Monthly Archives: February 2013

Salah Kaprah Membaca/Menulis/Menggunakan Kata

Standard

Bahasa Indonesia adalah bahasa nasional, bahasa persatuan, dan bahasa resmi di Republik Indonesia. Sebagai bahasa nasional (national language), Bahasa Indonesia adalah bahasa yang menjadi ciri khas/pembeda bangsa (nation) Indonesia di antara bangsa-bangsa (nations) lain. Sebagai bahasa persatuan, Bahasa Indonesia merupakan sarana pemersatu seluruh etnis di Indonesia: Ini adalah ciri khas bangsa Indonesia yang jarang sekali ditemui di negara lain: hampir setiap etnis di Indonesia memiliki bahasa etnis masing-masing. Sejarah telah membuktikan bahwa suku-suku dan etnis-etnis di Indonesia sulit berkomunikasi dan mengkoordinasikan gerakan perjuangan kemerdekaan saat nenek moyang kita belum menyepakati satu bahasa untuk berkomunikasi. Sebagai bahasa resmi, setiap ucapan yang diucapkan dalam Bahasa Indonesia menjadi bernilai hukum dan harus dipertanggungjawabkan. Status-status yang sangat istimewa ini tidak diberikan kepada bahasa lain di Indonesia.

Meskipun menyandang berbagai status yang demikian istimewa, Bahasa Indonesia tetaplah bahasa yang ‘hidup’, diucapkan sehari-hari, bisa berubah, dan mengalami variasi yang acap kali tidak baku (tidak sesuai dengan kaidah yang disepakati para ahli bahasa yang ditunjuk oleh Pemerintah). Beragamnya golongan dan tingkat pendidikan rakyat turut bersumbangsih terhadap kesalahan-kesalahan yang biasa disebut ‘salah kaprah’. Masyarakat sangat biasa mengucapkannya atau menuliskannya, tetapi sebenarnya ucapan/tulisan tersebut tidak benar jika dilihat di kamus atau buku tata bahasa.

Tulisan ini sekedar menyebutkan beberapa ‘salah kaprah’ yang diingat oleh penulis. Jika pembaca ingat kata-kata lain, silakan menambahi dengan cara mengomentari tulisan ini. Asal-usul salah kaprah kata-kata tersebut kadang-kadang terasa lucu, maka semoga tulisan ini bisa sekedar menjadi hiburan di kala senggang.

1. NAHKODA

Yang dimaksud dengan kata di atas adalah pemimpin tertinggi kapal laut. Di kapal militer biasa disebut ‘kapten kapal’. Istilah militer ini kemudian menjadi lebih populer, bahkan diperluas ke kendaraan lain, misalnya pesawat udara. Pilot maskapai sipil biasa disebut ‘kapten’. Pimpinan suatu kapal disebu ‘kapten kapal‘ atau ‘nakhoda‘.

nakhoda_images

Tulisan ‘nahkoda’ tidak benar. Ejaan yang benar adalah ‘nakhoda‘. Ejaan inilah yang tertera dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Istilah ini merupakan serapan dari bahasa asing, yaitu bahasa Parsi/Persia. Istilah ini dibentuk dari dua kata: نا ‘na’ (kapal)+ خدا ‘khoda’ (tuan, pemimpin).

KD Nakhoda-ragam-Naval

Kata nakhoda juga digunakan untuk makna ‘kepala’ atau ‘pimpinan’ suatu organisasi, misalnya dalam kalimat Nurdin Halid telah lama menakhodai PSSI.

2. PASCA-

Kata di atas merupakan awalan yang berarti ‘setelah, sesudah’. Istilah ini biasanya digunakan untuk menerjemahkan kata ‘post-‘ dari bahasa Inggris. Kata ‘post-‘ pun merupakan serapan dari bahasa lain, yaitu bahasa Latin (bahasa bangsa Romawi kuno).

Yang jadi masalah, banyak orang mengucapkannya /paska/padahal tulisannya jelas-jelas dengan huruf C yang seharusnya dibaca /pasca/, persis sama dengan tulisannya.

Mungkin karena terlalu banyak belajar bahasa Inggris, banyak orang Indonesia terbawa-bawa mengucapkan semua istilah asing dengan cara baca bahasa Inggris. Wartawan-wartawan dari media yang terkenal pun ikut-ikut mengucapkan kesalahan ini.Di bahasa Inggris memang umumnya huruf C yang diikuti huruf A akan diucapkan /ka/, misalnya kata car diucapkan /kar/, card diucapkan /kard/, Canada diucapkan /kanada/.

Bisakah semua istilah asing dihantam kromo dengan aturan baca bahasa Inggris?

Kata pasca- memang istilah asing, namun bukan dari bahasa Inggris. Kata ini dari bahasa Sanskerta, artinya sama dengan post-(‘setelah’). Lawan katanya adalah pra- yang berarti ‘sebelum’. Padanan bahasa Inggrisnya adalah pre- (‘sebelum’).

Dalam aksara Dewanagari (huruf yang biasa digunakan untuk menuliskan bahasa Sanskerta), kata tersebut tertulis पश्च. Huruf-huruf pembentuknya adalah प (p)- श (sy)- च (c). Dalam bahasa aslinya pun kata pasca- diucapkan /pasca/. Seandainya kata itu diucapkan /paska/, tulisannya akan menjadi पश्क, dengan huruf-huruf pembentuk प (p)- श (sy)- क (k).

PRE-= PRA-

POST- = PASCA-

Jadi, tidak ada alasan sama sekali mengucapkannya menjadi /paska/. Ucapkanlah /pasca/.

3. SAMURAI

Banyak orang menyebut kata ‘samurai‘ untuk benda yang nampak di gambar di bawah ini.

Katana_Masamune-small

Contoh kalimat yang terucap ketika melihat peragaan kayu dipotong dengan benda di atas, misalnya “Wah, samurainya tajam banget!”

Benda yang ada di gambar di atas adalah senjata khas bangsa Jepang. Dalam bahasa Jepang namanya adalah かたな /katana/. Dalam Bahasa Indonesia artinya yang paling mendekati makna aslinya adalah ‘pedang‘. Katana adalah senjata khas kasta prajurit (samurai) dalam masyarakat Jepang. Berdasarkan aturan yang berlaku dari abad ke-17 hingga abad ke-19, hanya kasta samurai yang boleh menyandang katana. Saat ini aturan tersebut sudah tidak berlaku.

Samurai adalah nama golongan ksatria, kasta prajurit di Jepang di zaman itu. Samurai adalah orang, bukan barang. Pedangnya disebut katana dalam bahasa Jepang.

Dengan demikian, katana adalah ‘pedang samurai‘, yang bermakna ‘pedang milik seorang samurai’. Saya agak pusing dan terkikik-kikik dalam hati jika mendengar ada orang berkata, “Budi membawa samurai dengan tangan kirinya”. Jangan-jangan si Budi baru membunuh seorang samurai, lalu membawanya dengan tangan kirinya?

Kalimat yang lebih masuk akal adalah ‘Samurai itu membawa katana dengan tangan kirinya’.

Sekali lagi, samurai adalah orang orang, bukan barang. Pedang seorang samurai disebut katana.

Bersambung,  إنشاء الله.

<Artikel ini ditulis oleh Dany, guru SDIT Al Hikmah Bintara, Bekasi Barat>

Apa Bedanya F dan V?

Standard

Bagi banyak orang Indonesia, sepertinya tidak ada bedanya dua huruf ini. Berangkat dari anggapan ini, sebagian orang menuliskan kata-kata semacam berikut ini.

aktif – aktiv

aktivasi – aktifasi

aktivitas – aktifitas

Contoh lain masih banyak. Karena menurut kebanyakan orang Indonesia, bunyi dua huruf ini sama, maka penulisannya pun sering dipertukarkan. Di lain pihak, Kamus Besar Bahasa Indonesia menetapkan bahwa penulisan (ejaan) yang benar adalah aktivasi dan aktivitas.

Saya pun dulu bertanya-tanya: kalau memang dua huruf ini bunyinya sama, untuk apa dibuat dua huruf?

Solusi terhadap permasalahan ini dapat ditemukan jika permasalahan dikembalikan kepada asalnya. Kata-kata yang memuat huruf-huruf F dan V umumnya adalah kata-kata asing, serapan dari bahasa lain. Contoh kata-kata semacam itu dapat ditampilkan sebagian di sini.

Kata-kata yang menyandang huruf F ada yang diserap dari bahasa Arab.

saraf

insaf

falak

fajar

kafir

 

Di lain pihak, banyak kata berhuruf F yang diserap dari bahasa-bahasa Eropa, misalnya bahasa Belanda dan bahasa Inggris.

aktif

pasif

festival

fasilitas

fantasi

Pada kata-kata dari Eropa inilah banyak orang sering keliru menuliskan F atau V. Mana yang benar?

vitamin atau fitamin?

faktor atau vaktor?

faksin atau vaksin?

faktor atau vaktor?

fokal atau vokal?

Seperti telah dikemukakan di atas, bagi kebanyakan orang Indonesia bunyi F atau V sama saja. Jadi, apakah benar F dan V sama saja hingga bisa dipertukarkan?
Masalah ini bisa diselesaikan jika asal kedua huruf itu ditelusuri.

Seperti yang telah diperlihatkan pada artikel sebelumnya, huruf-huruf Latin semula hanya ada 23, tanpa huruf-huruf J, U, dan W.

A B C D E F G H I K L M N O P Q R S T V X Y Z

Bagi bahasa Latin (bahasa bangsa Romawi kuno) huruf U dan V dilambangkan dengan huruf yang sama: V. Menurut sebagian ahli bahasa, bunyi asli huruf V memang mendekati U atau W. Para pembaca komik Asterix pasti telah akrab dengan penulisan semacam ini.

V yang sekarang dibaca U

LVGDVNVM (dibaca Lugdunum, kota Lyon saat ini)

MARCVS (dibaca Markus, nama orang)

SATVRNVS (dibaca Saturnus, nama dewa pertanian)

AVGVR (dibaca augur, meramal dengan melihat burung)

V yang tetap dibaca V

AVIS (dibaca avis; artinya burung)

NAVIS (dibaca navis, artinya kapal)

 

Dengan demikian, bisa disimpulkan bahwa bunyi asli huruf V sebenarnya bukan F, melainkan mendekati U atau W. V di bahasa Inggris berubah menjadi berat, ‘mendekati’ huruf B, bandingkan misalnya kata fest (festival) dan vest (rompi).

Kembali kepada permasalahan F dan V, ada dua kata yang bisa menjelaskan bahwa F dan V tidak boleh dipertukarkan karena artinya jauh berbeda. Dua kata ini telah masuk ke dalam bahasa Inggris, namun asalnya adalah dari bahasa Latin.

focal  (hal yang berkaitan dengan focus, fokus); dari kata FOCVS – FOCALIS

vocal  (hal yang berkaitan dengan suara); dari kata VOX (VOCS) – VOCALIS

Ada dua kata lagi yang bisa jadi sangat berbeda artinya jika huruf F dan V dipertukarkan, yaitu

FERA (binatang buas)

VERA (benar, hal tentang kebenaran)

Jika dua huruf ini (F dan V) dipertukarkan, makna yang didapatkan sangatlah berbeda. Oleh karena itu, penutur bahasa Indonesia pun sebaiknya tidak keliru menggunakan huruf agar makna yang dimaksud tidak menjadi kabur. Berbahasa yang baik dan benar menunjukkan keinginan untuk menggapai tingkat yang tinggi dalam peradaban dan kebudayaan. Sama halnya dengan membaca Al-Qur’an, tentunya akan besar sekali bedanya jika salah menulis kata اثم itsm (dosa) danاسم ism (nama) meskipun bagi banyak  orang Indonesia huruf ث tsa dan س sin terdengar sama.

 

ditulis oleh Dany, guru SDIT Al-Hikmah Bintara, Bekasi Barat

 

 

//

Apa bedanya huruf F dan huruf V?

Standard

Bagi banyak orang Indonesia, sepertinya tidak ada bedanya dua huruf ini. Berangkat dari anggapan ini, sebagian orang menuliskan kata-kata semacam berikut ini.

aktif – aktiv

aktivasi – aktifasi

aktivitas – aktifitas

Contoh lain masih banyak. Karena menurut kebanyakan orang Indonesia, bunyi dua huruf ini sama, maka penulisannya pun sering dipertukarkan. Di lain pihak, Kamus Besar Bahasa Indonesia menetapkan bahwa penulisan (ejaan) yang benar adalah aktivasi dan aktivitas.

Saya pun dulu bertanya-tanya: kalau memang dua huruf ini bunyinya sama, untuk apa dibuat dua huruf?

Solusi terhadap permasalahan ini dapat ditemukan jika permasalahan dikembalikan kepada asalnya. Kata-kata yang memuat huruf-huruf F dan V umumnya adalah kata-kata asing, serapan dari bahasa lain. Contoh kata-kata semacam itu dapat ditampilkan sebagian di sini.

Kata-kata yang menyandang huruf F ada yang diserap dari bahasa Arab.

saraf

insaf

falak

fajar

kafir

 

Di lain pihak, banyak kata berhuruf F yang diserap dari bahasa-bahasa Eropa, misalnya bahasa Belanda dan bahasa Inggris.

aktif

pasif

festival

fasilitas

fantasi

Pada kata-kata dari Eropa inilah banyak orang sering keliru menuliskan F atau V. Mana yang benar?

vitamin atau fitamin?

faktor atau vaktor?

faksin atau vaksin?

faktor atau vaktor?

fokal atau vokal?

Seperti telah dikemukakan di atas, bagi kebanyakan orang Indonesia bunyi F atau V sama saja. Jadi, apakah benar F dan V sama saja hingga bisa dipertukarkan?

Masalah ini bisa diselesaikan jika asal kedua huruf itu ditelusuri.

Seperti yang telah diperlihatkan pada artikel sebelumnya, huruf-huruf Latin semula hanya ada 23, tanpa huruf-huruf J, U, dan W.

A B C D E F G H I K L M N O P Q R S T V X Y Z

Bagi bahasa Latin (bahasa bangsa Romawi kuno) huruf U dan V dilambangkan dengan huruf yang sama: V. Menurut sebagian ahli bahasa, bunyi asli huruf V memang mendekati U atau W. Para pembaca komik Asterix pasti telah akrab dengan penulisan semacam ini.

V yang sekarang dibaca U

LVGDVNVM (dibaca Lugdunum, kota Lyon saat ini)

MARCVS (dibaca Markus, nama orang)

SATVRNVS (dibaca Saturnus, nama dewa pertanian)

AVGVR (dibaca augur, meramal dengan melihat burung)

V yang tetap dibaca V

AVIS (dibaca avis; artinya burung)

NAVIS (dibaca navis, artinya kapal)

 

Dengan demikian, bisa disimpulkan bahwa bunyi asli huruf V sebenarnya bukan F, melainkan mendekati U atau W. V di bahasa Inggris berubah menjadi berat, ‘mendekati’ huruf B, bandingkan misalnya kata fest (festival) dan vest (rompi).

Kembali kepada permasalahan F dan V, ada dua kata yang bisa menjelaskan bahwa F dan V tidak boleh dipertukarkan karena artinya jauh berbeda. Dua kata ini telah masuk ke dalam bahasa Inggris, namun asalnya adalah dari bahasa Latin.

focal  (hal yang berkaitan dengan focus, fokus); dari kata FOCVS – FOCALIS

vocal  (hal yang berkaitan dengan suara); dari kata VOX (VOCS) – VOCALIS

Ada dua kata lagi yang bisa jadi sangat berbeda artinya jika huruf F dan V dipertukarkan, yaitu

FERA (binatang buas)

VERA (benar, hal tentang kebenaran)

Jika dua huruf ini (F dan V) dipertukarkan, makna yang didapatkan sangatlah berbeda. Oleh karena itu, penutur bahasa Indonesia pun sebaiknya tidak keliru menggunakan huruf agar makna yang dimaksud tidak menjadi kabur. Berbahasa yang baik dan benar menunjukkan keinginan untuk menggapai tingkat yang tinggi dalam peradaban dan kebudayaan. Sama halnya dengan membaca Al-Qur’an, tentunya akan besar sekali bedanya jika salah menulis kata اثم itsm (dosa) danاسم ism (nama) meskipun bagi banyak  orang Indonesia huruf ث tsa dan س sin terdengar sama.

 

ditulis oleh Dany, guru SDIT Al-Hikmah Bintara, Bekasi Barat

 

//

Cara Menyelamatkan Diri Dari Neraka Bag 61 ( Insya Allah )

Standard

Selamatkan Dirimu dari Neraka Dengan Sedekah

Oleh: Badrul Tamam

Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, keluarga dan para sahabatnya.

Dahsyatnya siksa neraka tak ada bandingnya. Serngan-ringan siksanya tak ada yang sanggup menanggungnya. Bahkan ia merasa bahwa ia disiksa dengan siksa yang paling dahsyat. Lihatlah gambarannya yang dikabarkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam,

إِنَّ أَهْوَنَ أَهْلِ النَّارِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَرَجُلٌ تُوضَعُ فِى أَخْمَصِ قَدَمَيْهِ جَمْرَتَانِ يَغْلِى مِنْهُمَا دِمَاغُهُ

Sesungguhnya penghuni neraka yang paling ringan siksanya adalah seseorang yang diletakkan dua buah bara api di bawah telapak kakinya, seketika otaknya mendidih.” (Muttafaq ‘Alaih, sebagian tambahan Al-Bukhari, “sebagaimana mendidihnya kuali dan periuk.”

Imam Muslim meriwayatkan dari hadits Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda;

إِنَّ أَدْنَى أَهْلِ النَّارِ عَذَابًا يَنْتَعِلُ بِنَعْلَيْنِ مِنْ نَارٍ يَغْلِى دِمَاغُهُ مِنْ حَرَارَةِ نَعْلَيْهِ

Sesungguhnya penghuni neraka yang paling ringan siksanya, ia memakai dua sandal dari neraka, seketika itu mendidih oraknya disebabkan panasnya dua sandalnya itu.

Dalam redaksi lain,

إِنَّ أَهْوَنَ أَهْلِ النَّارِ عَذَابًا مَنْ لَهُ نَعْلاَنِ وَشِرَاكَانِ مِنْ نَارٍ يَغْلِى مِنْهُمَا دِمَاغُهُ كَمَا يَغْلِى الْمِرْجَلُ مَا يَرَى أَنَّ أَحَدًا أَشَدُّ مِنْهُ عَذَابًا وَإِنَّهُ لأَهْوَنُهُمْ عَذَابًا

Sesungguhnya penghuni neraka yang paling ringan siksanya adalah seseorang memiliki dua sandal dan dua tali sandal dari api neraka, seketika otaknya mendidih karena panasnya sandal tersebut sebagaimana kuali mendidih. Orang tersebut merasa bahwa tak ada seorang pun yang siksanya lebih pedih daripadanya, padahal siksanya adalah yang paling ringan di antara mereka.” (HR. Muslim)

Maka selayaknya kita benar-benar takut terhadapnya. Setiap jalan yang menghantarkan ke neraka, maka sungguh-sungguh kita jauhi. Segala sebab yang mengharuskan memasukinya, maka kita hindari. Kita juga berusaha mencari sebab yang bisa membentengi diri kita dari neraka.

عَنْ عَدِيِّ بْنِ حَاتِمٍ قَالَ ذَكَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ النَّارَ فَتَعَوَّذَ مِنْهَا وَأَشَاحَ بِوَجْهِهِ ثُمَّ ذَكَرَ النَّارَ فَتَعَوَّذَ مِنْهَا وَأَشَاحَ بِوَجْهِهِ قَالَ شُعْبَةُ أَمَّا مَرَّتَيْنِ فَلَا أَشُكُّ ثُمَّ قَالَ اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ فَإِنْ لَمْ تَجِدْ فَبِكَلِمَةٍ طَيِّبَةٍ

Dari ‘Adiy bin Hatim Radhiyallahu ‘Anhu berkata: Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah menyebutkan tentang neraka, kemudian berlindung diri darinya dan mengekspresikan dengan wajahnya. Kemudian menyebutkan neraka lalu berlindung diri darinya dan mengekspresikan dengan wajahnya. Kemudian menyebutkan neraka dan berlindung diri darinya dan mengekspresikan dengan wajahnya. Syu’bah berkata: kemungkinan dua kali, lalu saya tidak ragu. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: Hindarkan dirimu dari neraka walaupun hanya dengan separoh butir kurma, jika tidak ada maka dengan tutur kata yang baik.” (Muttafaq ‘alaih)

Dalam redaksi Muslim,

مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يَسْتَتِرَ مِنَ النَّارِ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ فَلْيَفْعَلْ

Siapa di antara kalian yang mampu membentengi diri dari neraka walau dengan separoh butir kurma hendaknya ia lakukan.

Dalam riwayat Ahmad dari hadits Ibnu Mas’ud dengan sanad shahih, “Hendaknya salah seorang kalian menjaga wajahnya dari neraka walau dengan separoh butir kurma.” Dan dari hadits Aisyah dengan sanad hasan, “Wahai ‘Aisyah, hindarkan dirimu dari neraka walau dengan separoh butir kurma.” (HR. Ahmad)

. . . Sesungguhnya sedikitnya sedekah bisa menjadi sebab seseorang diselamatkan dari jilatan api neraka. . .

Di antara usaha yang menjadi hijab antara seseorang dengan neraka adalah sedekah. Karena sedekah akan menghapuskan kesalahan sebagaimana air yang memadamkan api. Sedekah juga bisa memadamkan kemurkaan Allah dan menghindarkan dari kematian buruk. (HR. al-Tirmidzi)

Hadits di atas menganjurkan untuk bersedekah walaupun hanya sedikit. Jangan malu karena hanya punya harta sedikit. Jangan pula meremehkan sedekah yang sedikit. Sesungguhnya sedikitnya sedekah bisa menjadi sebab seseorang diselamatkan dari jilatan api neraka.

Dalam hadits di atas terdapat petunjuk Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, bahwa di antara sarana terbesar yang bisa menyelamatkan dari neraka adalah berbuat baik kepada makhluk dengan harta dan perkataan. Kebaikan walau itu kecil secara materi, tidak boleh diremehkan, seperti sedekah yang jumlahnya sedikit, hanya separoh butir kurma. Bahkan jika tidak punya, bisa dengan berkata dengan kalimat thayyibah.

Kalimat thayyibah itu artinya luas. Ia mencakup semua perkataan yang menyenangkan hati, melapangkan dada, dan membuat gembira orang lain. Kalimat thayyibah juga mencakup perkataan yang mengandung petunjuk, mambaca ilmu dan mengajarkannya, membantah syubuhat, memperbaiki hubungan dua orang yang berseteru, memutuskan perselisihan dua orang yang bersengketa, memberi solusi atas problem, menenangkan orang yang marah, dan semisalnya.

Kalimat thayyibah juga mencakup zikir (mengingat) Allah, membaca Kitab-Nya, dan memuji-Nya serta menjelaskan hukum-hukum Allah dan syariat-Nya. Intinya, setiap perkataan yang mendekatkan diri kepada Allah dan memberikan manfaat untuk hamba-hamba Allah maka ia masuk dalam kategori kalimah thayyibah. Wallahu ta’ala A’lam. [PurWD/voa-islam.com]