andai guruku matahari di siang hari dan rembulan di malam hari

Standard

Pagi itu suasana di Dusun Sejambu Desa Kesongo terasa amat sejuk seperti biasanya.Sebuah desa yang layaknya taman surga karena letak geografisnya yang sangat strategis, dengan hamparan sawah yang luas menghijau serta dikelilingi danau yang indah dengan air yang bening (RAWA PENING) sarat dengan kekayaaan alamnya sehingga mampu mencukupi hajat hidup masyarakat pedesaan disekitarnya, dan lebih sempurna lagi panoramanya karena desa itu dikelilingi bukit-bukit dengan pepohonan yang lebat.

Seperti biasanya pula anak2 sekolah MI (Madrasah Ibtidaiyah) bermain bersama berlarian saling kejar2an (petak umpet), ada pula sekelompok anak2 yang sedang asyik berrmain gerobak sodor, masih di area yang sama sekelompok anak2 yang lain sedang bermain loncat karet, namun mendadak sontak mereka akan  serempak berlari menuju ke kelasnya masing-masing manakala mendengar lonceng berbunyi pertanda sekolah sudah masuk.Lalu dengan penuh khidmad menunggu sembari berharap penuh rindu akan kehadiran sang guru yang mereka hormati. Sang guru tersebut bagi mereka laiknya bagai matahari di siang hari dan rembulan di malam hari.Kehadirannya amat dibutuhkan dan dirindukan karena keikhlasannya dalam menularkan ilmunya, keberadaannya menyejukkan hati karena kasih sayangnya yang tulus. Sebuah sosok dan figur yang terukir dan terpatri di hati hingga menjadi obsesi hampir disetiap murid.Sungguh mulia menjadi seorang guru yang bagai matahari di siang hari dan rembulan di malam hari.

Kenangan itu serasa masih dipelupuk mata padahal kejadian itu sudah hampir tiga puluh tahun berlalu.

Kini,segalanya sudah berubah.Mula-mula gejala alam akibat keserakahan manusia yang berujung terjadinya bencana  bertubi-tubi, disusul dengan kemajuan teknologi yang melesat tanpa bisa dibendung,tragisnya usernya (manusia)tidak dibekali dengan pondasi aqidah dan akhlak yang kuat dan kokoh.Sehingga guru banyak mengalami kesulitan dan hambatan dalam menanamkan caracter building pada anak didik disatu  sisi, sementara  anak didik kurang begitu yakin dengan keikhlasan dan kasih sayang dari guru dalam berbagai interaksinya di sisi lain.Kondisi ini diperparah oleh sebagian besar orang tua selaku wali murid yang kurang bahkan tidak peka dan tidak peduli terhadap perkembangan  psikhis dan fisiologis anak. Hal ini ditandai dengan persepsi sebagian besar orangtua (wali murid) yang menganggap di sekolah segala permasalahan anaknya sudah teratasi, sementara orang tua tinggal menunggu dan melihat hasilnya.

Dalam kondisi seperti ini hal yang dibutuhkan adalah kearifan dari berbagai pihak dan elemen lembaga pendidikan untuk saling  proakatif mengambil peran positif sehingga terbangun sinergi diametral sesama stake holder. Dengan tujuan adanya satu persepsi dalam mendidik anak yang kelak diharapkan menjadi generasi yang unggul dalam iptek dan tangguh dalam imtak.Tentu semua itu belum cukup untuk mewujudkan masyarakat madani yang mumpuni kecuali semua sepakat untuk senantiasa menjalankan segala aktivitas sesuai dengan sunnah-sunnah Rasululoh sallallohu alaihi wa sallam khususnya dalam hal yang terkait dengan ubudiyah, karena hanya beliaulah satu-satunya sosok uswah hasanah.

Bismillah.

ditulis oleh :asrori abdil haq

(guru sdit al hikmah)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s