Cara Menyelamatkan Diri Dari Neraka Bag 6 ( Insya Allah )

Standard

…………..Apabila seseorang telah beriman kepada keberadaan-Nya, Rububiyyah-Nya, Uluhiyyah-Nya, maka mengharuskan ia beriman kepada Asma wa sifat (Nama-nama dan Sifat-Nya yang Agung), Karena TAUHID itu di bagi menjadi 3 BAGIAN yaitu Rububiyyah, Uluhiyyah, dan Asma Wa Sifat. Dan Setiap Manusia wajib Beriman kepada 3 TAUHID ini. Dan iman seseorang itu belum dikatakan lurus, sebelum ia beriman kepada Tauhid Al Asma wa sifat (Nama dan Sifat Allah) ini, sebagaimana yang insya Allah akan di jelaskan Berikut ini.

IV. IMAN KEPADA ASMA WA SIFAT ALLAH.

(TAUHID ASMA WA SIFAT ) ATAU NAMA DAN SIFAT ALLAH.

Di antara kandungan iman kepada Allah tabaaroka wa ta’aala  yang keempat adalah iman kepada NAMA dan SIFAT-SIFAT Allah tabaaroka wa ta’aala  yaitu iman kepada Tauhid  Asma wa sifat  yang artinya menetapkan NAMA dan SIFAT-SIFAT bagi Allah, yang NAMA dan SIFAT-SIFAT itu telah Allah tetapkan untuk dirinya sendiri yang layak bagi Allah sesuai dengan keagungan-Nya baik dalam kitab-Nya maupun dalam sunnah rasul-Nya tanpa (jangan) tahrif (menyimpangkan makna), ta’til (menghilangkan makna), takyiif (membicarakan bagaimana hakekatnya), dan tamtsil (menyerupakan dengan makhluk). Inilah kaidah-kaidah Ahlussunnah wal jamaa’ah dalam menetapkan Asma’ wa sifat Allah ta’aala.

Sebaiknya 4 kaidah ini, wajib atau harus di hafal terlebih dahulu sebelum  melanjutkan ke pembahasan berikutnya, dan selain kaidah ini, kita juga harus mengetahui kaidah berikut ini ”TIDAK SEMUA SIFAT ITU MENGANDUNG NAMA UNTUK ALLAH AKAN TETAPI SUDAH MENJADI KEPASTIAN BAHWA SETIAP NAMA ITU MENGANDUNG SIFAT) karena hal ini sangat penting sekali agar tidak terjadi kesalah-pahaman.

Contohnya: Arrohman dan Arrohiim dalam ayat ini terkandung nama dan juga sifat Allah subhaanahu wa ta’aala, contoh lainnya Al-‘aliim (Maha mengetahui), As-samii’ (Maha mendengar), Al-hayyu (Maha Hidup), Al-qoyyum (Maha Berdiri Sendiri), Al-Maliik (Maha Memiliki), Al-qowiyyu (Maha Kuat), Al-‘aziiz (Maha Perkasa), Al Mutakaabbir (Yang Maha Agung), didalam Nama-Nama  tersebut terkandung Nama sekaligus Sifat untuk Allah subhaanaahuwata’aalaa. Dan di dalam Al Qur’an dan Al Hadits Allah mensifatkan diriNya dengan Al ’Ainaini (Dua Mata), kedua mata tersebut Allahlah yang telah mensifatkan diriNya dengan kedua mata itu dan ini (kedua mata itu) termasuk Sifat Allah Yang Maha Agung, akan tetapi bukan Nama-Nya (karena sesuai dengan kaidah “tidak semua sifat yang ada di Al qur’an dan Al-hadits itu mengandung Nama untuk Allah dan sudah menjadi kepastian bahwa setiap Nama itu mengandung Sifat untuk Allah”), karena Allah subhaanahu wa ta’aala telah menjelaskan kepada kita di dalam Alquran, dan juga Rasulullah telah memberitahukan kepada kita seperti DEMIKIAN, dalam haditsnya dan sunnahnya, kewajiban kita adalah MEMBIARKAN apa adanya, karena hal itu datangnya dari SISI Allah yang Maha Mengetahui atas diri-Nya.

Sebagaimana Firman Allah ta’ala Tentang SIFAT (kedua mata-Nya): “Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Tuhanmu, maka sesungguhnya kamu berada dalam mata-mata (Al-a’yuninaa) Kami….”,(QS Ath-thuur: 48)

Dan juga didalam hadits Rasulullah shallahu’alaihiwasallam : “ Sesungguhnya Allah ta’aalaa tidaklah buta, Ketahuilah, bahwa sesungguhnya Almasih Ad-dajjal itu buta sebelah mata kanannya. Seakan-akan matanya itu sebuah biji yang menonjol” (HR.Muslim)

Dan juga di dalam Al Qur’an, Allah mensifatkan diri-Nya dengan Al-wajhu (Wajah), sebagaimana Firman Allah ta’ala : ”Dan tetap kekal Wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan”,(QS.Ar Rahmaan : 27)

Bahkan, di dalam Al Qur’an Allah mensifatkan diri-Nya dengan yad (tangan). ”…apakah yang menghalangi mu (hai iblis) untuk sujud kepada (adam) yang telah Aku ciptakan dengan kedua tangan Ku.

Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya (QS.Az-Zumar : 67)

Dan juga di dalam Al Qur’an, Allah mensifatkan diri-Nya dengan Kalam (Firman) :

“dan Allah telah berfirman langsung kepada Musa dengan sebenar-benarnya.” (Surah An-Nisa:164).

“Dan tatkala Musa datang untuk memenuhi waktu yang telah kami janjikan kepadanya dan Tuhannya berfirman langsung kepadanya..”(Al-A’raf:143).

“Dan bila salah seorang dari kalangan musyrikin minta perlindungan kepadamu, maka lindungilah dia sampai dia mendengarkan ucapan Allah ( KALAAMULLAH)” (At Taubah : 6)

Ini semua (Wajah, Mata, Tangan, Kalam) adalah SIFAT-SIFAT Allah ta’aala yang maha tinggi bukan nama-Nya yang tidak BOLEH di tahrif (menyimpangkan makna), ta’til (menghilangkan makna), takyiif (membicarakan bagaimana hakekatnya), dan tamtsil (menyerupakan dengan makhluk). Jadi, Tidak boleh ”tangan” disini di tahrif (merubah maknanya) tangan menjadi kekuasaan, atau di ta’til (di hilangkan ma’nanya) takut serupa dengan makhluk maksudnya, akan tetapi malah kebablasan, atau mentakyiif (membagaimanakan atau menanyakan bagaimana tangan-Nya) membicarakan hakekat tangan tersebut, atau mentamtsil (menyerupakan dengan makhluk). Begitu juga dalam masalah Alquran, Alquran adalah Kalamullah ( Firman Allah )Bukan Makhluk.Alquran adalah KALAM ALLAH sedangkan KALAM ALLAH  itu Sifat ALLAH sedangkan sifat ALLAH itu bukanlah MAKHLUK. Hukum seseorang yang berpendapat bahwa Al Qur’an adalah MAKHLUK, dianggap sebagai AHLUL BID’AH yang sesat Bahkan SEBAGIAN ULAMA ada yang MENGKAFIRKAN orang yang mengatakan Al Qur’an adalah MAKHLUK.

Mengapa ! Di karenakan hal tersebut menyangkut masalah Aqidah yang tidak bisa di- tetapkan kecuali melalui Al Qur’an dan As sunnah, dan di sebabkan juga yang lebih mengetahui tentang Allah adalah Allah Sendiri sedangkan makhluk tidak mempunyai pengetahuan tentang nama dan sifat Allah, karena hal ini termasuk hal ghaib yang tidak ada yang mengetahuinya (nama dan sifat Nya) kecuali Allah tabaaroka wa ta’aala , oleh karena itu untuk mengetahui nama dan sifat Allah, jelaslah harus melalui apa yang telah Allah jelaskan di dalam kitab-Nya serta penjelasan Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam di dalam sunnahnya, Sehingga KITA tidak BOLEH Menafsirkannya atau Meniadakan Maknanya atau Membagaimanakan Hakekatnya , atau Menyerupakan dengan Makhluk-NYA, Akan Tetapi yang WAJIB bagi KITA adalah MEMBIARKAN Apa Adanya Sebagaimana DATANGNYA yaitu MENGIMANINYA. Sesungguhnya MAKNA yang benar tentang makna ”tangan” yang di sebutkan di dalam ayat di atas yaitu tetapkanlah atau Biarkanlah makna “Yad” (tangan) itu adalah ”tangan”, tanpa (jangan) di tahrif (merubah ma’na), ta’til (menghilangkan ma’na), takyiif (menanyakan bagaimana) dan tamtsil (sengaja menyerupakan dengan makhluk-Nya), Di karenakan Allah telah berfirman dengan lafaz ”yad” di dalam kitab Nya yang makna asalnya adalah ”tangan”. Hanya saja tidak boleh kita menggambarkan atau membayangkan atau membagaimanakan sifat ”tangan” tersebut, yang wajib bagi kita adalah membiarkan apa adanya sesuai dengan apa yang datang dari Allah dan rasul-Nya tanpa tahrif (merubah ma’na), ta’til (menghilangkan ma’na), takyiif (menanyakan bagaimana) dan tamtsil (sengaja menyerupakan dengan makhluk Nya).

Karena Allah berfirman : tidak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya dan Dialah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS Assyu’ara :11).

Oleh karena itu, kita tidak boleh menetapkan NAMA-NAMA dan SIFAT-SIFAT Allah subhaanahu wa ta’aala yang tidak di tetapkan atau tidak di jelaskan oleh Allah subhaanahu wa ta’aala Sendiri di dalam Al Qur’an dan di dalam As sunnah (hadits) Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam. Misalkan : sesungguhnya Allah itu wujud, qidam, baqoo, mukholafatullilhawadits, dan seterusnya sampai tiga belas atau dua puluh.

Hal atau sifat tersebut tidak boleh di peruntukkan bagi Allah subhaanahu wa ta’aala, di karenakan wujud, qidam, baqoo, mukholafatullilhawadits,  itu tidak ada sama sekali di dalam Al Quran dan As sunnah Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam, bahkan yang membuat sifat-sifat yang 20 adalah manusia yaitu (Abul hasan Al ’Asy ’arii) sedangkan beliau sendiri sudah bertaubat atau merujuk Aqidah beliau kepada Aqidah Ahlussunnah wal jama’ah., dengan menulis Kitab Al-Ibanah A’n-Usuuliddiyaanah. Sedangkan yang ada atau yang benar dalam Alqur’an selain dari yang di sebutkan tadi (wujud, qidam ,baqoo, dll) adalah Firman Allah Ta’aalaa :

Dialah yang Awwal , dan Yang Akhir, dan Yang Dzahir, dan Yang Bathin”(QS.Al-Hadid:3).

Dan sungguh Rasulullah telah menafsirkan 4 nama ini dengan tafsir yang ringkas, yang mencakup dan jelas. Nabi shallllahu’alaihiwasallam bersabda:

Engkaulah Yang Awal, maka tidak ada sesuatu sebelum-Mu. Engkaulah Yang Akhir, maka tidak ada sesuatupun sesudah-Mu, Engkau Yang Tampak, maka tidak ada sesuatupun di atas-Mu. Engkau Yang Tersembunyi, maka tidak ada sesuatupun di bawah-Mu”

(HR.Muslim (No.2713), At tirmidzi (No.3397),Abu Daud (No.5051), Ahmad (11/381-404), Al Baihaqi dalam kitab asma wa sifat (hal 34 dan 226) dari hadits Abu Hurairah).

Kata Awwal menunjukkan kepada Allah itu Azali (yang ada sebelum sesuatu itu ada), kata Akhir menunjukkan pada Tetap dan Abadinya Allah. Kata Zhahir menunjukkan pada Tinggi dan Agungnya Allah. Kata Bathin menunjukkan kepada Dekat dan Bersamanya Allah. (syarah khalil harras, hal. 89).

Jika kita hanya membatasi nama dan sifat Allah hanya  sebatas 13 nama dan sifat atau 20 NAMA dan SIFAT Allah, maka bagaimana dengan sifat Allah yang sembilan puluh sembilan  serta NAMA dan SIFAT yang lainnya (selain dari 99 nama dan sifat Nya). Oleh karena itu sifat-sifat yang telah di sebutkan di atas (wujud, qidam, baqoo, mukholaftullilhawadits, wahdaniiyyah, qudrah, iradah, dan lain sebagainya) itu BATIL ATAU SALAH.  Nama-nama dan sifat-sifat Allah subhaanahu wa ta’aala itu tidak TERBATAS sehingga kita tidak boleh membatasinya kecuali dengan berdasarkan Al qur’an dan Sunnah.

Di dalam Al quran Allah subhaanahu wa ta’aala  berfirman : ”Hanya milik Allah asma’ul husna (nama-nama yang baik bagi Allah ta’ala) ,maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asma’ul husna(nama-nama yang baik) itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Kelak mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (QS Al A’raf : 180) dan di dalam hadits Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam di sebutkan : sesungguhnya Allah itu mempunyai sembilan puluh sembilan nama siapa yang menghitungnya (menghafal dan mengamalkan sesuai dengan konsekwensinya) akan masuk syurga.(HR.Muslim).

Adapun para shahabat, tabi’in, tabi’ut at-tabi’in dan semua para ulama Ahli Sunnah wal Jama’ah menempuh metode yang sama dalam menetapkan Nama dan Sifat Allah yaitu MEMBIARKAN apa adanya tanpa tahrif (merubah makna), ta’til(menghilangkan makna), takyif (membagaimanakan) dan tamtsil (menyerupakan) diantaranya :

(1). Imam al-Auza’ii yang dianggap Imam ahli Syam di zamannya. Beliau telah menegaskan: “Kami dan para Tabi’in semuanya menetapkan dengan kesepakatan qaul (perkataan) kami Bahwa: Sesungguhnya Allah di atas ‘Arasy-Nya dan kami beriman dengan apa yang telah di- nyatakan oleh Sunnah berkenaan SIFAT-SIFAT Allah Taala”.[1]

(2). Imam Abu Hasan Al-Asy’ari rahimahullah( yang dahulunya berpemahaman Mu’tazilah, As’ariyyahkemudian merujuk kepada Aqidah ahlussunnah wal jama’ah), yang dikenali sebagai Imam Ahli sunnah wal-Jamaah, beliau telah menegaskan bahwa Al Qur’an Bukan Makhluk dan di turunkan oleh Allah yang berada di langit dan beliau seterusnya menjelaskan: “Allah mempunyai SIFAT, mempunyai tangan, bersemayam di atas ArasyNya dan mempunyai wajah. Al Qur’an itu Kalamullah bukan makhluk dan Al Qur’an diturunkan dari langit”.[2]

(3). Imam As-Syafi’i rahimahullah menjelaskan (sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abi Talib setelah beliau ditanya tentang sifat Allah): “Dan bagi-Nya dua tangan sebagaimana firman-Nya: (Tidak demikian), tetapi kedua-dua tangan Allah terbuka (QS.Al Maidah: 64). sebagaimana firman-Nya: Dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Allah mempunyai wajah sebagaimana firman-Nya: Setiap sesuatu akan binasa kecuali Wajah-Nya (QS.AR-Rahman: 27). Bagi-Nya kaki sebagai sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: Neraka Jahannam masih saja di isi (dengan penghuninya), maka ia (Neraka) senantiasa mengatakan: “Masih adakah Tambahan?”Sehingga Rabbul Izzah (Dia) meletakkan Kaki-Nya dalam riwayat lain- meletakkan telapak kaki-Nya di atasnya, maka sebagiannya merapat kepada sebagian yang lainnya. Lalu ia (Neraka) itu berkata: “cukup….cukup”(Muttafaq’alaih).

Dia Mempunyai Jari sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: Tiadalah hati itu kecuali antara jari-jari dari jari-jari Ar-Rahman (Allah). Kami menetapkan sifat-sifat ini dan menafikan (meniadakan) dari menyerupakan sebagaimana dinafikan (di tiadakan) sendiri oleh Allah sebagaimana Firman-Nya: (Tiada sesuatu yang serupa denganNya dan Dia Maha Mendengar dan Maha Melihat)”.[3]

Beliau (Imam Syafi’i) seterusnya menjelaskan: “Dan Allah Ta’ala di atas ‘Arasy-Nya (Dan ‘Arasy-Nya) di langit”.[4]

Imam Syafi’i seterusnya menjelaskan lagi: “Kita menetapkan SIFAT-SIFAT (Allah) sebagaimana yang didatangkan oleh Al Qur’an dan yang warid tentang-Nya dari sunnah, kami menafikan (meniadakan) tasybih (penyerupaan) tentang-Nya karena telah dinafikan (di tiadakan) oleh diri-Nya sendiri sebagaimana firman-Nya (Tiada sesuatu yang serupa dengan-Nya)”.[5]

Imam Syafii telah menjelaskan juga tentang turunnya Allah: “Sesungguhnya Dia (Allah) turun setiap malam ke langit dunia (sebagaimana) menurut khabar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam”.[6]

Imam Asyafi’i berlandaskan kepada sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Tuhan kita turun ke langit dunia pada setiap malam apabila sampai ke satu pertiga dari akhir malam, maka Ia berfirman: siapa yang berdoa akan Aku perkenankan, siapa yang meminta akan Aku tunaikan dan siapa yang meminta Keampunan akan Aku Ampunkan.[7]

(4). Abdullah bin al-Mubarak rahimahullah ketika ditanya tentang bagaimana  kita mengetahui di mana Allah? Beliau menyatakan: “Ketika ditanyakan kepada Abdullah bin al-Mubarak: Bagaimana kita mengetahui di mana Tuhan kita? Beliau menjawab: Dengan mengetahui bahwa Dia di atas langit ketujuh di atas Arasy”.[8]

Sebagaimana firman Allah Ta’aalaa : Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arasy (QS.Al-a’raaf : 54)

Di sebuah hadits shahih, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengakui dan menerima penjelasan seorang hamba bahawa Allah itu di langit. “Berkata Muawiyah bin Hakam as-Sulami: Aku memiliki seorang hamba wanita yang menggembalakan kambing di sekitar pegunungan Uhud dan Juwainiyah. Pada suatu hari aku melihat seekor serigala menerkam dan membawa lari seekor kambing gembalaannya. Sedang aku termasuk seorang anak Adam kebanyakan. Maka aku mengeluh sebagaimana mereka. Oleh karena itu, wanita itu aku pukul dan aku marahi. Kemudian aku menghadap Rasulullah, maka Rasulullah mempersalahkan aku., Aku berkata: Wahai Rasulullah! Adakah aku harus memerdekakannya” Jawab Rasullullah: Bawalah wanita itu ke sini. Maka Rasulullah bertanya kepada wanita itu. Di mana Allah” wanita itu menjawab: Di langit. Rasullullah bertanya lagi: Siapa aku” Dijawabnya: Engkau Rasullullah. Maka Rasulullah bersabda: Merdekakanlah wanita ini, karena dia adalah seorang mukminah”.[9].

Dalam satu riwayat hadis mutaffaq ‘alihi, bahwa Allah itu “ad-Dahr” atau “masa”. “Janganlah kamu memaki ad-dahr (masa), karena sesungguhnya Allah itu adalah Masa”[10]

Adapun Seandainya ada di antara Ulama Ahlussunnah Yang menta’wil (Menafsirkan) Nama dan SIfat-Sifat Allah, tetaplah bagi KITA tidak Boleh Mengikuti Pendapat Ulama tersebut, Di Karenakan dalam Penta’wilan itu membutuhkan dalil (Petunjuk) yang Kuat dari Alqur’an dan Sunnah, bukan dengan Akal-akalan, Sedangkan Penta’wilan (Penafsiran) tanpa Dasar atau Dalil itu Bukanlah Hujjah dalam Agama, Apalagi Berbicara Masalah Nama dan Sifat Allah Ta’aalaa yang Bersifat AQIDAH, dalam hal Masalah FIQIH saja berbicara Tanpa Dasar Dalil saja Tertolak, Apalagi berbicara Masalah AQIDAH Yang Jelas-Jelas hal tersebut Masalah GHAIB (yang tidak bisa Di Tembus oleh PANCA INDRA) , jelas harus di kembalikan kepada Alquran dan As-Sunnah, karena kita bisa mengetahui Yang GHAIB hanya dari WAHYU ( Alquran dan Sunnah) sedangkan AKAL manusia tidak mengetahui sedikitpun tentang Masalah Yang GHAIB. Yang benar bagi kita adalah Mengimaninya, menetapkan Apa adanya sebagaimana datangnya Tanpa (Jangan) TAHRIF (Menyimpangkan Makna), TA’TIL (Meniadakan Makna ), TAKYIIF (Membagaimanakan Makna), TAMTSIL (Menyerupakan Makna dengan Makhluk) Karena kita Telah Mengetahui Bahwasannya Pendapat Ulama tersebut TERSALAH, BUKAN berarti kita harus Mencelanya atau Membid’ahkannya atau Bahkan Mengkafirkannya, Karena yang berhak Mengkafirkan Hanyalah Allah dan Rasul-Nya. Kewajiban kita adalah Mengikuti yang BENAR, Adapun kesalahan ULAMA tersebut kita MELURUSKANNYA  Kemudian Memohonkan Ampunan Untuknya, Bukan Mencelanya.

Di dalam masalah Asma wa Sifat ini ada dua Kelompok ( 2 golongan ) yang menyimpang :

  1. Mu’atthilah (Golongan yang mengingkari Nama dan Sifat Allah)

Yaitu golongan yang mengingkari nama dan sifat Allah subhanahu wa ta’ala baik sebagiannya (nama dan sifat-Nya) atau seluruhnya. Di antara golongan yang termasuk mu’atthilah yaitu kelompok Jahmiyyah (orang yang mengikuti pendapat jahm bin shofwan), mu’tazilah (orang yang mengikuti pendapat Wasil bin ’Atho), ’Asy ’Ariiyyah(orang yang mengikuti pendapat Abul Hasan Al ’Asy’arii). Alasan mereka adalah Apabila Allah subhanahu wa ta’ala mempunyai SIFAT, ini berarti Sifat Nya sama dengan SIFAT makhluk-Nya. Karena makhluk juga mempunyai SIFAT (itu kata mereka).

Misalnya, Allah mempunyai Tangan makhlukpun mempunyai Tangan, Allah mempunyai Wajah makhlukpun mempunyai Wajah, Allah mempunyai Mata makhlukpun mempunyai Mata. Oleh karena itu (kata mereka) kita mengingkari NAMA-NAMA dan SIFAT-SIFAT yang telah di sebutkan di dalam Al qur’an dan As sunnah di khawatirkan serupa dengan makhluk, baik yang di ingkari sebagian atau seluruhnya. (kata mereka).

Adapun BANTAHANNYA :

1.      apabila kita mengingkari NAMA dan SIFAT Allah subhaanahu wa ta’aala baik sebagian atau seluruhnya yang ada di dalam Alqur’an atau Al hadits (sunnah), maka akan melahirkan beberapa akibat-akibat yang BATIL atau FATAL. Seperti akan menimbulkan kontradiksi atau pertentangan antara firman Allah satu sama lain, sehingga seakan-akan bertentangan ayat-ayat Allah yang satu dengan yang lainnya. Hal ini tidak mungkin terjadi di dalam Al qur’an atau firman Allah subhaanahu wa ta’aala dan tidak mungkin pula Al qur’an bertentangan dengan hadits.

2.      Alasan ke dua Tidaklah berarti jika ada dua NAMA dan SIFAT yang sama berarti SERUPA. Kita bisa mengetahui manusia Melihat, Bersuara, Mendengar dan kita juga mengetahui bahwa hewan Melihat, Bersuara, Mendengar. Apakah mendengar dan melihatnya manusia sama dengan mendengar, dan melihatnya hewan! kita juga mengetahui manusia mempunyai  Tangan, Mata dan Wajah, dan kita juga mengetahui hewan, ada yang  mempunyai Tangan, Mata dan Wajah Apakah sama tangan,mata,dan wajahnya manusia dengan tangan,mata dan wajahnya hewan! Jika makhluk dengan makhluk saja sudah BERBEDA, Apalagi makhluk dengan Sang Kholik (Allah subhanahu wa ta’ala) JELAS, lebih tidak sama lagi dengan makhluk-Nya. Sebagaimana dalam firman Allah subhaanahu wa ta’aala : Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya dan Dialah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS Assyu’ara :11).

2.Musyabbihah.(Golongan yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya)

Yaitu menetapkan NAMA dan SIFAT Allah sekaligus menyerupakan NAMA dan SIFAT Allah dengan  NAMA dan SIFAT makhluk-Nya.

Mereka beranggapan atau beralasan :

1. Karena makna yang di tunjukan oleh Nash-Nash Alqur’an atau Dalil itu Tekstual,yaitu Allah Berbicara sesuai dengan apa yang di pahami oleh manusia sepertiAllah menyebutkan mempunyai ”Tangan” di dalam Al qur’an berarti sama Tangan-Nya dengan tangan makhluk-Nya, Allah menyebutkan mempunyai Mata di dalam Al qur’an berarti sama Mata Allah dengan Mata makhluk-Nya, Allah menyebutkan mempunyai Wajah di dalam Al qur’an berarti sama Wajah Allah dengan wajah makhluk-Nya (Itu kata mereka).

Oleh karena itu Mereka di namakan Musyabbihah atau (kelompok yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya). Anggapan seperti itu juga sama-sama BATIL ATAU SALAH dengan sesalah-salahnya

 
Adapun BANTAHANNYA :

1.  menyerupakan Allah dengan makhluk itu merupakan sesuatu yang BATIL atau SALAH secara akal atau ngawur dengan sengawurnya-ngawurnya, Apalagi secara Syariat, Akal yang sehat sahaja pasti tidak akan menerima jika pencipta makhluk disamakan dengan makhluk yang diciptakan-Nya.

Sebagaimana tukang kayu membuat bangku. apakah sama tukang kayu dengan bangku!.

2.  Sesungguhnya Allah subhaanahu wa ta’aala memang benar berbicara kepada manusia dengan apa yang di pahami oleh manusia, akan tetapi ini hanya dari segi makna asal atau asal makna, sedangkan hakekat atau esensinya atau bagaimana (Tangan-Nya, Wajah-Nya, Mata-Nya) itu hanya Allah saja yang mengetahui tentang hakekatnya. Sebagaimana jika Allah menyebutkan Allah Maha mendengar. Kita mengetahui bahwa makna asal mendengar itu adalah sampainya suara ke telinga, kemudian jika Allah menyebutkan Allah Maha Melihat. Kita mengetahui bahwa makna asal melihat itu adalah sampainya cahaya ke mata atau ke retina mata, akan tetapi bagaimana cara mendengar dan melihat Allah, hal itulah yang kita serahkan hakekatnya (bagaimananya) kepada Allah subhanaahu wa ta’aala.

Inilah penjelasan tentang ASMA ( NAMA ) dan SIFAT Allah Yang Maha Agung, yang tidak ada sesuatupun yang SERUPA dengan-Nya. Dan ini pulalah penjelasan tentang kelompok-kelompok yang menyimpang dari jalan Ahlussunnah wal jama’aah  dengan segala bantahannya.

Semua ini adalah penjelasan tentang Iman kepada Allah subhaanahu wa ta’aala, di mana iman seseorang itu kurang jika  tidak mengetahui dan juga menyimpang  jika  menyimpang dari padanya, bahkan bisa sampai kederajat Musyrik atau Kafir, jika tidak mengimani salah satunya seperti Tauhid Uluhiyyah (Menyembah Allah saja). Apabila seorang beriman kepada keberadaan, Rububiyyah, Uluhiyyah, dan Asma wa sifat Allah subhaanahu wa ta’aala, maka barulah iman seseorang tersebut di katakan lurus imannya atau sempurna. Apabila salah satu dari yang empat ini tidak ada pada dirinya berarti imannya bengkok atau tidak lurus kepada Allah subhaanahu wa ta’aala.

ADAPUN HIKMAH KITA BERIMAN KEPADA NAMA-NAMA DAN SIFAT-SIFAT ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALA YAITU :

  1. Tertanamnya TAUHID kepada Allah subhaanaahu wa ta’aala, Sehingga jika ia mengetahui bahwa Allah ta’ala Maha Kuasa atas segala sesuatu, maka ia tidak akan pernah bersandar kecuali kepada Allah subhaanahu wa ta’aala, dan tidak akan pernah MAU percaya Kepada Dukun-dukun, Para Normal, Penyihir, Pesulap, Juru Kunci Kuburan, Ramalan-ramalan tukang ramal atau Ramalan bintang berkedok Zodiak, takhayul, Khurafat, Nasib Baik, Nasib sial, Hari Baik, Hari Sial, dan lain sebagainya, Serta tidak TAKUT kecuali kepada Allah subhaanahu wa ta’aala. Karena ia mengetahui bahwa Allah itu berkuasa atas segala sesuatu, yang di kehendaki Allah terjadi dan Apa yang tidak di kehendaki-Nya tidak akan mungkin terjadi. Apa yang Allah takdirkan untuknya sekali-kali tidak akan Melesat darinya, dan Apa saja yang Allah tidak Takdirkan Untuknya, sekali-kali Tidak akan Pernah Menimpanya.

2.      Jika ia mengetahui bahwasanya Allah adalah yang memberi nikmat, yang memberi Rezki, maka ia tidak akan salah dalam mencari Rezki. Ia tidak akan pergi ke para normal atau peramal untuk menanyakan bagaimana Rezekinya, dan jika ia mengetahui yang hanya di tangan Allah segala kebaikan, Allah Yang memuliakan hamba-Nya yang mu’min dan Allah Yang Maha pengampun, maka hal itu akan membuatnya cinta kepada Allah dan rasa menganggungkan, bertaqorrub kepada-Nya serta tidak berputus-asa dari rahmat dan ampunanNya. Karena adanya kandungan yang maha Agung dalam nama dan sifat-sifat-Nya. Berbeda halnya dengan orang yang tidak mengetahui nama dan sifat Allah subhaanahu wa ta’aala, karena dia berbuat dosa yang besar akhirnya berputus-asa dari rahmat Allah subhaanahu wa ta’aala kemudian berfikir ” Alangkah besarnya dosaku sepertinya  tidak mungkin lagi di ampuni oleh Allah”. Sehingga dia semakin membabi buta dalam berbuat dosa, dan semakin membinasakan dirinya ke dalam kehancuran, karena dia merasa bahwa dosanya tidak akan di ampuni, padahal jika dia mengetahui bahwasanya Allah subhaanahu wa ta’aala Maha pengampun Insya Allah ia tidak akan berputus-asa dari rahmat atau ampunan Allah subhaanahu wa ta’aala, karena Allah subhaanahu wa ta’aala mempunyai sifat ”Al ghofuur” artinya Yang Maha pengampun.

3.      Terwujudnya ibadah dengan cara melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya karena Allah disebut Al ’aliim (Maha mengetahui), As samii’(Maha mendengar), Syadiidul ’iqoob (Yang Maha Keras Siksanya), Sarii’ul hisaab(Yang Maha Cepat Hisabnya). Sifat-sifat tersebut akan membuat seseorang menjadi waspada terhadap apa yang akan dia kerjakan, baik dosa yang kecil maupun yang besar, apakah dia itu berada di tengah keramaian ataupun dalam keadaan sendirian, karena dia mengetahui, bahwasanya Allah subhaanahu wa ta’aala Maha mengetahui dan Maha melihat apa yang dia Kerjakan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s