Pompa Semangat

Standard

Gambar ini diambil setahun silam, Agustus 2012. Tulisan-tulisan pada gambar itu terpampang di papan reklame di salah satu jembatan besar (saat ini ada 3 jembatan besar yang menghubungkan Kediri bagian timur dengan bagian baratnya) yang menyeberangi Kali Brantas, dahulu sungai terbesar di Jawa Timur. I really miss my hometown.

Entah masih ada atau tidak, menurut gambar ini mencerminkan mentalitas sebagian warga Kediri, kampung halaman penulis. Orang-orang mudanya suka menulis (baca: corat-coret) di sana-sini dan mengucapkan kalimat-kalimat pendek (kadang seperti asal njeplak) yang membangkitkan semangat dan mengingatkan bahwa ‘masih ada harapan’, ‘masih ada jalan’, atau yang semacamnya, sambil mengingatkan sesama kawan agar tetap ‘santai’, ‘keep cool’, dan bahwa ‘Gusti mboten sare’ (Allah tidak pernah tidur).

IMG_2166

Ada dua kalimat di papan itu yang cukup menggelitik bagi penulis pribadi.

1. Kalimat Aja dumeh (kira-kira artinya ‘Jangan merasa tinggi’) tentu saja kalimat yang umum diucapkan di masyarakat Jawa. Penulis ingat, kalimat ini adalah salah satu kalimat yang sering diucapkan oleh Presiden Soeharto, presiden ke-2 Indonesia,

Aja kagetan, aja nggumunan, aja dumeh

‘Jangan terlalu mudah kaget, jangan terlalu mudah kagum, jangan merasa diri tinggi’

Yang unik juga, kalimat berbahasa Jawa tersebut dituliskan juga dalam aksara Jawa (‘Hanacaraka’). Menulis huruf Jawa (Hanacaraka) masih diajarkan di sekolah-sekolah di Kediri (dari SD hingga SLTP) sebagai bagian memelihara budaya bangsa dan menegaskan identitas ke-Jawa-an.

2. Wong ngalah kekasihe Gusti Allah (Orang yang tidak mau menang sendiri/orang yang mau mengalah adalah kekasih Gusti Allah). Semoga benar begitu …🙂

Di Kediri masih banyak orang menyebut nama Allah dengan Gusti Allah, seperti cara nenek moyang dulu menyebut nama-nama yang dimulyakan. Orang Jawa biasanya merasa kurang sopan menyebut nama tanpa sebutan.  Sebutan-sebutan yang berfungsi memulyakan nama yang disebut cukup banyak, contohnya gusti, kanjeng, sayyidina, imam, kyai, gus.

Sebutan-sebutan semacam itu juga masih sering terdengar sehari-hari, misalnya Kanjeng Nabi (Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam),  Sayyidina Abu Bakar dan Sayyidina Umar, Imam Ali. Sebutan kyai dan gus tentunya sudah dikenal secara nasional, karena presiden ke-4 Indonesia adalah seorang gus (Abdurrahman Wahid = Gus Dur) dan kakek beliau pun dicanangkan sebagai Pahlawan Nasional, serta baru saja difilmkan (Kyai Hasyim Asy’ari, Sang Kyai).

Artikel ditulis oleh Dany, guru SDIT Al Hikmah, Bintara, Bekasi Barat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s