Monthly Archives: December 2012

Apakah Kini Guru Tak Dihormati Muridnya Lagi?

Standard

PHOT0177.JPG

Ketika saya duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) hingga SMA saya dibimbing dan diajari oleh guru. Terkadang jika saya salah dan tak dapat mengikuti pelajaran pasti ditampar dan dipukul dengan penggaris kayu hingga pemukul itu patah. Teman-teman saya yang lain juga mengalami hal yang demikian.

Dengan perlakukan guru saya yang seperti itu maka saya sangat takut untuk tidak belajar dan saya berusaha belajar setekun mungkin agar saya tidak dipukul oleh guru saya.

Walaupun demikian hubungan kami dengan guru tetap harmonis dan kami sangat segan dan hormat terhadap guru kami. Pada pada waktu itu tahun 1985-1998 belum dikenal dengan istilah undang-undang perlindungan anak.

Pada saat sekarang ini jaman semakin maju, prilaku dan tindakan siswa juga sudah sangat modern. Sekarang ini tidak adalagi siswa yang segan/hormat kepada gurunya bahkan pada saat berlangsungnya belajar-mengajar siswa tak segan-segan melawan gurunya.

Jika guru menegur dan memukulnya maka siswa tersebut cepat-cepat melaporkannya kepada orangtua dan bahkan ada yang melapor ke polisi.

Dan anehnya para orangtua cepat menanggapi laporan si anak dan melaporkannya kepada kepala sekolah. Peristiwa seperti ini membuat para guru jadi kebingungan dan takut untuk mendidik para siswa dengan baik. Merak takut dilaporkan ke polisi.

Pada saat ini guru tidak lagi mendidik anak didiknya dengan baik dan benar tetapi hanya sekedar menyampaikan materi. Sebab, siswa sudah tidak menghargai gurunya lagi karena kebanyakan para orang tua sekarang juga tidak terima kalau anaknya dipukul di sekolah.

Padahal kita tahu bahwa guru pasti memberikan pendidikan yang terbaik walaupun terkadang dipukul. Dengan adanya undang-undang perlindungan anak tentunya sangat mempengaruhi bagi dunia pendidikan karena dalam undang-undang anak tidak boleh dipukul dan disakiti.

Terkadang kalau kita amati para siswa sekarang tidak segan-segan merokok di depan gurunya sendiri bahkan ada juga yang menggandeng pasangannya melewati gurunya tanpa menegur.

Hal ini tentunya sangat tidak terpuji ditambah lagi adanya undang-undang perlindungan anak yang kita juga belum tau batasan-batasannya.

Semoga pemerintah membuat undang-undang dengan melihat berbagai aspek yang tidak merugikan banyak orang
Sumber: http://www.sekolahdasar.net/2009/08/apakah-kini-guru-tak-dihormati-muridnya.html#ixzz2FeKwiMs6

Standard

belajar4-1
Libur telah tiba,
libur telah tiba
Hore,Hore,Hore
Simpanlah tas dan bukumu
Lupakan keluh kesahmu
Libur telah tiba,
libur telah tiba
Hatiku gembira!

Lirik lagu diatas sangat kita kenal terutama dikalangan anak-anak, ini merupakan ungkapan kegembiraan dari seorang anak yang mengharapkan liburana karena sudah penat dan jenuh dengan kegiatan belajar disekolah.
Dari keadaan diatas ini merupakan PR yang sangat penting bagi para pendidik bagiamana menciptakan suasana agar siswa untuk selalu merindukan belajar, bukan sebaliknya libur yang mereka nantikan.

Sambungan …Makna Tangisan Anak

Standard

Setidaknya ada empat sebab mengapa anak kita menangis, jadi para guru, orang tua dan pendidik harus tahu makna tangisan anak,bukan sebaliknya malah di marahi atau dibentak.

  1. Kemungkinan anak kita menderita sakit disalah satu bagian anggota tubuhnya akan tetapi karena dia tidak mampu atau belum mampu mengutarakan dengan kata-kata maka dia menangis.
  2. Kemungkinan yang kedua anak kita lapar,karena anak kita belum tahu jika perasaan itu namanaya lapar maka diapun menangis.
  3. Kemungkinan dia menginginkan sesuatu hal,contoh dia bosan di kamar terus ingin main di luar maka diapun menagis.
  4. Kemungkinan yang terakhir adalah dia merasa takut dengan sesuatu yang dilihatnya.

sungguh ajaib  yach…tangisan anak kita adalah sebuah cara berkomunikasi alami dengan orang yang ada disekitar kita bagaimana dia menyampaikan rasa yang dia inginkan,pasti teman teman pernah mengalaminya ketika anak kita menangis kemudian nerbagai macam cara kita lakukan kemudian kita tawarkan mainan tidak mau…kiata tawarkan makan tidak mau…akhirnya pilahan kedua kita ajak jalan jalan baru tangisanya reda…jadi sebenarnya anak kita tidak ada niatan ingin membuat orang tua kesal dan marah.menangis adalah sebuah isyarat dari anak bahwa dia butuh pertolongan dari orang tuanay

Namun sayang seribu sayang, karena ketidak tahuan kita dalam menerjemahkan tangisan anak alih alih  memberikan pertolongan malah kita marah- marah membentak, mencubit bahkan ada yang sampai memukul. kawan para pendidik dan orang tua coba kita lebih telitu lagi dalam mendengarkan tangisan anak.setiap anak mempunyai tangisan yang berbeda beda ada yang nadanya keras melengking ada yang pelan ada yang pura pura. tapi alangkah bijaknya kita apabila kita cari tahu mengapa anak kita kok menangis seperti inidan apa yang bisa dilakukan oleh orang tua?…

Teruntuk semua orang tua yang cinta akan kasih sayang anak- anaknya semoga anak – anak kita menjadi anak yang sholehah.

selalu minta perlindungan kepada  allah dr godaan syetan untuk anak anak kita…selamat mencoba

Perang Bintang Al Hikmah

Standard

Malam begitu sunyi menyelimuti makhluk Allah Subhanahu wata’ala yang masih terjaga. Satu demi satu bahkan sampai ratusan bintang bertaburan melalui jari yang mungil ini untuk memperhatikan buah hati seorang anak didik yang telah usai mengikuti ujian yang cukup memeras tenaga, otak serta waktu, bahkan ada seorang anak didik yang begitu semangat walaupun tangannya tak mampu menulis dengan cepat. Tapi berlahan-lahan dia mampu menyelesaikan ujiannya dengan baik. Namun perang bintang disini bukanlah seperti perang bintang dalam film Star War melainkan perang bintang NARASI itulah perang bintang al Hikmah. Semangat terus untuk memberi yang terbaik bagi buah hati anak didik.

Jangan Injak Sandalku!

Standard

Salat Magrib telah usai. Si kecil pun telah selesai berdoa. Seperti biasa, si kecil diajari ibundanya berdoa memohon ampun untuk diri dan orang tuanya, beserta artinya. Doa yang sangat populer, dan terasa ada yang kurang jika seorang anak tidak berdoa seperti ini.

ربّ اغفر لي و لوالديّ و ارحمهما كما ربّياني صغيرًا

Selesai berdoa, segera si kecil menghambur keluar musola, seakan-akan telah lepas satu beban berat dari pundaknya. Ke tangga musola dia berlari, seraya mendapati sandal kecilnya yang tergeletak di sana.

Rupanya dia bukan yang pertama. Telah lewat beberapa pemuda gagah berseragam SMA melewati tangga yang sama dan mengambil sandal dan sepatu mereka yang berserakan sebelumnya. Si gadis kecil menghampiri sandalnya, masih sempat melihat pemuda-pemuda gagah itu serampangan mengambil sandal mereka yang berserakan di tangga musola. Dengan langkah tenang dan tanpa beban mereka pergi meninggalkan musola, meninggalkan si gadis kecil yang gundah seraya berkata penuh sesal,

“Yah … sandalku diinjak …”

sandal jepit

Semua orang pasti pernah mengalami hal semacam itu. Di saat kita sedang mengejar kepentingan kita, kita tidak sengaja – atau bahkan tidak tahu –  bahwa kita mengganggu hak orang lain. Di saat kita ‘mengambil sandal’ kita, kita ‘menginjak sandal orang lain’.  Kalau dipandang bahwa yang diinjak cuma sandal, tentunya itu masalah remeh. Tapi kalau dipandang bahwa yang diganggu itu adalah hak orang lain, tentu peristiwa itu jadi masalah. Sejelek apapun sandal orang, kalau sandal itu hilang, si empunya akan gusar dan marah-marah. It’s only natural. Tidak ada orang yang suka haknya diganggu orang lain.

Mengganggu hak orang lain pasti tidak apa-apa seandainya tidak janji bahwa semua perbuatan kita akan dipertanggungjawabkan kelak. Memikirkan ini, semua orang selayaknya jadi takut ‘menginjak sandal’ orang lain. Tidak sengaja pun bikin takut, apalagi kalau sengaja ?!!

Bisa jadi saat kita menginjak sandal orang lain, kita menularkan najis dari bawah sandal kita ke atas sandal orang lain. Salah satu nasihat guru ngaji saya waktu kecil yang masih selalu saya ingat adalah,

“Jangan injak sandal orang lain, orang lain kan juga ingin kakinya tetap suci”.

Dahulu saya benar-benar secara harfiah melaksanakannya. Kini berbagai pengalaman hidup turut menjadi nasihat bahwa nasihat pak guru saat itu berlaku secara umum di berbagai aspek kehidupan. Semoga nasihat sederhana ini bisa menjadi nasihat bagi saya pribadi selama hidup dan bagi orang lain yang membaca tulisan ini.

 

Ditulis oleh Dany, guru SDIT Al-Hikmah Bintara, Bekasi Barat

Cara Menyelamatkan Diri Dari Neraka Bag 59 ( Insya Allah )

Standard

Orang yang Berjiwa Besar

Kategori: Akhlaq dan Nasehat


Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, HARTA tidak akan berkurang gara-gara SEDEKAH. Tidaklah seorang hamba memberikan MAAF -terhadap KESALAHAN orang lain- melainkan Allah pasti akan MENAMBAHKAN KEMULIAAN pada dirinya. Dan tidaklah seorang pun yang bersikap RENDAH HATI (TAWADHU’) karena Allah (IKHLAS) melainkan pasti akan DIANGKAT derajatnya oleh Allah.” (HR. Muslim, lihat Syarh Muslim [8/194])

……….

Hadits yang mulia ini memberikan berbagai PELAJARAN PENTING bagi kita, di antaranya:

  1. Hadits ini menganjurkan kita untuk bersikap IHSAN/SUKA berbuat BAIK kepada orang lain, entah dengan HARTA, dengan MEMAAFKAN kesalahan mereka, ataupun dengan bersikap TAWADHU’ kepada mereka (lihat Bahjat al-Qulub al-Abrar, hal. 110)
  2. Anjuran untuk Banyak BERSEDEKAH. Karena dengan SEDEKAH itu akan membuat HARTANYA BERBAROKAH dan Terhindar dari BAHAYA. Terlebih lagi dengan BERSEDEKAH akan didapatkan Balasan PAHALA yang BERLIPAT GANDA (lihat Syarh Muslim [8/194]). Selain itu, SEDEKAH juga menjadi sebab terbukanya PintuPintu REZEKI (lihat Bahjat al-Qulub al-Abrar, hal. 109)
  3. Anjuran untuk MENJAUHI sifat BAKHIL/KIKIR.
  4. KEBAKHILAN tidak akan menghasilkan KEBERUNTUNGAN
  5. Hadits ini menunjukkan KEUTAMAAN BERSEDEKAH dengan HARTA
  6. SEDEKAH adalah IBADAH
  7. Allah MENCINTAI orang yang SUKA BERSEDEKAH -dengan IKHLAS Tentunya
  8. Terkadang manusia MENYANGKA bahwa Sesuatu BERMANFAAT Baginya, namun apabila dicermati dari Sudut Pandang SYARI’AT maka hal itu justru TIDAK BERMANFAAT. Demikian pula sebaliknya. Oleh sebab itu alangkah tidak bijak orang yang Menjadikan HAWA NAFSU, PERASAAN, ataupun AKAL PIKIRANNYA Yang Terbatas sebagai Standar Baik TIDAKNYA Sesuatu. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Manusia itu, sebagaimana telah dijelaskan sifatnya oleh Yang menciptakannya. Pada dasarnya ia Suka BERLAKU ZALIM dan BERSIFAT BODOH. Oleh sebab itu, tidak sepantasnya dia menjadikan KECENDERUNGAN Dirinya, Rasa Suka, Tidak Suka, ataupun Kebenciannya TERHADAP Sesuatu sebagai STANDAR untuk Menilai PERKARA yang BERBAHAYA atau BERMANFAAT Baginya. Akan tetapi sesungguhnya STANDAR YANG BENAR adalah apa yang ALLAH Pilihkan baginya, yang hal itu Tercermin dalam Perintah dan Larangan-Nya…” (al-Fawa’id, hal. 89)
  9. Hadits ini menunjukkan disyari’atkannya Menepis KERAGU-RAGUAN dan Menyingkap KESALAHPAHAMAN yang Bercokol di dalam HATI manusia
  10. Memberikan targhib/MOTIVASI merupakan salah satu METODE PENGAJARAN yang Diajarkan NABI SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM
  11. Hadits ini juga menunjukkan pentingnya MEMOTIVASI Orang Lain untuk BERAMAL SALIH
  12. Anjuran untuk Memberikan MAAF kepada orang lain yang BERSALAH kepada KITASecara PRIBADI-. Dengan demikian -ketika di dunia- maka kedudukannya akan bertambah mulia dan terhormat. Di akherat pun, kedudukannya akan bertambah mulia dan pahalanya bertambah besar jika orang tersebut memiliki SIFAT PEMAAF (lihat Syarh Muslim [8/194]).
  13. Di antara hikmah Memaafkan KESALAHAN ORANG adalah akan bisa MERUBAH MUSUH menjadi TEMAN -sehingga hal ini bisa menjadi SALAH SATU CARA untuk MEMBUKA JALAN DAKWAH-, atau bahkan bisa menyebabkan orang lain mudah memberikan bantuan dan pembelaan di saat dia membutuhkannya (lihat Bahjat al-Qulub al-Abrar, hal. 109)
  14. Allah MENCINTAI orang yang PEMAAF.
  15. Anjuran untuk bersikap TAWADHU’/RENDAH HATI. Karena dengan kerendahan hati itulah seorang hamba akan bisa memperoleh KETINGGIAN DERAJAT dan KEMULIAAN, ketika di DUNIA maupun di AKHERAT kelak (lihat Syarh Muslim [8/194]).
  16. HAKEKAT orang yang TAWADHU’ adalah orang yang TUNDUK kepada KEBENARAN, PATUH kepada PERINTAH dan LARANGAN Allah dan rasul-Nya serta Bersikap RENDAH HATI kepada Sesama MANUSIA, Baik kepada yang masih MUDA ataupun yang sudah TUA. Lawan dari TAWADHU’ adalah TAKABUR/SOMBONG (lihat Bahjat al-Qulub al-Abrar, hal. 110)
  17. Allah MENCINTAI orang yang TAWADHU’
  18. LARANGAN bersikap TAKABUR; yaitu Menolak KEBENARAN dan MEREMEHKAN Orang Lain
  19. TAWADHU’ yang TERPUJI adalah yang DILANDASI dengan KEIKHLASAN, BUKAN yang DIBUAT-BUAT; yaitu Yang TIMBUL Karena Ada KEPENTINGAN DUNIA yang BERSEMBUNYI di BALIKNYA (lihat Bahjat al-Qulub al-Abrar, hal. 110)
  20. Yang menjadi PENYEMPURNA dan ruh/inti dari ihsan/kebajikan adalah NIAT yang IKHLAS dalam beramal karena Allah (lihat Bahjat al-Qulub al-Abrar, hal. 110)
  21. KETAWADHU’AN merupakan salah satu sebab diangkatnya derajat seseorang di sisi Allah. Di samping ada sebab lainnya seperti; KEIMANAN -dan itu yang paling pokok- serta ILMU yang dimilikinya. Bahkan, KETAWADHU’AN itu sendiri merupakan BUAH Agung dari IMAN dan ILMU yang TERTANAM dalam diri seorang hamba (lihat Bahjat al-Qulub al-Abrar, hal. 110)
  22. Hadits ini menunjukkan bahwa manusia diperintahkan untuk MENCARI Ketinggian dan KEMULIAAN Derajat di sisi-Nya. Sedangkan orang yang PALING MULIA di sisi-Nya adalah yang PALING BERTAKWA (lihat QS. al-Hujurat: 13). Dan salah satu KUNCI KETAKWAAN adalah KEMAMPUAN untuk Mengekang HAWA NAFSU, sehingga orang TIDAK akan BAKHIL dengan HARTANYA, akan MUDAH MEMAAFKAN, dan TIDAK Bersikap AROGAN ataupun Bersikap SOMBONG di hadapan MANUSIA.
  23. Hadits ini menunjukkan keutamaan MENGEKANG HAWA NAFSU dan KEHARUSAN untuk MENUNDUKKANNYA kepada SYARI’AT Rabbul ‘alamin
  24. Hendaknya MENJAUHI sebab-sebab yang Menyeret kepada SIFAT-SIFAT TERCELA -misalnya; KIKIR dan SOMBONG– dan BERUSAHA untuk MENGIKISNYA jika seseorang mendapati sifat itu ada di dalam dirinya
  25. KEMULIAAN DERAJAT yang HAKIKI adalah di SISI Allah (DIUKUR dengan SYARI’AT), TIDAK Diukur dengan PANDANGAN Kebanyakan MANUSIA
  26. BISA JADI orang itu TIDAK DIKENAL atau RENDAH dalam PANDANGAN MANUSIASecara Umum-, AKAN TETAPI di SISI Allah dia adalah SOSOK yang SANGAT MULIA dan Dicintai-Nya. Tidakkah kita ingat kisah Uwais al-Qarani seorang Tabi’in Terbaik namun TIDAK DIKENAL orang, DIREMEHKAN, dan TIDAK Menyukai POPULARITAS?
  27. PUJIAN dan SANJUNGAN Orang Lain kepada KITA Bukanlah STANDAR apalagi JAMINAN. Sebab KETINGGIAN derajat yang HAKIKI adalah di Sisi-Nya. Oleh sebab itu, tatkala dikabarkan kepada Imam Ahmad oleh muridnya mengenai PUJIAN orang-orang kepadanya, beliaupun berkata, “Wahai Abu Bakar –nama panggilan muridnya-, apabila seseorang telah mengenal jati dirinya, maka tidak lagi bermanfaat ucapan (PUJIAN) orang lain terhadapnya.” (lihat Ma’alim fi Thariq Thalabil Ilm, hal. 22). Ini adalah IMAM AHMAD, seorang yang Telah Hafal SATU JUTA hadits dan RELA Mempertaruhkan NYAWANYA demi Menegakkan SUNNAH dan Membasmi BID’AH. Demikianlah AKHLAK SALAF, aduhai… di manakah POSISI KITA bila DIBANDINGKAN dengan MEREKA? JANGAN-JANGAN kita ini TERGOLONG orang yang maghrur/TERTIPU dengan PUJIAN orang lain kepada KITA. Orang lain mungkin menyebut kita sebagai ‘ANAK NGAJI’, ORANG ALIM, ORANG SOLEH, atau bahkan AKTIFIS DAKWAH. Namun, sesungguhnya KITA SENDIRI Mengetahui tentang JATI DIRI KITA yang SEBENARNYA, segala puji hanya bagi Allah yang telah MENUTUPI AIB-AIB KITA di hadapan manusia… Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami
  28. ISLAM menyeru kepada AKHLAK yang MULIA
  29. Islam mengajarkan SIKAP PEDULI kepada SESAMA dan agar TIDAK BERSIKAP MASA BODOH terhadap NASIB atau KEADAAN MEREKA
  30. Sesungguhnya KETAATAN itu -meskipun terasa SULIT atau BERAT bagi JIWAPASTI akan MEMBUAHKAN MANFAAT BESAR yang KEMBALI kepada Pelakunya SENDIRI. Sebaliknya, KEDURHAKAAN/MAKSIAT itu -meskipun Terasa MENYENANGKAN dan ENAK– maka pasti akan BERDAMPAK JELEK bagi DIRINYA SENDIRI. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Perkara PALING BERMANFAAT secara MUTLAK adalah KETAATAN Manusia kepada Rabbnya secara LAHIR maupun BATIN. Adapun perkara PALING BERBAHAYA baginya secara MUTLAK adalah KEMAKSIATAN kepada-Nya secara LAHIR ataupun BATIN.” (al-Fawa’id, hal. 89). Allah ta’ala telah menegaskan (yang artinya), BISA JADI kalian MEMBENCI Sesuatu PADAHAL itu BAIK bagi KALIAN, dan BISA JADI kalian MENYENANGI Sesuatu PADAHAL itu adalah BURUK bagi kalian. Allah Maha MENGETAHUI, sedangkan KALIAN TIDAK MENGETAHUI -segala sesuatu-.” (QS. al-Baqarah: 216)
  31. Pahala besar bagi ORANG YANG BERJIWA BESAR; yaitu orang yang TIDAK SEGAN-SEGAN untuk MENYISIHKAN sesuatu yang DICINTAINYA -yaitu HARTAGuna BERINFAK di JALAN Allah, mau MELAPANGKAN DADANYA untuk MEMAAFKAN KESALAHAN orang lain KEPADANYA, serta Bersikap TAWADHU’ dan TIDAK MEREMEHKAN orang lain.
  32. Ketiga Macam Amal Soleh IniDENGAN IZIN ALLAH– bisa terkumpul dalam diri seseorang. Dia menjadi orang yang DERMAWAN, SUKA MEMAAFKAN, dan juga RENDAH HATI. Perhatikanlah sifat-sifat dan kepribadian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, niscaya ketiga sifat ini akan kita temukan dalam diri BELIAU. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sungguh telah ada BAGI KALIAN pada diri Rasulullah TELADAN yang BAIK, yaitu bagi orang yang BERHARAP kepada Allah dan HARI AKHIR serta Banyak MENGINGAT Allah.” (QS. al-Ahzab: 21)
  33. Di samping menyeru kepada PERSATUAN UMAT ISLAM -di atas KEBENARAN– maka Islam juga MENYERUKAN perkara-perkara yang menjadi PERANTARA atau SEBAB terwujudnya hal itu. Di antaranya adalah dengan Menganjurkan 3 HAL di atas: SUKA BERSEDEKAH -yang WAJIB ataupun yang SUNNAH-, SUKA MEMAAFKAN, dan BERSIKAP RENDAH HATI/TAWADHU’. Sesungguhnya, kalau kita mau mencermati kondisi kita di jaman ini -yang diwarnai dengan KEKACAUAN serta FITNAH yang TIMBUL di Medan DAKWAH-, akan kita dapati bahwa KEBANYAKAN di antara kita –BarangkaliAmat Sangat Kurang dalam Menerapkan KETIGA HAL tadi. Akibat Tidak Suka BERSEDEKAH, banyak kepentingan umat -khususnya dakwah– yang tidak terurus dengan baik. AKIBAT SULIT MEMAAFKAN, PERMUSUHAN yang tadinya hanya BERSIFAT PERSONAL pun akhirnya MELEBAR menjadi PERMUSUHAN KELOMPOK. Akibat PERASAAN Lebih TINGGI dan GENGSI, jalinan UKHUWAH yang TERKOYAK pun seolah TAK bisa dijalin kembali. MASING-MASING pihak ingin MENANG SENDIRI dan BERAT MENDENGARKAN Pandangan atau ARGUMENTASI saudaranya. Maka yang terjadi adalah Sikap SALING MENYALAHKAN, dan Kalau Perlu MENJATUHKAN Kehormatan saudaranya tanpa ALASAN yang DIBENARKAN. Kalau Seperti itu CARANYA, ya tidak akan pernah KETEMU… Bisa jadi ini hanya sekedar ANALISA, namun tidak kecil KEMUNGKINANNYA itu MERUPAKAN REALITA yang ADA, wallahul musta’an. SEBAGIAN ORANG, setelah selesai Mendengar KRITIKAN dari Saudaranya SEKETIKA itu PULA ia memberikan ‘Serangan Balik’ kepada sang PENGKRITIK. Padahal, NASEHAT yang didengarnya belum lagi MERESAP ke dalam AKAL SEHATNYA. Karena merasa DIRINYA telah ‘DILECEHKAN’ dia pun berkata kepada temannya, “Saya juga punya kritikan kepadamu. Kamu itu begini dan begitu…” Wahai saudaraku -semoga Allah merahmatimu- marilah kita bersama-sama BERLATIH untuk MENERIMA kritik dan NASEHAT dengan LAPANG DADA (lihat wasiat ke-31 bagi penuntut ilmu, dalam Ma’alim fi Thariq Thalabil ‘Ilm, hal. 268-269). Ingatlah ucapan seorang Syaikh yang mulia ketika berceramah menegaskan isi nasehat Syaikh Rabi’ bin Hadi –hafizhahullah– dalam Daurah Nasional yang belum lama berlalu di Masjid Agung Bantul Yogyakarta, “Tidak ada seorang INSANPUN melainkan pasti pernah TERJATUH dalam kekeliruan… Namun, yang TERCELA adalah orang yang tetap BERSIKUKUH MEMPERTAHANKAN KESALAHANNYA.” Semoga Allah menjadikan kita sebagai orang-orang yang BERJIWA BESAR, Allahumma amin. Rabbanaghfirlana wa li ikhwaninal ladzina sabaquna bil iman, wa laa taj’al fi qulubina ghillal lilladzina amanu, Rabbana innaka ra’ufur rahim.

Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi

Artikel www.muslim.or.id


Dari artikel Orang yang Berjiwa Besar — Muslim.Or.Id by null

Pesawat Non-Konvensional (lanjutan Pesawat Eksperimental)

Standard

Artikel ini merupakan lanjutan Pesawat Eksperimental di cerita guru.

Sebelumnya (beberapa bulan yang lalu) saya menceritakan bentuk pesawat eksperimental yang tidak lazim. Lazimnya pesawat dibuat dengan konfigurasi sayap utama di depan, sayap kecil (biasa disebut ‘ekor’) di belakang. Sekilas pesawat terbang umumnya terlihat seperti ikan (badan ‘mulus’, sirip di dekat kepala, disertai ekor di ujung belakang). Pesawat yang dibuat dalam rangka eksperimen tidak seperti itu. Bentuknya sering aneh-aneh. Dengan membuat pesawat eksperimental, para desainer pesawat biasanya ingin menguji sesuatu aspek yang belum diketahui dari konfigurasi baru (yang belum lazim) suatu pesawat.

Namun, tidak semua pesawat yang berbentuk aneh merupakan pesawat eksperimental. Beberapa pesawat (biasanya pesawat militer) memang disengaja berbentuk tidak lazim – dengan kata . Pesawat-pesawat semacam itu disebut pesawat non-konvensional. Sehubungan dengan siluet aneh yang pernah saya ceritakan, ada sedikitnya tiga pesawat militer yang berbentuk seperti itu: pesawat Gripen (buatan SAAB, Swedia), pesawat Rafale (buatan Dassault, Prancis), dan pesawat Typhoon (buatan Eurofighter Gmbh, konsorsium negara-negara Eropa yang berpusat di Jerman).

gripen

Pesawat SAAB Gripen

rafale

Pesawat Dassault Rafale 

eurofighter

Pesawat Eurofighter Typhoon

Sayap kecil di depan sayap utama tersebut biasa disebut ‘canard‘. Tiga contoh pesawat di atas merupakan pesawat yang murni ber-canard; maksudnya tidak ada ‘ekor biasa’ di belakang sayap utama. Contoh pesawat yang dilengkapi canard dan sekaligus ‘ekor biasa’ adalah salah satu versi Su-30 buatan Sukhoi, Rusia.

300px-SU-30MKI-g4sp_-_edit_2(clipped)

Pesawat Sukhoi Su-30

Pesawat bersayap canard biasanya dirancang agar memiliki manuveribilitas lebih tinggi daripada pesawat konvensional. Hal ini menjadi keunggulan pesawat bersayap canard karena pesawat jadi lebih lincah. Tentu saja, sesuai dengan hukum alam, di dunia ini tidak ada kelebihan yang tidak disertai kekurangan. Pada pesawat bersayap canard, manuveribilitas tinggi dicapai dengan mengorbankan stabilitas. Dengan stabilitas rendah, kesalahan sekecil apa pun saat pengendalian akan berakibat pesawat melenceng ke mana-mana dan sulit kembali ke jalur aslinya. Dengan kata lain, pesawat bersayap canard lebih rentan mengalami kecelakaan (‘jatuh’).

Oleh karena itu, pilot-pilot yang terbaik di antara yang terbaik sajalah yang ditugaskan mengendalikan pesawat-pesawat non-konvensional.

ditulis oleh Dany, guru SDIT Al-Hikmah