Antara Kampung Melayu dengan Tanah Abang

Standard

Sahabat, cerita ini ku tulis berawal dari kisahku ketika mau berangkat ke Tanah Abang. Aku yang tinggal di Bekasi naik motor bersama istri ke Kampung Melayu dan menitip motor di salah satu Alfa di sekitar terminal Kampung Melayu. Aku pun bersama istri ditambah dengan adik perempuanku yang sudah menuggu terlebih dahulu di sana langung naik bis metromini yang benomer 502. Sudah maklum bagi warga Jakarta bahwa bis ini didominasi oleh orang Batak maka tidak diragukan lagi kalau lajunya tidak seimbang dengan usia bisnya. Kalang kabut seperti pembalap amatiran. Tanpa ragu jalur Bus Way juga diterobos. Walhasil polisi juga memberhentikan bis dan mengambil STNP sopir. Bis pun tanpa ampun langsung meluncur.

Yang menarik buatku bukan kencangnya bis. Tapi ada satu kejadian penting yang terjadi di bis ini. Seorang ibu yang usianya sekitar 50 tahunan menasehati seorang anak remaja putri yang masih duduk ditingkat SMP. Kalau aku perkirakan mungkin kelas 2 SMP.

“Nak, jangan mau pacaran ya. Belajar yang serius ” kata sang Ibu. Sebenarnya banyak nasehatnya tapi yang aku tangkap inilah inti dari nasehatnya. Si anak remaja hanya bisa terdiam dan termangguk-mangguk. ” Iya bu” kata remaja putri. Si anak remaja mungkin kaget. Kok ada seorang ibu yang tiba-tiba memberikan nasehat layaknya seorang ibunya sendiri. Padahal belum tentu ibunya sendiri memberikan nasehat yang sama dengan nasehat sang Ibu.

sahabat, ini maksudku cerita yang menarik dari perjalananku. aku terinspirasi kalau seandainya saling menasehati sudah menjadi keumuman di masyarakat kita mungkin pintu untuk kemaksiatan atau kejahatan tidak akan terjadi.

Ibnu Mas’ud radliyallaahu ’anhu mengatakan bahwa Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam bersabda (yang artinya) : ”Sesungguhnya kerusakan pertama yang terjadi pada bani Isra’il ialah ketika seorang bertemu kawannya yang sedang berbuat kejahatan lalu ditegur,”Ya Fulan, bertaqwalah kepada Allah dan tinggalkan perbuatan yang tidak halal itu’. Kemudian pada esok harinya mereka bertemu lagi, sedangkan ia masih berbuat maksiat lagi, maka ia tidak mencegah kemaksiatannya. Bahkan ia menjadi teman makan minum dan teman duduknya. Jika demikian keadaan mereka, maka Allah menutup hati masing-masing, sebagaimana Firman-Nya :

 ”Telah dilaknati orang-orang kafir dari bani Isra’il dengan lisan Dawud dan Isa Putera Maryam. Yang demikian itu dikarenakan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat. Kamu melihat kebanyakan dari mereka tolong-menolong dengan orang-orang kafir (musyrik). Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka sendiri, yaitu kemurkaan Allah kepada mereka, dan mereka akan kekal dalam siksaan. Sekiranya mereka beriman kepada Allah, kepada nabi (Musa), dan kepada apa yang diturunkan kepadanya (Nabi), tentu tidak menjadikan orang-orang musyrikin sebagai pemimpin, tetapi kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang fasik”.(QS. Al-Maaidah ayat 78-81)


Kemudian Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam bersabda,”Janganlah seperti mereka. Demi Allah, kalian harus menyuruh kebaikan dan mencegah kemunkaran, dan menahan kejahatan orang yang dhalim, dan kalian kembalikan ke jalan yang hak dan kalian batasi dalam hak tersebut. Kalau kalian tidak berbuat demikian, maka Allah akan menutup hati kalian, kemudian melaknat kalian, sebagaimana Allah melaknat mereka”
(HR. Abu Dawud dan Tirmidzi, ia berkata,”Hadits ini hasan”).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s