Pesawat Non-Konvensional (lanjutan Pesawat Eksperimental)

Standard

Artikel ini merupakan lanjutan Pesawat Eksperimental di cerita guru.

Sebelumnya (beberapa bulan yang lalu) saya menceritakan bentuk pesawat eksperimental yang tidak lazim. Lazimnya pesawat dibuat dengan konfigurasi sayap utama di depan, sayap kecil (biasa disebut ‘ekor’) di belakang. Sekilas pesawat terbang umumnya terlihat seperti ikan (badan ‘mulus’, sirip di dekat kepala, disertai ekor di ujung belakang). Pesawat yang dibuat dalam rangka eksperimen tidak seperti itu. Bentuknya sering aneh-aneh. Dengan membuat pesawat eksperimental, para desainer pesawat biasanya ingin menguji sesuatu aspek yang belum diketahui dari konfigurasi baru (yang belum lazim) suatu pesawat.

Namun, tidak semua pesawat yang berbentuk aneh merupakan pesawat eksperimental. Beberapa pesawat (biasanya pesawat militer) memang disengaja berbentuk tidak lazim – dengan kata . Pesawat-pesawat semacam itu disebut pesawat non-konvensional. Sehubungan dengan siluet aneh yang pernah saya ceritakan, ada sedikitnya tiga pesawat militer yang berbentuk seperti itu: pesawat Gripen (buatan SAAB, Swedia), pesawat Rafale (buatan Dassault, Prancis), dan pesawat Typhoon (buatan Eurofighter Gmbh, konsorsium negara-negara Eropa yang berpusat di Jerman).

gripen

Pesawat SAAB Gripen

rafale

Pesawat Dassault Rafale 

eurofighter

Pesawat Eurofighter Typhoon

Sayap kecil di depan sayap utama tersebut biasa disebut ‘canard‘. Tiga contoh pesawat di atas merupakan pesawat yang murni ber-canard; maksudnya tidak ada ‘ekor biasa’ di belakang sayap utama. Contoh pesawat yang dilengkapi canard dan sekaligus ‘ekor biasa’ adalah salah satu versi Su-30 buatan Sukhoi, Rusia.

300px-SU-30MKI-g4sp_-_edit_2(clipped)

Pesawat Sukhoi Su-30

Pesawat bersayap canard biasanya dirancang agar memiliki manuveribilitas lebih tinggi daripada pesawat konvensional. Hal ini menjadi keunggulan pesawat bersayap canard karena pesawat jadi lebih lincah. Tentu saja, sesuai dengan hukum alam, di dunia ini tidak ada kelebihan yang tidak disertai kekurangan. Pada pesawat bersayap canard, manuveribilitas tinggi dicapai dengan mengorbankan stabilitas. Dengan stabilitas rendah, kesalahan sekecil apa pun saat pengendalian akan berakibat pesawat melenceng ke mana-mana dan sulit kembali ke jalur aslinya. Dengan kata lain, pesawat bersayap canard lebih rentan mengalami kecelakaan (‘jatuh’).

Oleh karena itu, pilot-pilot yang terbaik di antara yang terbaik sajalah yang ditugaskan mengendalikan pesawat-pesawat non-konvensional.

ditulis oleh Dany, guru SDIT Al-Hikmah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s