Cara Menyelamatkan diri dari Neraka Bag 65 ( insya Allah )

Standard

………………………………..Pentingnya AQIDAH Islamiyah

Sesungguhnya agama islam adalah Aqidah dan syari’ah.
Adapun yang dimaksud dengan aqidah, yaitu setiap perkara yang dibenarkan oleh jiwa yang dengannya hati menjadi tentram serta menjadi keyakinan bagi para pemeluknya, tidak ada keraguan dan kebimbangan bagi pemeluknya
Sedangkan yang dimaksud syariah adalah tugas-tugas yang diembankan oleh islam seperti sholat, zakat, puasa, berbakti kepada orang tua dan lainnya.
Landasan Aqidah islamiyah adalah beriman kepada Allah, malikat2nya, kitab2nya, para rasulnya, hari akhir, dan beriman kepada qadha’ (takdir)nya, yang baik ataupun yang buruk. Firman Allah:
“bukanlah menghadapkan wajahmu kearah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab dan nabi-nabi. (al baqarah :177)

“ Sesunguhnya kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran dan perintah kami hanyalah satu, perkataan seperti kejapan mata. (al qamar 49-50).

sabda nabi “ iman adah hendaknya enggkau percaya pada Allah, malaikat2, kitab2, rasulnya, hari kemudian dan percaya kepada qadha’ (takdir) yang baik maupun yang buruk ( HR muslim)
Pentingnya aqidah islamiyah
Pentingnya aqidah islamiyah tampak dalam banyak hal; diantaranya adalah:
1 Bahwasanya kebutuhan kita terhadap Aqidah adalah diatas segala kebutuhan, dan kepentingan kita terhadap Aqidah adalah diatas segala kepentingan. Sebab tidak ada kebahagiaan, kenikmatan, dan kegembiraan bagi hati kecuali dengan beribadah kepada Allah Rabb pencipta segala sesuatu.
2 Bahwasanya Aqidah islamiyah adalah kewajiban yang paling besar dan yang paling ditekankan, karena itu, ia adalah sesuatu yang pertama kali diwajibkan kepada manusia. Rasulullah saw. Bersabda:
3 Aku (Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam) diperintah untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang hak kecuali Allah dan bahwa muhammad adalah utusan Allah (HR Bukhori dan Muslim)
4 Bahwa Aqidah islamiyah adalah satu-satunya Aqidah yang bisa mewujudkan keamanan dan kedamaian, kebahagian dan kegembiraan, “ tidak demikian bahkan barang siapa yang menyerahkan diri kepada Allah sedang ia berbuat kebajikan, baginya pahala pada sisi tuhannya dan tidak ada kekuatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati (albaqarah 112). demikian pula, hanya Aqidah islamiyalah satu-satunya Aqidah yang bisa mewujudakan kecukupan dan kesejahteraan . Allah berfirman” jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi (al a’raf 96)
5 Sesungguhnya Aqidah islamiyah adalah sebab sehingga Ummat Islam bisa berkuasa di muka bumi dan sebab bagi berdirinya Daulah Islamiyah “ dan sungguh telah KAMI tulis didalam zabur sesudah KAMI tulis dalam Lauz mafudz bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hambaKU yang sholeh.
6 Bahwasanya Aqidah Islam Itu adalah SEBAB Bersatunya Ummat Islam dari Perpecahan, Sehinggga Apabila Ummat Islam Sudah Mempelajari, Memahami, Serta Mengamalkan Aqidah Islam Ini, Insya Allah Ummat islam di Seluruh Dunia Akan Bersatu Di Atas Aqidah Yang benar.

Berikut ini adalah sedikit penjelasan dari masalah Aqidah yaitu Aqidah yang berdasarkan Alquran dan Assunnah yang menjadi pegangan umat islam dari generasi terbaik (para shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam) insya allah , Tabi’iin (pengikut Shahabat), Tabiut Tabi’iin (pengikut Tabi’iin) dan Imam-imam Ahlussunnah (Abu hanifah, Malik , Syafi’ie, dan Ahmad) atau disebut juga AQIDAH AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH……

……………………………Aqidah Ahlussunnah Wal Jama’ah

………………………………………AQIDAH

Penyimpangan dari Aqidah yang benar adalah kehancuran dan kesesatan. Karena Aqidah yang benar merupakan motivator utama bagi amal yang bermanfaat. Tanpa Aqidah yang benar seseorang akan menjadi mangsa bagi persangkaan dan keragu-raguan yang kelama-lamaan akan menumpuk dan menghalangi dari pandangan yang benar terhadap jalan hidup kebahagiaan, sehingga hidupnya terasa sempit lalu ia ingin menyudahi hidup sekalipun dengan bunuh diri. Masyarakat yang tidak mengerti tentang Aqidah yang benar, sekalipun hidupnya bergelimang dengan materi atau harta yang melimpah-ruah justru sering menyeret pelakunya kepada kehancuran. Karena sesungguhnya kekayaan materi memerlukan pengarahan dalam penggunaannya, dan tidak ada pemberi pengarahan yang benar kecuali Aqidah yang benar.

Benar dan rusaknya Amaliah (amal-amal perbuatan) tergantung dari benar dan rusaknya Aqidah (keyakinan), oleh karena itu para Nabi dan Rasul selalu memulai da’wah mereka dalam masalah Aqidah (keyakinan) Khususnya, dalam masalah Tauhid Uluhiyyah (Penyembahan kepada Allah semata). Karena Aqidah yang benar merupakan fundamental (dasar) bagi bangunan Agama yang merupakan syarat syahnya amal ( perbuatan).

Aqidah itu bersifat tauqifiyah artinya tidak bisa dinyatakan kecuali dengan dalil dari Al qur’an dan Al hadits. Oleh karena itu dalam masalah Aqidah tidak ada peluang untuk melakukan ijtihad (pemikiran yang di curahkan dengan sungguh-sungguh untuk mencari kebenaran) kecuali berdasarkan Al qur’an dan Al hadits. Sebab di dalam masalah Aqidah itu, terkandung tentang apa-apa yang harus atau wajib ditetapkan untuk Allah dan apa-apa yang harus disucikan dari Allah. Dan juga di sebabkan yang mengetahui tentang Dzat Allah, bukanlah akal manusia, akan tetapi Allah yang mengetahui tentang diri-Nya sendiri. Di mana Allah subhanahu wa ta’aala telah menjelaskan di dalam Al qur’an dan juga telah memberitahukan kepada Rasul-Nya (Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam) Khususnya, tentang Nama dan Sifat Allah. Oleh karena itu, rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam memberitahukannya (tentang nama dan sifat itu) kepada kita dalam sunnahnya atau haditsnya.

PENGERTIAN AQIDAH

Aqidah secara bahasa berasal dari kata ‘aqd yang berarti ikatan. Jika ada orang yang mengatakan “saya beri’tiqad begini” artinya saya mengikat hati dengan hal tersebut. Aqidah adalah apa yang diyakini oleh seseorang. Aqidah juga merupakan perbuatan hati, yaitu kepercayaan hati dan pembenaran terhadap sesuatu.

Sedangkan definisi Aqidah secara syar’i adalah sama halnya dengan rukun iman yaitu iman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan kepada hari akhir serta kepada qadar yang baik maupun yang buruk.

1. IMAN KEPADA ALLAH TA’AALAA

Adapun Iman Kepada Allah subhaanahu wa ta’aala itumencakup 4 hal, yaitu

I. IMAN TERHADAP KEBERADAAN ALLAH ta’aalaa

v hal ini mencakup dalam 4 segi :

a. Fitrah.

Secara fitrah, manusia dilahirkan diatas fitrah islam, maksudnya manusia pada hakekatnya, ketika dilahirkan ke dunia telah mengakui akan keberadaan Allah tabaroka wa ta’aala. Apakah dia itu mempelajari hal tersebut (adanya Allah) ataupun tidak mempelajarinya.

sebagaimana sabda Nabi shalallahu’alaihi wa sallam : ”tidaklah seorang anak dilahirkan kecuali di atas fitrah maka kedua orangtua-nyalah yang menjadikannya yahudi, nasrani, dan majussi” (HR Bukhari)

Ibnu Mas’ud dan Abu Hurairah radiyallahu ’anhuma berkata ”yang dimaksud dengan fitrah diatas adalah Islam. Jadi semua bayi yang dilahirkan ke dunia ini diatas fitrah islam. Mereka (Ibnu Mas’ud & Abu Hurairah) mengaitkan hadits di atas dengan

firman Allah subhaanahu wa ta’aala :

”Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidakmengetahui”(QS Ar Ruum: 30)

Abu Hurairah berkata ”Tahukah kalian apa yang dimaksud fitrah dalam ayat ini? Yaitu fitrah islam yang lurus, sebagaimana yang tersebut dalam ayat ini”.

b. Akal

Adapun secara akal semua makhluk yang terdahulu, maupun yang akan datang mengakui, bahwasanya ada yang menciptakan mereka. Karena makhluk itu ada, atas tiga kemungkinan. Pertama, ada yang menciptakan; kedua, menciptakan dirinya sendiri; ketiga, ada secara tiba-tiba.

Dua kemungkinan terakhir ini tidak mungkin dan mustahil terjadi karena manusia tidak mungkin menciptakan dirinya sendiri, sebab sebelum dia ada, dia tidak ada terlebih dahulu, sedangkan sesuatu yang tidak ada, tidak mungkin menciptakan dirinya sendiri dan mustahil ada secara tiba-tiba.

Sebagaimana, apabila ada sebuah istana yang megah, di dalamnya terdapat permadani-permadani dan dekorasi yang indah serta perhiasan yang mewah, kemudian tiba-tiba ada orang yang mengatakan dengan gampangnya ”istana itu ada dengan sendirinya atau ada dengan tiba-tiba” pasti akal sehat akan menolak dan mengingkarinya dengan sebesar-besar penolakan dan pengingkaran.

Apalagi, keberadaan seluruh makhluk di alam semesta ini yang begitu teratur, indah, rapi, dan sempurna, bahkan satu sama lain saling berkaitan, kita juga tidak pernah melihat ketidakberesan/kejanggalan yang ada di alam semesta ini, bahkan setiap makhluk itu bergerak sesuai dengan tugasnya masing-masing, serta berjalan sesuai dengan fungsinya. Hal ini menunjukan secara tegas, bahwa keberadaan alam ini tidak mungkin terjadi secara kebetulan atau secara tiba-tiba.

firman Allah subhaanahu wa ta’aala tentang keberadaan Allah ’azza wa jalla : ”Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal” (QS Ali Imran : 190).

c. Syar’i (Al Qur’an dan Al Hadits/sunnah)

Adapun secara syar’i adanya kitab-kitab Samawi (yang berasal dari Allah subhaanahu wa ta’aala) seperti Taurat, Injil, Al qur’an, dan Zabur yang menjelaskan tentang kemaslahatan makhluk. Hal ini menjadi dalil (petunjuk), bahwasanya kitab-kitab itu menunjukkan datangnya dari Allah tabaroka wa ta’aala yang mengetahui kemaslahatan seluruh makhluk-Nya.

d. Naluri atau Perasaan

Adapun yang pertama secara naluri, kita mengetahui apabila ada orang yang berdo’a kemudian do’anya dikabulkan. Hal ini tidak lain menunjukkan, adanya Dzat yang meng’ijabah (mengabulkan do’a seorang hamba). Hal tersebut sering kita ketahui, baik dari kisah-kisah para nabi atau pun orang terdahulu dari kalangan orang-orang shalih atau mungkin kita pernah mengalaminya sendiri. Bahkan, kita mengetahui juga, apabila ada seorang anak yang durhaka kepada Ibunya, kemudian ibunya murka, lalu berdo’a mengutuknya, kemudian do’anya terijabah (di kabulkan), apakah dalam waktu yang lama ataupun dalam waktu yang singkat, kejadian seperti ini sering sekali kita dengar.Yang Jelaas, Pengabulan doa ini tidak mungkin terjadi, seandainya Yang Mengabulkan do’a itu tidak ada. Hal ni menunjukkan secara naluri, bahwa doa itu tidak mungkin befungsi dengan sendirinya. Pasti, disisi lain adanya Dzat yang Maha Adil, Yang Maha Mendengar yang telah mengabulkan do’a. Oleh karena itu, adanya peng’ijabahan do’a (peng’abulan do’a) ini tidak lain menandakan secara nyata bahwasanya Dia itu ada.

Adapun yang kedua, pengutusan para Nabi dan mukjizat-mukjizat mereka contohnya : Nabi Musa ’alaihissalam mempunyai mukjizat dapat membelah lautan dengan tongkatnya, sehingga lautan itu terbelah menjadi dua belas bagian, atas izin Allah subhaanahu wa ta’aala. Hal ini menunjukkan secara perasaan atau naluri, adanya Sang Pemberi mukjizat, dimana seseorang manusia biasa tidak mungkin bisa membelah lautan menjadi dua belas bagian dengan kemampuannya.

Sebagaimana Allah ta’aala berfirman : Maka Kami wahyukan kepada Musa, pukullah laut itu dengan tongkatmu! Maka terbelahlah laut itu, masing-masingbelahan laksana gunung yang sangat besar (QS Asyu’araa : 63). Dan masih banyak lagi mu’jizat para Nabi yang lainnya, yang semua itu di luar batas kemampuan manusia.
…bersambung insya allah…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s