Cara Menyelamatkan Diri Dari Neraka Bag 67 ( Insya Allah )

Standard

III. IMAN KEPADA ULUHIYYAH ALLAH (TAUHID ULUHIYYAH).
Di antara kandungan iman kepada Allah tabaaroka wa ta’aalaa yang ketiga yaitu Iman kepada Tauhid Uluhiyyah artinya mengesakan Allah tabaaroka wa ta’aala dengan perbuatan para hamba Nya (Yaitu Kita sebagai para Hamba-Nya) bardasarkan niat taqorrub (mendekatkan diri kepada Allah ) yang di syari’atkan. Seperti shalat, puasa, do’a, nadzar, kurban, pengharapan, takut, tawakkal, senang ,kembali atau taubat danlainnya, yang berkaitan dengan ibadah. Dalam Definisi di atas terdapat Terdapat Kata-kata ” Mengesakan Allah Ta’aalaa dengan segala Perbuatan Para HAMBA ”. Siapakah yang di maksud Para HAMBA di sini ! Yang di maksud Para HAMBA di sini adalah Kita Sebagai Hamba Allah Ta’aalaa, Sehingga Kita mengesakan Allah Ta’aalaa dengan Perbuatan Kita Yaitu seperti Shalat, Puasa, haji, Doa, Nadzar dan segala Macam Bentuk Ibadah yang Kita Lakukan Wajib Di TUJUKAN hanya Untuk Allah Semata. Hal tersebut harus di lakukan karena Allah tabaaroka wa ta’aala sahaja dan tidak boleh Ibadah tersebut di peruntukkan bagi selain Allah Ta’aalaa. Apabila Kita Menujukan Suatu ibadah Kepada Selain Allah maka Berarti Kita telah Menyekutukan Allah dalam Hal Ibadah atau Penyembahan Kepada-Nya. Maka tidak Benar Apabila ada seseorang mengaku Allah Ta’aalaa sebagai Tuhannya akan tetapi tidak Mau Ibadah kepada-Nya Atau Mengaku Allah Ta’aalaa sebagai Tuhanya akan tetapi MENYEKUTUKAN Allah Ta’aalaa dalam beribadah Kepada-Nya atau dengan kata lain Mengaku Tauhid Rububiyyah Akan tetapi Mengingkari Tauhid Uluhiyyah. Apabila seseorang telah mengakui Tauhid Rububiyyah, maka wajib bagi orang tersebut mengamalkan Tauhid Uluhiyyah, agar dia tidak termasuk seperti orang Musyrik (mengakui Tauhid Rububiyyah akan tetapi mengingkari Tauhid Uluhiyyah artinya mengaku bahwa Allah Sang Pencipta akan tetapi tidak mau ibadah kepada-Nya atau Menyekutukan dalam Ibadah Kepada-Nya).
Oleh karena itu orang Musyrik tidak di kategorikan sebagai seorang muslim di zaman Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam sebagaimana yang telah di jelaskan di atas (di bagian Tauhid Rububiyyah). Ketahuilah, wahai Saudaraku jenis Tauhid ini (Uluhiyyah) adalah inti dakwahnya Para Rasul, mulai dari Rasul yang pertama, Nuh ’alaihissalaam sampai Rasul yang terakhir Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam, bahkan Nabi Isa pun menyerukan tentang Tauhid ini (penyembahan hanya kepada Allah semata), sehingga Nabi Isa pasti akan berlepas diri dari para penyembahnya dari kalangan orang-orang Nashrani pada hari kiamat nanti.
Sebagaimana Allah tabaaroka wa ta’aala berfirman : Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul kepada tiap-tiap ummat (untuk menyerukan) : ”Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thogut (segala sesuatu yang di sembah selain Allah)itu ”(QS An-nahl:36).
Ketika Allah bertanya kepada Nabi Isa dalam Firman-Nya: Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: “Hai Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: “Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?.” Isa menjawab: “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku (Isa) pernah mengatakan maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku (Isa) dan aku (Isa) tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau MahaMengetahui perkara yang ghaib.” (QS Al Maidah : 116).
Kemudian Isa mengatakan, dalam Firman Nya selanjutnya : Aku (Isa) tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan)nya yaitu: “Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu“, dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu.”
(QS Al Maidah : 117).
Setiap Rasul selalu memulai dakwahnya dengan perintah TAUHID ULUHIYYAH (penyembahan kepada Allah). Karena kewajiban setiap mukallaf (yang di bebani syari’at) atau setiap manusia itu adalah bersaksi laa ilaaha illallah(tidak ada tuhan yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah), kemudian mengamalkannya sesuai dengan konsekuensinya Siapa yang tidak mengakui atau mempraktekkan atau mengamalkan Tauhid ini (Uluhiyyah), maka berarti ia bukan termasuk golongan orang Muslim, bahkan bisa menghantarkan orang tersebut sampai ke derajat Musyrik atau Kafir.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan para shahabatnya untuk memulai dengan apa yang dimulai oleh beliau sendiri yaitu da’wah kepada TAUHID.
Rasul yang pertama di antara para rasul yang mulia adalah Nuh ‘Alaihis sallam telah mengajak kepada masalah Aqidah hampir seribu tahun. Dan semua mengetahui bahwa pada syariat-syariat terdahulu tidak terdapat perincian hukum-hukum ibadah dan muamalah sebagaimana yang telah dikenal dalam agama kita ini (ISLAM), karena agama kita ini adalah agama terakhir bagi syariat-syariat agama-agama lain. Bersamaan dengan itu, Nabi Nuh ‘Alaihis sallam tetap mengajak kaumnya selama 950 tahun dan beliau menghabiskan waktunya bahkan seluruh perhatiannya untuk berda’wah kepada Tauhid. Meskipun demikian, kaumnya menolak da’wah beliau sebagaimana telah dijelaskan dalam Al-Qur’an.
“Artinya : Dan mereka berkata :’Janganlah sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan kepada) Wadd, dan jangan pula Suwaa’, Yaghuts, Ya’uq dan Nasr“. [Nuh : 23].
Ini menunjukkan dengan tegas bahwa sesuatu yang paling penting untuk di prioritaskan oleh para da’i Islam adalah da’wah kepada TAUHID. Dan ini adalah makna firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.
“Artinya : Maka ketahuilah, bahwa sesunguhnya tidak ada sesembahan (yang berhak diibadahi) melainkan Allah“. [Muhammad : 19]
Demikian Juga sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam secara amalan maupun pengajaran. Adapun Secara Amalan beliau, maka tidak perlu dibahas, karena pada periode Mekkah perbuatan dan da’wah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kebanyakan terbatas dalam hal menda’wahi kaumnya agar beribadah kepada Allah saja, tidak ada sekutu bagi-Nya.
Sedangkan dalam hal pengajaran, disebutkan dalam hadits Anas bin Malik Radhiyallahu anhu yang diriwayatkan di dalam Ash-Shahihain. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mengutus Muadz ke Yaman, beliau bersabda.
“Artinya : Hendaknya hal pertama yang engkau serukan kepada mereka adalah pesaksian bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi kecuali Allah saja, maka jika mereka mentaatimu dalam hal itu ….. dan seterusnya sampai akhir hadits. [Hadits Shahih diriwayatkan oleh Al-Bukhari (1395) dan ditempat lainnya, dan Muslim (19), Abu Daud (1584), At-Tirmidzi (625), semuanya dari hadits Ibnu Abbas Radhiyallahu anhu]
Hadits ini telah diketahui dan masyhur, Insya Allah.
Mengapa setiap Rasul memulai dakwah mereka dengan Tauhid Khususnya TAUHID ULUHIYYAH (penyembahan kepada Allah semata) ! karena hal ini merupakan masalah yang paling dasar, yang paling pokok serta kebaikan yang paling Mulia, yang menyebabkan seseorang di selamatkan dari Neraka dan di masukan kedalam Syurga serta hal ini merupakan Fondasi dasar atau Fundamental yang wajib di amalkan oleh setiap MANUSIA. Sebagaimana Firman Allaah Ta’aalaa.
“ Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka Menyembah kepada-Ku.” (QS. ADZ-DZARIAAT : 56).
Hal ini menunjukkan bahwasanya wajib bagi setiap Da’i (penyeru kepada kebenaran), atau Ustadz, untuk memulai dakwah mereka, untuk memulai pengajaran mereka, untuk memulai Tasfiyyah dan Tarbiyyah mereka dari masalah yang terpenting yakni TAUHID atau AQIDAH.
Oleh karena PENTINGNYA masalah TAUHID ini maka wajib bagi setiap muslim untuk mengetahui apa Makna Syahadat, Rukun Syahadat, syarat-syarat Syahadat, serta mengamalkannya sesuai dengan konsekuensinya. Insya Allah hal tersebut akan di jelaskan berikut ini:

A). MAKNA SYAHADAT (LAA ILAAHA ILLALLAH).
Apa makna syahadat laa ilaaha illallah (tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah )?” Al-ilaah artinya Al-Ma’luh, yaitu sesuatu yang disembah atau di ibadati dengan penuh kecintaan serta pengagungan. Di dalam istilah Nahwu atau dalam Kaidah Bahasa Arab, di dalam penggalan kalimat “ laa ilaaha“ (Tidak ada tuhan) ini tersimpan khabar (kalimat atau kata penjelas) yangdi hilangkan atau ada yang di buang atau tidak di sebutkan kalimatnya. Khabar (kata) yang dibuang atau di sembunyikan itu adalah “bi haqqin” (Artinya Yang haq). Sehingga, Makna yang benar secara ijmal (global) dari makna LAA ILAAHA ILLALLAH adalah tidak ada yang berhak di ibadati dengan benar kecuali Allah tabaaroka wa ta’aala. Jadi, salah jika ada yang mengatakan khabar (kata penjelas) yang di buang atau di sembunyikan itu adalah “Maujud” (Artinya Ada), sehingga maknanya menjadi tidak ada tuhan selain Allah (bukan ini yang dimaksud karena ini terjemahannya, bukan maknanya). Ini masih batil (Salah), karena jika di tafsirkan demikian, maka tuhan yang Ada atau yang Maujud itu berarti Allah, di karenakan tuhan yang Ada di dunia itu banyak sekali yang di sembah selain Allah akan tetapi tuhan-tuhan itu tidak berhak di sembah seperti patung, dewa, nabi Isa ,Kuburan, matahari, Bintang, Bulan dan lain sebagainya.
Oleh karena itu wajib bagi setiap Muslim mengetahui perkara ini dengan sejelas-jelasnya. Oleh karena itu, makna yang benar tentang laa ilaaha illallaah yaitu beri’tikad (berkeyakinan) dan berikrar (mengucapkan), bahwasanya tidak ada yang berhak disembah dan menerima ibadah kecuali Allah subhanahu wa ta’ala, mentaati hal tersebut dan mengamalkan konsekuensinya.

B). RUKUN SYAHADAT (LAA ILAAHA ILLALLAH)
Sesungguhnya syahadat laa ilaaha illallah itu mempunyai 2 Rukun :
1). An-Nafyu (peniadaan):”laa ilaaha”artinya membatalkan atau meniadakan syirik dengan segala bentuknya dan mewajibkan kekafiran terhadap apa saja yang di sembah selain Allah.

2). Al-Itsbat (Penetapan):”illallah”artinya menetapkan bahwa tidak ada yang berhak di sembah kecuali Allah dan mewajibkan pengamalan sesuai dengan konsekuensinya.

Makna dua rukun ini banyak di sebut dalam ayat Al-Qur’an, sebagaimana Firman Allah Ta’aalaa : Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut(segala sesuatu yang di sembah selain Allah) dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus………………(QS Albaqarah 256).
Firman Allah ta’aalaa “siapa yang ingkar kepada thogut” itu adalah makna dari “laa ilaaha” (Tidak ada yang berhak di ibadahi) rukun yang pertama. Yaitu An-nafyu (peniadaan), Sedangkan Firman Allah Ta’aalaa “dan beriman kepada Allah” makna dari rukun yang kedua yaitu Al-itsbat (Penetapan), “illallah” (kecuali Allah).
Dan sebagaimana juga dalam Firman-Nya : Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: “Sesungguhnya aku berlepas diri terhadap apa yang kamu sembah ,tetapi (aku menyembah) Tuhan Yang menjadikanku”
(QSAzzukhruf:26-27).
Firman Allah Ta’aalaa “”Sesungguhnya aku berlepas diri” ini adalah makna dari “laa ilaaha” (Tidak ada yang berhak di ibadahi) dari rukun pertama yaitu An-nafyu (Peniadaan). Sedangkan Firman-Nya , “ tetapi (aku menyembah) Tuhan Yang menjadikanku” adalah makna dari rukun yang kedua yaitu Al-itsbat (Penetapan), “illallah” (kecuali Allah).

C). SYARAT-SYARAT SYAHADAT (LAA ILAAHA ILLALLAH).
Sesungguhnya syahadat laa ilaaha illallah itu mempunyai syarat-syarat yang WAJIB diKetahui, diPahami, diPelajari serta di Amalkan. Bersaksi dengan laa ilaaha illallah harus dengan 7 syarat, tanpa syarat-syarat tersebut syahadat tidak akan bermanfaat bagi yang mengucapkannya. Secara global 7 syarat itu adalah :

1). Ilmu (Mengetahui lawan dari jahil atau kebodohan).
Artinya Memahami makna dan maksudnya. Mengetahui apa yang di tiadakan dan apa yang di tetapkan untuk Allah, yang meniadakan ketidaktahuannya tentang hal
tersebut (apa-apa yang wajib bagi Allah). Sebagaimana Firman Allah Ta’aalaa:
Dan sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memberi syafa’at; akan tetapi (orang yang dapat memberi syafa’at ialah) orang yang mengakui yang hak (tauhid) dan mereka meyakini(nya). (QS Az-zukhruf:86)
Maksudnya adalah orang yang bersaksi dengan laa ilaaha illallah, dan memahami dengan hatinya apa yang di ikrarkan oleh lisannya, Seandainya ia
mengucapkannya, akan tetapi tidak mengerti apa maknanya, maka persaksian itu tidak sah dan tidak berguna.

2). Yaqin (lawan dari keraguan).
Seseorang yang mengikrarkannya harus meyakini kandungan syahadat itu.
Manakala ia meragukannya maka sia-sia belaka persaksiannya itu. Sebagaimana Allah
Ta’aalaa berfirman :
“sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada
Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu…..” (QS.Al-hujurat: 15).

3). Qabul (Menerima lawan dari penolakan).
Menerima kandungan dan konsekuensi dari syahadat; menyembah Allah semata dan meninggalkan ibadah kepada selain-Nya.
Siapa yang mengucapkan, akan tetapi tidak menerima dan menta’aati, maka ia
termasuk orang-orang yang di firmankan Allah Ta’aalaa:
Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka: “Laa ilaaha illallah” (Tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah) mereka menyombongkan diri, dan mereka berkata: “Apakah sesungguhnya kami harus meninggalkan sembahan-sembahan kami karena seorang penyair gila?” (QS.As-shaffat: 35-36)
hal ini sama halnya dengan para penyembah kuburan dewasa ini. Mereka mengucapkan laa ilaaha illallah, akan tetapi tidak mau meninggalkan penyembahan terhadap kuburan. Bukan berarti Ziarah kubur tidak di perbolehkan, hanya sahaja seseorang harus benar-benar mengetahui bagaimana Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam mengajarkan tata-cara berziarah kubur!

4). Inqiyad (patuh lawan dari meninggalkan).
Sebagaiman firman Allah Ta’aalaa :
Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh. Dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan. (Qs.Lukman: 22).
Al ‘urwatulwutsqo adalah laa ilaaha illallah. Dan makna yuslim wajhahu adalah
yanqoddu (patuh, pasrah).

5). Shidq (jujur lawan dari dusta).
Yaitu mengucapkan kalimat ini dan hatinya juga membenarkannya. Manakala lisannya mengucapkan, akan tetapi hatinya mendustakan, maka ia adalah Munafik dan Pendusta. Sebagaiman afirman Allah Ta’aalaa :
Di antara manusia ada yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan Hari
kemudian,” pada hal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman
Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya
menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar. Dalam hati mereka ada penyakit, lalu
ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka
berdusta. (QS.Al baqarah: 8-10).

6). Ikhlas (lawan dari syirik).
Yaitu membersihkan amal dari segala debu-debu syirik, dengan jalan tidak
mengucapkannya kecuali karena mengingkari isi dunia, Riya, atau Sum’ah. Dalam hadits ‘itban rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda :
“ sesungguhnya Allah mengharamkan atas neraka orang yang mengucapkan laa ilaaha
illallah karena menginginkan Ridho Allah” (HR.Al-Bukhori dan Muslim).

7). Mahabbah (kecintaan lawan dari kebencian).
Maksudnya mencintai kalimat ini serta isinya, juga mencintai orang-orang yang mengamalkan konsekuensinya. Sebagaimana firman Allah Ta’aalaa :
Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. (QS.Al-baqarah: 165).
Maka dari itu ahli Tauhid itu mencintai Allah dengan cinta yang Tulus Bersih. Sedangkan ahli syirik mencintai Allah dan mencintai yang lainnya, hal ini sangat bertentangan sekali dengan isi kandungan laailaaha illallah.

D). KONSEKUENSI DARI SYAHADAT (LAA ILAAHA ILLALLAH).
Yaitu meninggalkan ibadah kepada selain Allah dari segala macam yang di pertuhankan, sebagai keharusan dari peniadaan (laa ilaaha). Dan beribadah kepada Allah semata tanpa syirik sedikitpun, sebagai keharusan dari penetapan (illallah).
Banyak orang yang mengikrarkan akan tetapi melanggar konsekuensinya. Sehingga mereka menetapkan ketuhanan yang sudah di tiadakan, baik berupa para makhluk, kuburan, pepohonan, bebatuan serta para thaghut lainnya.
Mereka berkeyakinan bahwa Tauhid adalah Bid’ah. Mereka menolak para ulama atau para da’I yang mengajak kepada Tauhid dan mencela orang yang beribadah kepada Allah semata.
Di samping wajibnya mengetahui tentang syahadat laa ilaaha illallah, wajib pula bagi setiap muslim mengetahui makna syahadat Muhammad Rasulullah (bahwa Muhammad itu utusan Allah), rukun-rukun syahadat, syarat-syaratnya, serta mengamalkannya sesuai dengan konsekuensinya. Karena syahadat itu berisi 2 persaksian yaitu “ Asyhadu Allaa ilaaha illallah wa Asyhadu anna Muhammadan Rasuulullah”. Diantara yang wajib di ketahui dan dipahami serta di amalkan adalah :

A). MAKNA SYAHADAT (MUHAMMAD RASULULLAH)
Yaitu mengakui secara lahir batin bahwa beliau adalah hamba Allah dan Rasul-Nya yang diutus kepada manusia secara keseluruhan, serta mengamalkan konsekuensinya, menta’ati perintahnya, membenarkan ucapannya, menjauhi larangannya, dan tidak menyembah Allah kecuali dengan apa yang di syari’atkan.

B). RUKUN SYAHADAT “MUHAMMAD RASULULLAH”
Syahadat ini (MUHAMMAD RASULULLAH) ini juga mempunyai 2 Rukun yaitu kalimat (‘Abduh wa Rasuuluh) artinya hamba dan rasul-Nya atau utusan-Nya. Kedua Rukun ini menafikan (meniadakan sikap) ifrath (berlebih-lebihan) dan Tafrith (Meremehkan) pada hak rasulullah shallallahu’alaihiwasallam. Beliau adalah hamba dan Rasul-Nya. Beliau adalah makhluk yang paling sempurna dalam Dua Sifat yang mulia ini, yang kedua sifat tersebut telah di berikan oleh Allah Ta’aalaa kepadanya. yang pertama :
1). Hamba-Nya (‘Abduh).
Artinya Hamba disini adalah hamba yang menyembah. Maksudnya, beliau adalah manusia yang di ciptakan dari bahan yang sama dengan bahan ciptaan manusia yang lainnya (yaitu berasal dari tanah). Juga berlaku atas beliau sebagaimana berlakunya atas orang selain beliau. Sebagaimana Firman Allah Ta’aalaa :
“ katakanlah: Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu……….”.(QS.Al-kahfi: 110).
Beliau hanya memberikan hak ubudiyyah (ibadah) kepada Allah dengan sebenar-benarnya, dan oleh karenanya Allah Ta’aalaa memujinya:
“Bukankah Allah cukup untuk melindungi hamba-Nya” (QS.Az sumar: 36).
Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al Kitab (Al-Quran) dan Dia tidak mengadakan kebengkokan di dalamnya; (QS.Al kahfi: 1)
Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ……………………(QS.Al israa: 1).
2). Utusan-Nya (Rasuuluh).
Artinya orang yang di utus kepada seluruh manusia dengan misi dakwah sebagai Basyiir (pemberi kabar gembira) dan Nadziir (pemberi peringatan).
Persaksian untuk Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam dengan 2 sifat ini meniadakan sikap Ifrath (berlebih-lebihan) dan Tafrith (meremehkan) pada hak Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam. Karena banyak orang yang mengaku umatnya (beliau), lalu melebihkan haknya atau bahkan mengkultuskannya hingga mengangkatnya di atas martabat sebagai hamba, bahkan sampai kepada martabat ibadah (penyembahan) untuknya selain dari Allah subhaanahuwata’aalaa. Mereka beristighasah kepada beliau, dari selain Allah. Dan juga meminta kepada beliau sesuatu yang tidak
sanggup melakukannya kecuali Allah. Akan tetapi di pihak lain, sebagian orang mengingkari kerasulannya atau mengurangi haknya, sehingga banyak orang yang Menyalahi Ajarannya (beliau), atau bahkan Bergantung kepada pendapat-pendapat yang menyelisihi Ajarannya (beliau), serta memaksakan diri dalam mena’wilkan hadits-hadits dan hukum-hukumnya agar sesuai dengan Pendapat Mereka. Na’udzu billah.
Adapun setelah itu, wajib bagi setiap muslim mengetahui apa syarat-syarat syahadat Anna Muhammad Rasulullah (bahwa Muhammad itu utusan Allah)! Yang Insya Allah akan di jelaskan berikut ini.

C). SYARAT-SYARAT SYAHADAT “MUHAMMAD RASULULLAH”.
1). Mengakui kerasulannya dan meyakininya di dalam hati.
2). Mengucapkan dan mengikrarkan dengan lisan.
3). Mengikutinya dengan mengamalkan ajaran kebenaran yang telah di bawanya
serta meninggalkan kebatilan yang telah di cegahnya.
4). Membenarkan segala apa yang di kabarkan dari hal-hal yang ghaib, baik yang
sudah lewat, maupun yang akan datang.
5). Mencintainya melebihi cintanya kepada dirinya sendiri, harta, anak, orang tua
Serta umat manusia seluruhnya.
6). Mendahulukan sabdanya atas segala pendapat orang lain serta mengamalkan
sunnahnya.

D). KONSEKUENSI DARI SYAHADAT “MUHAMMAD RASULULLAH”.
Yaitu menta’atinya, membenarkannya, meninggalkan apa yang di larangnya, mencukupkan diri dengan mengamalkan Sunnahnya, dan meninggalkan yang lain dari hal-hal Bid’ah dan Muhdatsat (baru), serta mendahulukan Sabdanya di atas segala pendapat manusia seluruhnya.

Hal-hal yang membatalkan Islam atau dua kalimat syahadat itu banyak sekali. Mengucapkan Keduanya itu (dua kalimat syahadat) adalah pengakuan terhadap kandungannya serta konsisten mengamalkan konsekuensinya, berupa segala macam syi’ar-syi’ar yang ada di dalam islam. Apabila ia menyalahi apa yang di ikrarkannya, berarti ia telah membatalkan perjanjian dengan Keduanya (syahadatain).
Para Fuqoha (Ahli Fiqih) di dalam kitab-kitab Fiqih telah menulis bab khusus, tentang hal-hal yang membatalkan dua kalimat syahadat atau membatalkan islam. Diantaranya adalah bab khusus yang di beri judul bab Riddah (kemurtadan atau keluar dari islam), dan yang terpenting adalah 10 hal berikut ini :
1. Syirik dalam beribadah kepada Allah.
Sebagaimana Allah Ta’aalaa berfirman:
“ Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang di kehendaki-Nya.”(QS.An nisaa: 48).
Termasuk di dalamnya yaitu menyembelih karena selain Allah, Misalnya menyembelih untuk kuburan yang di keramatkan atau di peruntukkan bagi jin atau supaya menyembuhkan penyakit dan lain sebagainya.

2. Orang yang menjadikan antara ia dan Allah itu perantara-perantara, ia berdoa kepada mereka, meminta syafa’t kepada mereka dan bertawakal kepada mereka. Orang seperti ini kafir secara ijma’.

3. Orang yang tidak mau mengkafirkan orang-orang Musyrik atau orang Kafir dan orang yang masih ragu terhadap kekufuran mereka atau membenarkan madzhab mereka, maka ia itu kafir.

4. Orang yang meyakini bahwa selain petunjuk Nabi shallallahu’alaihiwasallam
lebih sempurna dari petunjuk beliau atau hukum yang lain lebih baik dari hukum beliau. Seperti orang yang mengutamakan hukum perundang-undangan buatan manusia di atas hukum islam. Maka ia kafir

5. Siapa yang membenci sesuatu dari ajaran yang di bawa oleh Rasulullah
shallallhu’alaihiwasallam sekalipun ia mengamalkannya, maka ia kafir.

6. Siapa yang menghina sesuatu dari agama Rasulullah
shallallahu’alaihiwasallam atau pahala maupun siksanya, maka ia kafir. Hal
ini di tunjukkan oleh Firman Allah Ta’aalaa:
“ Katakanlah: ‘Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?’ Tidak Usah kamu meminta maaf, sengguh telah kamu kafir setelah beriman.”(QS.At-taubah:65-66).

7. Sihir, di antaranya sharf dan ‘athf (amalan yang bisa membuat suami benci
kepada istrinya atau membuat wanita cinta kepadanya atau pelet). Barang siapa yang melakukan atau menyetujuinya atau meridhoinya, maka ia kafir. Sebagaimana firman Allah Ta’aalaa:
“….sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seseorangpun sebelum mereka mengatakan: ‘Sesungguhnya kami hanyalah cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir’.”(QS.Al-Baqarah: 102).

8. Mendukung kaum Musyrikin dan menolong mereka dalam memusuhi umat islam. Dalilnya firman Allah Ta’alaa:
“Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepda orang-orang dzalim.” (QS.As-sajdah: 22)

9. Siapa yang meyakini bahwa sebagian manusia ada yang boleh keluar dari syari’atNabi Muhammad shallallahu’alaihiwasallam,seperti Nabi Hidir boleh keluar dari syari’at Nabi Musa ‘alaihissalaam, maka ia kafir. Seperti ghulat sufiyyah (sufi yang berlebihan atau melampaui batas) bahwa mereka dapat mencapai suatu derajat atau tingkatan yang tidak membutuhkan untuk mengikuti ajaran Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam.

10. Berpaling dari agama Allah, tidak mau mempelajarinya dan tidak pula mengamalkannya. Dalilnya Firman Allah Ta’aala :
“ Dan siapakah yang lebih dzalim daripada orang yang telah di peringatkan dengan ayat-ayat Tuhannya, kemudian ia berpaling daripadanya? Sesungguhnya kami akan mengadakan memberikan pembalasan kepada orang-orang yang berdosa.” (QS.As-sajdah: 22).

Syaikh Muhammad At-Tamimy berkata: “Tidak ada bedanya dalam hal yang membatalkan syahadat ini antara orang yang bercanda, yang serius (bersungguh-sungguh) maupun yang takut, kecuali orang yang di paksa. Dan semuanya adalah bahaya yang paling besar serta yang paling sering terjadi. Maka setiap muslim wajib berhati-hati dan mengkhawatirkan dirinya serta mohon perlindungan kepada Allah subhaanaahuwata’aalaa dari hal-hal yang bisa mendatangkan murka Allah dan Siksa-Nya yang pedih ( didalam kitab Majmu’ At-Tauhid An-najdiyah, hal. 37-39).

Adapun di antara 10 pembatal-pembatal Syahadatain atau pembatal islam seseorang yang telah di sebutkan itu adalah SYIRIK. Apakah yang di maksud dengan SYIRIK?
SYIRIK adalah menyamakan selain Allah dengan Allah dalam perkara yang menjadi kekhususan atau hak bagi Allah. Dari definisi ini, maka jelaslah bagi kita Apa definisi SYIRIK itu ! SYIRIK itu tidak hanya sebatas menyembah dan sujud kepada berhala, patung, matahari ,Bulan, Bintang dan lain-lain, namun lebih luas daripada ini, Dan pelaku SYRIK itu disebut MUSYRIK. Kita bisa melihat kaum MUSYRIKIIN (orang-orang Musrik) yang diperangi oleh Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam dulu, apakah mereka MURNI benar-benar menyembah Berhala? Ternyata tidak, Allah menceritakan ucapan mereka: “Tidaklah kami menyembah mereka melainkan agar
mereka dapat mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” (QS Az-Zumar: 3). Mereka menyembah berbagai sesembahan tersebut dengan harapan dapat menjadi perantara bagi Allah. Padahal Allah Ta’aalaa tidak lah BUTUH kepada Perantara, Jikalau Kita Mau Berdoa, Berdoalah Langsung kapada Allah sebagaimana Firman Allah Ta’aalaa :
“Berdoalah Kepada Ku Niscaya Aku kabulkan Permintaanmu Sesungguhnya orang yang sombong dari berdoa kapada KU Kelak Mereka akan masuk ke dalam Neraka Jahannam dalam keadaan Terhina” (QS:Al-ghofir / Al-Mukmin :40)
Bahkan, Mendatangi DUKUN atau yang Sejenisnya termasuk Kesyirikan. Barang Siapa yang mendatangi DUKUN, PARA NORMAL, PENYIHIR, PESULAP, PERAMAL dan bertanya tentang sesuatu hal yang menjadi Permasalahanya kepada MEREKA, Maka Ia ( yang bertanya ) Shalatnya tidak di Terima oleh Allah 40 Hari 40 Malam, Barang siapa MEMBENARKAN Apa yang di katakan MEREKA berarti ia
( yang bertanya Lalu MEMBENARKAN itu ) telah Ingkar kepada Ajaran yang di bawa oleh Muhammad Shallallahu’alaihi wa sallam, dan Siapa Saja yang Mendatangi Kuburan Para Nabi, Kuburan Para Wali, Kuburan Para Kyai, Kuburan Para Ustadz Untuk Berdoa, Meminta BERKAH, REZEKI, JODOH, dan KEKAYAAN, di sana ( di Kuburan tersebut), Berarti ia telah berbuat seperti perbuatan orang YAHUDI dan NASHRANI. Ketahuilah Wahai Saudaraku ! Inilah perbuatan-perbuatan Syirik yang di ancam pelaku-pelakunya dengan Ancaman yang sangat berat, dan di Murka dengan Murka Yang sangat Dahsyat, Bahkan di Ancam Apabila perbuatan Tersebut Memasukan Pelakunya Kepada SYIRIK BESAR, dengan Ancaman NERAKA Selama-lamanya yang ia Tidak akan pernah Keluar daripadanya (Neraka). ( Na’uudzu billah Min Dzalik)
Bahkan, SYIRIK juga tidak terhenti sampai di sini, ada juga SYIRIK dalam KETAATAN, yang di namakan Syirik, Bukan Sekedar Sujud Kepada Patung, matahari, pohon ,kuburan, Batu-batuan, Jimat-jimat dan lain sebagainya, Bahkan menta’ati pendapat ulama atau mengikuti pendapat mereka ketika kita mengetahui bahwasanya pendapatnya salah dalam berijtihad, maka ini termasuk ke dalam kategori syirik, yang kita mengetahui bahwasanya dosa syirik itu dosa yang paling besar dari dosa-dosa yang besar, dosa yang tidak akan pernah di ampuni oleh Allah ta’aala jika pelakunya meninggal sedang ia belum bertaubat. Sebagaimana Firman Allah ta’aalaa : Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa SYIRIK, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (SYIRIK) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.(QS Annisa : 48). Lain Halnya Apabila Kita Tidak mengetahui Bahwasanya Pendapat Ulama tersebut SALAH, Lalu Kita Melakukannya, Ketahuilah Wahai Saudaraku ! Orang yang tidak Mengetahui atau orang yang Jahil atau orang yang Bodoh itu Terbagi kepada 2 Bagian : Yang Pertama, Orang yang Tidak Mengetahui atau orang yang Bodoh akan tetapi Ia Mau Belajar atau Mau Mencaritahu kebenaran, INSYA ALLAH akan di ampuni oleh Allah Ta’aalaa, Walaupun Ia Tersalah dalam Memilih, Yang Kedua adalah Orang yang Tidak mengetahui atau orang Bodoh akan tetapi tidak mau Belajar atau tidak ada Niat dalam Hatinya untuk menghilangkan kebodohan dalam dirinya untuk mencari KEBENARAN, Maka orang seperti ini Di bawah Kehendak Allah Ta’aalaa, Jika DIA berkehendak DIA (Allah) akan Menyiksanya, Jika Berkehendak, DIA (Allah) akan mengampuninya, Ketahuilah ! Bahwasanya orang yang kedua ini termasuk orang yang SOMBONG dan TAKABBUR. Mengapa ! Karena Sudah tahu ia tidak mengetahui, akan tetapi ia tidak mau Berusaha untuk menghilangkan KETIDAKTAHUAN dalam dirinya, Serta merasa Cukup dengan ILMU yang Di Milikinya. Oleh karena itu, Orang Yang tidak Mengetahui Terhadap Ilmu Agama WAJIB Baginya Menuntut Ilmu AGAMA ( Dimanapun Tempatnya Ia Harus Mencarinya ), agar ia Dapat Mengetahui Bagaimana Tatacara ia Beribadah kepada Allah, Agar ia Mengetahui Mana TAUHID dan Mana SYIRIK, Mana SUNNAH dan Mana BID’AH. Mana Yang HALAL dan Mana Yang HARAM. DanJuga agar ia Mengetahui ManaYang BENAR danMana Yang SALAH. Maka dari itu, Apabila Kita Mengetahui Bahwasanya Pendapat Ulama tersebut Jelas-Jelas Menyelisihi Alquran dan Assunnah atau SALAH, Setelah kita pelajari bahwa Pendapat tersebut Memang Benar-benar SALAH Lalu kita Tetap Sahaja Bersikeras Mengikuti Hawa nafsu, Mengikuti Ulama tersebut atau Ustadz tersebut, Berarti sama saja Kita Membuang Alquran dan Sunnah Jauh-jauh, Tidak mau mempelajarinya dan mengikuti Pendapat Ulama tersebut atau Ustadz tersebut Dengan MEMBABI BUTA.Wahai Saudaraku ! Bagaimana Kita BISA Mengetahui pendapat Ulama tersebut itu SALAH atau BENAR Jikalau kita tidak Pernah belajar Agama atau Menuntut Ilmu Agama, yang kita perhatikan hanyalah masalah DUNIA!. Ketahuilah Wahai Saudaraku, Ulama itu terbagi kepada 2 Macam ? Yang Pertama, Ulama yang Benar dan Yang Kedua, Ulama Suu’ (Buruk ), Ketahuilah Wahai Saudaraku ! Ulama Pertama itu adalah Ulama Ahlussunnah Sedangkan Ulama yang Kedua adalah Ulama Ahlul Bid’ah, Adapun Ulama Ahlussunnah Apabila Berijtihad maka ada 2 kemungkinan, Bisa SALAH Bisa Juga BENAR Ulama Ahlussunnah tersebut tidaklah SALAH dalam menjelaskan akan tetapi kitalah yang SALAH dalam MENGAMALKAN (Artinya Mengikuti pendapat Seseorang atau Ulama dengan Membabi Buta atau hanya mengikuti IJTIHAD Ulama tanpa harus meneliti apakah pendapatnya sesuai atau tidak dengan Alquran dan Sunnah) kita mengetahui Bahwasanya Ulama tersebut sudah berijtihad (artinya mengerahkan seluruh kemampuannya untuk mencari kebenaran dengan Sebenar-benarnya) dan kita Juga mengetahui bahwasanya Manusia itu SEMUANYA Bisa BENAR dan juga Bisa SALAH, dan kita Juga Mengetahui Bahwasanya IJTIHAD itu ada yang BENAR dan ada yang SALAH, Jikalau kita mengikuti yang BENAR berarti kita MENTAATI Allah Ta’aalaa,
Jika TIDAK ! Di Khawatirkan Kita Masuk ke dalam perbuatan yang di Haramkan oleh Allah dan RasulNya, Adapun yang kedua yaitu Ulama Suu’(Ulama Buruk), ia ( Ulama Tersebut ) Juga Mempunyai Ijtihad atau Fatwa, apabila Ijtihad Tersebut BENAR di Bolehkan bagi Kita Mengikuti kebenaran Yang keluar dari Lisannya ( Ulama Buruk itu ), Bahkan Bisa WAJIB bagi kita untuk mengikutinya, Akan Tetapi apabila kita mengetahui bahwasanya Ijtihadnya Salah Lalu kita menta’atinya dengan Mencampakkan Alqur’an dan Suunnah BERARTI Kita telah Ikut Andil Menghalalkan apa yang Allah Ta’aala Haramkan atau Mengharamkan yang Allah Ta’aalaa Halalkan Apabila Sudah Seperti demikian Jadinya Ini BERARTI kita MENYEKUTUKAN Allah Ta’aalaa dalam Hal KETAATAN kepada-NYA.
Ketahuilah wahai saudaraku, “SESUNGGUHNYA LADANG IJTIHAD ITU HANYA ADA DALAM HAL-HAL YANG SIFATNYA FURU’IYYAH ATAU CABANG(SEPERTI FIQH), ADAPUN TENTANG MASALAH AQIDAH(POKOK) TIDAK ADA SEORANG PUN YANG BERHAK MELAKUKAN IJTIHAD KECUALI APA YANG TELAH DIJELASKAN ALLAH DAN RASUL-NYA DALAM AL QUR’AN DAN AS SUNNAH”.
Adapun ulama yang tersalah, jika ia berdosa (akibat kesalahan karena berijtihad). Insya Allah, Allah akan mengampuni dosanya. Sebab, beliau (ulama tersebut) telah mencurahkan segala pemikirannya untuk mencari kebenaran (dalam masalah Fiqh atau dalam berfatwa), Jika ulama itu, benar, ia (ulama itu) mendapatkan 2 pahala, jika salah maka mendapat 1 pahala. Pada umumnya banyak orang awam, mengambil dalil ini atau hadits ini untuk memperkuat pendapatnya atau bid’ahnya, Padahal Para Imam sangat mencela sekali akan adanya bid’ah (apakah itu bid’ah yang baik ataupun buruk). Dan banyak pula orang menisbatkan (menuduh), bahwa yang melakukan kebid’ahan itu adalah para sahabat, tabi’iin, tabii’u-ttabi’iin serta aimmatul hudaa (para Imam, khususnya imam 4 yang masyhur di kalangan kaum muslimin), sehingga banyak di antara mereka yang melakukan bid’ah tersebut tanpa harus mengkaji dari mana asal bid’ah tersebut. Padahal mereka semua (para shahabat, tabiin, dan para imam 4 yang masyhur) sangat takut menyelisihi Rasulullah dalam hal-hal yang baru dalam agama (bid’ah), karena mereka mengetahui bahwasanya Binasanya orang-orang terdahulu akibat menyelisihi Nabi-nabi mereka. Apakah dalam hal penentangan ataupun dalam hal mengada-adakan dalam agama (bid’ah). Bahkan semua Para ulama mengatakan : jika ada pendapatku yang menyelisihi Alqur’an dan Alhadits, maka tinggalkan pendapatku.
Diantara mereka yang mengatakan seperti itu adalah para imam Ahlussunnah wal jama’aah yaitu Imam As Syafi’i . Imam Malik dan Imam Abu hanifah, serta Imam Ahmad bin Hambal :
PRINSIP DALAM FIQIH MEREKA ADALAH
1. Al imam As Syafi’i, berkata setiap orang harus Bermadzhab kepada Rasulullah shallallohu’alaihiwasallam dan mengikutinya. Apapun pendapat yang aku (syafi’i) katakan atau Sesuatu yang aku katakan itu berasal dari Rasulullah shallallohu’alaihiwasallam padahal berlawanan dengan pendapatku, apa yang di sabdakan Rasulullah shallallohu’alaihiwasallam itulah yang menjadi pendapatku.(HR.Hakim dengan sanad bersambung kepada imam As syafi’i seperti tersebut dalam kitabTarikh Damsyik karya Ibnu ‘Asakir (XV/1/3), I’lam Almuwaqqi’in (II/363-364), Al-iqozh hal 160).
• As Syafi’i berkata, “Semua hadits yang shahih dari Nabi shalallahu a’laihi wassalam maka itu adalah pendapatku meskipun kalian tidak mendengarnya dariku.”(Ibnu Abi Hatim hal 93-94).
• As Syafi’i mengatakan, “Jika hadits itu shahih itulah Madzhabku”(An-Nawawi, dalam Al-Majmu’).
2. Imam Malik Rohimahullah, berkata saya hanyalah seorang manusia biasa, terkadang salah, terkadang benar. Oleh karena itu, telitilah pendapatku, apabila sesuai dengan Al qur’an dan Sunnah, Ambillah; dan apabila tidak sesuai dengan Al qur’an dan As sunnah, tinggalkanlah (Ibnu ‘Abdil Baar dan dari ia Ibnu hazm dalam kitabnya Ushul Al Ahkam (VI/149)).
• Imam Malik Rohimahullah, berkata siapapun perkataannya bisa di tolak dan bisa di terima kecuali hanya Nabi shallallahu’alaihiwsallam sendiri. (di kalangan Ulama Mutaakhiriin hal ini masyhur (terkenal) di nisbatkan (di sandarkan) kepada Imam Malik dan di nyatakan shahihnya oleh Ibnu ‘Adil Hadi dalam kitabnya Irsyad As-salik, di riwayatkan juga oleh Ibnu ‘Abdil Baar dalam kitab Al jamii’ (II/291), Taqiyyudin menyebutkan dalam kitab Al Fatawa dari ucapan Ibnu ‘Abbas karena ia merasa takjub dengan kebaikan ucapan itu ia berkata : ucapan ini diambil oleh Mujahid (tabi’iin) dari Ibnu ‘Abbas (sahabat), lalu Imam Malik mengambilnya dari perkataan mereka, kemudian orang-orang mengenalnya dengan perkataan beliau sendiri yaitu Imam Malik).
3. Imam Abu hanifah (nu’man bin tsabit), berkata tidak halal bagi seseorang mengikuti perkataan kami, apabila ia tidak tahu dari mana kami mengambil sumbernya, pada riwayat lain di katakan orang yang tidak mengetahui dalilku (hujjahku), haram baginya menggunakan pendapatku untuk memberikan fatwa, pada riwayat lain di- tambahkan “ kami hanya seorang manusia, hari ini kami berpendapat demikian tetapi besok kami mencabutnya, pada riwayat lain dikatakan (di sebabkan imam ini sering mendasarkan pendapatnya pada Qiyas, karena ia melihat qiyas itu lebih kuat (kemudian setelah itu datanglah Hadits Nabi yang belum datang kepada beliau) lalu ia mengambil Hadits tersebut, lalu ia tinggalkan pendapatnya yang terdahulu.” Sya’rani dalam kitab Al-Mizan(1/62)).
4.Ahmad bin hambal, berkata janganlah kalian Taklid (mengikuti pendapat membabi buta) kepadaku, Malik, Syafi’i, Auza’i, dan Atsauri, tetapi ambillah dari sumber mana mereka mengambil. (Al-filani hal 113 dan Ibnul Qoyyim dalam Al ‘I’lam hal 302).
Inilah sebagian perkataan Ulama yang mereka berprinsip dalam Bidang Fiqh, Apalagi dalam hal-hal yang terkait dalam masalah AQIDAH, jelas mereka akan mengembalikannya (Aqidah itu) kepada Alqur’an dan Assunnah, dan masih banyak lagi perkataan para ulama yang semisal dengan mereka. Mereka mengatakan seperti itu agar semua orang itu mengetahui bahwasanya mereka (para imam itu) tidak pernah menganggap dirinya merasa paling benar dan terbebas dari kesalahan, para imam Ahlussunnah itu hanyalah manusia biasa yang tidak pernah luput dari dosa sehingga semua para ulama mengatakan seperti apa yang telah mereka katakan.
Oleh karena itu, semua Para Imam (Khususnya, Imam Asyafi’i, Malik, Abu hanifah, dan Ahmad bin hanbal ) akan berlepas diri dari semua orang yang hanya mengikuti atau bertaklid buta atas pendapat-pendapat mereka yang keliru (salah) pada hari kiamat kelak atau mengikuti yang mudah-mudah sahaja dari pendapat mereka.
Maka dari itu Bukan berarti, kita tidak boleh mengikuti Para Imam, yang tidak di perbolehkan adalah mengikuti salah seorang di antara mereka dengan membabi buta dan mencampakkan Para Imam yang lainnya tanpa mengetahui sejauh mana kebenarannya. Yang benar adalah, kita Bedah/BukaSemua kitab para ulama, dan kita pelajari kemudian kita Ambil mana di antara mereka yang sesuai dengan kitab Al qur’an dan Sunnah, tentunya dengan penjelasan Ahli ilmu (agama) yang benar-benar mengetahui tentang Alqur’an dan seluk beluk hadits (yang bisa membedakan mana hadits shahih dan mana hadits dhoif, maudhu atau mungkar atau lainnya, tidak terkenal pendusta, dan tidak fanatik dengan kelompok, golongan atau madzhab tertentu) dan Ulama-ulama yang benar-benar menegakkan sunnah sesuaipemahaman para sahabat Radhiallahu’anhum jamii’an, bukan menurut pemahaman individu (orang awwam atau orang yang tidak mengetahui Ilmu hadist beserta syarat dan kaidahnya). Apabila kita tidak mengambil penjelasan dari para ulama! Dari mana lagi kita akan mendapatkan penjelasan! Sebab mereka itu adalah Pewarisnya para nabi. sehingga mereka menjelaskan (dengan segenap kemampuan mereka) dan dengan merekalah sunnah Nabi shallallahu’alaihiwasallam berjalan dan karena penjelasan dari merekalah kita mengetahui. Oleh karena itu seseorang boleh mengikuti pendapat ulama, jika pendapatnya (ulama itu) sejalan dengan Alqur’an dan Assunnah sesuai dengan pemahaman para shahabat Radhiallahu’anhum jamii’an, adapun yang salah (menyelisihi Alqur’an dan As sunnah) kita tinggalkan, “DAN KITA MENDO’AKAN UNTUK MEREKA AGAR DI AMPUNI KESALAHAN MEREKA BUKAN MENGHINA ATAU MENCACI SALAH SEORANG DI ANTARA MEREKA” dan adapun yang benar (yang berdasarkan Kitab dan Sunnah sesuai pemahaman para Shahabat radiallahu’anhum) kita amalkan, sebab jika kita mengikuti yang benar, berarti kita telah mengikuti Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam, sedangkan jika kita mengikuti pendapatyang salah dari ulama (tersebut), berarti kita telah menyekutukan Allah dalam hal pengesahan Halal dan Haram (penghalalan dan pengharaman). Hal ini sangat berbahaya sekali, yang kebanyakan Orang Awwam itu tidak mengetahui hakekat perkara ini.
Tatkala Rasulullah shallallahu ’alaihi wassalam membacakan ayat: “Mereka menjadikan orang-orang Alimnya dan Rahib-rahib mereka sebagai Tandingan (tuhan) selain Allah.” (At-Taubah: 31). Sahabat Adi bin Abi Hatim radhiallahu ‘anhu yang pada waktu itu baru masuk Islam menyanggah: “kami itu Tidaklah menyembah mereka”. Maka Rasulullah shallallahu ’alaihi wassalam menjawab: “Bukankah mereka mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Allah lalu kalian pun ikut mengharamkannya, dan bukankah mereka menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah lalu kalian pun ikut menghalalkannya?” Maka Adi bin Abi Hatim radhiallahu ‘anhu pun menjawab: “Benar”. Rasulullah shallallahu ’alaihi wassalam berkata: ”Itulah peribadahan kepada mereka”. Lalu sekarang, betapa banyak kaum muslimin yang mereka ikut menghalalkan yang semestinya haram dengan landasan hawa nafsu atau taklid (ikut-ikutan)? Na’udzu billah.

Syirik tidak hanya terbatas pada amalan badan, namun juga amalan HATI dan LISAN. Allah berfirman: “Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah.” (Al Baqoroh: 165).
Bahkan ¡ Riya (Ingin di puji Masyarakat), Sum’ah (Ingin di dengar Masyarakat), ‘Ujub (Merasa Bangga dengan dirinya atau merasa bangga dengan Ilmunya Merasa Cukup dengan Kekayaannya) itu semua masuk dalam kategori SYIRIK.
Dalam sebuah hadits qudsi Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
قال الله تبارك وتعالى : أنا أغنى الشركاء عن الشرك من عمل عملا أشرك فيه معي غيري تركته وشركه
Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa berfirman : “Aku Dzat yang paling tidak membutuhkan sekutu. Barang siapa yang beramal dengan menyekutukan Aku, maka Aku tinggalkan dia dan Sekutunya.” (HR Imam Muslim no 2985).
Dan Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam juga telah bersabda :
إن أخوف ما أخاف عليكم الشرك الأصغر قالوا يا رسول الله وما الشرك الأصغر قال الرياء إن الله تبارك وتعالى يقول يوم تجازى العباد بأعمالهم اذهبوا إلى الذين كنتم تراءون بأعمالكم في الدنيا فانظروا هل تجدون عندهم جزاء
“Sesungguhnya yang paling saya (Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam) takutkan pada kalian adalah SYIRIK KECIL” Para sahabat bertanya : “Apa yang dimaksud SYIRIK KECIL itu?” Beliau menawab : “Riya`” Sesungguhnya Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa berfirman pada hari semua amal hamba dibalas (hari kiamat) : “ Datangilah orang yang dulu kalian tunjukkan amal (RIYA) kalian padanya di dunia, lihatlah apakah kalian mendapatkan balasan dari mereka.” (HR Ahmad no 22742 dan Al Baghawi. Syekh Al Albani berkata : sanadnya baik (jayyid) (lihat Silsilah Hadits Shahihah no 951)
Abu Umamah al Bahiliy melihat seorang lelaki di dalam masjid sedang menangis ketika sujud, kemudian beliau berkata : “Anda, seandainya ini anda lakukan di rumah anda (tentu lebih baik).”

…………..Apabila seseorang telah beriman kepada keberadaan-Nya, Rububiyyah-Nya, Uluhiyyah-Nya, maka mengharuskan ia beriman kepada Asma wa sifat (Nama-nama dan Sifat-Nya yang Agung), Karena TAUHID itu di bagi menjadi 3 BAGIAN yaitu Rububiyyah, Uluhiyyah, dan Asma Wa Sifat. Dan Setiap Manusia wajib Beriman kepada 3 TAUHID ini. Dan iman seseorang itu belum dikatakan lurus, sebelum ia beriman kepada Tauhid Al Asma wa sifat (Nama dan Sifat Allah) ini, sebagaimana yang insya Allah akan di jelaskan Berikut ini.

IV. IMAN KEPADA ASMA WA SIFAT allah.

(TAUHID ASMA WA SIFAT ) ATAU NAMA DAN SIFAT allah.

Di antara kandungan iman kepada Allah tabaaroka wa ta’aala yang keempat adalah iman kepada NAMA dan SIFAT-SIFAT Allah tabaaroka wa ta’aala yaitu iman kepada Tauhid Asma wa sifat yang artinya menetapkan NAMA dan SIFAT-SIFAT bagi Allah, yang NAMA dan SIFAT-SIFAT itu telah Allah tetapkan untuk dirinya sendiri yang layak bagi Allah sesuai dengan keagungan-Nya baik dalam kitab-Nya maupun dalam sunnah rasul-Nya tanpa (jangan) tahrif (menyimpangkan makna), ta’til (menghilangkan makna), takyiif (membicarakan bagaimana hakekatnya), dan tamtsil (menyerupakan dengan makhluk). Inilah kaidah-kaidah Ahlussunnah wal jamaa’ah dalam menetapkan Asma’ wa sifat Allah ta’aala.

Sebaiknya 4 kaidah ini, wajib atau harus di hafal terlebih dahulu sebelum melanjutkan ke pembahasan berikutnya, dan selain kaidah ini, kita juga harus mengetahui kaidah berikut ini ”TIDAK SEMUA SIFAT ITU MENGANDUNG NAMA UNTUK ALLAH AKAN TETAPI SUDAH MENJADI KEPASTIAN BAHWA SETIAP NAMA ITU MENGANDUNG SIFAT) karena hal ini sangat penting sekali agar tidak terjadi kesalah-pahaman.

Contohnya: Arrohman dan Arrohiim dalam ayat ini terkandung nama dan juga sifat Allah subhaanahu wa ta’aala, contoh lainnya Al-‘aliim (Maha mengetahui), As-samii’ (Maha mendengar), Al-hayyu (Maha Hidup), Al-qoyyum (Maha Berdiri Sendiri), Al-Maliik (Maha Memiliki), Al-qowiyyu (Maha Kuat), Al-‘aziiz (Maha Perkasa), Al Mutakaabbir (Yang Maha Agung), didalam Nama-Nama tersebut terkandung Nama sekaligus Sifat untuk Allah subhaanaahuwata’aalaa. Dan di dalam Al Qur’an dan Al Hadits Allah mensifatkan diriNya dengan Al ’Ainaini (Dua Mata), kedua mata tersebut Allahlah yang telah mensifatkan diriNya dengan kedua mata itu dan ini (kedua mata itu) termasuk Sifat Allah Yang Maha Agung, akan tetapi bukan Nama-Nya (karena sesuai dengan kaidah “tidak semua sifat yang ada di Al qur’an dan Al-hadits itu mengandung Nama untuk Allah dan sudah menjadi kepastian bahwa setiap Nama itu mengandung Sifat untuk Allah”), karena Allah subhaanahu wa ta’aala telah menjelaskan kepada kita di dalam Alquran, dan juga Rasulullah telah memberitahukan kepada kita seperti DEMIKIAN, dalam haditsnya dan sunnahnya, kewajiban kita adalah MEMBIARKAN apa adanya, karena hal itu datangnya dari SISI Allah yang Maha Mengetahui atas diri-Nya.

Sebagaimana Firman Allah ta’ala Tentang SIFAT (kedua mata-Nya): “Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Tuhanmu, maka sesungguhnya kamu berada dalam mata-mata (Al-a’yuninaa) Kami….”,(QS Ath-thuur: 48)

Dan juga didalam hadits Rasulullah shallahu’alaihiwasallam : “ Sesungguhnya Allah ta’aalaa tidaklah buta, Ketahuilah, bahwa sesungguhnya Almasih Ad-dajjal itu buta sebelah mata kanannya. Seakan-akan matanya itu sebuah biji yang menonjol” (HR.Muslim)

Dan juga di dalam Al Qur’an, Allah mensifatkan diri-Nya dengan Al-wajhu (Wajah), sebagaimana Firman Allah ta’ala : ”Dan tetap kekal Wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan”,(QS.Ar Rahmaan : 27)

Bahkan, di dalam Al Qur’an Allah mensifatkan diri-Nya dengan yad (tangan). ”…apakah yang menghalangi mu (hai iblis) untuk sujud kepada (adam) yang telah Aku ciptakan dengan kedua tangan Ku.

Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya (QS.Az-Zumar : 67)

Dan juga di dalam Al Qur’an, Allah mensifatkan diri-Nya dengan Kalam (Firman) :

“dan Allah telah berfirman langsung kepada Musa dengan sebenar-benarnya.” (Surah An-Nisa:164).

“Dan tatkala Musa datang untuk memenuhi waktu yang telah kami janjikan kepadanya dan Tuhannya berfirman langsung kepadanya..”(Al-A’raf:143).

“Dan bila salah seorang dari kalangan musyrikin minta perlindungan kepadamu, maka lindungilah dia sampai dia mendengarkan ucapan Allah ( KALAAMULLAH)” (At Taubah : 6)

Ini semua (Wajah, Mata, Tangan, Kalam) adalah SIFAT-SIFAT Allah ta’aala yang maha tinggi bukan nama-Nya yang tidak BOLEH di tahrif (menyimpangkan makna), ta’til (menghilangkan makna), takyiif (membicarakan bagaimana hakekatnya), dan tamtsil (menyerupakan dengan makhluk). Jadi, Tidak boleh ”tangan” disini di tahrif (merubah maknanya) tangan menjadi kekuasaan, atau di ta’til (di hilangkan ma’nanya) takut serupa dengan makhluk maksudnya, akan tetapi malah kebablasan, atau mentakyiif (membagaimanakan atau menanyakan bagaimana tangan-Nya) membicarakan hakekat tangan tersebut, atau mentamtsil (menyerupakan dengan makhluk). Begitu juga dalam masalah Alquran, Alquran adalah Kalamullah ( Firman Allah )Bukan Makhluk.Alquran adalah KALAM ALLAH sedangkan KALAM ALLAH itu Sifat ALLAH sedangkan sifat ALLAH itu bukanlah MAKHLUK. Hukum seseorang yang berpendapat bahwa Al Qur’an adalah MAKHLUK, dianggap sebagai AHLUL BID’AH yang sesat Bahkan SEBAGIAN ULAMA ada yang MENGKAFIRKAN orang yang mengatakan Al Qur’an adalah MAKHLUK.

Mengapa ! Di karenakan hal tersebut menyangkut masalah Aqidah yang tidak bisa di- tetapkan kecuali melalui Al Qur’an dan As sunnah, dan di sebabkan juga yang lebih mengetahui tentang Allah adalah Allah Sendiri sedangkan makhluk tidak mempunyai pengetahuan tentang nama dan sifat Allah, karena hal ini termasuk hal ghaib yang tidak ada yang mengetahuinya (nama dan sifat Nya) kecuali Allah tabaaroka wa ta’aala , oleh karena itu untuk mengetahui nama dan sifat Allah, jelaslah harus melalui apa yang telah Allah jelaskan di dalam kitab-Nya serta penjelasan Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam di dalam sunnahnya, Sehingga KITA tidak BOLEH Menafsirkannya atau Meniadakan Maknanya atau Membagaimanakan Hakekatnya , atau Menyerupakan dengan Makhluk-NYA, Akan Tetapi yang WAJIB bagi KITA adalah MEMBIARKAN Apa Adanya Sebagaimana DATANGNYA yaitu MENGIMANINYA. Sesungguhnya MAKNA yang benar tentang makna ”tangan” yang di sebutkan di dalam ayat di atas yaitu tetapkanlah atau Biarkanlah makna “Yad” (tangan) itu adalah ”tangan”, tanpa (jangan) di tahrif (merubah ma’na), ta’til (menghilangkan ma’na), takyiif (menanyakan bagaimana) dan tamtsil (sengaja menyerupakan dengan makhluk-Nya), Di karenakan Allah telah berfirman dengan lafaz ”yad” di dalam kitab Nya yang makna asalnya adalah ”tangan”. Hanya saja tidak boleh kita menggambarkan atau membayangkan atau membagaimanakan sifat ”tangan” tersebut, yang wajib bagi kita adalah membiarkan apa adanya sesuai dengan apa yang datang dari Allah dan rasul-Nya tanpa tahrif (merubah ma’na), ta’til (menghilangkan ma’na), takyiif (menanyakan bagaimana) dan tamtsil (sengaja menyerupakan dengan makhluk Nya).

Karena Allah berfirman : tidak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya dan Dialah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS Assyu’ara :11).

Oleh karena itu, kita tidak boleh menetapkan NAMA-NAMA dan SIFAT-SIFAT Allah subhaanahu wa ta’aala yang tidak di tetapkan atau tidak di jelaskan oleh Allah subhaanahu wa ta’aala Sendiri di dalam Al Qur’an dan di dalam As sunnah (hadits) Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam. Misalkan : sesungguhnya Allah itu wujud, qidam, baqoo, mukholafatullilhawadits, dan seterusnya sampai tiga belas atau dua puluh.

Hal atau sifat tersebut tidak boleh di peruntukkan bagi Allah subhaanahu wa ta’aala, di karenakan wujud, qidam, baqoo, mukholafatullilhawadits, itu tidak ada sama sekali di dalam Al Quran dan As sunnah Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam, bahkan yang membuat sifat-sifat yang 20 adalah manusia yaitu (Abul hasan Al ’Asy ’arii) sedangkan beliau sendiri sudah bertaubat atau merujuk Aqidah beliau kepada Aqidah Ahlussunnah wal jama’ah., dengan menulis Kitab Al-Ibanah A’n-Usuuliddiyaanah. Sedangkan yang ada atau yang benar dalam Alqur’an selain dari yang di sebutkan tadi (wujud, qidam ,baqoo, dll) adalah Firman Allah Ta’aalaa :

” Dialah yang Awwal , dan Yang Akhir, dan Yang Dzahir, dan Yang Bathin”(QS.Al-Hadid:3).

Dan sungguh Rasulullah telah menafsirkan 4 nama ini dengan tafsir yang ringkas, yang mencakup dan jelas. Nabi shallllahu’alaihiwasallam bersabda:

”Engkaulah Yang Awal, maka tidak ada sesuatu sebelum-Mu. Engkaulah Yang Akhir, maka tidak ada sesuatupun sesudah-Mu, Engkau Yang Tampak, maka tidak ada sesuatupun di atas-Mu. Engkau Yang Tersembunyi, maka tidak ada sesuatupun di bawah-Mu”

(HR.Muslim (No.2713), At tirmidzi (No.3397),Abu Daud (No.5051), Ahmad (11/381-404), Al Baihaqi dalam kitab asma wa sifat (hal 34 dan 226) dari hadits Abu Hurairah).

Kata Awwal menunjukkan kepada Allah itu Azali (yang ada sebelum sesuatu itu ada), kata Akhir menunjukkan pada Tetap dan Abadinya Allah. Kata Zhahir menunjukkan pada Tinggi dan Agungnya Allah. Kata Bathin menunjukkan kepada Dekat dan Bersamanya Allah. (syarah khalil harras, hal. 89).

Jika kita hanya membatasi nama dan sifat Allah hanya sebatas 13 nama dan sifat atau 20 NAMA dan SIFAT Allah, maka bagaimana dengan sifat Allah yang sembilan puluh sembilan serta NAMA dan SIFAT yang lainnya (selain dari 99 nama dan sifat Nya). Oleh karena itu sifat-sifat yang telah di sebutkan di atas (wujud, qidam, baqoo, mukholaftullilhawadits, wahdaniiyyah, qudrah, iradah, dan lain sebagainya) itu BATIL ATAU SALAH. Nama-nama dan sifat-sifat Allah subhaanahu wa ta’aala itu tidak TERBATAS sehingga kita tidak boleh membatasinya kecuali dengan berdasarkan Al qur’an dan Sunnah.

Di dalam Al quran Allah subhaanahu wa ta’aala berfirman : ”Hanya milik Allah asma’ul husna (nama-nama yang baik bagi Allah ta’ala) ,maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asma’ul husna(nama-nama yang baik) itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Kelak mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (QS Al A’raf : 180) dan di dalam hadits Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam di sebutkan : sesungguhnya Allah itu mempunyai sembilan puluh sembilan nama siapa yang menghitungnya (menghafal dan mengamalkan sesuai dengan konsekwensinya) akan masuk syurga.(HR.Muslim).

Adapun para shahabat, tabi’in, tabi’ut at-tabi’in dan semua para ulama Ahli Sunnah wal Jama’ah menempuh metode yang sama dalam menetapkan Nama dan Sifat Allah yaitu MEMBIARKAN apa adanya tanpa tahrif (merubah makna), ta’til(menghilangkan makna), takyif (membagaimanakan) dan tamtsil (menyerupakan) diantaranya :

(1). Imam al-Auza’ii yang dianggap Imam ahli Syam di zamannya. Beliau telah menegaskan: “Kami dan para Tabi’in semuanya menetapkan dengan kesepakatan qaul (perkataan) kami Bahwa: Sesungguhnya Allah di atas ‘Arasy-Nya dan kami beriman dengan apa yang telah di- nyatakan oleh Sunnah berkenaan SIFAT-SIFAT Allah Taala”.[1]

(2). Imam Abu Hasan Al-Asy’ari rahimahullah( yang dahulunya berpemahaman Mu’tazilah, As’ariyyahkemudian merujuk kepada Aqidah ahlussunnah wal jama’ah), yang dikenali sebagai Imam Ahli sunnah wal-Jamaah, beliau telah menegaskan bahwa Al Qur’an Bukan Makhluk dan di turunkan oleh Allah yang berada di langit dan beliau seterusnya menjelaskan: “Allah mempunyai SIFAT, mempunyai tangan, bersemayam di atas ArasyNya dan mempunyai wajah. Al Qur’an itu Kalamullah bukan makhluk dan Al Qur’an diturunkan dari langit”.[2]

(3). Imam As-Syafi’i rahimahullah menjelaskan (sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abi Talib setelah beliau ditanya tentang sifat Allah): “Dan bagi-Nya dua tangan sebagaimana firman-Nya: (Tidak demikian), tetapi kedua-dua tangan Allah terbuka (QS.Al Maidah: 64). sebagaimana firman-Nya: Dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Allah mempunyai wajah sebagaimana firman-Nya: Setiap sesuatu akan binasa kecuali Wajah-Nya (QS.AR-Rahman: 27). Bagi-Nya kaki sebagai sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: Neraka Jahannam masih saja di isi (dengan penghuninya), maka ia (Neraka) senantiasa mengatakan: “Masih adakah Tambahan?”Sehingga Rabbul Izzah (Dia) meletakkan Kaki-Nya dalam riwayat lain- meletakkan telapak kaki-Nya di atasnya, maka sebagiannya merapat kepada sebagian yang lainnya. Lalu ia (Neraka) itu berkata: “cukup….cukup”(Muttafaq’alaih).

Dia Mempunyai Jari sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: Tiadalah hati itu kecuali antara jari-jari dari jari-jari Ar-Rahman (Allah). Kami menetapkan sifat-sifat ini dan menafikan (meniadakan) dari menyerupakan sebagaimana dinafikan (di tiadakan) sendiri oleh Allah sebagaimana Firman-Nya: (Tiada sesuatu yang serupa denganNya dan Dia Maha Mendengar dan Maha Melihat)”.[3]

Beliau (Imam Syafi’i) seterusnya menjelaskan: “Dan Allah Ta’ala di atas ‘Arasy-Nya (Dan ‘Arasy-Nya) di langit”.[4]

Imam Syafi’i seterusnya menjelaskan lagi: “Kita menetapkan SIFAT-SIFAT (Allah) sebagaimana yang didatangkan oleh Al Qur’an dan yang warid tentang-Nya dari sunnah, kami menafikan (meniadakan) tasybih (penyerupaan) tentang-Nya karena telah dinafikan (di tiadakan) oleh diri-Nya sendiri sebagaimana firman-Nya (Tiada sesuatu yang serupa dengan-Nya)”.[5]

Imam Syafii telah menjelaskan juga tentang turunnya Allah: “Sesungguhnya Dia (Allah) turun setiap malam ke langit dunia (sebagaimana) menurut khabar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam”.[6]

Imam Asyafi’i berlandaskan kepada sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Tuhan kita turun ke langit dunia pada setiap malam apabila sampai ke satu pertiga dari akhir malam, maka Ia berfirman: siapa yang berdoa akan Aku perkenankan, siapa yang meminta akan Aku tunaikan dan siapa yang meminta Keampunan akan Aku Ampunkan”.[7]

(4). Abdullah bin al-Mubarak rahimahullah ketika ditanya tentang bagaimana kita mengetahui di mana Allah? Beliau menyatakan: “Ketika ditanyakan kepada Abdullah bin al-Mubarak: Bagaimana kita mengetahui di mana Tuhan kita? Beliau menjawab: Dengan mengetahui bahwa Dia di atas langit ketujuh di atas Arasy”.[8]

Sebagaimana firman Allah Ta’aalaa : Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arasy (QS.Al-a’raaf : 54)

Di sebuah hadits shahih, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengakui dan menerima penjelasan seorang hamba bahawa Allah itu di langit. “Berkata Muawiyah bin Hakam as-Sulami: Aku memiliki seorang hamba wanita yang menggembalakan kambing di sekitar pegunungan Uhud dan Juwainiyah. Pada suatu hari aku melihat seekor serigala menerkam dan membawa lari seekor kambing gembalaannya. Sedang aku termasuk seorang anak Adam kebanyakan. Maka aku mengeluh sebagaimana mereka. Oleh karena itu, wanita itu aku pukul dan aku marahi. Kemudian aku menghadap Rasulullah, maka Rasulullah mempersalahkan aku., Aku berkata: Wahai Rasulullah! Adakah aku harus memerdekakannya” Jawab Rasullullah: Bawalah wanita itu ke sini. Maka Rasulullah bertanya kepada wanita itu. Di mana Allah” wanita itu menjawab: Di langit. Rasullullah bertanya lagi: Siapa aku” Dijawabnya: Engkau Rasullullah. Maka Rasulullah bersabda: Merdekakanlah wanita ini, karena dia adalah seorang mukminah”.[9].

Dalam satu riwayat hadis mutaffaq ‘alihi, bahwa Allah itu “ad-Dahr” atau “masa”. “Janganlah kamu memaki ad-dahr (masa), karena sesungguhnya Allah itu adalah Masa”[10]

Adapun Seandainya ada di antara Ulama Ahlussunnah Yang menta’wil (Menafsirkan) Nama dan SIfat-Sifat Allah, tetaplah bagi KITA tidak Boleh Mengikuti Pendapat Ulama tersebut, Di Karenakan dalam Penta’wilan itu membutuhkan dalil (Petunjuk) yang Kuat dari Alqur’an dan Sunnah, bukan dengan Akal-akalan, Sedangkan Penta’wilan (Penafsiran) tanpa Dasar atau Dalil itu Bukanlah Hujjah dalam Agama, Apalagi Berbicara Masalah Nama dan Sifat Allah Ta’aalaa yang Bersifat AQIDAH, dalam hal Masalah FIQIH saja berbicara Tanpa Dasar Dalil saja Tertolak, Apalagi berbicara Masalah AQIDAH Yang Jelas-Jelas hal tersebut Masalah GHAIB (yang tidak bisa Di Tembus oleh PANCA INDRA) , jelas harus di kembalikan kepada Alquran dan As-Sunnah, karena kita bisa mengetahui Yang GHAIB hanya dari WAHYU ( Alquran dan Sunnah) sedangkan AKAL manusia tidak mengetahui sedikitpun tentang Masalah Yang GHAIB. Yang benar bagi kita adalah Mengimaninya, menetapkan Apa adanya sebagaimana datangnya Tanpa (Jangan) TAHRIF (Menyimpangkan Makna), TA’TIL (Meniadakan Makna ), TAKYIIF (Membagaimanakan Makna), TAMTSIL (Menyerupakan Makna dengan Makhluk) Karena kita Telah Mengetahui Bahwasannya Pendapat Ulama tersebut TERSALAH, BUKAN berarti kita harus Mencelanya atau Membid’ahkannya atau Bahkan Mengkafirkannya, Karena yang berhak Mengkafirkan Hanyalah Allah dan Rasul-Nya. Kewajiban kita adalah Mengikuti yang BENAR, Adapun kesalahan ULAMA tersebut kita MELURUSKANNYA Kemudian Memohonkan Ampunan Untuknya, Bukan Mencelanya.

Di dalam masalah Asma wa Sifat ini ada dua Kelompok ( 2 golongan ) yang menyimpang :

Mu’atthilah (Golongan yang mengingkari Nama dan Sifat Allah)

Yaitu golongan yang mengingkari nama dan sifat Allah subhanahu wa ta’ala baik sebagiannya (nama dan sifat-Nya) atau seluruhnya. Di antara golongan yang termasuk mu’atthilah yaitu kelompok Jahmiyyah (orang yang mengikuti pendapat jahm bin shofwan), mu’tazilah (orang yang mengikuti pendapat Wasil bin ’Atho), ’Asy ’Ariiyyah(orang yang mengikuti pendapat Abul Hasan Al ’Asy’arii). Alasan mereka adalah Apabila Allah subhanahu wa ta’ala mempunyai SIFAT, ini berarti Sifat Nya sama dengan SIFAT makhluk-Nya. Karena makhluk juga mempunyai SIFAT (itu kata mereka).

Misalnya, Allah mempunyai Tangan makhlukpun mempunyai Tangan, Allah mempunyai Wajah makhlukpun mempunyai Wajah, Allah mempunyai Mata makhlukpun mempunyai Mata. Oleh karena itu (kata mereka) kita mengingkari NAMA-NAMA dan SIFAT-SIFAT yang telah di sebutkan di dalam Al qur’an dan As sunnah di khawatirkan serupa dengan makhluk, baik yang di ingkari sebagian atau seluruhnya. (kata mereka).

Adapun BANTAHANNYA :

1. apabila kita mengingkari NAMA dan SIFAT Allah subhaanahu wa ta’aala baik sebagian atau seluruhnya yang ada di dalam Alqur’an atau Al hadits (sunnah), maka akan melahirkan beberapa akibat-akibat yang BATIL atau FATAL. Seperti akan menimbulkan kontradiksi atau pertentangan antara firman Allah satu sama lain, sehingga seakan-akan bertentangan ayat-ayat Allah yang satu dengan yang lainnya. Hal ini tidak mungkin terjadi di dalam Al qur’an atau firman Allah subhaanahu wa ta’aala dan tidak mungkin pula Al qur’an bertentangan dengan hadits.

2. Alasan ke dua Tidaklah berarti jika ada dua NAMA dan SIFAT yang sama berarti SERUPA. Kita bisa mengetahui manusia Melihat, Bersuara, Mendengar dan kita juga mengetahui bahwa hewan Melihat, Bersuara, Mendengar. Apakah mendengar dan melihatnya manusia sama dengan mendengar, dan melihatnya hewan! kita juga mengetahui manusia mempunyai Tangan, Mata dan Wajah, dan kita juga mengetahui hewan, ada yang mempunyai Tangan, Mata dan Wajah Apakah sama tangan,mata,dan wajahnya manusia dengan tangan,mata dan wajahnya hewan! Jika makhluk dengan makhluk saja sudah BERBEDA, Apalagi makhluk dengan Sang Kholik (Allah subhanahu wa ta’ala) JELAS, lebih tidak sama lagi dengan makhluk-Nya. Sebagaimana dalam firman Allah subhaanahu wa ta’aala : Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya dan Dialah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS Assyu’ara :11).

2.Musyabbihah.(Golongan yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya)

Yaitu menetapkan NAMA dan SIFAT Allah sekaligus menyerupakan NAMA dan SIFAT Allah dengan NAMA dan SIFAT makhluk-Nya.

Mereka beranggapan atau beralasan :

1. Karena makna yang di tunjukan oleh Nash-Nash Alqur’an atau Dalil itu Tekstual,yaitu Allah Berbicara sesuai dengan apa yang di pahami oleh manusia sepertiAllah menyebutkan mempunyai ”Tangan” di dalam Al qur’an berarti sama Tangan-Nya dengan tangan makhluk-Nya, Allah menyebutkan mempunyai Mata di dalam Al qur’an berarti sama Mata Allah dengan Mata makhluk-Nya, Allah menyebutkan mempunyai Wajah di dalam Al qur’an berarti sama Wajah Allah dengan wajah makhluk-Nya (Itu kata mereka).

Oleh karena itu Mereka di namakan Musyabbihah atau (kelompok yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya). Anggapan seperti itu juga sama-sama BATIL ATAU SALAH dengan sesalah-salahnya

Adapun BANTAHANNYA :

1. menyerupakan Allah dengan makhluk itu merupakan sesuatu yang BATIL atau SALAH secara akal atau ngawur dengan sengawurnya-ngawurnya, Apalagi secara Syariat, Akal yang sehat sahaja pasti tidak akan menerima jika pencipta makhluk disamakan dengan makhluk yang diciptakan-Nya.

Sebagaimana tukang kayu membuat bangku. apakah sama tukang kayu dengan bangku!.

2. Sesungguhnya Allah subhaanahu wa ta’aala memang benar berbicara kepada manusia dengan apa yang di pahami oleh manusia, akan tetapi ini hanya dari segi makna asal atau asal makna, sedangkan hakekat atau esensinya atau bagaimana (Tangan-Nya, Wajah-Nya, Mata-Nya) itu hanya Allah saja yang mengetahui tentang hakekatnya. Sebagaimana jika Allah menyebutkan Allah Maha mendengar. Kita mengetahui bahwa makna asal mendengar itu adalah sampainya suara ke telinga, kemudian jika Allah menyebutkan Allah Maha Melihat. Kita mengetahui bahwa makna asal melihat itu adalah sampainya cahaya ke mata atau ke retina mata, akan tetapi bagaimana cara mendengar dan melihat Allah, hal itulah yang kita serahkan hakekatnya (bagaimananya) kepada Allah subhanaahu wa ta’aala.

Inilah penjelasan tentang ASMA ( NAMA ) dan SIFAT Allah Yang Maha Agung, yang tidak ada sesuatupun yang SERUPA dengan-Nya. Dan ini pulalah penjelasan tentang kelompok-kelompok yang menyimpang dari jalan Ahlussunnah wal jama’aah dengan segala bantahannya.

Semua ini adalah penjelasan tentang Iman kepada Allah subhaanahu wa ta’aala, di mana iman seseorang itu kurang jika tidak mengetahui dan juga menyimpang jika menyimpang dari padanya, bahkan bisa sampai kederajat Musyrik atau Kafir, jika tidak mengimani salah satunya seperti Tauhid Uluhiyyah (Menyembah Allah saja). Apabila seorang beriman kepada keberadaan, Rububiyyah, Uluhiyyah, dan Asma wa sifat Allah subhaanahu wa ta’aala, maka barulah iman seseorang tersebut di katakan lurus imannya atau sempurna. Apabila salah satu dari yang empat ini tidak ada pada dirinya berarti imannya bengkok atau tidak lurus kepada Allah subhaanahu wa ta’aala.

ADAPUN HIKMAH KITA BERIMAN KEPADA NAMA-NAMA DAN SIFAT-SIFAT ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALA YAITU :

Tertanamnya TAUHID kepada Allah subhaanaahu wa ta’aala, Sehingga jika ia mengetahui bahwa Allah ta’ala Maha Kuasa atas segala sesuatu, maka ia tidak akan pernah bersandar kecuali kepada Allah subhaanahu wa ta’aala, dan tidak akan pernah MAU percaya Kepada Dukun-dukun, Para Normal, Penyihir, Pesulap, Juru Kunci Kuburan, Ramalan-ramalan tukang ramal atau Ramalan bintang berkedok Zodiak, takhayul, Khurafat, Nasib Baik, Nasib sial, Hari Baik, Hari Sial, dan lain sebagainya, Serta tidak TAKUT kecuali kepada Allah subhaanahu wa ta’aala. Karena ia mengetahui bahwa Allah itu berkuasa atas segala sesuatu, yang di kehendaki Allah terjadi dan Apa yang tidak di kehendaki-Nya tidak akan mungkin terjadi. Apa yang Allah takdirkan untuknya sekali-kali tidak akan Melesat darinya, dan Apa saja yang Allah tidak Takdirkan Untuknya, sekali-kali Tidak akan Pernah Menimpanya.

2. Jika ia mengetahui bahwasanya Allah adalah yang memberi nikmat, yang memberi Rezki, maka ia tidak akan salah dalam mencari Rezki. Ia tidak akan pergi ke para normal atau peramal untuk menanyakan bagaimana Rezekinya, dan jika ia mengetahui yang hanya di tangan Allah segala kebaikan, Allah Yang memuliakan hamba-Nya yang mu’min dan Allah Yang Maha pengampun, maka hal itu akan membuatnya cinta kepada Allah dan rasa menganggungkan, bertaqorrub kepada-Nya serta tidak berputus-asa dari rahmat dan ampunanNya. Karena adanya kandungan yang maha Agung dalam nama dan sifat-sifat-Nya. Berbeda halnya dengan orang yang tidak mengetahui nama dan sifat Allah subhaanahu wa ta’aala, karena dia berbuat dosa yang besar akhirnya berputus-asa dari rahmat Allah subhaanahu wa ta’aala kemudian berfikir ” Alangkah besarnya dosaku sepertinya tidak mungkin lagi di ampuni oleh Allah”. Sehingga dia semakin membabi buta dalam berbuat dosa, dan semakin membinasakan dirinya ke dalam kehancuran, karena dia merasa bahwa dosanya tidak akan di ampuni, padahal jika dia mengetahui bahwasanya Allah subhaanahu wa ta’aala Maha pengampun Insya Allah ia tidak akan berputus-asa dari rahmat atau ampunan Allah subhaanahu wa ta’aala, karena Allah subhaanahu wa ta’aala mempunyai sifat ”Al ghofuur” artinya Yang Maha pengampun.

3. Terwujudnya ibadah dengan cara melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya karena Allah disebut Al ’aliim (Maha mengetahui), As samii’(Maha mendengar), Syadiidul ’iqoob (Yang Maha Keras Siksanya), Sarii’ul hisaab(Yang Maha Cepat Hisabnya). Sifat-sifat tersebut akan membuat seseorang menjadi waspada terhadap apa yang akan dia kerjakan, baik dosa yang kecil maupun yang besar, apakah dia itu berada di tengah keramaian ataupun dalam keadaan sendirian, karena dia mengetahui, bahwasanya Allah subhaanahu wa ta’aala Maha mengetahui dan Maha melihat apa yang dia Kerjakan

…… bersambung …insya allah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s