Tantrum dan Bagaimana Cara Menyikapinya

Standard

Apakah Anda sudah pernah mendengar istilah yang satu ini, Tantrum? Sudah familiar-kah Anda dengan kata ini?

Atau bagi Anda sebagai guru dan terlebih lagi bagi yang sudah menjadi orangtua, Apakah Anda pernah melihat dan menghadapi anak yang bertemperamen (emosi) yang meledak-ledak dan terkadang suka mengamuk sambil menangis, apalagi kalau keinginannya tidak dipenuhi? bahkan ada yang sampai membahayakan/mencelakai diri si anak itu sendiri, seperti membenturkan kepalanya ke dinding, memukul dan meninju badannya sendiri, merengek sambil menendang-nendang sesuatu atau bahkan dapat juga melukai/menciderai teman-teman dan orang yang berada di sekitarnya. Lalu bagaimana cara kita menyikapi anak-anak yang bertemperamen Tantrum ini. Berikut akan saya bahas sedikit mengenai temper Tantrum dan kiat-kiatnya bagi guru serta orangtua dalam menghadapi anak yang memiliki sifat tersebut (mohon maaf kalau pembahasannya kurang lengkap dan terperinci serta aplikatif, karena keterbatasan ilmu pengetahuan dan pengalaman saya dalam hal ini, just sharing for all readers, semoga tulisan ini bermanfaat).

Temper Tantrum adalah luapan emosi yang meledak-ledak dan tidak terkontrol pada anak usia 1 hingga 6 tahun dan bisa terjadi karena anak mengalami frustrasi, lelah, lapar, sakit, atau marah karena keinginannya tidak terpenuhi. Tantrum juga bisa muncul karena kecemburuan, tekanan fisik dan mental serta perasaan yang tidak aman. Anak yang cenderung aktif, memiliki kebiasaan tidur, makan dan buang air besar tidak teratur, sulit beradaptasi dengan perubahan lingkungan, moody, tidak sabar dan mudah kesal cenderung memiliki tantrum dibandingkan dengan mereka yang tidak.

Perilaku tantrum pada anak berbeda-beda tergantung usia si anak. Pada usia 1 hingga 3 tahun biasanya mereka melepaskan tantrum dengan menangis, menggigit, memukul, menjerit, menendang, membenturkan kepala, dan melempar barang. Pada usia 3 hingga 4 tahun perilaku tantrum bertambah lagi dengan berteriak, merengek, membanting pintu, menghentak-hentakan kaki, dan meninju. Kemudian pada usia lebih lanjut, anak mulai melepaskan tantrum dengan memaki, menyumpah, memukul kakak, adik atau temannya, memecahkan barang bahkan mengancam.

Orangtua dan guru sering kali bingung mendapati anak (didik)nya dengan perilaku seperti ini sehingga cenderung menuruti keinginan si anak agar tidak perlu terjadi hal-hal tersebut di atas. Padahal, jika orangtua dan guru membiarkan tantrum berkuasa dengan membolehkan anak mendapatkan yang diinginkannya setelah ia tantrum, maka hal ini berarti orangtua dan guru sudah menyemangati dan memberi contoh pada anak untuk bertindak kasar dan agresif.

Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mencegah tantrum adalah dengan mengenali kebiasaan-kebiasaan pada anak sehingga mengetahui secara pasti kondisi-kondisi yang memicu anak cenderung mengalami tantrum. Misalnya, jika si anak mudah kesal jika terlalu lama diam dalam mobil di perjalanan yang cukup panjang, maka berhentilah di tempat peristirahatan beberapa kali untuk memberikan waktu bagi anak bermain di luar mobil. Selain itu juga orangtua perlu melakukan evaluasi diri mengenai cara dan kebiasaannya dalam mengasuh anak. Anak yang cenderung dimanja lebih mudah tantrum jika keinginannya tidak dipenuhi.

Jangan panik jika tantrum sudah terlanjur terjadi, terutama di tempat umum. Ada beberapa tips cara yang dapat orangtua dan guru lakukan dalam menghadapinya:

  • Hadapi dengan tenang dan kendalikan emosi kita sebelum mengendalikan emosi anak.
  • Katakan dengan tegas bahwa ia harus menghentikan perilakunya tersebut. Jika tidak berhenti, abaikan amukannya dan berikan ia time-out hingga tantrum mereda. Acuhkan namun tetap waspada dan jauhkan barang-barang yang berpotensi bahaya dari jangkauannya.
  • Setelah tantrum mereda, ajaklah ia bicara. Tanyakan perasaannya dan kemukakan juga perasaan Anda. Komunikasikan keinginan masing-masing.
  • Setelah itu lupakan anak pernah mengamuk. Ajaklah anak bermain kembali seolah-olah tidak ada kejadian apa-apa. Perlu diingat bahwa sangat penting untuk bersikap tegas dan konsisten dalam mengatasi tantrum pada anak agar ia belajar bahwa tantrum bukanlah cara yang tepat untuk mendapatkan keinginannya. (by: Mr.Rizki-Qday)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s