Cara Menyelamatkan Diri Dari Neraka Bag 30 ( Insya Allah )

Standard

    PERPECAHAN UMAT ISLAM

 

Telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam :

Kaum YAHUDI akan berpecah menjadi 71 Golongan atau 72 Golongan dan kaum NASHRANI akan berpecah menjadi 72 Golongan dan umatku ( umat ISLAM ) akan terpecah menjadi 73 Golongan  “ ( H.R. Abu Daud ).

 

Dan Dalam Riwayat Yang lain Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam Bersabda:

Umatku akan Berpecah Menjadi 73 Golongan, Semuanya di Neraka Kecuali 1 Golongan, Mereka ( Shahabat ) bertanya : Siapakah 1 Golongan Itu Wahai Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam ? “ Beliau Menjawab, “ Apa Yang Ada Padaku ( Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ) dan Shahabat-Shahabatku Pada hari ini “ ( H.R. Turmudzi dan Di Shahihkan Oleh Albani ).

Berdasarkan  HADITS di atas, kita mengetahui bahwasanya umat ISLAM PASTI akan “ berpecah belah, dan dari perpecahan yang banyak itu yang selamat hanya 1 Golongan, 1 Kelompok, 1 Organisasi yaitu Organisasi atau Kelompok yang Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam dan Para Shahabatnya berjalan di atasnya atau beragama di atasnya. Itulah yang dinamakan kelompok Ahlussunnah wal jama’ah. Apa yang telah disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam itu Kita tidak akan bisa memungkirinya, dan tidak pula bisa mengingkarinya, Karena Sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam adalah WAHYU dari Allah Ta’aalaa, yang BENAR adanya. Sebagaimana Firman Allah Ta’aalaa “Demi bintang ketika terbenam, kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru, dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya, Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). ( Q.S : An-Najm 1- 4 ).  Dan Dari perpecahan umat ISLAM ini akan menimbulkan berbagai macam Golongan-Golongan atau Aliran-Aliran yang menyimpang atau Organisasi-Organisasi yang menyesatkan, yang mereka semua mendakwakan dirinya atau mengaku dirinyalah yang berada di atas KEBENARAN padahal mereka berada di atas KESESATAN. Wahai Pembaca yang Budiman ! Siapakah Golongan, Aliran  atau Organisasi yang mereka itu TERANCAM berada di atas KESESATAN !.

  1. Yaitu Kelompok, Golongan, Aliran atau Organisasi ISLAM yang mempelajari ISLAM, dan mendakwahkannya atau mengajarkannya sesuai dengan PENDAPATNYA atau PEMIKIRANNYA masing-masing atau sesuai dengan HAWA NAFSUNYA atau sesuai dengan ATURAN-ATURAN Organisasi atau Kelompoknya. Ketahuilah, Wahai Pembaca yang Budiman ! ISLAM itu bukanlah milik Kelompok atau Organisasi tertentu apalagi PRibadi tertentu dan ISLAM juga bukanlah milik MADZHAB Hanafi, Maliki,  SYafi’I, Hambali, dan lain sebagainya akan tetapi semua Madzhab tersebut hanyalah sarana untuk membantu atau mempermudah umat ISLAM untuk memahami agamanya bukan di jadikan sarana untuk TAKLID BUTA ( ikut-ikutan secara membabi-buta ) tanpa harus mengetahui sejauh mana kebenarannya,
  2. Yang Kedua Yaitu Kelompok, Golongan, Aliran  atau Organisasi yang hanya menggunakan ALQUR’AN saja dalam memahami agama TANPA menggunakan HADITS atau SUNNAH atau menafsirkanAlquran dengan penafsiran LIBERAL atau gaya kebarat-baratan. Wahai Saudara kaum Muslimiin ! Ketahuilah Alquran tanpa hadist maka Cacatlah Alquran tersebut. Bukankah Hadits itu penjelas Alquran, Bukankah di dalam Al quran terdapat ayat-ayat yang bersifat Global ( umum),  Jika seperti itu adanya, Bukankah hadits yang merincinya ( mengkhususkannya ), Bukankah di dalam Alquran Kita diperintahkan untuk mengerjakan Shalat ! akan tetapi bagaimana tata-caranya ? Bukankah kita tidak mengetahuinya ! Wahai pembaca yang Budiman Bukankah Kita di wajibkan untuk Berzakat ! Jika begitu seandainya, bagaimana menentukan ukurannya ?  Bukankah Hadits yang menjelaskannya ! wahai saudara     kaum Muslimiin ! apakah engkau mengetahui  apa yang dimaksud HADITS itu ? HADIST adalah Apa-apa yang disandarkan kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam, berupa perkataan, perbuatan, persetujuan, dan sifat (lahiriyah dan batiniyah). Jadi, Hadits adalah pensyarah yang menjelaskan kemujmalan (keglobalan) Al-qur’an. Atau dengan kata lain hanya Rasulullah sajalah yang berhak menjelaskan Alquran melalui Perkataan, Perbuatan, Persetujuan, Dan Sifat (Lahiriyah Dan Batiniyah).
  3. Yang Ketiga Yaitu Kelompok atau Golongan yang menggunakan ALQURAN dan HADITS akan tetapi di sesuaikan dengan Kemauannya atau Pendapatnya atau di sesuaikan dengan kemauan Masyarakat atau sesuai dengan Adat Istiadat atau Tradisi Nenek Moyang Hal ini juga merupakan suatu kesalahan dan penyimpangan atau penyelewengan terhadap Alquran dan Hadist                                                                                                                                                                                                                  …………………………………………………….  …………………………….Hendaklah Kaum Muslimin memperhatikan 3 hal yang telah di sebutkan di atas, agar mereka mengetahui KEBENARAN ( Insya Allah ) dari segala macam KESESATAN yang ada! Hal ini merupakan hal yang sangat penting yang Kebanyakan  Kaum Muslimiin tidak mengetahuinya. ALQURAN adalah WAHYU tidak bisa ditafsirkan melainkan dengan WAHYU serupa yaitu HADITS sehingga di dalam menafsirkan Alqur’an, maka akal Manusia tidak boleh Turut Campur di dalamnya. Oleh karena itu dalam menafsirkan Alquran ada 4 Cara : Pertama Alqur’an di Tafsirkan dengan ALQUR’AN, Jika tidak ada, Maka Cara Yang Kedua Alqur’an di Tafsirkan dengan HADITS, Jika di dalam Hadits Tidak ada, Maka Cara Yang Ketiga yaitu Alqur’an di Tafsirkan dengan  PERKATAAN PARA SHAHABAT, Jika tidak ada juga maka Yang terakhir atau yang keempat Alqur’an di Tafsirkan dengan BAHASA ARAB. Dan tidak ada penafsiran lagi setelah itu, akan tetapi, mengapa di atas di kecualikan Perkataan Para Shahabat, bukankah di dalam menafsirkan Alqur’an tidak boleh Akal manusia turut Campur di dalamnya ? Di Karenakan Rasulullah shallallahu ‘a;aihi wa sallam telah Menjaminmereka        ( Para Shahabat ) untuk diikuti sebagaimana sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah lalu, dan IJMA ( Kesepakatan ) para sahabat itu ma’sum ( terjaga dari kesalahan ) menjadi Hujjah Buat umat ISLAM. Akan tetapi perindividu dari para shahabat itu tidak ma’sum ( terjaga dari kesalahan ). Apabila ada di antara para shahabat berselisih pendapat maka status perselisihan tersebut dinamakan IJTIHAD. Dan IJTIHAD di antara mereka ada yang benar dan ada pula yang salah akan tetapi masing masing mereka tidak tercela ( Jika benar mendapat 2 Pahala Jika Salah Mendapat 1 Pahala dan Dosanya Insya Allah Di ampuni ). DI Karenakan mereka berselisih itu untuk mencari kebenaran, sedangkan Allah menghargai Usaha Kesungguhan mereka dalam mencari kebenaran dengan 1 Pahala dan apabila Kesungguhan mereka itu  menghasilkan kebenaran maka Allah akan memberikan 1 Pahala lagi sehingga menjadi 2 Pahala. Adapun jika Kesungguhan mereka menghasilkan KESALAHAN, maka Allah Ta’aalaa hanya memberi 1 Pahala Pada Kesungguhan mereka dalam mencari KEBENARAN dan menghapuskan KESALAHANNYA. Berbeda halnya dengan  kita apabila berselisih hanya untuk memenangkan  Hawa Nafsu yang ada pada diri kita, maka jika seperti ini adanya, maka kita tidak akan mendapatkan Pahala apapun juga, bahkan bisa jadi kita mendapatkan DOSA. Oleh karena itu, Apabila ada di antara para shahabat, berselisih pendapat, maka KEWAJIBAN kita adalah Mencari pendapat yang lebih mendekati kepada kebenaran. Adapun shahabat yang tersalah maka kewajiban kita tidak mencelanya, Dan memintakan ampunan untuknya, dan Bagaimanakah kita dapat mengetahui pemahaman pemahaman mereka ( Para Shahabat ) ! kita dapat mengetahui pemahaman mereka yaitu dari belajar menuntut ILMU AGAMA di Majlis-Majlis ILMU dengan ulama-ulama Ahlussunnah wal jama’ah yang berpemahaman sesuai dengan pemahaman para shahabat. Dan kita tidak akan pernah mengetahuinya untuk selama-lamanya jika kita tidak memaksakan diri kita untuk melangkahkan kaki-kaki kita ke Majlis Ilmu yaitu Majlis yang di bahas di dalamnya Kalamullah ( Alquran ) dan Hadits sesuai dengan pemahaman para shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Perpecahan umat islam  ini PASTI akan terjadi, akan tetapi wahai pembaca yang budiman ! Bukan berarti Kita membiarkan umat islam ini berpecah belah atau bukan berarti membuat kita untuk tidak mempelajari  ILMU AGAMA. Dikarenakan banyaknya aliran aliran yang menyimpang dalam agama, sehingga kita menjadi BINGUNG, Manakah yang benar di antara mereka, masing-masing menganggap diri mereka sendirilah yang berada di atas KEBENARAN ! akan tetapi Wahai pembaca yang budiman, WAJIB bagi setiap Muslim untuk mempelajari agama Mereka. Karena dengan ILMU AGAMA inilah seorang muslim tidak akan tersesat jalannya, yaitu Mempelajari ILMU agama yang di amalkan Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam dan Para Shahabatnya. Di samping itu, kita juga harus mempelajari GerakanGerakan ALIRAN SESAT tersebut, agar tidak terjerumus kedalamnya. Sebagaimana dikatakan “ Orang yang tidak mengetahui KESESATAN dikhawatirkan akan terjerumus kedalamnya “. Sebagaimana Orang yang tidak mengetahui jikalau perbuatan itu DOSA, pasti ia akan Menyelaminya atau Melakukannya, di karenakan ketidaktahuannya akan DOSANYA.

BAGAIMANA MENSIKAPI PERPECAHAN UMAT ISLAM !

Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah mentakdirkan terjadinya PERPECAHAN umat telah memberikan bimbingan agar umat ISLAM tidak tenggelam dalam fitnah atau Ujian ini. Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: “ … Barangsiapa di antara kalian berumur panjang, niscaya akan melihat perselisihan yang banyak. Maka tetaplah kalian berpegang teguh dengan SUNNAHKU dan SUNNAH KHULAFA-UR-RASYIDIN ( Shahabat ) yang mendapat petunjuk. …”(1)

1. Yang PERTAMA Maka sikap kita yang pertama adalah tetap bepegangan pada SUNNAH Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam dan SUNNAH KHULAFA-UR-RASYIDIN ( Shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam) yang mendapatkan petunjuk.

Maka dalam memahami Agama  ini kita harus senantiasa meruju’ ( Kembali ) kepada apa yang telah disampaikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan PEMAHAMAN para SHAHABAT radhiyallaahu ‘anhum ajma’in bukan menurut PEMAHAMAN Individu atau Kelompok atau Organisasi tertentu, Walaupun pemahaman para shahabat itu  berbeda dan ditentang oleh KEBANYAKAN Manusia, akan tetapi tetaplah berpegangan kepadanya. Sungguh Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam telah memberitakan bahwa Islam ini pada AWAL kedatangannya adalah ASING dan pada suatu saat nanti akan kembali dianggap ASING (diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahih-nya: (145) dari Abu Hurairah), sebuah keadaan dimana orang-orang yang berpegang teguh dengan SUNNAH seakan-akan  menggenggam BARA API, barangsiapa beramal pada hari-hari semacam ini maka pahalanya seperti pahala amalan 50 orang para SHAHABAT radhiyallaahu ‘anhum ajma’in, sebagaimana telah disebutkan dalam hadits-hadits yang masyhur: “Akan ada ( akan terjadi ) pada manusia suatu zaman, dimana orang yang sabar (istiqamah) di atas agamanya pada zaman ini seperti memegang BARA API.”(2)

“Sesungguhnya di belakang kalian ada suatu hari, kesabaran di dalamnya seperti memegang BARA API, orang yang beramal pada hari-hari semacam ini pahalanya seperti 50 orang yang beramal seperti amalnya kalian.”(3)

Berkata Ath-Thibi tentang hadits ini: “Maknanya sebagaimana tidak mampunya seorang pemegang bara api untuk sabar karena menghanguskan tangannya seperti itu pula keadaan seorang yang beragama, pada hari itu, tidak mampu untuk tetap di atas agamanya karena banyaknya MAKSIAT dan pelaku MAKSIAT, tersebarnya KEFASIKAN dan LEMAHNYA Iman.”

Berkata pula Al Qari: “Yang jelas bahwa makna hadits adalah sebagaimana tidak mungkin bagi seseorang untuk memegang BARA API kecuali dengan KESABARAN yang besar dan menanggung banyak kesusahan. Demikian pula di zaman itu tidak akan tergambar dalam benak seseorang untuk menjaga agamanya dan cahaya imannya kecuali dengan KESABARAN yang BESAR.”

Akan tetapi, walaupun demikian keadaannya, Allah yang Maha Berkuasa atas segala-galanya tidak akan membiarkan umat yang berada diatas kebenaran ( Ahlussunnah wal Jama’aah ) ini MUSNAH dari muka bumi. Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

SENANTIASA ada sekelompok dari umatku yang TERANG-TERANGAN di atas KEBENARAN, tidak mencelakakan mereka orang yang MENCEMOOHNYA sampai datang urusan Allah dan mereka dalam keadaan demikian”(4)

2. Hal KEDUA yang harus kita lakukan ketika fitnah ini terjadi adalah tinggalkan semua GOLONGAN (firqah) yang ada, sebagaimana diriwayatkan dari Hudzaifah: “Bahwasanya ketika manusia bertanya kepada Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam tentang kebaikan, aku bertanya kepada beliau tentang KEJELEKAN, karena khawatir akan menimpa diriku, maka aku berkata, “Wahai Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam sesungguhnya kami dahulu dalam keadaan jahiliyah dan KEJELEKAN, maka Allah datangkan kepada kami KEBAIKAN, maka apakah setelah KEBAIKAN ini ada KEJELEKAN?” Beliau menjawab, “Ya”. Maka aku berkata, “Apakah setelah KEJELEKAN itu ada KEBAIKAN?” Beliau menjawab, “YA, tapi padanya ada DAKHAN (kotoran)”. Aku berkata, “Apa DAKHANNYA?”. Beliau menjawab, “Kaum yang mengerjakan SUNNAH bukan dengan SUNNAHKU, dan memberi PETUNJUK BUKAN dengan PETUNJUKKU, engkau kenali mereka tapi engkau ingkari”. Maka aku berkata, “Apakah setelah KEBAIKAN tersebut akan muncul KEJELEKAN lagi?” Beliau menjawab, “YA, adanya Dai-Dai yang berada di atas pintu Jahannam, barangsiapa yang memenuhi panggilannya akan dilemparkan ke Neraka Jahannam”. Aku berkata, “Wahai Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam terangkan ciri-ciri mereka”. Beliau berkata, “Mereka adalah suatu kaum yang KULITNYA sama dengan KULIT kita, BAHASANYA juga sama dengan BAHASA kita”. Aku berkata, “Apa yang engkau perintahkan jika aku mengalami JAMAN seperti itu?” Beliau berkata, “BERPEGANGLAH dengan jama’ah muslimin dan imam mereka”. Aku bertanya, “Bagaimana jika tidak ada JAMA’AH dan IMAM?” Beliau menjawab, “Tinggalkan semua FIRQAH ( GOLONGAN, ALIRAN ), meskipun kamu harus menggigit AKAR POHON hingga kamu MATI dan kamu dalam keadaan seperti itu .”(5)

3. Hal KETIGA adalah SENANTIASA menyeru manusia kepada Al Haqq ( Kebenaran ), saling bertawashaw bil haqq wa tawashaw bish-shabr (saling menasihati dengan kebenaran dan saling menasihati dengan kesabaran). Inilah kewajiban yang tetap ada pada diri KAUM MUSLIMIN kepada sesama mereka sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla:  ‘Dan saling nasihat-menasihatilah engkau dengan kebenaran dan dengan kesabaran.’ (QS Al ‘Ashr: 4). Dalam mensikapi perbedaan pemahaman yang ada, maka kewajiban ( Berda’wah ) ini tetap WAJIB diamalkan sesuai dengan kemampuan yang di miliki.

4. Hal KEEMPAT yang mesti kita lakukan di tengah PERPECAHAN umat ini adalah tetap berupaya untuk MENJAGA persatuan di antara kaum muslimin. Walaupun PERPECAHAN umat adalah sebuah KEPASTIAN dan bagaimana pun usaha kita untuk mencegahnya maka PERPECAHAN umat ini tetap AKAN TERJADI, akan tetapi hal ini tidaklah menafikan (MENIADAKAN ) kewajiban kita untuk tetap berpegang teguh kepada tali Allah dan menjaga persatuan di kalangan umat Islam. Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan: “Dan berpegang teguhlah kalian kepada TALI Allah seluruhnya, dan Jangan berpecah belah.” (QS Ali Imran: 103)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata bahwa yang dimaksud dengan TALI Allah adalah janji Allah. Dikatakan pula bahwa tali Allah ialah AL QUR’AN. Sedangkan lafazh walaa tafarraquu (jangan berpecah belah) menunjukkan perintah untuk BERJAMA’AH dan melarang PERPECAHAN.(6)

Dan perintah bersatu di sini bukanlah Persatuan KELOMPOK (firqah) tertentu yang kemudian saling MEMBANGGAKAN kelompoknya masing-masing. Dan menganggap yang di luar kelompoknya berarti bukan SAUDARANYA dan lantas disikapi dengan sikap seperti orang SESAT atau orang KAFIR. Akan tetapi yang dimaksud PERSATUAN di sini adalah kesatuan kaum muslimin yang berlandaskan AQIDAH dan manhaj AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH yaitu bersatu di atas SUNNAH di atas PEMAHAMAN Para Shahabat Radiallahu’anhum jami’aan.  Wallaahu a’lam bish shawab.

1. HR Nasa’I dan Tirmidzi: HASAN SHAHIH. Lihat Kitab Firqah Najiyah oleh Syaikh Jamil Zainu.

2. Dikeluarkan oleh At Tirmidzi: (2260) dan Ibnu Baththah dalam Al Ibanah Al Kubra: (195) dari Anas radhiyallaahu ‘anhu..

3. Al Baghawi dalam Syarhus Sunnah: (XIV/344) dan dalam tafsir: (III/110) dengan lafazh yang panjang.

4. Dikeluarkan oleh Muslim dengan lafazh ini: (1920) dan Abu Dawud: (4252) dengan tambahan: “Tidak akan memadharatkan mereka orang-orang yang menyelisihinya.”, dan tambahan yang panjang di awalnya. Dikeluarkan pula oleh At Tirmidzi: (2229) secara ringkas dan dia fenshahihkannya, dan dikeluarkan oleh Ibnu Majah dalam Al Muqaddimah: (10) dengan lafazx yang panjang dan dikeluarkan oleh Imam Ahmad: (V/276) dengan lafazh yang panjang dan dalam (V/247) secara ringkas, dll.

5. Diriwayatkan oleh Bukhari dalam Shahih-nya, 3606, Muslim dalam Shahih-nya (1847), Imam Ahmad dengan panjang (V/386), 403 dan secara ringkas (V/391,396), dengan ringkas dengan lafazh-lafazh yang berbeda-beda (V/494), Abu Dawud As-Sijistani (3244), dengan lafazh berbeda (4246) dan An-Nasa’I dalam Al Kubra (V/17,18).

6. Lihat: Tafsir Ibnu Katsir Juz 1.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s