu wa ta’aala, Sehingga jika ia mengetahui bahwa Allah ta’ala Maha Kuasa atas segala sesuatu, maka ia tidak akan pernah bersandar kecuali kepada Allah subhaanahu wa ta’aala, dan tidak akan pernah MAU percaya Kepada Dukun-dukun, Para Normal, Penyihir, Pesulap, Juru Kunci Kuburan, Ramalan-ramalan tukang ramal atau Ramalan bintang berkedok Zodiak, takhayul, Khurafat, Nasib Baik, Nasib sial, Hari Baik, Hari Sial, dan lain sebagainya, Serta tidak TAKUT kecuali kepada Allah subhaanahu wa ta’aala. Karena ia mengetahui bahwa Allah itu berkuasa atas segala sesuatu, yang di kehendaki Allah terjadi dan Apa yang tidak di kehendaki-Nya tidak akan mungkin terjadi. Apa yang Allah takdirkan untuknya sekali-kali tidak akan Melesat darinya, dan Apa saja yang Allah tidak Takdirkan Untuknya, sekali-kali Tidak akan Pernah Menimpanya.

2. Jika ia mengetahui bahwasanya Allah adalah yang memberi nikmat, yang memberi Rezki, maka ia tidak akan salah dalam mencari Rezki. Ia tidak akan pergi ke para normal atau peramal untuk menanyakan bagaimana Rezekinya, dan jika ia mengetahui yang hanya di tangan Allah segala kebaikan, Allah Yang memuliakan hamba-Nya yang mu’min dan Allah Yang Maha pengampun, maka hal itu akan membuatnya cinta kepada Allah dan rasa menganggungkan, bertaqorrub kepada-Nya serta tidak berputus-asa dari rahmat dan ampunanNya. Karena adanya kandungan yang maha Agung dalam nama dan sifat-sifat-Nya. Berbeda halnya dengan orang yang tidak mengetahui nama dan sifat Allah subhaanahu wa ta’aala, karena dia berbuat dosa yang besar akhirnya berputus-asa dari rahmat Allah subhaanahu wa ta’aala kemudian berfikir ” Alangkah besarnya dosaku sepertinya tidak mungkin lagi di ampuni oleh Allah”. Sehingga dia semakin membabi buta dalam berbuat dosa, dan semakin membinasakan dirinya ke dalam kehancuran, karena dia merasa bahwa dosanya tidak akan di ampuni, padahal jika dia mengetahui bahwasanya Allah subhaanahu wa ta’aala Maha pengampun Insya Allah ia tidak akan berputus-asa dari rahmat atau ampunan Allah subhaanahu wa ta’aala, karena Allah subhaanahu wa ta’aala mempunyai sifat ”Al ghofuur” artinya Yang Maha pengampun.

3. Terwujudnya ibadah dengan cara melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya karena Allah disebut Al ’aliim (Maha mengetahui), As samii’(Maha mendengar), Syadiidul ’iqoob (Yang Maha Keras Siksanya), Sarii’ul hisaab(Yang Maha Cepat Hisabnya). Sifat-sifat tersebut akan membuat seseorang menjadi waspada terhadap apa yang akan dia kerjakan, baik dosa yang kecil maupun yang besar, apakah dia itu berada di tengah keramaian ataupun dalam keadaan sendirian, karena dia mengetahui, bahwasanya Allah subhaanahu wa ta’aala Maha mengetahui dan Maha melihat apa yang dia Kerjakan

…… bersambung …insya allah

Cara Menyelamatkan diri dari Neraka Bag 66 ( insya Allah )

Standard

………..

II. IMAN KEPADA RUBUBIYYAH ALLAH (TAUHID RUBUBIYYAH).

Di antara kandungan iman kepada Allah tabaroka wa ta’aala yang kedua yaitu iman kepada Tauhid Rububiyyah artinya mengesakan Allah subhaanahu wa ta’aala dalam segala perbuatan-Nya (perbuatan Allah subhaanahu wa ta’aala) Seperti : Meyakini Bahwasannya Allah Ta’aalaa itu Yang menciptakan, menghidupkan, Mematikan, Mengatur alam semesta dan lain sebagainya. Beriman kepada perbuatan Allah Ta’aalaa itu maksudnya adalah bahwa Allah subhaanahu wa ta’aala itu sebagai satu-satunya Rabb. Kata ”Rabb” di sini mempunyai arti yaitu pemilik makhluk, pemilik kerajaan atau kekuasaan, dan pemilik atau pengatur segala urusan. Maka dari itu tidak ada pencipta makhluk selain-Nya, tidak ada raja selain-Nya dan tidak ada pemilik atau pengatur segala urusan selain-Nya. Jadi, di dalam kata Rabb ini terkandung makna pencipta, penguasa, dan pengatur segala urusan.

Sebagaimana Allah ta’aala berfirman : Alloh menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu (QS Az zumar : 62)

Dan juga dalam firman-Nya : Inilah ciptaan Alloh, maka perlihatkanlah olehmu kepadaku apa yang telah diciptakan oleh sembahan-sembahan(mu) selain Allah. Sebenarnya orang- orang yang zalim itu berada di dalam kesesatan yang nyata (QS Luqman : 11)

Dan firman Allah ta’aala : Ketahuilah, menciptakan danmemerintah hanyalah hak Allah. Maha suci Allah Rabb semesta alam. (QS Al a’raaf : 54).

Dan Firman-Nya yang lain: ”….yang demikian itulah Rabb kalian. Hanya kepunyaan-Nyalah segala kerajaan.(QS fathiir : 13).

Dialah Allah satu-satunya Yang menghidupkan, mematikan, Yang Menurunkan Hujan, Yang Menyembuhkan Penyakit, Yang memberikan rizki, Yang Mengabulkan Doa orang yang sedang dalam Kesulitan, Yang membalas amal kebaikan dengan kebaikan, Yang membalas amal keburukan dengan keburukan, Yang Menegakan Hari Kiamat, Yang menciptakan Syurga dan Neraka, Yang menciptakan Dajjal, Iblis,Ya’juj Ma’juj, Langit dan Bumi beserta segala isinya.

Dialah Allah Satu-satunya Yang mengetahui hal Ghaib, yang telah lalu, yang sekarang, maupun yang akan datang. Tidak ada sesuatupu pun di Langit atau Di Bumi ini yang Mengetahui apa saja dari hal-hal Ghaib Baik yang telah lalu, sekarang, maupun yang akan datang.

Siapa saja yang Berkata serta berkeyakinan bahwasanya Si Dukun A , Si Pesulap , Si Tukang Sihir, Si Ustadz, Si Kyai, Si fulan, Si Malaikat Mengetahui tentang hal yang Ghaib baik yang sekarang atau yang akan datang atau mengetahui barang yang hilang atau Mengetahui Jodoh seseorang atau Mengetahui Nasib Seseorang atau percaya kepada Ramalan Bintang-Bintang , Maka, berarti dia telah masuk ke dalam perbuatan SYIRIK yaitu Meyakini bahwasanya Ada orang yang mengetahui hal-hal Ghaib selain Allah Ta’aalaa.. dan hal ini merupakan Dosa yang paling BESAR, yaitu dosa yang menyebabkan Pelakunya, Jika dia di Masukkan kedalam Neraka dia tidak akan keluar daripadanya untuk selamanya, Apabila ! Pelakunya belum sempat atau Tidak mau bertaubat sebelum meninggal dunia yaitu belum bertaubat dari SYIRIK BESAR. Ketahilah ! SYRIK itu ada 2 macam : Pertama, SYIRIK yang menyebabkan pelakunya keluar dari ISLAM (SYIRIK BESAR), seperti : Meyakini ada dua Pencipta atau Tiga, Menyembah Patung, Dewa, Kuburan Wali atau Nabi, Menyembah Para Nabi dan Rasul ,Kedua SYIRIK yang tidak menyebabkan pelakunya keluar dari ISLAM (SYIRIK KECIL) seperti : Riya (Ingin Di puji), Sum’ah (Ingin di dengar),ujub (Merasa bangga dengan diri sendiri) atau bersumpah dengan nama Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam. Oleh karena itu Jika kita ingin bersumpah, Bersumpahlah dengan nama Allah Ta’aalaa saja tidak dengan yang lainnya. Ketahuilah ! Bahwasanya SYIRIK KECIL itu lebih besar DOSANYA daripada DOSA BESAR (selain SYIRIK atau KAFIR). Maka hendaklah seorang muslim itu waspada dari DOSA tersebut (SYIRIK BESAR atau KECIL). Oleh Sebab itu Apabila seseorang telah mengetahui bahwasanya Allah Ta’aalaa adalah ESA dalam Perbuatan-Nya , maka Janganlah seseorang Mempersekutukan Sesuatu dengan Allah Ta’aalaa Yang sesuatu itu Khusus hanya di Miliki Oleh Allah Ta’aalaa, Seperti yang sudah di jelaskan Di atas.

Setiap orang wajib mengimani atau mengakui ke Rububiyyahan Allah subhaanahu wa ta’aala sebagai pencipta, penguasa, dan pengatur segala urusan. Semua yang ada di langit dan di bumi itu adalah ciptaan Allah subhaanahu wa ta’aala, di kuasai serta di atur oleh Allah subhaanahu wa ta’aala.

Kita semua tidak mengetahui adanya pengingkaran seseorang terhadap Rububiyyah Allah tabaaroka wa ta’aala kecuali orang yang mengingkarinya (Rububiyyah) itu mengatakan apa yang bukan keluar dari hatinya, artinya dia mengatakan apa yang tidak diyakininya seperti yang dilakukan oleh fir’aun dan orang komunis (anti Tuhan) pada zaman ini. Padahal secara batin atau secara diam-diam mereka meyakini akan adanya Sang Pencipta.

Sebagaimana firman Alloh tabaroka wa ta’aala : (Seraya) Fir’aun berkata: “Akulahtuhanmu yang paling tinggi.” (QS An Naazi’aat: 24)

Dalam firman-Nya yang lain : ”Dan fir’aun berkata wahai para menteri ku aku tidakmengetahui adanya tuhan selainku ” (QS Al Qhosos : 38)

Dan Allah tabaaroka wa ta’ala menjelaskan dalam firman-Nya : Mereka (Fir’aun dan bala tentaranya) mengingkarinya (Rububiyyah Alloh) padahal hati-hati mereka telahmeyakininya karena kezholiman dan kesombongannya (mereka tetap ingkar) (QS An naml : 14)

Dan Nabi Musa ’alaihissalaam juga membantahnya (Fir’aun) dalam FirmanNya: padahal engkau (Fir’aun) telah mengetahui bahwa tidak ada yang menurunkan mu’jizat ini kecuali Tuhan langit dan bumi(QS Al Israa:102).

Kita mengetahui, bahwasanya Fir’aun mengakui ke Rububiyyahan Alloh tabaaroka wa ta’aalaa, hanya saja karena kezholiman dan kesombongannya, maka Fir’aun tidak mau untuk mengakuinya (mengakui Rububiyyahnya).

Oleh karena itu orang Musyrik (orang yang menyekutukan Allah atau menyembah tuhan lain selain Allah) di zaman Rasulullah shalallahua’alaihi wa sallam juga mengakui ke Rububiyyahan-Nya (Allah tabaaroka wa ta’aala )

sebagaimana dalam firman Allah tabaaroka wa ta’aala : Katakanlah (wahai Muhammad kepada orang musyrik itu): ”Siapakah yang Empunya langit yang tujuh dan yang Empunya ’Arsy yang besar?” Mereka (orang musyrik) pasti akan menjawab : ”Kepunyaan Allah ” Katakanlah (wahai Muhammad kepada orang musyrik itu):maka apakah kalian tidak bertakwa?” Katakanlah (wahai Muhammad kepada orang musyrik itu): ”Siapakah yang di tanganNya berada atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat di lindungi dari (azab)-Nya, jika kalian mengetahui?” Mereka (orang musyrik itu) pasti akan menjawab : ”Kepunyaan Allah ” Katakanlah (wahai Muhammad kepada orang musyrik itu) ”kalau demikian, maka dari jalan manakah kalian di tipu?” (QS Al Mu’minuun:86-89).

Jadi, orang Musyrikpun (orang yang menyekutukan Allah atau menyembah tuhan lain selain Allah) mengakui akan ke Rububiyyahan Allah tabaaroka wa ta’aala sebagai pencipta, penguasa, pengatur segala urusan. Akan tetapi pengakuan itu tetap tidak memasukan orang Musyrik itu kedalam Islam (artinya masih dalam Kemusyrikan). Di sebabkan mereka (orang musyrik itu) hanya mengaku Allah tabaaroka wa ta’aala sebagai pencipta, penguasa, pengatur segala urusan akan tetapi mereka (orang musyrik itu) tetap menyembah berhala (patung) bukan menyembah Allah tabaaroka wa ta’aala semata. Barang siapa yang menyangka atau mengira bahwasanya Tauhid itu hanyalah meyakini wujud Allah, atau hanya meyakini bahwa Allah adalah Sang Pencipta, Sang Penguasa, dan Yang Mengatur alam, maka sesungguhnya orang tersebut belumlah mengetahui hakikat Tauhid yang dibawa oleh Para Rasul. Di karenakan ia hanya mengakui sesuatu yang di haruskan (Rububiyyah), dan meninggalkan sesuatu yang mengharuskan (Uluhiyyah), atau hanya berhenti pada dalil akan tetapi ia meninggalkan isi dan inti dari dalil tersebut.

Maka, Apabila seseorang telah mengakui Tauhid Rububiyyah, maka wajib atau mengharuskan bagi dia mengesakan Allah tabaaroka wa ta’aala dalam Uluhiyyah-Nya (Penyembahan kepada Allah tabaaroka wa ta’aala semata) yang insya Allah , hal tersebut akan di jelaskan berikut ini.
………….Bersambung…insya allah

Cara Menyelamatkan diri dari Neraka Bag 65 ( insya Allah )

Standard

………………………………..Pentingnya AQIDAH Islamiyah

Sesungguhnya agama islam adalah Aqidah dan syari’ah.
Adapun yang dimaksud dengan aqidah, yaitu setiap perkara yang dibenarkan oleh jiwa yang dengannya hati menjadi tentram serta menjadi keyakinan bagi para pemeluknya, tidak ada keraguan dan kebimbangan bagi pemeluknya
Sedangkan yang dimaksud syariah adalah tugas-tugas yang diembankan oleh islam seperti sholat, zakat, puasa, berbakti kepada orang tua dan lainnya.
Landasan Aqidah islamiyah adalah beriman kepada Allah, malikat2nya, kitab2nya, para rasulnya, hari akhir, dan beriman kepada qadha’ (takdir)nya, yang baik ataupun yang buruk. Firman Allah:
“bukanlah menghadapkan wajahmu kearah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab dan nabi-nabi. (al baqarah :177)

“ Sesunguhnya kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran dan perintah kami hanyalah satu, perkataan seperti kejapan mata. (al qamar 49-50).

sabda nabi “ iman adah hendaknya enggkau percaya pada Allah, malaikat2, kitab2, rasulnya, hari kemudian dan percaya kepada qadha’ (takdir) yang baik maupun yang buruk ( HR muslim)
Pentingnya aqidah islamiyah
Pentingnya aqidah islamiyah tampak dalam banyak hal; diantaranya adalah:
1 Bahwasanya kebutuhan kita terhadap Aqidah adalah diatas segala kebutuhan, dan kepentingan kita terhadap Aqidah adalah diatas segala kepentingan. Sebab tidak ada kebahagiaan, kenikmatan, dan kegembiraan bagi hati kecuali dengan beribadah kepada Allah Rabb pencipta segala sesuatu.
2 Bahwasanya Aqidah islamiyah adalah kewajiban yang paling besar dan yang paling ditekankan, karena itu, ia adalah sesuatu yang pertama kali diwajibkan kepada manusia. Rasulullah saw. Bersabda:
3 Aku (Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam) diperintah untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang hak kecuali Allah dan bahwa muhammad adalah utusan Allah (HR Bukhori dan Muslim)
4 Bahwa Aqidah islamiyah adalah satu-satunya Aqidah yang bisa mewujudkan keamanan dan kedamaian, kebahagian dan kegembiraan, “ tidak demikian bahkan barang siapa yang menyerahkan diri kepada Allah sedang ia berbuat kebajikan, baginya pahala pada sisi tuhannya dan tidak ada kekuatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati (albaqarah 112). demikian pula, hanya Aqidah islamiyalah satu-satunya Aqidah yang bisa mewujudakan kecukupan dan kesejahteraan . Allah berfirman” jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi (al a’raf 96)
5 Sesungguhnya Aqidah islamiyah adalah sebab sehingga Ummat Islam bisa berkuasa di muka bumi dan sebab bagi berdirinya Daulah Islamiyah “ dan sungguh telah KAMI tulis didalam zabur sesudah KAMI tulis dalam Lauz mafudz bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hambaKU yang sholeh.
6 Bahwasanya Aqidah Islam Itu adalah SEBAB Bersatunya Ummat Islam dari Perpecahan, Sehinggga Apabila Ummat Islam Sudah Mempelajari, Memahami, Serta Mengamalkan Aqidah Islam Ini, Insya Allah Ummat islam di Seluruh Dunia Akan Bersatu Di Atas Aqidah Yang benar.

Berikut ini adalah sedikit penjelasan dari masalah Aqidah yaitu Aqidah yang berdasarkan Alquran dan Assunnah yang menjadi pegangan umat islam dari generasi terbaik (para shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam) insya allah , Tabi’iin (pengikut Shahabat), Tabiut Tabi’iin (pengikut Tabi’iin) dan Imam-imam Ahlussunnah (Abu hanifah, Malik , Syafi’ie, dan Ahmad) atau disebut juga AQIDAH AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH……

……………………………Aqidah Ahlussunnah Wal Jama’ah

………………………………………AQIDAH

Penyimpangan dari Aqidah yang benar adalah kehancuran dan kesesatan. Karena Aqidah yang benar merupakan motivator utama bagi amal yang bermanfaat. Tanpa Aqidah yang benar seseorang akan menjadi mangsa bagi persangkaan dan keragu-raguan yang kelama-lamaan akan menumpuk dan menghalangi dari pandangan yang benar terhadap jalan hidup kebahagiaan, sehingga hidupnya terasa sempit lalu ia ingin menyudahi hidup sekalipun dengan bunuh diri. Masyarakat yang tidak mengerti tentang Aqidah yang benar, sekalipun hidupnya bergelimang dengan materi atau harta yang melimpah-ruah justru sering menyeret pelakunya kepada kehancuran. Karena sesungguhnya kekayaan materi memerlukan pengarahan dalam penggunaannya, dan tidak ada pemberi pengarahan yang benar kecuali Aqidah yang benar.

Benar dan rusaknya Amaliah (amal-amal perbuatan) tergantung dari benar dan rusaknya Aqidah (keyakinan), oleh karena itu para Nabi dan Rasul selalu memulai da’wah mereka dalam masalah Aqidah (keyakinan) Khususnya, dalam masalah Tauhid Uluhiyyah (Penyembahan kepada Allah semata). Karena Aqidah yang benar merupakan fundamental (dasar) bagi bangunan Agama yang merupakan syarat syahnya amal ( perbuatan).

Aqidah itu bersifat tauqifiyah artinya tidak bisa dinyatakan kecuali dengan dalil dari Al qur’an dan Al hadits. Oleh karena itu dalam masalah Aqidah tidak ada peluang untuk melakukan ijtihad (pemikiran yang di curahkan dengan sungguh-sungguh untuk mencari kebenaran) kecuali berdasarkan Al qur’an dan Al hadits. Sebab di dalam masalah Aqidah itu, terkandung tentang apa-apa yang harus atau wajib ditetapkan untuk Allah dan apa-apa yang harus disucikan dari Allah. Dan juga di sebabkan yang mengetahui tentang Dzat Allah, bukanlah akal manusia, akan tetapi Allah yang mengetahui tentang diri-Nya sendiri. Di mana Allah subhanahu wa ta’aala telah menjelaskan di dalam Al qur’an dan juga telah memberitahukan kepada Rasul-Nya (Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam) Khususnya, tentang Nama dan Sifat Allah. Oleh karena itu, rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam memberitahukannya (tentang nama dan sifat itu) kepada kita dalam sunnahnya atau haditsnya.

PENGERTIAN AQIDAH

Aqidah secara bahasa berasal dari kata ‘aqd yang berarti ikatan. Jika ada orang yang mengatakan “saya beri’tiqad begini” artinya saya mengikat hati dengan hal tersebut. Aqidah adalah apa yang diyakini oleh seseorang. Aqidah juga merupakan perbuatan hati, yaitu kepercayaan hati dan pembenaran terhadap sesuatu.

Sedangkan definisi Aqidah secara syar’i adalah sama halnya dengan rukun iman yaitu iman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan kepada hari akhir serta kepada qadar yang baik maupun yang buruk.

1. IMAN KEPADA ALLAH TA’AALAA

Adapun Iman Kepada Allah subhaanahu wa ta’aala itumencakup 4 hal, yaitu

I. IMAN TERHADAP KEBERADAAN ALLAH ta’aalaa

v hal ini mencakup dalam 4 segi :

a. Fitrah.

Secara fitrah, manusia dilahirkan diatas fitrah islam, maksudnya manusia pada hakekatnya, ketika dilahirkan ke dunia telah mengakui akan keberadaan Allah tabaroka wa ta’aala. Apakah dia itu mempelajari hal tersebut (adanya Allah) ataupun tidak mempelajarinya.

sebagaimana sabda Nabi shalallahu’alaihi wa sallam : ”tidaklah seorang anak dilahirkan kecuali di atas fitrah maka kedua orangtua-nyalah yang menjadikannya yahudi, nasrani, dan majussi” (HR Bukhari)

Ibnu Mas’ud dan Abu Hurairah radiyallahu ’anhuma berkata ”yang dimaksud dengan fitrah diatas adalah Islam. Jadi semua bayi yang dilahirkan ke dunia ini diatas fitrah islam. Mereka (Ibnu Mas’ud & Abu Hurairah) mengaitkan hadits di atas dengan

firman Allah subhaanahu wa ta’aala :

”Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidakmengetahui”(QS Ar Ruum: 30)

Abu Hurairah berkata ”Tahukah kalian apa yang dimaksud fitrah dalam ayat ini? Yaitu fitrah islam yang lurus, sebagaimana yang tersebut dalam ayat ini”.

b. Akal

Adapun secara akal semua makhluk yang terdahulu, maupun yang akan datang mengakui, bahwasanya ada yang menciptakan mereka. Karena makhluk itu ada, atas tiga kemungkinan. Pertama, ada yang menciptakan; kedua, menciptakan dirinya sendiri; ketiga, ada secara tiba-tiba.

Dua kemungkinan terakhir ini tidak mungkin dan mustahil terjadi karena manusia tidak mungkin menciptakan dirinya sendiri, sebab sebelum dia ada, dia tidak ada terlebih dahulu, sedangkan sesuatu yang tidak ada, tidak mungkin menciptakan dirinya sendiri dan mustahil ada secara tiba-tiba.

Sebagaimana, apabila ada sebuah istana yang megah, di dalamnya terdapat permadani-permadani dan dekorasi yang indah serta perhiasan yang mewah, kemudian tiba-tiba ada orang yang mengatakan dengan gampangnya ”istana itu ada dengan sendirinya atau ada dengan tiba-tiba” pasti akal sehat akan menolak dan mengingkarinya dengan sebesar-besar penolakan dan pengingkaran.

Apalagi, keberadaan seluruh makhluk di alam semesta ini yang begitu teratur, indah, rapi, dan sempurna, bahkan satu sama lain saling berkaitan, kita juga tidak pernah melihat ketidakberesan/kejanggalan yang ada di alam semesta ini, bahkan setiap makhluk itu bergerak sesuai dengan tugasnya masing-masing, serta berjalan sesuai dengan fungsinya. Hal ini menunjukan secara tegas, bahwa keberadaan alam ini tidak mungkin terjadi secara kebetulan atau secara tiba-tiba.

firman Allah subhaanahu wa ta’aala tentang keberadaan Allah ’azza wa jalla : ”Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal” (QS Ali Imran : 190).

c. Syar’i (Al Qur’an dan Al Hadits/sunnah)

Adapun secara syar’i adanya kitab-kitab Samawi (yang berasal dari Allah subhaanahu wa ta’aala) seperti Taurat, Injil, Al qur’an, dan Zabur yang menjelaskan tentang kemaslahatan makhluk. Hal ini menjadi dalil (petunjuk), bahwasanya kitab-kitab itu menunjukkan datangnya dari Allah tabaroka wa ta’aala yang mengetahui kemaslahatan seluruh makhluk-Nya.

d. Naluri atau Perasaan

Adapun yang pertama secara naluri, kita mengetahui apabila ada orang yang berdo’a kemudian do’anya dikabulkan. Hal ini tidak lain menunjukkan, adanya Dzat yang meng’ijabah (mengabulkan do’a seorang hamba). Hal tersebut sering kita ketahui, baik dari kisah-kisah para nabi atau pun orang terdahulu dari kalangan orang-orang shalih atau mungkin kita pernah mengalaminya sendiri. Bahkan, kita mengetahui juga, apabila ada seorang anak yang durhaka kepada Ibunya, kemudian ibunya murka, lalu berdo’a mengutuknya, kemudian do’anya terijabah (di kabulkan), apakah dalam waktu yang lama ataupun dalam waktu yang singkat, kejadian seperti ini sering sekali kita dengar.Yang Jelaas, Pengabulan doa ini tidak mungkin terjadi, seandainya Yang Mengabulkan do’a itu tidak ada. Hal ni menunjukkan secara naluri, bahwa doa itu tidak mungkin befungsi dengan sendirinya. Pasti, disisi lain adanya Dzat yang Maha Adil, Yang Maha Mendengar yang telah mengabulkan do’a. Oleh karena itu, adanya peng’ijabahan do’a (peng’abulan do’a) ini tidak lain menandakan secara nyata bahwasanya Dia itu ada.

Adapun yang kedua, pengutusan para Nabi dan mukjizat-mukjizat mereka contohnya : Nabi Musa ’alaihissalam mempunyai mukjizat dapat membelah lautan dengan tongkatnya, sehingga lautan itu terbelah menjadi dua belas bagian, atas izin Allah subhaanahu wa ta’aala. Hal ini menunjukkan secara perasaan atau naluri, adanya Sang Pemberi mukjizat, dimana seseorang manusia biasa tidak mungkin bisa membelah lautan menjadi dua belas bagian dengan kemampuannya.

Sebagaimana Allah ta’aala berfirman : Maka Kami wahyukan kepada Musa, pukullah laut itu dengan tongkatmu! Maka terbelahlah laut itu, masing-masingbelahan laksana gunung yang sangat besar (QS Asyu’araa : 63). Dan masih banyak lagi mu’jizat para Nabi yang lainnya, yang semua itu di luar batas kemampuan manusia.
…bersambung insya allah…

Cara Menyelamatkan Diri Dari Neraka Bag 64 ( Insya Allah )

Standard

TIGA HAL

YANG WAJIB DI KETAHUI & DIAMALKAN

SETIAP MANUSIA.

Ketahuilah, Rohimakalloh (somoga Allah subhaanaahuwata’aalaa merahmatimu), sesungguhnya wajib bagi kita mempelajari empat masalah. Pertama, Ilmu , yaitu mengenal Allah Subhaanaahuwata’aalaa, kemudian mengenal Nabi-Nya shallallahu’alaihiwasallaam, dan mengenal agama islam berdasarkan dalil-dalil. Kedua, mengamalkannya ; ketiga, mendakwahkannya ; keempat , bersabar terhadap gangguan di dalamnya.

1 Ilmu

Ilmu adalah mengetahui sesuatu sesuai dengan hakekatnya. Ilmu di bagi menjadi 2 bagian, yaitu Ilmu Dhoruridan Ilmu Nazhori. Ilmu Dhoruri adalah yang obyek pengetahuan di dalamnya bersifat semi pasti dan tidak perlu pemikiran dan pembuktian contoh : pengetahuan tentang api itu panas. Ilmu Nazhori adalah yang membutuhkan pemikiran dan pembuktian. Misalnya pengetahuan mengenai kewajiban berniat dalam berwudhu.

Dengan Ilmu itu wajib bagi kita :

A. Mengenal Allah Subhaanaahuwata’aalaa.

Maksudnya mengenal Allah subhaanaahuwata’aalaa dengan hati, yang berakibat kepada penerimaan syari’at yang di tetapkan-Nya, serta sikap menjadikan syariat-Nya yang di bawa oleh Rasul-Nya Shallallahu’alaihiwasallam sebagai penentu hukum. Seorang hamba bisa mengenal Robbnya dengan memperhatikan ayat-ayat syar’iyyah yang terdapat dalam Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihiwaallam serta memperhatikan ayat-ayat kauniyah yang terdapat pada makhluk Allah Subhaanaahuwata’aalaa. Karena semakin seseorang memperhatikan, maka semakin bertambahlah pengetahuannya tentang penciptanya dan Tuhan Yang di ibadahinya.

Allah Subhaanahuwata’aalaa berfirman :

Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin.
dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?

(QS AdzDzaariyaat : 20- 21)

B. Mengenal Nabi-Nya shallallhu’alaihiwasallam.

Maksudnya mengenal atau mengetahui Rasulullah Muhammad Shallallu’alaihiwasallam dengan pengetahuan yang mengakibatkan penerimaan kepada petunjuk dan ajaran benar yang dibawa oleh beliau, membenarkan hal yang di kabarkannya, melaksanakan perintahnya, menjauhi larangannya, menjadikan syari’atnya sebagai sumber hukum dan rela menerima ketentuan yang di tetapkannya.

Allah Subhaanaahuwata’aalaa berfirman :

Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu(Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam) hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (QS : An Nisaa’ : 65)
Allah Subhaanaahuwata’aalaa berfirman :
Sesungguhnya jawaban oran-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. “Kami mendengar, dan kami patuh.” Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.(QS : An Nuur : 51)

Allah Subhaanaahuwata’aalaa berfirman :

…………maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih. (QS : An Nuur : 63)

C. Mengenal Islam.

Makna islam secara umum adalah beribadah kepada Allah Subhaanaahuwata’aalaa dengan syari’at yang telah di tetapkan-Nya, sejak Allah Subhaanaahuwata’aalaa mengutus para Rasul hingga terjadinya hari kiamat kelak. Allah Subhaanaahuwata’aalaa menyebutkan hal ini dalam banyak ayat yang menunjukkan bahwa seluruh syariat yang ada pada masa dahulu, merupakan wujud dari Islam (Ketundukan) kepada Allah Subhaanahuwata’aalaa. Allah Subhaanaahuwata’aalaa berfirman :

(Ibrahim’alaihissalaam berdoa)Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) diantara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau(QS : Al baqarah : 128).

Sedangkan Islam dalam arti khusus setelah di utusnya Nabi Muhammad Shallallahu’alaihiwasallam yaitu syari’at yang di bawa oleh Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam. Sebab Syri’at yang di bawa oleh Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam telah menghapus seluruh syari’at terdahulu. Barang siapa mengikutinya dia muslim barang siapa yang menentangnya dia bukan muslim. Pengikut para Rasul di zaman mereka di sebut sebagai muslim. Orang-orang yahudi adalah muslim di zaman Nabi Musa ‘alaihissalaam. Orang Nasrhani adalah muslim di zaman Nabi Isa ‘alaihissalaam. Adapun setelah nabi Muhammad Shallallahu’alaihiwasallam di utus, lantas kafir kepada beliau atau ingkar maka dia bukan muslim.

Islam inilah satu-satunya agama yang di terima di sisi Allah Subhaanaahuwata’aalaa dan yang berguna bagi penganutnya.

Allah Ta’aalaa berfirman :

Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.( QS : Ali ‘Imran : 85).

2 Mengamalkannya(Ilmu).

Artinya melaksanakan konsekuensi-konsekuensi pengetahuan tersebut, yaitu beriman kepada Allah Ta’aalaa dan menta’ati-Nya dengan cara melaksanakan perintah-perintah-Nya dan meningggalkan larangan-larangan-Nya, baik dalam ibadah Khoosoh maupun ibadah muta’adiyah. Contoh ibadah Khooshoh adalah shalat, puasa, haji. Sedangkan contoh ibadah muta’adiyah adalah amar ma’ruuf nahi mungkar, jihad fi sabiilillah,, dan sebagainya.

Hakekatnya amal adalah buah daripada ilmu. Siapa beramal tanpa ilmu, ia seperti orang Nashrani, dan Siapa berilmu namun tidak beramal, ia menyerupai orang Yahudi.

3 Mendakwahkannya

Maksudnya adalah mendakwahkan Syariat Allah Ta’aalaa yang di bawa oleh Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam. Tahapannya ada tiga atau empat.

Allah ta’aalaa berfirman :

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik………..(QS : An Nahl : 125)

Tahapan yang ke empat adalah :

Allah Ta’aalaa berfirman :

Dan janganlah kamu berdebat denganAhli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik (QS : Al ‘Ankabuut : 46).

Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam bersabda dalam hadits yang di riwayatkan oleh Muslim dalam kitab Al ilmu Bab : “Man Sanna Sunnatan hasanatan au Sayyiatan” Yaitu sabdanya :

Barangsiapa mengajak kepada petunjuk, maka ia memperoleh pahala seperti pahala orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Barangsiapa mengajak kepada kesesatan, maka I mendapatkan dosa seperti dosa orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun.

4 Sabar.

Maksudnya adalah menahan diri untuk tetap menta’ati Allah Ta’aalaa, tidak bermaksiat kepada-Nya, dan tidak membenci takdir-takdir yang di tetapkan-Nya, atau menahan diri untuk tidak membenci, mengeluh dan bosan. Dengan kesabaran, seseorang senantiasa giat mendakwahkan agama Allah Ta’aalaa, sekalipun disakiti, karena penganiayaan terhadap da’I (Penyeru kepada kebaikan)

Merupakan hal yang biasa di lakukan manusia,kecuali mereka yang mendapat petunjuk dari Allah Ta’aalaa.

Allah Ta’aalaa berfirman :

Dan sesungguhnya telah didustakan (pula) rasul-rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Allah kepada mereka (QS : Al An’aam : 34).

Semakin keras penganiayaan terhadap seorang da’I, maka semakin dekat pertolongan Allah Ta’aalaa. Pertolongan Allah Ta’aala tidak harus di berikan-Nya ketika masih hidup, saat ia masih bisa melihat pengaruh dakwahnya terwujud, akan tetapi bisa saja pertolongan itu datang setelah wafatnya, misalnya Allah Ta’aalaa menjadikan hati segenap manusia mau menerima dakwahnya dan berpegang teguh kepadanya. Hal ini termasuk pertolongan Allah Ta’aalaa kepada sang da’I, meskipun ia telah wafat. Karena itu, seorang da’I harus bersabar dan konsisten menjalankan dakwahnya. Ia harus bersabar menjalankan agama Allah yang di dakwahkannya. Ia juga harus bersabar menghadapi gangguan yang menimpa dirinya. Lihatlah para Rasul Shalawatullah wa salaamuhu ‘alaihim juga di ganggu dengan perkataan dan perbuatan.

Sebagaiman Firman Allah Ta’aalaa :

Demikianlah tidak seorang rasulpun yang datang kepada orang-orang yang sebelum mereka, melainkan mereka mengatakan: “Dia adalah seorang tukang sihir atau seorang gila.” (QS : Adz Dzaariyaat : 52)

Dan sebagaimana juga Firman Allah Ta’aalaa :

Dan seperti itulah, telah Kami adakan bagi tiap-tiap nabi, musuh dari orang-orang yang berdosa. Dan cukuplah Tuhanmu menjadi Pemberi petunjuk dan Penolong (QS : . Al Furqaan : 31).

Oleh karena itu, wajib bagi seorang da’i (penyeru kepada kebenaran) bersabar

dan mengharap pahala dari sisi Allah Ta’aalaa.
Sabar itu ada tiga macam :

1 Sabar dalam menta’ati Allah Ta’aalaa.

2 Sabar dalam meningggalkan hal-hal yang di haramkan oleh Allah Tabaaroka wa Ta’aalaa.

3 Sabar menjalani takdir yang di timpakan oleh Allah Ta’aalaa baik yang tanpa melalui perantaraan tangan manusia maupun yang melalui perantaraan manusia berupa gangguan dan penganiayaan.

Dalilnya adalah sebagaimana Firman Allah Ta’aalaa :

Demi masa, Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, mengerjakan amal shaleh serta saling nasehat-menasehati untuk menegakkan kebenaran dan nasehat-menasehati untuk menetapi kesabaran (QS : Al ´Ashr : 1-3).

Imam Assyafi’ii Rohimahullah mengatakan :

Seandainya Allah Ta’aala tidak menurunkan hujjah (Argumen) Selain surat ini Niscaya telah cukup bagi mereka.

Maksud beliau rohimahullah adalah bahwa cukup bagi manusia untuk mendorong manusia berpegang teguh kepada keimanan, amal shaleh, dakwah kepada Allah Ta’aalaa dan kesabaran di atas itu semua. Yang beliau maksudkan bukanlah bahwa surat ini cukup bagi manusia untuk menjelaskan seluruh syari’at islam.

Ucapan beliau Rohimahullah “Seandainya Allah Ta’aala tidak menurunkan hujjah(Argumen) Selain surat ini Niscaya telah cukup bagi mereka” karena jika seseorang yang mempunyai akal dan pikiran sensitive, mendengar dan membaca surat ini, Pasti berusaha menyelamatkan diri dari kerugian, dengan berusaha memiliki 4 sifat ini yakni iman, amal shaleh saling menasehati untuk melaksanakan kebenaran, dan saling menasehati untuk menetapi kesabaran.

Oleh karena itu wajib bagi setiap manusia untuk mempelajari TIGA HAL TERSEBUT yaitu ;

1. Mengenal Allah Ta’aalaa.

2. Mengenal Nabi-Nya (Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam)

3. Mengenal Agamanya.

Hal yang telah disebutkan diatas (mengenal Allah Ta’aalaa, Nabi-Nya, Agamanya) itu termasuk AQIDAH. Aqidah itu wajib di pelajari oleh setiap orang yang berakal dan wajib di amalkan,. apabila ia telah mengetahuinya yaitu mengetahui Siapa Tuhannya, Siapa Nabinya, dan Apa agamanya.

Standard

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, wa ba’du

Bad news is good news, itulah prinsip berita. Peristiwa pembacokan seorang siswa SMA Yayasan Karya 66 (Yake) menjadi headline berita hampir di berbagai portal warta. Yang sangat disayangkan, sebab kematian siswa itu adalah tawuran antar-siswa SMA.

Kita tidak akan membahas dari sudut pandang pendidikan. Karena kita sepakat, menteri pendidikan tidak layak disudutkan kerena peristiwa ini. Kita juga tidak membahas dari sisi politik. Karena kejadian ini tidak memiliki korelasi langsung dengan pemerintah. Kita jadikan peristiwa ini sebagai bagian masalah umat. Sehingga masing-masing bisa mengambil ibrah untuk memperbaiki diri dan lingkungannya.

Islam sebagai agama rahmah sangat menghargai nyawa manusia. Saking berharganya, nyawa seorang muslim itu lebih bernilai dari pada dunia di sisi Allah ta’ala. Dari Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللَّهِ مِنْ قَتْلِ رَجُلٍ مُسْلِمٍ

“Sesungguhnya hancurnya dunia, itu lebih ringan di sisi Allah, dari pada terbunuhnya seorang muslim.” (HR. Nasa’i 3987, Turmudzi 1395, dan dishahihkan Al-Albani)

Karena itulah, islam melarang keras umatnya untuk melakukan segala tindakan yang bisa menghilangkan nyawa sendiri atau orang lain, kecuali karena alasan yang dibenarkan secara syariat, seperti jihad di jalan Allah ta’ala. Jihad menjadi salah satu alasan bolehnya mempertaruhkan nyawa, mengingat manfaatnya yang sangat besar. Untuk itulah, orang yang mati karena jihad di jalan Allah mendapat gelar kehormatan sebagai syahid.

Tentu saja, untuk bisa disebut jihad di jalan Allah, harus memenuhi segala persyaratannya. Sehingga tidak semua kasus hilangnya nyawa seorang muslim, bisa disebut jihad.

Dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, bahwa ada seorang dari pelosok yang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bertanya tentang orang yang berperang agar disebut pemberani, atau berperang karena fanatisme, atau karena riya (mengharap pujian), manakah diantara mereka yang di jalan Allah. Beliau bersabda,

مَنْ قَاتَلَ لِتَكُونَ كَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ العُلْيَا فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

“Siapa yang berperang agar kalimat Allah ditinggikan maka dia di jalan Allah.” (HR. Bukhari & Muslim)

Menilik kriteria di atas, kita tentu sepakat bahwa tawuran bukan termasuk jihad fi sabilillah. Rasanya belum pernah kita jumpai ada orang yang tawuran dalam rangka meninggikan kalimat Allah. Kalaupun ada, itu karena kesalah-pahaman dengan makna meninggikan kalimat Allah. Di saat itulah, darah korban bisa jadi sia-sia. Tidak bernilai sebagai jenazah yang terhormat.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

من قاتل تحت راية عمية يغضب لعصبة، أو يدعو إلى عصبة، أو ينصر عصبة، فقتل، فقتلة جاهلية

“Siapa yang berperang karena sebab yang tidak jelas, marah karena fanatik kelompok, atau motivasi ikut kelompok, atau dalam rangka membantu kelompoknya, kemudian dia terbunuh, maka dia mati jahiliyah.” (HR. Muslim 1848).

Yang dimaksud mati jahiliyah adalah mati dalam kondisi fasik (melakukan dosa besar).

Untuk membuat jera agar kaum muslimin menghindari tindakan tidak produktif semacam ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahkan memberikan ancaman neraka,

إِذَا التَقَى المُسْلِمَانِ بِسَيْفَيْهِمَا فَالقَاتِلُ وَالمَقْتُولُ فِي النَّارِ

“Apabila ada dua orang muslim yang saling adu pedang maka si pembunuh dan korbannya sama-sama di neraka.”

Para sahabatpun terheran mendengar hadis ini. Mereka bertanya, mengapa yang dibunuh juga di neraka? Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

إِنَّهُ كَانَ حَرِيصًا عَلَى قَتْلِ صَاحِبِهِ

“Karena dia juga ingin membunuh saudaranya.” (HR. Bukhari 31 dan Muslim 2888).

Sungguh sangat memprihatinkan. Siswa SMA yang punya hobi tawuran, masyarakat kampung yang suka tawuran, segera tinggalkan kebiasaan buruk anda.

Hati-hati dengan Darah

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يجيء القاتل والمقتول يوم القيامة متعلق برأس صاحبه يقول: رب سل هذا لم قتلني؟

“Orang yang membunuh dan yang dibunuh akan datang pada hari kiamat dengan menenteng kepala temannya (yang dibunuh). Dia   (korban) melaporkan: Ya Allah, tanyakan kepada orang ini, mengapa dia membunuhku?” (HR. Ibn majah 2621 dan dishahihkan Al-Albani)

Anda yang saat ini sedang bermusuhan dengan sesama muslim, anda yang saat ini sedang dendam dengan orang lain, jangan sampai punya keinginan untuk membunuh saudara anda. Belum tentu jawaban si pembunuh bisa diterima Allah.

Allahu a’lam.

Cara Menyelamatkan Diri Dari Neraka Bag 63 ( Insya Allah )

Standard

Kategori Risalah : GAMBAR, MUSIK

Hukum Mendengarkan Musik Dan Lagu Serta Mengikuti Sinetron

Jumat, 18 Nopember 2005 15:49:41 WIB

HUKUM MENDENGARKAN MUSIK DAN LAGU SERTA MENGIKUTI SINETRON

Oleh
Syaikh Muhamamd bin Shalih Al-Utsaimin

Pertanyaan
Syaikh Muhamamd Bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Apa HUKUM mendengarkan MUSIK dan LAGU ? Apa HUKUM menyaksikan SINETRON yang di dalamnya terdapat para WANITA Pesolek ?

Jawaban
Mendengarkan  MUSIK dan Nyanyian HARAM dan tidak DISANGSIKAN KEHARAMANNYA. Telah diriwayatkan oleh para SAHABAT dan SALAF SHALIH bahwa LAGU bisa MENUMBUHKAN sifat KEMUNAFIKAN di dalam HATI. Lagu termasuk PERKATAAN yang TIDAK Berguna. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Artinya : Dan di antara manusia (ada) orang yang MEMPERGUNAKAN PERKATAAN yang TIDAK BERGUNA untuk MENYESATKAN (manusia) dari JALAN ALLAH tanpa Pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu OLOK-OLOKAN. Mereka itu akan memperoleh AZAB yang MENGHINAKAN“.[Luqman : 6]

Ibnu Mas’ud dalam menafsirkan ayat ini berkata : “DEMI ALLAH yang tiada tuhan selainNya, yang dimaksudkan adalah LAGU“.

Penafsiran seorang SAHABAT merupakan HUJJAH dan PENAFSIRANNYA berada di Tingkat TIGA dalam TAFSIR, karena pada dasarnya TAFSIR itu ada TIGA. Penafsiran AL-QUR’AN dengan ayat ALQUR’AN, Penafsiran AL-QUR’AN dengan HADITS dan ketiga Penafsiran AL-Qur’an dengan PENJELASAN SAHABAT. Bahkan SEBAGIAN ulama menyebutkan bahwa PENAFSIRAN SAHABAT mempunyai hukum RAFA’ (DINISBATKAN kepada NABI Shallallahu ‘alaihi wa sallam). Namun yang benar adalah bahwa penafsiran sahabat TIDAK mempunyai hukum RAFA’, tetapi MEMANG merupakan PENDAPAT yang PALING DEKAT dengan KEBENARAN.

Mendengarkan MUSIK dan LAGU akan MENJERUMUSKAN kepada SUATU yang DIPERINGATKAN oleh RASULULLAH Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam haditsnya.

“Artinya : Akan ada suatu kaum dari umatku menghalalkan Zina, Sutera, Khamr dan ALAT MUSIK“.

Maksudnya, menghalalkan zina, khamr, sutera padahal ia adalah LELAKI yang tidak boleh menggunakan SUTERA, dan MENGHALALKAN ALAT-ALAT MUSIK. [Hadits Riwayat BUKHARI dari hadits Abu Malik Al-Asy’ari atau Abu Amir Al-Asy’ari]

Berdasarkan hal ini saya menyampaikan nasehat kepada para saudaraku sesama muslim agar MENGHINDARI Mendengarkan MUSIK dan Janganlah sampai TERTIPU oleh beberapa pendapat yang menyatakan Halalnya LAGU dan ALAT-ALAT MUSIK, karena dalil-dalil yang menyebutkan tentang HARAMNYA Musik SANGAT JELAS dan PASTI. Sedangkan menyaksikan SINETRON yang ada WANITANYA adalah HARAM karena bisa menyebabkan FITNAH dan TERPIKAT kepada PEREMPUAN. Rata-rata setiap SINETRON MEMBAHAYAKAN, meski TIDAK ada WANITANYA atau wanita tidak melihat kepada pria, karena pada umumnya sinetron adalah membahayakan masyarakat, baik dari Sisi PRILAKUNYA dan AKHLAKNYA.

Saya MEMOHON kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar menjaga KAUM MUSLIMIN dari keburukannya dan agar Memperbaiki PEMERINTAH Kaum Muslimin, karena KEBAIKAN MEREKA akan Memperbaiki KAUM MUSLIMIN. Wallahu a’lam.

[Fatawal Mar’ah 1/106]

[Disalin dari kitab Al-Fatawa Al-Jami’ah Lil Mar’atil Muslimah, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Tentang Wanita, Penyusun Amin bin Yahya Al-Wazan Penerbitan Darul Haq. Penerjemah Amir Hamzah Fakhrudin]

Cara Menyelamatkan Diri Dari Neraka Bag 62 ( Insya Allah )

Standard

Hak-hak Persaudaraan (Ukhuwah) Sesama Muslim

 

Allah Subhanahu wa Ta’ala mewajibkan ukhuwah dan tolong menolong kepada sesama muslim dalam kemaslahatan dunia dan agama. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya, “Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara, sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah  Subhanahu wa Ta’ala, supaya kamu mendapat rahmat. ” (Qs al-Hujurât/ 49:10). Semoga khutbah jum’at ini bermanfaat. [Redaksi KhotbahJumat.com]

***

Hak-hak Persaudaraan (Ukhuwah) Sesama Muslim

KHUTBAH JUMAT PERTAMA

Segala puji hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang telah menjadikan kaum muslimin BERSAUDARA dan saling  MENYAYANGI, yang memerintahkan mereka agar SALING TOLONGMENOLONG dalam kemaslahatan DUNIA dan AGAMA. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilâh yang haq diibadahi kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala, tiada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah hamba dan utusan-Nya. Semoga keselamatan tercurahkan kepadanya, keluarganya, para shahabatnya dan orang-orang yang mengikuti beliau dengan baik hingga hari kiamat.

Wahai manusia, bertakwalah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, ketahuilah bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala MEWAJIBKAN ukhuwah dan tolong menolong kepada sesama muslim dalam kemaslahatan dunia dan agama. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya, “Sesungguhnya orang-orang beriman itu BERSAUDARA, sebab itu DAMAIKANLAH (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah  Subhanahu wa Ta’ala, supaya kamu mendapat rahmat. ” (Qs al-Hujurât/ 49:10)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 “Perumpamaan kaum mukminin satu dengan yang lainnya dalam hal saling mencintai, saling menyayangi dan saling berlemah lembut di antara mereka adalah seperti SATU TUBUH. Apabila salah satu anggota badan SAKIT, maka semua anggota badannya juga merasa demam dan tidak bisa tidur.”

Apabila ini yang menjadi kewajiban kaum muslimin, maka UKHUWAH ini mewajibkan mereka saling memenuhi hak satu dengan lainnya. Di antara hak tersebut adalah:

 

  • MENCINTAI karena Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Yaitu tanpa Membedakan  NASAB di antara mereka, juga tanpa EGOISME yang membawa mereka kepada sifat TIDAK baik, akan tetapi karena Allah Subhanahu wa Ta’ala semata-mata. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Tidak (sempurna) iman salah seorang di antara kamu hingga dia MENCINTAI saudaranya seperti MENCINTAI dirinya sendiri.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda yang artinya, “Ada 3 hal, barang siapa yang berada padanya ia akan merasakan MANISNYA iman, pertama:  hendaklah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam LEBIH dia CINTAI dari pada selainnya; kedua: dia MENCINTAI seseorang semata-mata KARENA Allah Subhanahu wa Ta’ala; ketiga: dia enggan untuk kembali kepada kekafiran  setelah diselamatkan oleh Allah  Subhanahu wa Ta’ala sebagimana dia juga ENGGAN untuk dilemparkan ke dalam api Neraka.”

  • MENDAMAIKAN mereka.

Apabila ada PERSELISIHAN dan PERPECAHAN di antara mereka, maka KEWAJIBAN seorang MUSLIM adalah mendamaikannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

 “Oleh sebab itu, bertakwalah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan PERBAIKILAH hubungan antara SESAMAMU; dan taatlah kepada Allah  Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya jika kamu adalah orang-orang yang BERIMAN.” (Q.s. Al-Anfal/8: 1)

ISLÂH maknanya adalah MELURUSKAN masalah yang DIPERSELISIHKAN dan mengembalikannya kepada kaum muslimin serta memperbaiki kedua pihak yang berselisih.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  menganggap  perbuatan  MENDAMAIKAN kaum muslimin sebagai SEDEKAH, maka KEWAJIBAN mereka yaitu jika ada PERSELISIHAN atau PERPECAHAN di antara mereka, hendaknya mereka DAMAIKAN dan LURUSKAN Perselisihan tersebut dengan ADIL, sehingga UKHUWAH kembali TERJALIN di antara mereka.

  • JUJUR dalam bermuamalah.

Hendaknya mereka bermuamalah dengan JUJUR, tidak BERDUSTA, tidak BERKHIANAT dan tidak  MENIPU dalam jual beli. Hendaknya muamalah  jual beli tersebut dilakukan atas dasar NIAT yang baik, tanpa menutupi aib yang ada pada barang yang dijual dan tanpa BERBOHONG dalam harganya. KEJUJURAN adalah KESELAMATAN. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “ Apabila dua orang muslim BERMUAMALAH jual beli, maka ada khiyar (hak memilih) bagi keduanya. Jika keduanya JUJUR dan BERTERUS TERANG, maka keduanya akan mendapat BARAKAH dari jual belinya, dan jika Keduanya BERDUSTA dan MENYEMBUNYIKAN, maka BARAKAH akan DIHILANGKAN dari jual belinya.

  • MENDOAKAN Kebaikan kepadanya, MENDOAKANNYA dengan MAGHFIRAH, agar diberi Kemaslahatan DUNIA dan AGAMA. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

 “Dan MOHONLAH Ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang MUKMIN, laki-laki dan perempuan.” (Q.s. Muhammad/47: 19)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Hak muslim satu dengan lainnya ada 6, yaitu apabila engkau bertemu dengannya, berilah SALAM kepadanya; apabila dia mengundangmu, PENUHILAH udangannya; apabila dia meminta NASEHAT kepadamu, maka NASEHATILAH; apabila dia BERSIN dan mengucapkan ALHAMDULILLÂH, maka DOAKANLAH; apabila dia SAKIT, maka JENGUKLAH; dan apabila dia MENINGGAL, maka IRINGILAH jenazahnya.”

Pertama: apabila seorang MUSLIM bertemu dengan SAUDARANYA, hendaknya dia MENDAHULUINYA dengan SALAM. Memulai SALAM hukumnya SUNAH, sedangkan MENJAWAB salam hukumnya WAJIB, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

 “Apabila kamu DIBERI Penghormatan dengan sesuatu PENGHORMATAN, maka balaslah penghormatan itu dengan yang LEBIH BAIK dari padanya, atau BALASLAH penghormatan itu (dengan yang serupa).” (Q.s. an-Nisâ`/4: 86)

Hendaknya kaum muslimin menyebarkan salam di antara mereka. Abdullah bin Salam mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Wahai manusia, SEBARKANLAH salam, berilah makan (orang miskin, red.), SAMBUNGLAH  silaturahmi dan shalatlah pada malam hari ketika manusia dalam sedang tidur, engkau akan masuk SURGA dengan keselamatan.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menggabungkan perintah mengucap salam dan memberi makan (fakir miskin) karena hal itu akan MENUMBUHKAN rasa kecintaan antar kaum muslimin dan menghilangkan kegelisahan.

Kedua: sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Apabila dia MENGUNDANGMU, maka PENUHILAH.” Maksudnya, apabila dia MENGUNDANGMU untuk WALIMAH atau HADIR dalam suatu RESEPSI, hendaknya engkau DATANG, kecuali Apabila ada UDZUR SYAR`I yang menyebabkan berhalangan hadir atau memberatkanmu.  Akan tetapi jika pada walimah atau resepsi tersebut ada KEMUNGKARAN dan engkau  Mampu MENGUBAH kemungkaran tersebut, maka engkau WAJIB datang dan MENGUBAHNYA. Akan tetapi jika TIDAK MAMPU Mengubahnya, janganlah engkau MENGHADIRINYA. KEHADIRANMU yang TIDAK Bisa MENGUBAH kemungkaran itu, merupakan tanda engkau SETUJU dengan HAL TERSEBUT.

 

Ketiga: sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Apabila dia minta NASIHAT, maka Nasihatilah.” Maksudnya, apabila dia meminta NASIHAT kepadamu dalam suatu perkara dan meminta pendapat kamu yang baik, maka hendaknya kamu BERSUNGGUH-SUNGGUH menasihatinya, BAIK dalam  hal yang dia SUKAI maupun TIDAK.

Keempat: sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Apabila dia BERSIN dan MEMUJI Allah Subhanahu wa Ta’ala, DOAKANLAH dia.” BERSIN merupakan NIKMAT dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena mengosongkan udara buruk yang ada di tubuh. Apabila dia bersin, ini merupakan nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang perlu disyukuri. Sehingga apabila dia memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala, wajib bagi orang yang berada di sisinya untuk MENDOAKANYA dengan mengucapkan, “Yarhamukallâh”. Kemudian orang yang bersin mengucapkan, “Yahdîkumullâh wa yushlih bâlakum.” Ini merupakan PERILAKU  muslimin yang BAIK, maka hukumnya wajib untuk menjawab orang yang bersin apabila dia memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Kelima: sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Apabila dia SAKIT, maka JENGUKLAH.” Menjenguk orang sakit mengandung KEBAIKAN yang banyak, di antaranya bisa mengurangi beban orang yang sakit dan  keluarganya. Mengunjunginya, duduk di sampingnya dan mendoakannya, maka akan membuat dia BAHAGIA dan menguatkan RAJÂ`-nya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Di antara adab menjenguk orang sakit, pertama: hendaknya secara berkala; jangan setiap hari karena hal itu akan memberatkannya, kecuali dia suka yang demikian. Kedua: mendoakan  KESEMBUHAN baginya, memberi motivasi kepadanya agar segera sembuh, melapangkan bebannya, dan menghiburnya. Ketiga: hendaknya jangan berlama-lama duduk di sampingnya agar tidak membebaninya, kecuali dia menginginkannya.

Keenam: sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Apabila dia MENINGGAL dunia, maka IRINGILAH jenazahnya.” Hal itu karena ada DOA, permohonan ampun kepadanya, menyenangkan wali dan kerabatnya dan ada unsur memuliakan kedudukan orang yang meninggal. Barang siapa yang menghadiri jenazah, menyalatkan dan mendoakannya, maka dia akan memperoleh pahala satu  qirâth. Barang siapa menyalatkan dan mengiringinya sampai pemakaman, dia akan memperolah 2 qirâth. Ada yang bertanya, “Wahai Rasulullah, apa itu dua qirâth?” Beliau menjawab, “Seperti DUA gunung yang BESAR.”

Wahai hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala, bertakwalah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan jagalah hak-hak saudara kalian. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya, “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, Sesungguhnya Allah  Subhanahu wa Ta’ala amat berat siksa-Nya.” (Q.s. al-Mâidah/5: 2)

KHUTBAH JUMAT KEDUA

Amma ba`du,

Wahai hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala, bertakwalah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, ketahuilah bahwa di antara hak-hak kaum muslimin  satu dengan lainnya adalah AMAR MA`RUF dan NAHI MUNKAR. Maka, apabila engkau melihat saudaramu BERADA dalam KEMAKSIATAN dan PENYELISIHAN kepada SYARIAT atau lainnya engkau tidak boleh MENDIAMKANNYA. Akan tetapi, engkau HARUS MENASIHATINYA secara SEMBUNYISEMBUNYI antara Engkau dan Dia. Dan HENDAKNYA engkau MENUNJUKKANNYA pada KEBAIKAN dan MEMPERINGATKANNNYA dari KEBURUKAN. Hendaknya engkau PERBAIKI dengan cara yang BAIK, hingga dia bisa mengetahui bahwa kamu adalah SAUDARANYA dan engkau sangat MEMPERHATIKANNYA.

Wahai hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala, bertakwalah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan BERSEMANGATLAH dalam menunaikan hak-haknya sebagaimana engkau juga MEMINTA agar hak engkau dipenuhi oleh SAUDARAMU.

 

Disalin dari kumpulan naskah khutbah Jumat Majalah As-Sunnah dengan beberapa penyuntingan oleh redaksi www.khotbahjumat.com
Artikel www.khotbahjumat.com

 

Cara Menyelamatkan Diri Dari Neraka Bag 61 ( Insya Allah )

Standard

Selamatkan Dirimu dari Neraka Dengan Sedekah

Oleh: Badrul Tamam

Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, keluarga dan para sahabatnya.

Dahsyatnya siksa neraka tak ada bandingnya. Serngan-ringan siksanya tak ada yang sanggup menanggungnya. Bahkan ia merasa bahwa ia disiksa dengan siksa yang paling dahsyat. Lihatlah gambarannya yang dikabarkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam,

إِنَّ أَهْوَنَ أَهْلِ النَّارِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَرَجُلٌ تُوضَعُ فِى أَخْمَصِ قَدَمَيْهِ جَمْرَتَانِ يَغْلِى مِنْهُمَا دِمَاغُهُ

Sesungguhnya penghuni neraka yang paling ringan siksanya adalah seseorang yang diletakkan dua buah bara api di bawah telapak kakinya, seketika otaknya mendidih.” (Muttafaq ‘Alaih, sebagian tambahan Al-Bukhari, “sebagaimana mendidihnya kuali dan periuk.”

Imam Muslim meriwayatkan dari hadits Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda;

إِنَّ أَدْنَى أَهْلِ النَّارِ عَذَابًا يَنْتَعِلُ بِنَعْلَيْنِ مِنْ نَارٍ يَغْلِى دِمَاغُهُ مِنْ حَرَارَةِ نَعْلَيْهِ

Sesungguhnya penghuni neraka yang paling ringan siksanya, ia memakai dua sandal dari neraka, seketika itu mendidih oraknya disebabkan panasnya dua sandalnya itu.

Dalam redaksi lain,

إِنَّ أَهْوَنَ أَهْلِ النَّارِ عَذَابًا مَنْ لَهُ نَعْلاَنِ وَشِرَاكَانِ مِنْ نَارٍ يَغْلِى مِنْهُمَا دِمَاغُهُ كَمَا يَغْلِى الْمِرْجَلُ مَا يَرَى أَنَّ أَحَدًا أَشَدُّ مِنْهُ عَذَابًا وَإِنَّهُ لأَهْوَنُهُمْ عَذَابًا

Sesungguhnya penghuni neraka yang paling ringan siksanya adalah seseorang memiliki dua sandal dan dua tali sandal dari api neraka, seketika otaknya mendidih karena panasnya sandal tersebut sebagaimana kuali mendidih. Orang tersebut merasa bahwa tak ada seorang pun yang siksanya lebih pedih daripadanya, padahal siksanya adalah yang paling ringan di antara mereka.” (HR. Muslim)

Maka selayaknya kita benar-benar takut terhadapnya. Setiap jalan yang menghantarkan ke neraka, maka sungguh-sungguh kita jauhi. Segala sebab yang mengharuskan memasukinya, maka kita hindari. Kita juga berusaha mencari sebab yang bisa membentengi diri kita dari neraka.

عَنْ عَدِيِّ بْنِ حَاتِمٍ قَالَ ذَكَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ النَّارَ فَتَعَوَّذَ مِنْهَا وَأَشَاحَ بِوَجْهِهِ ثُمَّ ذَكَرَ النَّارَ فَتَعَوَّذَ مِنْهَا وَأَشَاحَ بِوَجْهِهِ قَالَ شُعْبَةُ أَمَّا مَرَّتَيْنِ فَلَا أَشُكُّ ثُمَّ قَالَ اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ فَإِنْ لَمْ تَجِدْ فَبِكَلِمَةٍ طَيِّبَةٍ

Dari ‘Adiy bin Hatim Radhiyallahu ‘Anhu berkata: Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah menyebutkan tentang neraka, kemudian berlindung diri darinya dan mengekspresikan dengan wajahnya. Kemudian menyebutkan neraka lalu berlindung diri darinya dan mengekspresikan dengan wajahnya. Kemudian menyebutkan neraka dan berlindung diri darinya dan mengekspresikan dengan wajahnya. Syu’bah berkata: kemungkinan dua kali, lalu saya tidak ragu. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: Hindarkan dirimu dari neraka walaupun hanya dengan separoh butir kurma, jika tidak ada maka dengan tutur kata yang baik.” (Muttafaq ‘alaih)

Dalam redaksi Muslim,

مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يَسْتَتِرَ مِنَ النَّارِ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ فَلْيَفْعَلْ

Siapa di antara kalian yang mampu membentengi diri dari neraka walau dengan separoh butir kurma hendaknya ia lakukan.

Dalam riwayat Ahmad dari hadits Ibnu Mas’ud dengan sanad shahih, “Hendaknya salah seorang kalian menjaga wajahnya dari neraka walau dengan separoh butir kurma.” Dan dari hadits Aisyah dengan sanad hasan, “Wahai ‘Aisyah, hindarkan dirimu dari neraka walau dengan separoh butir kurma.” (HR. Ahmad)

. . . Sesungguhnya sedikitnya sedekah bisa menjadi sebab seseorang diselamatkan dari jilatan api neraka. . .

Di antara usaha yang menjadi hijab antara seseorang dengan neraka adalah sedekah. Karena sedekah akan menghapuskan kesalahan sebagaimana air yang memadamkan api. Sedekah juga bisa memadamkan kemurkaan Allah dan menghindarkan dari kematian buruk. (HR. al-Tirmidzi)

Hadits di atas menganjurkan untuk bersedekah walaupun hanya sedikit. Jangan malu karena hanya punya harta sedikit. Jangan pula meremehkan sedekah yang sedikit. Sesungguhnya sedikitnya sedekah bisa menjadi sebab seseorang diselamatkan dari jilatan api neraka.

Dalam hadits di atas terdapat petunjuk Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, bahwa di antara sarana terbesar yang bisa menyelamatkan dari neraka adalah berbuat baik kepada makhluk dengan harta dan perkataan. Kebaikan walau itu kecil secara materi, tidak boleh diremehkan, seperti sedekah yang jumlahnya sedikit, hanya separoh butir kurma. Bahkan jika tidak punya, bisa dengan berkata dengan kalimat thayyibah.

Kalimat thayyibah itu artinya luas. Ia mencakup semua perkataan yang menyenangkan hati, melapangkan dada, dan membuat gembira orang lain. Kalimat thayyibah juga mencakup perkataan yang mengandung petunjuk, mambaca ilmu dan mengajarkannya, membantah syubuhat, memperbaiki hubungan dua orang yang berseteru, memutuskan perselisihan dua orang yang bersengketa, memberi solusi atas problem, menenangkan orang yang marah, dan semisalnya.

Kalimat thayyibah juga mencakup zikir (mengingat) Allah, membaca Kitab-Nya, dan memuji-Nya serta menjelaskan hukum-hukum Allah dan syariat-Nya. Intinya, setiap perkataan yang mendekatkan diri kepada Allah dan memberikan manfaat untuk hamba-hamba Allah maka ia masuk dalam kategori kalimah thayyibah. Wallahu ta’ala A’lam. [PurWD/voa-islam.com]

Cara Menyelamatkan Diri Dari Neraka Bag 60 ( Insya Allah )

Standard

Buah Manis dari BERSEDEKAH Kepada KUCING

kucing-makan

Bismillahir-Rah­maanir-Rahim … SYAIKH ‘Abdul Hadi Badlah, IMAM Masjid Jami’ur RIDHWAN di Halab SYIRIA, pernah bercerita, “Di awal PERNIKAHANKU, Allah telah menganugerahkan­ kepadaku ANAK yang PERTAMA. Kami sangat bergembira dengan ANUGERAH  ini.

Akan tetapi, Allah Azza wa Jalla berkehendak Menimpakan PENYAKIT yang KERAS kepada ANAKKU. PENGOBATAN seakan TAK Berdaya untuk MENYEMBUHKANNYA­, KEADAAN sang anak semakin MEMBURUK, dan KEADAAN kami pun menjadi BURUK KARENA Sangat BERSEDIH memikirkan keadaan BUAH  HATI kami dan CAHAYA mata kami. Kalian tentu tahu, apakah artinya ANAK bagi kedua orang tuanya, TERUTAMA Ia adalah ANAK yang PERTAMA!!

Perasaan BURUK itu menyeruak di dalam hati, karena kami merasa TAK BERDAYA memberikan PENGOBATAN bagi Penderitaan ANAK kami!! SEHATNYA Kita memang merupakan Perintah Allah dan Ketentuan-Nya, namun kita memang harus MENGAMBIL LangkahLangkah­ PENGOBATAN dan TIDAK Meninggalkan Kesempatan atau SARANA apa pun untuk Mengobatinya.

Seorang yang BAIK menunjukkan kepada kami adanya seorang DOKTER yang BERPENGALAMAN dan TERKENAL, maka Aku pun pergi Bersama anakku  kepadanya. Anakku mengeluhkan DEMAM yang SANGAT TINGGI, dan DOKTER  itu berkata kepada kami, “Apabila PANAS anak Anda TIDAK TURUN  Malam ini, maka ia akan MENINGGAL Esok Hari!!”

Aku kembali bersama SANG Anak dengan KEGELISAHAN yang MEMUNCAK. SAKIT Menyerang  HATIKU, hingga KELOPAK MATAKU  tak mampu TERPEJAM Tidur. Aku pun Mengerjakan SHALAT, lalu pergi dengan wajah  MURAM DURJA meninggalkan ISTERIKU yang Menangis SEDIH di dekat KEPALA Anakku.

Aku terus BERJALAN Di Jalanan, dan TIDAK TAHU apa yang HARUS aku  PERBUAT untuk Anakku!! Tiba-tiba aku TERINGAT dengan SEDEKAH, dan ingat dengan hadits Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, tatkala beliau bersabda,

Obatilah orang yang sakit di antara kalian dengan SEDEKAH.”

Namun, SIAPA yang akan aku  TEMUI di waktu  malam  seperti  ini. Aku BISA SAJA mengetuk pintu  SESEORANG dan BERSEDEKAH kepadanya, tapi apa yang akan ia katakan kepadaku  jika aku melakukan hal itu?

Tatkala aku berada dalam kondisi BIMBANG seperti itu, tiba-tiba ada  SEEKOR KUCING LAPAR yang MENGEONG di KEGELAPAN  Malam. Aku menjadi INGAT dengan sabda Rasulullah shalallahu alaihi wasallam tatkala ditanya oleh seorang sahabat, “Apakah berbuat BAIK kepada BINATANG bagi kami ada PAHALANYA?”

BELIAU shalallahu alaihi wasallam  menjawab, “Di dalam SETIAP apa yang BERNYAWA ada PAHALANYA.” (Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim)

Aku pun SEGERA MASUK ke rumahku, Mengambil SEPOTONG DAGING, dan MEMBERI Makan KUCING itu. Aku  MENUTUP pintu BELAKANG rumahku, dan SUARA PINTU itu BERCAMPUR dengan SUARA ISTRIKU yang bertanya, “Apakah engkau telah kembali kepadaku dengan cepat?”

Aku pun BERGEGAS menuju ke ARAHNYA. Dan, aku  mendapatkan WAJAH ISTERIKU telah BERUBAH, Dari Permukaan WAJAHNYA telah Menyiratkan KEGEMBIRAAN! Ia berkata, “SESUDAH Engkau pergi, aku TERTIDUR sebentar MASIH dalam  Keadaan DUDUK. Maka, aku  MELIHAT Sebuah  PEMANDANGAN yang MENAKJUBKAN!!”

“Dalam TIDURKU, aku MELIHAT Diriku MENDEKAP anakku. Tiba-tiba ada SEEKOR BURUNG HITAM yang BESAR dari LANGIT yang  TERBANG  hendak MENYAMBAR ANAK KITA, untuk MENGAMBILNYA Dariku. Aku menjadi Sangat KETAKUTAN, dan tidak tahu apa yang harus aku  perbuat?

TIBA-TIBA Muncul  kepadaku SEEKOR KUCING  yang MENYERANG Secara DAHSYAT Burung Itu, dan KEDUANYA pun Saling BERTEMPUR. Aku Tidak Melihat KUCING  Itu Lebih KUAT Daripada BURUNG itu, karena si BURUNG badannya GEMUK. Namun AKHIRNYA, BURUNG ELANG itu pun Pergi MENJAUH. Aku TERBANGUN mendengar Suaramu  ketika DATANG tadi.”

Syaikh ‘Abdul Hadi berkata, “Aku TERSENYUM dan Merasa GEMBIRA dengan KEBAIKAN Ini. Melihat aku TERSENYUM, Isteriku MENATAP ke arahku dengan TERHERAN-HERAN.­ Aku berkata kepadanya, “Semoga Semuanya Menjadi Baik.”

Kami bergegas MENDEKATI anak kami. Kami TAK TAHU Siapa yang SAMPAI Terlebih Dulu, tatkala PENYAKIT Demam itu SIRNA dan SANG Anak mulai Membuka MATANYA. Dan, pada Pagi Hari berikutnya, Sang Anak telah BERMAIN-MAIN bersama anak-anak yang lain di desa ini, ALHAMDULILLAH.

Sesudah SYAIKH menyebutkan  Kisah MENAKJUBKAN  ini, Anak TADI -–yang telah menjadi PEMUDA berumur 17 TAHUN, serta TELAH SEMPURNA Menghafalkan Al-Quran dan MENEKUNI Ilmu SYAR’I–, ia menyampaikan NASIHAT yang mendalam kepada KAUM MUSLIMIN di masjid ORANG TUANYA, MASJID Ar-Ridhwan di Halb, di salah satu malam dari sepuluh hari terakhir di bulan RAMADHAN yang penuh BERKAH.

(Sumber: Min ‘Ajaibil ‘Ilaj bish Shadaqah)

Cara Menyelamatkan Diri Dari Neraka Bag 59 ( Insya Allah )

Standard

Orang yang Berjiwa Besar

Kategori: Akhlaq dan Nasehat


Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, HARTA tidak akan berkurang gara-gara SEDEKAH. Tidaklah seorang hamba memberikan MAAF -terhadap KESALAHAN orang lain- melainkan Allah pasti akan MENAMBAHKAN KEMULIAAN pada dirinya. Dan tidaklah seorang pun yang bersikap RENDAH HATI (TAWADHU’) karena Allah (IKHLAS) melainkan pasti akan DIANGKAT derajatnya oleh Allah.” (HR. Muslim, lihat Syarh Muslim [8/194])

……….

Hadits yang mulia ini memberikan berbagai PELAJARAN PENTING bagi kita, di antaranya:

  1. Hadits ini menganjurkan kita untuk bersikap IHSAN/SUKA berbuat BAIK kepada orang lain, entah dengan HARTA, dengan MEMAAFKAN kesalahan mereka, ataupun dengan bersikap TAWADHU’ kepada mereka (lihat Bahjat al-Qulub al-Abrar, hal. 110)
  2. Anjuran untuk Banyak BERSEDEKAH. Karena dengan SEDEKAH itu akan membuat HARTANYA BERBAROKAH dan Terhindar dari BAHAYA. Terlebih lagi dengan BERSEDEKAH akan didapatkan Balasan PAHALA yang BERLIPAT GANDA (lihat Syarh Muslim [8/194]). Selain itu, SEDEKAH juga menjadi sebab terbukanya PintuPintu REZEKI (lihat Bahjat al-Qulub al-Abrar, hal. 109)
  3. Anjuran untuk MENJAUHI sifat BAKHIL/KIKIR.
  4. KEBAKHILAN tidak akan menghasilkan KEBERUNTUNGAN
  5. Hadits ini menunjukkan KEUTAMAAN BERSEDEKAH dengan HARTA
  6. SEDEKAH adalah IBADAH
  7. Allah MENCINTAI orang yang SUKA BERSEDEKAH -dengan IKHLAS Tentunya
  8. Terkadang manusia MENYANGKA bahwa Sesuatu BERMANFAAT Baginya, namun apabila dicermati dari Sudut Pandang SYARI’AT maka hal itu justru TIDAK BERMANFAAT. Demikian pula sebaliknya. Oleh sebab itu alangkah tidak bijak orang yang Menjadikan HAWA NAFSU, PERASAAN, ataupun AKAL PIKIRANNYA Yang Terbatas sebagai Standar Baik TIDAKNYA Sesuatu. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Manusia itu, sebagaimana telah dijelaskan sifatnya oleh Yang menciptakannya. Pada dasarnya ia Suka BERLAKU ZALIM dan BERSIFAT BODOH. Oleh sebab itu, tidak sepantasnya dia menjadikan KECENDERUNGAN Dirinya, Rasa Suka, Tidak Suka, ataupun Kebenciannya TERHADAP Sesuatu sebagai STANDAR untuk Menilai PERKARA yang BERBAHAYA atau BERMANFAAT Baginya. Akan tetapi sesungguhnya STANDAR YANG BENAR adalah apa yang ALLAH Pilihkan baginya, yang hal itu Tercermin dalam Perintah dan Larangan-Nya…” (al-Fawa’id, hal. 89)
  9. Hadits ini menunjukkan disyari’atkannya Menepis KERAGU-RAGUAN dan Menyingkap KESALAHPAHAMAN yang Bercokol di dalam HATI manusia
  10. Memberikan targhib/MOTIVASI merupakan salah satu METODE PENGAJARAN yang Diajarkan NABI SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM
  11. Hadits ini juga menunjukkan pentingnya MEMOTIVASI Orang Lain untuk BERAMAL SALIH
  12. Anjuran untuk Memberikan MAAF kepada orang lain yang BERSALAH kepada KITASecara PRIBADI-. Dengan demikian -ketika di dunia- maka kedudukannya akan bertambah mulia dan terhormat. Di akherat pun, kedudukannya akan bertambah mulia dan pahalanya bertambah besar jika orang tersebut memiliki SIFAT PEMAAF (lihat Syarh Muslim [8/194]).
  13. Di antara hikmah Memaafkan KESALAHAN ORANG adalah akan bisa MERUBAH MUSUH menjadi TEMAN -sehingga hal ini bisa menjadi SALAH SATU CARA untuk MEMBUKA JALAN DAKWAH-, atau bahkan bisa menyebabkan orang lain mudah memberikan bantuan dan pembelaan di saat dia membutuhkannya (lihat Bahjat al-Qulub al-Abrar, hal. 109)
  14. Allah MENCINTAI orang yang PEMAAF.
  15. Anjuran untuk bersikap TAWADHU’/RENDAH HATI. Karena dengan kerendahan hati itulah seorang hamba akan bisa memperoleh KETINGGIAN DERAJAT dan KEMULIAAN, ketika di DUNIA maupun di AKHERAT kelak (lihat Syarh Muslim [8/194]).
  16. HAKEKAT orang yang TAWADHU’ adalah orang yang TUNDUK kepada KEBENARAN, PATUH kepada PERINTAH dan LARANGAN Allah dan rasul-Nya serta Bersikap RENDAH HATI kepada Sesama MANUSIA, Baik kepada yang masih MUDA ataupun yang sudah TUA. Lawan dari TAWADHU’ adalah TAKABUR/SOMBONG (lihat Bahjat al-Qulub al-Abrar, hal. 110)
  17. Allah MENCINTAI orang yang TAWADHU’
  18. LARANGAN bersikap TAKABUR; yaitu Menolak KEBENARAN dan MEREMEHKAN Orang Lain
  19. TAWADHU’ yang TERPUJI adalah yang DILANDASI dengan KEIKHLASAN, BUKAN yang DIBUAT-BUAT; yaitu Yang TIMBUL Karena Ada KEPENTINGAN DUNIA yang BERSEMBUNYI di BALIKNYA (lihat Bahjat al-Qulub al-Abrar, hal. 110)
  20. Yang menjadi PENYEMPURNA dan ruh/inti dari ihsan/kebajikan adalah NIAT yang IKHLAS dalam beramal karena Allah (lihat Bahjat al-Qulub al-Abrar, hal. 110)
  21. KETAWADHU’AN merupakan salah satu sebab diangkatnya derajat seseorang di sisi Allah. Di samping ada sebab lainnya seperti; KEIMANAN -dan itu yang paling pokok- serta ILMU yang dimilikinya. Bahkan, KETAWADHU’AN itu sendiri merupakan BUAH Agung dari IMAN dan ILMU yang TERTANAM dalam diri seorang hamba (lihat Bahjat al-Qulub al-Abrar, hal. 110)
  22. Hadits ini menunjukkan bahwa manusia diperintahkan untuk MENCARI Ketinggian dan KEMULIAAN Derajat di sisi-Nya. Sedangkan orang yang PALING MULIA di sisi-Nya adalah yang PALING BERTAKWA (lihat QS. al-Hujurat: 13). Dan salah satu KUNCI KETAKWAAN adalah KEMAMPUAN untuk Mengekang HAWA NAFSU, sehingga orang TIDAK akan BAKHIL dengan HARTANYA, akan MUDAH MEMAAFKAN, dan TIDAK Bersikap AROGAN ataupun Bersikap SOMBONG di hadapan MANUSIA.
  23. Hadits ini menunjukkan keutamaan MENGEKANG HAWA NAFSU dan KEHARUSAN untuk MENUNDUKKANNYA kepada SYARI’AT Rabbul ‘alamin
  24. Hendaknya MENJAUHI sebab-sebab yang Menyeret kepada SIFAT-SIFAT TERCELA -misalnya; KIKIR dan SOMBONG– dan BERUSAHA untuk MENGIKISNYA jika seseorang mendapati sifat itu ada di dalam dirinya
  25. KEMULIAAN DERAJAT yang HAKIKI adalah di SISI Allah (DIUKUR dengan SYARI’AT), TIDAK Diukur dengan PANDANGAN Kebanyakan MANUSIA
  26. BISA JADI orang itu TIDAK DIKENAL atau RENDAH dalam PANDANGAN MANUSIASecara Umum-, AKAN TETAPI di SISI Allah dia adalah SOSOK yang SANGAT MULIA dan Dicintai-Nya. Tidakkah kita ingat kisah Uwais al-Qarani seorang Tabi’in Terbaik namun TIDAK DIKENAL orang, DIREMEHKAN, dan TIDAK Menyukai POPULARITAS?
  27. PUJIAN dan SANJUNGAN Orang Lain kepada KITA Bukanlah STANDAR apalagi JAMINAN. Sebab KETINGGIAN derajat yang HAKIKI adalah di Sisi-Nya. Oleh sebab itu, tatkala dikabarkan kepada Imam Ahmad oleh muridnya mengenai PUJIAN orang-orang kepadanya, beliaupun berkata, “Wahai Abu Bakar –nama panggilan muridnya-, apabila seseorang telah mengenal jati dirinya, maka tidak lagi bermanfaat ucapan (PUJIAN) orang lain terhadapnya.” (lihat Ma’alim fi Thariq Thalabil Ilm, hal. 22). Ini adalah IMAM AHMAD, seorang yang Telah Hafal SATU JUTA hadits dan RELA Mempertaruhkan NYAWANYA demi Menegakkan SUNNAH dan Membasmi BID’AH. Demikianlah AKHLAK SALAF, aduhai… di manakah POSISI KITA bila DIBANDINGKAN dengan MEREKA? JANGAN-JANGAN kita ini TERGOLONG orang yang maghrur/TERTIPU dengan PUJIAN orang lain kepada KITA. Orang lain mungkin menyebut kita sebagai ‘ANAK NGAJI’, ORANG ALIM, ORANG SOLEH, atau bahkan AKTIFIS DAKWAH. Namun, sesungguhnya KITA SENDIRI Mengetahui tentang JATI DIRI KITA yang SEBENARNYA, segala puji hanya bagi Allah yang telah MENUTUPI AIB-AIB KITA di hadapan manusia… Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami
  28. ISLAM menyeru kepada AKHLAK yang MULIA
  29. Islam mengajarkan SIKAP PEDULI kepada SESAMA dan agar TIDAK BERSIKAP MASA BODOH terhadap NASIB atau KEADAAN MEREKA
  30. Sesungguhnya KETAATAN itu -meskipun terasa SULIT atau BERAT bagi JIWAPASTI akan MEMBUAHKAN MANFAAT BESAR yang KEMBALI kepada Pelakunya SENDIRI. Sebaliknya, KEDURHAKAAN/MAKSIAT itu -meskipun Terasa MENYENANGKAN dan ENAK– maka pasti akan BERDAMPAK JELEK bagi DIRINYA SENDIRI. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Perkara PALING BERMANFAAT secara MUTLAK adalah KETAATAN Manusia kepada Rabbnya secara LAHIR maupun BATIN. Adapun perkara PALING BERBAHAYA baginya secara MUTLAK adalah KEMAKSIATAN kepada-Nya secara LAHIR ataupun BATIN.” (al-Fawa’id, hal. 89). Allah ta’ala telah menegaskan (yang artinya), BISA JADI kalian MEMBENCI Sesuatu PADAHAL itu BAIK bagi KALIAN, dan BISA JADI kalian MENYENANGI Sesuatu PADAHAL itu adalah BURUK bagi kalian. Allah Maha MENGETAHUI, sedangkan KALIAN TIDAK MENGETAHUI -segala sesuatu-.” (QS. al-Baqarah: 216)
  31. Pahala besar bagi ORANG YANG BERJIWA BESAR; yaitu orang yang TIDAK SEGAN-SEGAN untuk MENYISIHKAN sesuatu yang DICINTAINYA -yaitu HARTAGuna BERINFAK di JALAN Allah, mau MELAPANGKAN DADANYA untuk MEMAAFKAN KESALAHAN orang lain KEPADANYA, serta Bersikap TAWADHU’ dan TIDAK MEREMEHKAN orang lain.
  32. Ketiga Macam Amal Soleh IniDENGAN IZIN ALLAH– bisa terkumpul dalam diri seseorang. Dia menjadi orang yang DERMAWAN, SUKA MEMAAFKAN, dan juga RENDAH HATI. Perhatikanlah sifat-sifat dan kepribadian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, niscaya ketiga sifat ini akan kita temukan dalam diri BELIAU. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sungguh telah ada BAGI KALIAN pada diri Rasulullah TELADAN yang BAIK, yaitu bagi orang yang BERHARAP kepada Allah dan HARI AKHIR serta Banyak MENGINGAT Allah.” (QS. al-Ahzab: 21)
  33. Di samping menyeru kepada PERSATUAN UMAT ISLAM -di atas KEBENARAN– maka Islam juga MENYERUKAN perkara-perkara yang menjadi PERANTARA atau SEBAB terwujudnya hal itu. Di antaranya adalah dengan Menganjurkan 3 HAL di atas: SUKA BERSEDEKAH -yang WAJIB ataupun yang SUNNAH-, SUKA MEMAAFKAN, dan BERSIKAP RENDAH HATI/TAWADHU’. Sesungguhnya, kalau kita mau mencermati kondisi kita di jaman ini -yang diwarnai dengan KEKACAUAN serta FITNAH yang TIMBUL di Medan DAKWAH-, akan kita dapati bahwa KEBANYAKAN di antara kita –BarangkaliAmat Sangat Kurang dalam Menerapkan KETIGA HAL tadi. Akibat Tidak Suka BERSEDEKAH, banyak kepentingan umat -khususnya dakwah– yang tidak terurus dengan baik. AKIBAT SULIT MEMAAFKAN, PERMUSUHAN yang tadinya hanya BERSIFAT PERSONAL pun akhirnya MELEBAR menjadi PERMUSUHAN KELOMPOK. Akibat PERASAAN Lebih TINGGI dan GENGSI, jalinan UKHUWAH yang TERKOYAK pun seolah TAK bisa dijalin kembali. MASING-MASING pihak ingin MENANG SENDIRI dan BERAT MENDENGARKAN Pandangan atau ARGUMENTASI saudaranya. Maka yang terjadi adalah Sikap SALING MENYALAHKAN, dan Kalau Perlu MENJATUHKAN Kehormatan saudaranya tanpa ALASAN yang DIBENARKAN. Kalau Seperti itu CARANYA, ya tidak akan pernah KETEMU… Bisa jadi ini hanya sekedar ANALISA, namun tidak kecil KEMUNGKINANNYA itu MERUPAKAN REALITA yang ADA, wallahul musta’an. SEBAGIAN ORANG, setelah selesai Mendengar KRITIKAN dari Saudaranya SEKETIKA itu PULA ia memberikan ‘Serangan Balik’ kepada sang PENGKRITIK. Padahal, NASEHAT yang didengarnya belum lagi MERESAP ke dalam AKAL SEHATNYA. Karena merasa DIRINYA telah ‘DILECEHKAN’ dia pun berkata kepada temannya, “Saya juga punya kritikan kepadamu. Kamu itu begini dan begitu…” Wahai saudaraku -semoga Allah merahmatimu- marilah kita bersama-sama BERLATIH untuk MENERIMA kritik dan NASEHAT dengan LAPANG DADA (lihat wasiat ke-31 bagi penuntut ilmu, dalam Ma’alim fi Thariq Thalabil ‘Ilm, hal. 268-269). Ingatlah ucapan seorang Syaikh yang mulia ketika berceramah menegaskan isi nasehat Syaikh Rabi’ bin Hadi –hafizhahullah– dalam Daurah Nasional yang belum lama berlalu di Masjid Agung Bantul Yogyakarta, “Tidak ada seorang INSANPUN melainkan pasti pernah TERJATUH dalam kekeliruan… Namun, yang TERCELA adalah orang yang tetap BERSIKUKUH MEMPERTAHANKAN KESALAHANNYA.” Semoga Allah menjadikan kita sebagai orang-orang yang BERJIWA BESAR, Allahumma amin. Rabbanaghfirlana wa li ikhwaninal ladzina sabaquna bil iman, wa laa taj’al fi qulubina ghillal lilladzina amanu, Rabbana innaka ra’ufur rahim.

Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi

Artikel www.muslim.or.id


Dari artikel Orang yang Berjiwa Besar — Muslim.Or.Id by null