Jangan Injak Sandalku!

Standard

Salat Magrib telah usai. Si kecil pun telah selesai berdoa. Seperti biasa, si kecil diajari ibundanya berdoa memohon ampun untuk diri dan orang tuanya, beserta artinya. Doa yang sangat populer, dan terasa ada yang kurang jika seorang anak tidak berdoa seperti ini.

ربّ اغفر لي و لوالديّ و ارحمهما كما ربّياني صغيرًا

Selesai berdoa, segera si kecil menghambur keluar musola, seakan-akan telah lepas satu beban berat dari pundaknya. Ke tangga musola dia berlari, seraya mendapati sandal kecilnya yang tergeletak di sana.

Rupanya dia bukan yang pertama. Telah lewat beberapa pemuda gagah berseragam SMA melewati tangga yang sama dan mengambil sandal dan sepatu mereka yang berserakan sebelumnya. Si gadis kecil menghampiri sandalnya, masih sempat melihat pemuda-pemuda gagah itu serampangan mengambil sandal mereka yang berserakan di tangga musola. Dengan langkah tenang dan tanpa beban mereka pergi meninggalkan musola, meninggalkan si gadis kecil yang gundah seraya berkata penuh sesal,

“Yah … sandalku diinjak …”

sandal jepit

Semua orang pasti pernah mengalami hal semacam itu. Di saat kita sedang mengejar kepentingan kita, kita tidak sengaja – atau bahkan tidak tahu –  bahwa kita mengganggu hak orang lain. Di saat kita ‘mengambil sandal’ kita, kita ‘menginjak sandal orang lain’.  Kalau dipandang bahwa yang diinjak cuma sandal, tentunya itu masalah remeh. Tapi kalau dipandang bahwa yang diganggu itu adalah hak orang lain, tentu peristiwa itu jadi masalah. Sejelek apapun sandal orang, kalau sandal itu hilang, si empunya akan gusar dan marah-marah. It’s only natural. Tidak ada orang yang suka haknya diganggu orang lain.

Mengganggu hak orang lain pasti tidak apa-apa seandainya tidak janji bahwa semua perbuatan kita akan dipertanggungjawabkan kelak. Memikirkan ini, semua orang selayaknya jadi takut ‘menginjak sandal’ orang lain. Tidak sengaja pun bikin takut, apalagi kalau sengaja ?!!

Bisa jadi saat kita menginjak sandal orang lain, kita menularkan najis dari bawah sandal kita ke atas sandal orang lain. Salah satu nasihat guru ngaji saya waktu kecil yang masih selalu saya ingat adalah,

“Jangan injak sandal orang lain, orang lain kan juga ingin kakinya tetap suci”.

Dahulu saya benar-benar secara harfiah melaksanakannya. Kini berbagai pengalaman hidup turut menjadi nasihat bahwa nasihat pak guru saat itu berlaku secara umum di berbagai aspek kehidupan. Semoga nasihat sederhana ini bisa menjadi nasihat bagi saya pribadi selama hidup dan bagi orang lain yang membaca tulisan ini.

 

Ditulis oleh Dany, guru SDIT Al-Hikmah Bintara, Bekasi Barat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s