Cara Menyelamatkan Diri Dari Neraka Bag 5 ( Insya Allah )

Standard

III. IMAN KEPADA ULUHIYYAH ALLAH (TAUHID ULUHIYYAH).

Di antara kandungan iman kepada Allah tabaaroka wa ta’aalaa yang ketiga yaitu  Iman kepada Tauhid Uluhiyyah artinya mengesakan Allah tabaaroka wa ta’aala  dengan perbuatan para hamba Nya (Yaitu Kita sebagai para Hamba-Nya) bardasarkan niat taqorrub (mendekatkan diri kepada Allah ) yang di syari’atkan. Seperti shalat, puasa, do’a, nadzar, kurban, pengharapan, takut, tawakkal, senang ,kembali atau taubat danlainnya, yang berkaitan dengan ibadah. Dalam Definisi di atas terdapat Terdapat Kata-kata ” Mengesakan Allah Ta’aalaa dengan segala Perbuatan Para HAMBA ”. Siapakah yang di maksud Para HAMBA di sini ! Yang di maksud Para HAMBA di sini adalah Kita Sebagai Hamba Allah Ta’aalaa, Sehingga Kita mengesakan Allah Ta’aalaa dengan Perbuatan Kita Yaitu seperti Shalat, Puasa, haji, Doa, Nadzar dan segala Macam Bentuk Ibadah yang Kita Lakukan Wajib Di TUJUKAN hanya Untuk Allah Semata. Hal tersebut harus di lakukan karena Allah tabaaroka wa ta’aala  sahaja dan tidak boleh Ibadah tersebut di peruntukkan bagi selain Allah Ta’aalaa. Apabila Kita Menujukan Suatu ibadah Kepada Selain Allah maka Berarti Kita telah Menyekutukan Allah dalam Hal Ibadah atau Penyembahan Kepada-Nya. Maka tidak Benar Apabila ada seseorang mengaku Allah Ta’aalaa sebagai Tuhannya akan tetapi tidak Mau Ibadah kepada-Nya Atau Mengaku Allah Ta’aalaa sebagai Tuhanya akan tetapi MENYEKUTUKAN Allah Ta’aalaa dalam beribadah Kepada-Nya atau dengan kata lain Mengaku Tauhid Rububiyyah Akan tetapi Mengingkari Tauhid Uluhiyyah. Apabila seseorang telah mengakui Tauhid Rububiyyah, maka wajib bagi orang tersebut mengamalkan Tauhid Uluhiyyah, agar dia tidak termasuk seperti orang Musyrik (mengakui Tauhid Rububiyyah akan tetapi mengingkari Tauhid Uluhiyyah artinya mengaku bahwa Allah Sang Pencipta akan tetapi tidak mau ibadah kepada-Nya atau Menyekutukan dalam Ibadah Kepada-Nya).

Oleh karena itu orang Musyrik tidak di kategorikan sebagai seorang muslim di zaman Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam sebagaimana yang telah di jelaskan di atas (di bagian Tauhid Rububiyyah). Ketahuilah, wahai Saudaraku jenis Tauhid ini (Uluhiyyah) adalah inti dakwahnya Para Rasul, mulai dari Rasul yang pertama, Nuh alaihissalaam sampai Rasul yang terakhir Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam, bahkan Nabi Isa pun menyerukan tentang Tauhid ini (penyembahan hanya kepada Allah semata), sehingga Nabi Isa pasti akan berlepas diri dari para penyembahnya dari kalangan orang-orang Nashrani pada hari kiamat nanti.

Sebagaimana Allah tabaaroka wa ta’aala  berfirman :  Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul kepada tiap-tiap ummat (untuk menyerukan) : ”Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thogut (segala sesuatu yang di sembah selain Allah)itu ”(QS An-nahl:36).

Ketika Allah bertanya kepada Nabi Isa dalam Firman-Nya: Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: Hai Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: “Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?.” Isa menjawab: “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku (Isa) pernah mengatakan maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku (Isa) dan aku (Isa) tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau MahaMengetahui perkara yang ghaib.” (QS Al Maidah : 116).

Kemudian Isa mengatakan, dalam Firman Nya selanjutnya : Aku (Isa) tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan)nya yaitu: “Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu“, dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu.”

(QS Al Maidah : 117).

Setiap Rasul selalu memulai dakwahnya dengan perintah TAUHID ULUHIYYAH (penyembahan kepada Allah). Karena kewajiban setiap mukallaf (yang di bebani syari’at) atau setiap manusia itu adalah bersaksi laa ilaaha illallah(tidak ada tuhan yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah), kemudian mengamalkannya sesuai dengan konsekuensinya Siapa yang tidak mengakui atau mempraktekkan atau mengamalkan Tauhid ini (Uluhiyyah), maka berarti ia bukan termasuk golongan orang  Muslim, bahkan bisa menghantarkan orang tersebut sampai ke derajat Musyrik atau Kafir.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan para shahabatnya untuk memulai dengan apa yang dimulai oleh beliau sendiri yaitu da’wah kepada TAUHID.

Rasul yang pertama di antara para rasul yang mulia adalah Nuh  ‘Alaihis sallam telah mengajak kepada masalah Aqidah hampir seribu tahun. Dan semua mengetahui bahwa pada syariat-syariat terdahulu tidak terdapat perincian hukum-hukum ibadah dan muamalah sebagaimana yang telah dikenal dalam agama kita ini (ISLAM), karena agama kita ini adalah agama terakhir bagi syariat-syariat agama-agama lain. Bersamaan dengan itu, Nabi Nuh ‘Alaihis sallam tetap mengajak kaumnya selama 950 tahun dan beliau menghabiskan waktunya bahkan seluruh perhatiannya untuk berda’wah kepada Tauhid. Meskipun demikian, kaumnya menolak da’wah beliau sebagaimana telah dijelaskan dalam Al-Qur’an.

“Artinya : Dan mereka berkata :’Janganlah sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan kepada) Wadd, dan jangan pula Suwaa’, Yaghuts, Ya’uq dan Nasr“. [Nuh : 23].

Ini menunjukkan dengan tegas bahwa sesuatu yang paling penting untuk di prioritaskan oleh para da’i Islam adalah da’wah kepada TAUHID. Dan ini adalah makna firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Artinya : Maka ketahuilah, bahwa sesunguhnya tidak ada sesembahan (yang berhak diibadahi) melainkan Allah“. [Muhammad : 19]

Demikian Juga sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam secara amalan maupun pengajaran. Adapun Secara Amalan beliau, maka tidak perlu dibahas, karena pada periode Mekkah perbuatan dan da’wah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kebanyakan terbatas dalam hal menda’wahi kaumnya agar beribadah kepada Allah saja, tidak ada sekutu bagi-Nya.

Sedangkan dalam hal pengajaran, disebutkan dalam hadits Anas bin Malik Radhiyallahu anhu yang diriwayatkan di dalam Ash-Shahihain. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mengutus Muadz ke Yaman, beliau bersabda.

“Artinya : Hendaknya hal pertama yang engkau serukan kepada mereka adalah pesaksian bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi kecuali Allah saja, maka jika mereka mentaatimu dalam hal itu ….. dan seterusnya sampai akhir hadits. [Hadits Shahih diriwayatkan oleh Al-Bukhari (1395) dan ditempat lainnya, dan Muslim (19), Abu Daud (1584), At-Tirmidzi (625), semuanya dari hadits Ibnu Abbas Radhiyallahu anhu]

Hadits ini telah diketahui dan masyhur, Insya Allah.

Mengapa setiap Rasul memulai dakwah mereka dengan Tauhid Khususnya TAUHID ULUHIYYAH (penyembahan kepada Allah semata) ! karena hal ini merupakan masalah yang paling dasar, yang paling pokok serta kebaikan yang paling Mulia, yang menyebabkan seseorang di selamatkan dari Neraka dan di masukan kedalam Syurga serta hal ini merupakan Fondasi dasar atau Fundamental yang wajib di amalkan oleh setiap MANUSIA. Sebagaimana Firman Allaah Ta’aalaa.

“ Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka Menyembah kepada-Ku.” (QS. ADZ-DZARIAAT : 56).

Hal ini menunjukkan bahwasanya wajib bagi setiap Da’i (penyeru kepada kebenaran), atau Ustadz, untuk memulai dakwah mereka, untuk memulai pengajaran mereka, untuk  memulai  Tasfiyyah dan Tarbiyyah mereka dari masalah yang terpenting yakni TAUHID atau AQIDAH.

Oleh karena PENTINGNYA masalah TAUHID ini maka wajib bagi setiap muslim untuk mengetahui apa Makna Syahadat, Rukun Syahadat, syarat-syarat Syahadat, serta mengamalkannya sesuai dengan konsekuensinya. Insya Allah hal tersebut akan di jelaskan berikut ini:

 

A). MAKNA SYAHADAT (LAA ILAAHA ILLALLAH).

Apa makna syahadat laa ilaaha illallah (tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah )?” Al-ilaah artinya Al-Ma’luh, yaitu sesuatu yang disembah atau di ibadati dengan penuh kecintaan serta pengagungan. Di dalam istilah Nahwu atau dalam Kaidah Bahasa Arab, di dalam penggalan kalimat “ laa ilaaha(Tidak ada tuhan) ini tersimpan khabar (kalimat atau kata penjelas) yangdi hilangkan atau ada yang di buang atau tidak di sebutkan kalimatnya. Khabar (kata) yang dibuang atau di sembunyikan itu adalahbi haqqin” (Artinya Yang haq). Sehingga, Makna yang benar secara ijmal (global)  dari makna  LAA ILAAHA ILLALLAH adalah tidak ada yang berhak di ibadati dengan benar kecuali Allah tabaaroka wa ta’aala. Jadi, salah jika ada yang mengatakan khabar (kata penjelas) yang di buang atau di sembunyikan itu adalah “Maujud” (Artinya Ada), sehingga maknanya menjadi tidak ada tuhan selain Allah (bukan ini yang dimaksud karena ini terjemahannya, bukan maknanya). Ini masih batil (Salah), karena jika di tafsirkan demikian, maka tuhan yang Ada atau yang Maujud itu berarti Allah, di karenakan tuhan yang Ada di dunia itu banyak sekali yang di sembah selain Allah akan tetapi tuhan-tuhan itu tidak berhak di sembah seperti patung, dewa, nabi Isa ,Kuburan, matahari, Bintang, Bulan dan lain sebagainya.

Oleh karena itu wajib bagi setiap Muslim mengetahui perkara ini dengan sejelas-jelasnya. Oleh karena itu, makna yang benar tentang laa ilaaha illallaah yaitu beri’tikad (berkeyakinan) dan berikrar (mengucapkan), bahwasanya tidak ada yang berhak disembah dan menerima ibadah kecuali Allah subhanahu wa ta’ala, mentaati hal tersebut dan mengamalkan konsekuensinya.

 

B). RUKUN SYAHADAT (LAA ILAAHA ILLALLAH)

Sesungguhnya syahadat laa ilaaha illallah itu mempunyai 2 Rukun :

1). An-Nafyu (peniadaan):”laa ilaaha”artinya membatalkan atau meniadakan syirik dengan segala bentuknya dan mewajibkan kekafiran terhadap apa saja yang di sembah selain Allah.

 

2). Al-Itsbat (Penetapan):”illallah”artinya menetapkan bahwa tidak ada yang berhak di sembah kecuali Allah dan mewajibkan pengamalan sesuai dengan konsekuensinya.

 

              Makna dua rukun ini banyak di sebut dalam ayat Al-Qur’an, sebagaimana Firman Allah Ta’aalaa : Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut(segala sesuatu yang di sembah selain Allah) dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus………………(QS Albaqarah 256).

Firman Allah ta’aalaa “siapa yang ingkar kepada thogut” itu adalah makna dari “laa ilaaha” (Tidak ada yang berhak di ibadahi) rukun yang pertama. Yaitu An-nafyu (peniadaan), Sedangkan Firman Allah Ta’aalaa “dan beriman kepada Allah” makna dari rukun yang kedua yaitu Al-itsbat (Penetapan), “illallah” (kecuali Allah).

Dan sebagaimana juga dalam Firman-Nya : Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: “Sesungguhnya aku berlepas diri terhadap apa yang kamu sembah ,tetapi (aku menyembah) Tuhan Yang menjadikanku”
(QSAzzukhruf:26-27).

Firman Allah Ta’aalaa “”Sesungguhnya aku berlepas diri” ini adalah makna dari “laa ilaaha” (Tidak ada yang berhak di ibadahi) dari rukun pertama yaitu An-nafyu (Peniadaan). Sedangkan Firman-Nya , “ tetapi (aku menyembah) Tuhan Yang menjadikanku” adalah makna dari rukun yang kedua yaitu Al-itsbat (Penetapan), “illallah” (kecuali Allah).

C). SYARAT-SYARAT SYAHADAT (LAA ILAAHA ILLALLAH).

Sesungguhnya syahadat laa ilaaha illallah itu mempunyai syarat-syarat yang WAJIB diKetahui, diPahami, diPelajari serta di Amalkan. Bersaksi dengan laa ilaaha illallah harus dengan 7 syarat, tanpa syarat-syarat tersebut syahadat tidak akan bermanfaat bagi yang mengucapkannya. Secara global 7 syarat itu adalah :

                       1). Ilmu (Mengetahui lawan dari jahil atau kebodohan).

Artinya Memahami makna dan maksudnya. Mengetahui apa yang di tiadakan dan apa yang di tetapkan untuk Allah, yang meniadakan ketidaktahuannya tentang hal

tersebut (apa-apa yang wajib bagi Allah). Sebagaimana Firman Allah Ta’aalaa:

Dan sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memberi syafa’at; akan tetapi (orang yang dapat memberi syafa’at ialah) orang yang mengakui yang hak (tauhid) dan mereka meyakini(nya). (QS Az-zukhruf:86)

Maksudnya adalah orang yang bersaksi dengan laa ilaaha illallah, dan memahami dengan hatinya apa yang di ikrarkan oleh lisannya, Seandainya ia

mengucapkannya, akan tetapi tidak mengerti apa maknanya, maka persaksian itu tidak sah dan tidak berguna.

           2). Yaqin (lawan dari keraguan).

Seseorang yang mengikrarkannya harus meyakini kandungan syahadat itu.

Manakala ia meragukannya maka sia-sia belaka persaksiannya itu. Sebagaimana Allah

Ta’aalaa berfirman :

“sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada

Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu…..” (QS.Al-hujurat: 15).

3). Qabul (Menerima lawan dari penolakan).

Menerima kandungan dan konsekuensi dari syahadat; menyembah Allah semata dan meninggalkan ibadah kepada selain-Nya.

Siapa yang mengucapkan, akan tetapi tidak menerima dan menta’aati, maka ia

termasuk orang-orang yang di firmankan Allah Ta’aalaa:

Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka: “Laa ilaaha illallah” (Tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah) mereka menyombongkan diri, dan mereka berkata: “Apakah sesungguhnya kami harus meninggalkan sembahan-sembahan kami karena seorang penyair gila?” (QS.As-shaffat: 35-36)
            hal ini sama halnya dengan para penyembah kuburan dewasa ini. Mereka mengucapkan laa ilaaha illallah, akan tetapi tidak mau meninggalkan penyembahan terhadap kuburan. Bukan berarti Ziarah kubur tidak di perbolehkan, hanya sahaja seseorang harus benar-benar mengetahui bagaimana Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam mengajarkan tata-cara berziarah kubur!

           4). Inqiyad (patuh lawan dari meninggalkan).

Sebagaiman firman Allah Ta’aalaa :

Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh. Dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan. (Qs.Lukman: 22).

Al ‘urwatulwutsqo adalah laa ilaaha illallah. Dan makna yuslim wajhahu adalah

yanqoddu (patuh, pasrah).

           5). Shidq (jujur lawan dari dusta).

Yaitu mengucapkan kalimat ini dan hatinya juga membenarkannya. Manakala lisannya mengucapkan, akan tetapi hatinya mendustakan, maka ia adalah Munafik dan Pendusta. Sebagaiman afirman Allah Ta’aalaa :

Di antara manusia ada yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan Hari

kemudian,” pada hal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman              

Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya

menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar. Dalam hati mereka ada penyakit, lalu

ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka

berdusta. (QS.Al baqarah: 8-10).

            6). Ikhlas (lawan dari syirik).

Yaitu membersihkan amal dari segala debu-debu syirik, dengan jalan tidak

mengucapkannya kecuali karena mengingkari isi dunia, Riya, atau Sum’ah. Dalam hadits  ‘itban rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda :

 “ sesungguhnya Allah mengharamkan atas neraka orang yang mengucapkan laa ilaaha

illallah karena menginginkan Ridho Allah” (HR.Al-Bukhori dan Muslim).

           7). Mahabbah (kecintaan lawan dari kebencian).

Maksudnya mencintai kalimat ini serta isinya, juga mencintai orang-orang yang mengamalkan konsekuensinya. Sebagaimana firman Allah Ta’aalaa :

Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. (QS.Al-baqarah: 165).

            Maka dari itu ahli Tauhid itu mencintai Allah dengan cinta yang Tulus Bersih. Sedangkan ahli syirik mencintai Allah dan mencintai yang lainnya, hal ini sangat bertentangan sekali dengan isi kandungan laailaaha illallah.

            D). KONSEKUENSI DARI SYAHADAT (LAA ILAAHA ILLALLAH).

            Yaitu meninggalkan ibadah kepada selain Allah dari segala macam yang di pertuhankan, sebagai keharusan dari peniadaan (laa ilaaha). Dan beribadah kepada Allah semata tanpa syirik sedikitpun, sebagai keharusan dari penetapan (illallah).

            Banyak orang yang mengikrarkan akan tetapi melanggar konsekuensinya. Sehingga mereka menetapkan ketuhanan yang sudah di tiadakan, baik berupa para makhluk, kuburan, pepohonan, bebatuan serta para thaghut lainnya.

Mereka berkeyakinan bahwa Tauhid adalah Bid’ah. Mereka menolak para ulama atau para da’I yang mengajak kepada Tauhid dan mencela orang yang beribadah kepada Allah semata.

Di samping wajibnya mengetahui tentang syahadat laa ilaaha illallah, wajib pula bagi setiap muslim mengetahui makna syahadat  Muhammad Rasulullah (bahwa Muhammad itu utusan Allah),  rukun-rukun syahadat, syarat-syaratnya, serta mengamalkannya sesuai dengan konsekuensinya. Karena syahadat itu berisi 2 persaksian yaitu “ Asyhadu Allaa ilaaha illallah wa Asyhadu anna Muhammadan Rasuulullah”. Diantara yang wajib di ketahui dan dipahami serta di amalkan adalah :

A). MAKNA SYAHADAT (MUHAMMAD RASULULLAH)

Yaitu mengakui secara lahir batin bahwa beliau adalah hamba Allah dan Rasul-Nya yang diutus kepada manusia secara keseluruhan, serta mengamalkan konsekuensinya, menta’ati perintahnya, membenarkan ucapannya, menjauhi larangannya, dan tidak menyembah Allah kecuali dengan apa yang di syari’atkan.

B). RUKUN SYAHADAT “MUHAMMAD RASULULLAH”

Syahadat ini (MUHAMMAD RASULULLAH) ini juga mempunyai 2 Rukun yaitu kalimat (‘Abduh wa Rasuuluh) artinya hamba dan rasul-Nya atau utusan-Nya. Kedua Rukun ini menafikan (meniadakan sikap)  ifrath (berlebih-lebihan) dan Tafrith (Meremehkan) pada hak rasulullah shallallahu’alaihiwasallam. Beliau adalah hamba dan Rasul-Nya. Beliau adalah makhluk yang paling sempurna dalam Dua Sifat yang mulia ini, yang kedua sifat tersebut telah di berikan oleh Allah Ta’aalaa kepadanya. yang pertama :

1). Hamba-Nya (‘Abduh).

Artinya Hamba disini adalah hamba yang menyembah. Maksudnya, beliau adalah manusia yang di ciptakan dari bahan yang sama dengan bahan ciptaan manusia yang lainnya (yaitu berasal dari tanah). Juga berlaku atas beliau sebagaimana berlakunya atas orang selain beliau. Sebagaimana Firman Allah Ta’aalaa :

katakanlah: Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia  seperti kamu……….”.(QS.Al-kahfi: 110).

Beliau hanya memberikan hak ubudiyyah (ibadah) kepada Allah dengan sebenar-benarnya, dan oleh karenanya Allah Ta’aalaa memujinya:

Bukankah Allah cukup untuk melindungi hamba-Nya” (QS.Az sumar: 36).

Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al Kitab (Al-Quran) dan Dia tidak mengadakan kebengkokan di dalamnya; (QS.Al kahfi: 1)

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ……………………(QS.Al israa: 1).

2). Utusan-Nya (Rasuuluh).

            Artinya orang yang di utus kepada seluruh manusia dengan misi dakwah sebagai Basyiir (pemberi kabar gembira) dan Nadziir (pemberi peringatan).

Persaksian untuk Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam dengan 2 sifat ini meniadakan sikap Ifrath (berlebih-lebihan) dan Tafrith (meremehkan) pada hak Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam. Karena banyak orang yang mengaku umatnya (beliau), lalu melebihkan haknya atau bahkan mengkultuskannya hingga mengangkatnya di atas martabat sebagai hamba, bahkan sampai kepada martabat ibadah (penyembahan) untuknya selain dari Allah subhaanahuwata’aalaa. Mereka beristighasah kepada beliau, dari selain Allah. Dan juga meminta kepada beliau sesuatu yang tidak

sanggup melakukannya kecuali Allah. Akan tetapi di pihak lain, sebagian orang mengingkari kerasulannya atau mengurangi haknya, sehingga banyak orang yang Menyalahi Ajarannya (beliau), atau bahkan Bergantung kepada pendapat-pendapat yang menyelisihi Ajarannya (beliau), serta memaksakan diri dalam mena’wilkan hadits-hadits dan hukum-hukumnya agar sesuai dengan Pendapat Mereka. Na’udzu billah.
Adapun setelah itu, wajib bagi setiap muslim mengetahui apa syarat-syarat  syahadat Anna Muhammad Rasulullah (bahwa Muhammad itu utusan Allah)! Yang Insya Allah akan di jelaskan berikut ini.

C). SYARAT-SYARAT SYAHADAT “MUHAMMAD RASULULLAH”.

1). Mengakui kerasulannya dan meyakininya di dalam hati.

2). Mengucapkan dan mengikrarkan dengan lisan.

3). Mengikutinya dengan mengamalkan ajaran kebenaran yang telah di bawanya

serta meninggalkan kebatilan yang telah di cegahnya.

4). Membenarkan segala apa yang di kabarkan dari hal-hal yang ghaib, baik yang

sudah lewat, maupun yang akan datang.

5). Mencintainya melebihi cintanya kepada dirinya sendiri, harta, anak, orang tua

Serta umat manusia seluruhnya.

6). Mendahulukan sabdanya atas segala pendapat orang lain serta mengamalkan

sunnahnya.

D). KONSEKUENSI  DARI SYAHADAT “MUHAMMAD RASULULLAH”.

Yaitu menta’atinya, membenarkannya, meninggalkan apa yang di larangnya, mencukupkan diri dengan mengamalkan Sunnahnya, dan meninggalkan yang lain dari hal-hal Bid’ah dan Muhdatsat (baru), serta mendahulukan Sabdanya di atas segala pendapat  manusia seluruhnya.

Hal-hal yang membatalkan Islam atau dua kalimat syahadat itu banyak sekali. Mengucapkan Keduanya itu (dua kalimat syahadat) adalah pengakuan terhadap kandungannya serta konsisten mengamalkan konsekuensinya, berupa segala macam syi’ar-syi’ar yang ada di dalam islam. Apabila ia menyalahi apa yang di ikrarkannya, berarti ia telah membatalkan perjanjian dengan Keduanya (syahadatain).

Para Fuqoha (Ahli Fiqih) di dalam kitab-kitab Fiqih telah menulis bab khusus, tentang hal-hal yang membatalkan dua kalimat syahadat atau membatalkan islam. Diantaranya adalah bab khusus yang di beri judul bab Riddah (kemurtadan atau keluar dari islam), dan yang terpenting adalah 10 hal berikut ini :

1.      Syirik dalam beribadah kepada Allah.

Sebagaimana Allah Ta’aalaa berfirman:

“ Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang di kehendaki-Nya.”(QS.An nisaa: 48).

Termasuk di dalamnya yaitu menyembelih karena selain Allah, Misalnya menyembelih untuk kuburan yang di keramatkan atau di peruntukkan bagi jin atau supaya menyembuhkan penyakit dan lain sebagainya.

 

2.      Orang yang menjadikan antara ia dan Allah itu perantara-perantara, ia berdoa kepada mereka, meminta syafa’t kepada mereka dan bertawakal kepada mereka. Orang seperti ini kafir secara  ijma’.

3.      Orang yang tidak mau mengkafirkan orang-orang Musyrik atau orang Kafir dan orang yang masih ragu terhadap kekufuran mereka atau membenarkan madzhab mereka, maka ia itu kafir.

4. Orang yang meyakini bahwa selain petunjuk Nabi shallallahu’alaihiwasallam  

lebih sempurna dari petunjuk beliau atau hukum yang lain lebih baik dari hukum beliau. Seperti orang yang mengutamakan hukum perundang-undangan buatan manusia di atas hukum islam. Maka ia kafir

5.      Siapa yang membenci sesuatu dari ajaran yang di bawa oleh Rasulullah

shallallhu’alaihiwasallam sekalipun ia mengamalkannya, maka ia kafir.

6.      Siapa yang menghina sesuatu dari agama Rasulullah

shallallahu’alaihiwasallam atau pahala maupun siksanya, maka ia kafir. Hal

ini di tunjukkan oleh Firman Allah Ta’aalaa:

“ Katakanlah: ‘Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?’ Tidak Usah kamu meminta maaf, sengguh telah kamu kafir setelah beriman.”(QS.At-taubah:65-66).

7.      Sihir, di antaranya sharf dan ‘athf (amalan yang bisa membuat suami benci

kepada istrinya atau membuat wanita cinta kepadanya atau pelet). Barang siapa yang melakukan atau menyetujuinya atau meridhoinya, maka ia kafir. Sebagaimana firman Allah Ta’aalaa:

“….sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seseorangpun sebelum mereka mengatakan: ‘Sesungguhnya kami hanyalah cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir’.”(QS.Al-Baqarah: 102).

 

 8.      Mendukung kaum Musyrikin dan menolong mereka dalam memusuhi umat islam. Dalilnya firman Allah Ta’alaa:

“Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepda orang-orang dzalim.” (QS.As-sajdah: 22)

 

9.      Siapa yang meyakini bahwa sebagian manusia ada yang boleh keluar dari syari’atNabi Muhammad shallallahu’alaihiwasallam,seperti Nabi Hidir boleh keluar dari syari’at Nabi Musa ‘alaihissalaam, maka ia kafir. Seperti ghulat sufiyyah (sufi yang berlebihan atau melampaui batas) bahwa mereka dapat mencapai suatu derajat atau tingkatan yang tidak membutuhkan untuk mengikuti ajaran Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam.

10.   Berpaling dari agama Allah, tidak mau mempelajarinya dan tidak pula mengamalkannya. Dalilnya Firman Allah Ta’aala :

“ Dan siapakah yang lebih dzalim daripada orang yang telah di peringatkan dengan ayat-ayat Tuhannya, kemudian ia berpaling daripadanya? Sesungguhnya kami akan mengadakan memberikan pembalasan kepada orang-orang yang berdosa.” (QS.As-sajdah: 22).

Syaikh Muhammad At-Tamimy berkata: “Tidak ada bedanya dalam hal yang membatalkan syahadat ini antara orang yang bercanda, yang serius (bersungguh-sungguh) maupun yang takut, kecuali orang yang di paksa. Dan semuanya adalah bahaya yang paling besar serta yang paling sering terjadi. Maka setiap muslim wajib berhati-hati dan mengkhawatirkan dirinya serta mohon perlindungan kepada Allah subhaanaahuwata’aalaa dari hal-hal yang bisa mendatangkan  murka Allah dan Siksa-Nya yang pedih ( didalam kitab Majmu’ At-Tauhid An-najdiyah, hal. 37-39).

Adapun  di antara 10 pembatal-pembatal Syahadatain atau pembatal islam seseorang yang telah di sebutkan itu adalah SYIRIK. Apakah yang di maksud dengan  SYIRIK?

SYIRIK adalah menyamakan selain Allah dengan Allah dalam perkara yang menjadi kekhususan atau hak bagi Allah. Dari definisi ini, maka jelaslah bagi kita Apa definisi SYIRIK itu ! SYIRIK itu tidak hanya sebatas menyembah dan sujud kepada berhala, patung, matahari ,Bulan, Bintang dan lain-lain, namun lebih luas daripada ini, Dan pelaku SYRIK itu disebut MUSYRIK. Kita bisa melihat kaum MUSYRIKIIN (orang-orang Musrik) yang diperangi oleh Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam dulu, apakah mereka MURNI benar-benar menyembah Berhala? Ternyata tidak, Allah menceritakan ucapan mereka: “Tidaklah kami menyembah mereka melainkan agar

mereka dapat mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” (QS Az-Zumar: 3). Mereka menyembah berbagai sesembahan tersebut dengan harapan dapat menjadi perantara bagi Allah. Padahal Allah Ta’aalaa tidak lah BUTUH kepada Perantara, Jikalau Kita Mau Berdoa, Berdoalah Langsung kapada Allah sebagaimana Firman Allah Ta’aalaa :

“Berdoalah Kepada Ku Niscaya Aku kabulkan Permintaanmu Sesungguhnya orang yang sombong dari berdoa kapada KU Kelak Mereka akan masuk ke dalam Neraka Jahannam dalam keadaan Terhina” (QS:Al-ghofir / Al-Mukmin :40)

Bahkan, Mendatangi DUKUN atau yang Sejenisnya termasuk Kesyirikan. Barang Siapa yang mendatangi DUKUN, PARA NORMAL, PENYIHIR, PESULAP,  PERAMAL dan bertanya tentang sesuatu hal yang menjadi Permasalahanya kepada MEREKA, Maka  Ia ( yang bertanya ) Shalatnya tidak di Terima oleh Allah 40 Hari 40 Malam, Barang siapa MEMBENARKAN Apa yang di katakan MEREKA berarti ia

( yang bertanya Lalu MEMBENARKAN itu ) telah Ingkar kepada Ajaran yang di bawa oleh Muhammad Shallallahu’alaihi wa sallam, dan Siapa Saja yang Mendatangi Kuburan Para Nabi, Kuburan Para Wali, Kuburan Para Kyai, Kuburan Para Ustadz  Untuk Berdoa, Meminta BERKAH, REZEKI, JODOH, dan KEKAYAAN, di sana ( di Kuburan tersebut), Berarti ia telah berbuat seperti perbuatan orang YAHUDI dan NASHRANI. Ketahuilah Wahai Saudaraku ! Inilah perbuatan-perbuatan Syirik yang di ancam pelaku-pelakunya dengan Ancaman yang sangat berat, dan di Murka dengan Murka Yang sangat Dahsyat, Bahkan di Ancam Apabila perbuatan Tersebut Memasukan Pelakunya Kepada SYIRIK BESAR, dengan Ancaman NERAKA Selama-lamanya yang ia Tidak akan pernah Keluar daripadanya (Neraka). ( Na’uudzu billah Min Dzalik)

Bahkan, SYIRIK juga tidak terhenti sampai di sini, ada juga SYIRIK dalam KETAATAN, yang di namakan Syirik, Bukan Sekedar Sujud Kepada Patung, matahari, pohon ,kuburan, Batu-batuan, Jimat-jimat dan lain sebagainya, Bahkan menta’ati pendapat ulama atau mengikuti pendapat mereka ketika kita mengetahui bahwasanya pendapatnya salah dalam berijtihad,  maka ini termasuk ke dalam kategori syirik, yang kita mengetahui bahwasanya dosa syirik itu dosa yang paling besar dari dosa-dosa yang besar, dosa yang tidak akan pernah di ampuni oleh Allah ta’aala jika pelakunya meninggal sedang ia belum bertaubat. Sebagaimana Firman Allah ta’aalaa : Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa SYIRIK, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (SYIRIK) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.(QS Annisa : 48). Lain Halnya Apabila Kita Tidak mengetahui Bahwasanya Pendapat Ulama tersebut SALAH, Lalu Kita Melakukannya, Ketahuilah Wahai Saudaraku ! Orang yang tidak Mengetahui atau orang yang Jahil atau orang yang Bodoh itu Terbagi kepada 2  Bagian : Yang Pertama, Orang yang Tidak Mengetahui atau orang yang Bodoh akan tetapi Ia Mau Belajar atau Mau Mencaritahu kebenaran, INSYA ALLAH akan di ampuni oleh Allah Ta’aalaa, Walaupun Ia Tersalah dalam Memilih, Yang Kedua adalah Orang yang Tidak mengetahui atau orang Bodoh akan tetapi tidak mau Belajar atau tidak ada Niat dalam Hatinya untuk menghilangkan kebodohan dalam dirinya untuk  mencari KEBENARAN, Maka orang seperti ini Di bawah Kehendak Allah Ta’aalaa, Jika DIA berkehendak DIA (Allah) akan Menyiksanya, Jika Berkehendak, DIA (Allah)  akan mengampuninya, Ketahuilah ! Bahwasanya orang yang kedua ini termasuk orang yang SOMBONG dan TAKABBUR. Mengapa ! Karena Sudah tahu ia tidak mengetahui, akan tetapi ia tidak mau Berusaha untuk menghilangkan KETIDAKTAHUAN dalam dirinya, Serta merasa Cukup dengan ILMU yang Di Milikinya. Oleh karena itu, Orang Yang tidak Mengetahui Terhadap Ilmu Agama WAJIB Baginya Menuntut Ilmu AGAMA ( Dimanapun Tempatnya Ia Harus Mencarinya ), agar ia Dapat Mengetahui Bagaimana Tatacara ia Beribadah kepada Allah, Agar ia Mengetahui Mana TAUHID dan Mana SYIRIK, Mana SUNNAH dan Mana BID’AH. Mana Yang HALAL dan Mana Yang HARAM. DanJuga agar ia Mengetahui ManaYang BENAR danMana Yang SALAH. Maka dari  itu, Apabila Kita Mengetahui Bahwasanya Pendapat Ulama tersebut Jelas-Jelas Menyelisihi Alquran dan Assunnah atau SALAH, Setelah kita pelajari bahwa Pendapat tersebut Memang Benar-benar SALAH Lalu kita Tetap Sahaja Bersikeras Mengikuti Hawa nafsu, Mengikuti Ulama tersebut atau Ustadz tersebut, Berarti sama saja Kita Membuang Alquran dan Sunnah Jauh-jauh, Tidak mau mempelajarinya dan mengikuti Pendapat Ulama tersebut atau Ustadz tersebut Dengan MEMBABI BUTA.Wahai Saudaraku ! Bagaimana Kita BISA Mengetahui pendapat Ulama tersebut itu SALAH atau BENAR Jikalau kita tidak Pernah belajar Agama atau Menuntut Ilmu Agama, yang kita perhatikan hanyalah masalah DUNIA!. Ketahuilah Wahai Saudaraku, Ulama itu terbagi kepada 2 Macam ? Yang Pertama, Ulama  yang Benar  dan Yang Kedua, Ulama Suu’ (Buruk ), Ketahuilah Wahai Saudaraku ! Ulama Pertama itu adalah Ulama Ahlussunnah Sedangkan Ulama yang Kedua adalah Ulama Ahlul Bid’ah, Adapun Ulama Ahlussunnah Apabila Berijtihad  maka ada 2 kemungkinan, Bisa SALAH Bisa Juga BENAR Ulama Ahlussunnah tersebut tidaklah SALAH dalam menjelaskan akan tetapi kitalah yang SALAH dalam MENGAMALKAN (Artinya Mengikuti pendapat Seseorang atau Ulama dengan Membabi Buta atau hanya mengikuti IJTIHAD Ulama tanpa harus meneliti apakah pendapatnya sesuai atau tidak dengan Alquran dan Sunnah) kita mengetahui Bahwasanya Ulama tersebut sudah berijtihad (artinya mengerahkan seluruh kemampuannya untuk mencari kebenaran dengan Sebenar-benarnya) dan kita Juga mengetahui bahwasanya Manusia itu SEMUANYA Bisa BENAR dan juga Bisa SALAH, dan kita Juga Mengetahui Bahwasanya IJTIHAD itu ada yang BENAR dan ada yang SALAH, Jikalau kita mengikuti yang BENAR berarti kita MENTAATI Allah Ta’aalaa,

Jika TIDAK ! Di Khawatirkan Kita Masuk  ke dalam perbuatan yang di Haramkan oleh Allah dan RasulNya, Adapun yang kedua yaitu Ulama Suu’(Ulama Buruk), ia ( Ulama Tersebut ) Juga Mempunyai Ijtihad atau Fatwa, apabila Ijtihad Tersebut BENAR di Bolehkan bagi Kita Mengikuti kebenaran Yang keluar dari Lisannya ( Ulama Buruk itu ), Bahkan Bisa WAJIB bagi kita untuk mengikutinya, Akan Tetapi apabila kita mengetahui bahwasanya Ijtihadnya Salah Lalu kita menta’atinya dengan Mencampakkan Alqur’an dan Suunnah BERARTI Kita telah Ikut Andil Menghalalkan apa yang Allah Ta’aala Haramkan atau Mengharamkan yang Allah Ta’aalaa Halalkan  Apabila Sudah Seperti demikian Jadinya Ini BERARTI kita MENYEKUTUKAN Allah Ta’aalaa dalam Hal KETAATAN kepada-NYA.

Ketahuilah wahai saudaraku, “SESUNGGUHNYA LADANG IJTIHAD ITU HANYA ADA DALAM HAL-HAL YANG SIFATNYA FURU’IYYAH ATAU CABANG(SEPERTI FIQH), ADAPUN TENTANG MASALAH AQIDAH(POKOK) TIDAK ADA SEORANG PUN YANG BERHAK MELAKUKAN IJTIHAD KECUALI APA YANG TELAH DIJELASKAN ALLAH DAN RASUL-NYA DALAM AL QUR’AN DAN AS SUNNAH”.

Adapun ulama yang tersalah, jika ia berdosa (akibat kesalahan karena berijtihad). Insya Allah, Allah akan mengampuni dosanya. Sebab, beliau (ulama tersebut) telah mencurahkan segala pemikirannya untuk mencari kebenaran (dalam masalah Fiqh atau dalam berfatwa),  Jika ulama itu, benar, ia (ulama itu) mendapatkan 2 pahala, jika salah maka mendapat 1 pahala. Pada umumnya banyak orang awam, mengambil dalil ini atau hadits ini untuk memperkuat pendapatnya atau bid’ahnya, Padahal Para Imam sangat mencela sekali akan adanya bid’ah (apakah itu bid’ah yang baik ataupun buruk). Dan banyak pula orang menisbatkan (menuduh), bahwa yang melakukan kebid’ahan itu adalah para sahabat, tabi’iin, tabii’u-ttabi’iin serta aimmatul hudaa (para Imam, khususnya imam 4 yang masyhur di kalangan kaum muslimin), sehingga banyak di antara mereka yang melakukan bid’ah tersebut  tanpa harus mengkaji dari mana asal bid’ah tersebut. Padahal mereka semua (para shahabat, tabiin, dan para imam 4 yang masyhur) sangat takut menyelisihi Rasulullah dalam hal-hal yang baru dalam agama (bid’ah), karena mereka mengetahui bahwasanya Binasanya orang-orang terdahulu akibat menyelisihi Nabi-nabi mereka. Apakah dalam hal penentangan ataupun dalam hal mengada-adakan dalam agama (bid’ah). Bahkan semua  Para ulama mengatakan : jika ada pendapatku yang menyelisihi Alqur’an dan Alhadits, maka tinggalkan pendapatku.

Diantara mereka yang mengatakan seperti itu adalah para imam Ahlussunnah wal jama’aah yaitu  Imam As Syafi’i . Imam Malik dan Imam Abu hanifah, serta Imam Ahmad bin Hambal :

PRINSIP DALAM FIQIH MEREKA ADALAH

1.      Al imam As Syafi’i, berkata setiap orang harus Bermadzhab kepada Rasulullah shallallohu’alaihiwasallam dan mengikutinya. Apapun pendapat yang aku (syafi’i) katakan atau Sesuatu yang aku katakan itu berasal dari Rasulullah shallallohu’alaihiwasallam padahal berlawanan dengan pendapatku, apa yang di sabdakan Rasulullah shallallohu’alaihiwasallam itulah yang menjadi pendapatku.(HR.Hakim dengan sanad bersambung kepada imam As syafi’i seperti tersebut dalam kitabTarikh Damsyik karya Ibnu ‘Asakir (XV/1/3), I’lam Almuwaqqi’in (II/363-364), Al-iqozh hal 160).

  • As Syafi’i berkata, “Semua hadits yang shahih dari Nabi shalallahu a’laihi wassalam maka itu adalah pendapatku meskipun kalian tidak mendengarnya dariku.”(Ibnu Abi Hatim hal 93-94).
  • As Syafi’i mengatakan, “Jika hadits itu shahih itulah Madzhabku”(An-Nawawi, dalam Al-Majmu’).

2. Imam Malik Rohimahullah, berkata  saya hanyalah seorang manusia biasa, terkadang salah, terkadang benar. Oleh karena itu, telitilah pendapatku, apabila sesuai dengan Al qur’an dan Sunnah, Ambillah; dan apabila tidak sesuai dengan Al qur’an dan As sunnah, tinggalkanlah (Ibnu ‘Abdil Baar dan dari ia Ibnu hazm dalam kitabnya Ushul Al Ahkam (VI/149)).

  • Imam Malik Rohimahullah, berkata  siapapun perkataannya bisa di tolak dan bisa di terima kecuali hanya Nabi shallallahu’alaihiwsallam sendiri. (di kalangan Ulama Mutaakhiriin hal ini masyhur (terkenal) di nisbatkan (di sandarkan) kepada Imam Malik dan di nyatakan shahihnya oleh Ibnu ‘Adil Hadi dalam kitabnya Irsyad As-salik, di riwayatkan juga oleh Ibnu ‘Abdil Baar dalam kitab Al jamii’ (II/291), Taqiyyudin menyebutkan dalam kitab Al Fatawa dari ucapan Ibnu ‘Abbas karena ia merasa takjub dengan kebaikan ucapan itu ia berkata : ucapan ini diambil oleh Mujahid (tabi’iin) dari Ibnu ‘Abbas (sahabat), lalu Imam Malik mengambilnya dari perkataan mereka, kemudian orang-orang mengenalnya dengan perkataan beliau sendiri yaitu Imam Malik).

 3. Imam Abu hanifah (nu’man bin tsabit), berkata tidak halal bagi seseorang mengikuti perkataan kami, apabila ia tidak tahu dari mana kami mengambil sumbernya, pada riwayat lain di katakan orang yang tidak mengetahui dalilku (hujjahku), haram baginya menggunakan pendapatku untuk memberikan fatwa, pada riwayat lain di- tambahkan “ kami hanya seorang manusia, hari ini kami berpendapat demikian tetapi besok kami mencabutnya, pada riwayat lain dikatakan (di sebabkan imam ini sering mendasarkan pendapatnya pada Qiyas, karena ia melihat qiyas itu lebih kuat (kemudian setelah itu datanglah Hadits Nabi yang belum datang kepada beliau) lalu ia mengambil Hadits tersebut, lalu ia tinggalkan pendapatnya yang terdahulu.” Sya’rani dalam kitab Al-Mizan(1/62)).

4.Ahmad bin hambal, berkata  janganlah kalian Taklid (mengikuti pendapat membabi buta) kepadaku, Malik, Syafi’i, Auza’i, dan Atsauri, tetapi ambillah dari sumber mana mereka mengambil. (Al-filani hal 113 dan Ibnul Qoyyim dalam Al ‘I’lam hal 302).

Inilah sebagian perkataan Ulama yang mereka berprinsip dalam Bidang Fiqh, Apalagi dalam hal-hal yang terkait dalam masalah AQIDAH, jelas mereka akan mengembalikannya (Aqidah itu) kepada Alqur’an dan Assunnah, dan masih banyak lagi perkataan para ulama yang semisal dengan mereka. Mereka mengatakan seperti itu agar semua orang itu mengetahui bahwasanya mereka (para imam itu) tidak pernah menganggap dirinya merasa paling benar dan terbebas dari kesalahan, para imam Ahlussunnah  itu hanyalah manusia biasa yang tidak pernah luput dari dosa sehingga semua para ulama mengatakan seperti apa yang telah mereka katakan.

Oleh karena itu, semua Para Imam (Khususnya, Imam Asyafi’i, Malik, Abu hanifah, dan Ahmad bin hanbal ) akan berlepas diri dari semua orang yang hanya mengikuti atau bertaklid buta atas pendapat-pendapat mereka yang keliru (salah) pada hari kiamat kelak atau mengikuti yang mudah-mudah sahaja dari pendapat mereka.

Maka dari itu Bukan berarti, kita tidak boleh mengikuti Para Imam, yang tidak di perbolehkan adalah mengikuti salah seorang di antara mereka dengan membabi buta dan mencampakkan Para Imam yang lainnya tanpa mengetahui sejauh mana kebenarannya. Yang benar adalah, kita Bedah/BukaSemua kitab para ulama, dan kita pelajari kemudian kita Ambil mana di antara mereka yang sesuai dengan kitab Al qur’an dan Sunnah, tentunya dengan penjelasan Ahli ilmu (agama) yang benar-benar mengetahui tentang Alqur’an dan seluk beluk hadits (yang bisa membedakan mana hadits shahih dan mana hadits dhoif, maudhu atau mungkar atau lainnya, tidak terkenal pendusta, dan tidak fanatik dengan kelompok, golongan atau madzhab tertentu) dan Ulama-ulama yang benar-benar menegakkan sunnah sesuaipemahaman para sahabat Radhiallahu’anhum jamii’an, bukan menurut pemahaman individu (orang awwam atau orang yang tidak mengetahui Ilmu hadist beserta syarat dan kaidahnya). Apabila kita tidak mengambil penjelasan dari para ulama! Dari mana lagi kita akan mendapatkan penjelasan!  Sebab mereka itu adalah Pewarisnya para nabi. sehingga mereka menjelaskan (dengan segenap kemampuan mereka) dan dengan merekalah sunnah Nabi shallallahu’alaihiwasallam berjalan dan karena penjelasan dari merekalah kita mengetahui. Oleh karena itu seseorang boleh mengikuti pendapat ulama, jika pendapatnya (ulama itu) sejalan dengan Alqur’an dan Assunnah sesuai dengan pemahaman para shahabat Radhiallahu’anhum jamii’an, adapun yang salah (menyelisihi Alqur’an dan As sunnah) kita tinggalkan, “DAN KITA MENDO’AKAN UNTUK MEREKA AGAR DI AMPUNI KESALAHAN MEREKA BUKAN MENGHINA ATAU MENCACI SALAH SEORANG DI ANTARA MEREKA” dan adapun yang benar (yang berdasarkan Kitab dan Sunnah sesuai pemahaman para Shahabat radiallahu’anhum) kita amalkan, sebab jika kita mengikuti yang benar, berarti kita telah mengikuti Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam, sedangkan jika kita mengikuti pendapatyang salah dari ulama (tersebut), berarti kita telah menyekutukan Allah dalam hal pengesahan Halal dan Haram (penghalalan dan pengharaman). Hal ini sangat berbahaya sekali, yang kebanyakan Orang Awwam itu tidak mengetahui hakekat perkara ini.

Tatkala Rasulullah shallallahu ’alaihi wassalam membacakan ayat: “Mereka menjadikan orang-orang Alimnya dan Rahib-rahib mereka sebagai Tandingan (tuhan) selain Allah.” (At-Taubah: 31). Sahabat Adi bin Abi Hatim radhiallahu ‘anhu yang pada waktu itu baru masuk Islam menyanggah: kami itu Tidaklah menyembah mereka”. Maka Rasulullah shallallahu ’alaihi wassalam menjawab: “Bukankah mereka mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Allah lalu kalian pun ikut mengharamkannya, dan bukankah mereka menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah lalu kalian pun ikut menghalalkannya?” Maka Adi bin Abi Hatim radhiallahu ‘anhu  pun menjawab: Benar. Rasulullah shallallahu ’alaihi wassalam berkata: Itulah peribadahan kepada mereka”. Lalu sekarang, betapa banyak kaum muslimin yang mereka ikut menghalalkan yang semestinya haram dengan landasan hawa nafsu atau taklid (ikut-ikutan)? Na’udzu billah.

Syirik tidak hanya terbatas pada amalan badan, namun juga amalan HATI dan LISAN. Allah berfirman: “Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah.” (Al Baqoroh: 165).

Bahkan ¡ Riya (Ingin di puji Masyarakat), Sum’ah (Ingin di dengar Masyarakat), ‘Ujub (Merasa Bangga dengan dirinya atau merasa bangga dengan Ilmunya Merasa Cukup dengan Kekayaannya) itu semua masuk dalam kategori SYIRIK.

Dalam sebuah hadits qudsi Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

قال الله تبارك وتعالى : أنا أغنى الشركاء عن الشرك من عمل عملا أشرك فيه معي غيري تركته وشركه

Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa berfirman : “Aku Dzat yang paling tidak membutuhkan sekutu. Barang siapa yang beramal dengan menyekutukan Aku, maka Aku tinggalkan dia dan Sekutunya.” (HR Imam Muslim no 2985).

Dan Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam juga telah bersabda :

إن أخوف ما أخاف عليكم الشرك الأصغر قالوا يا رسول الله وما الشرك الأصغر قال الرياء إن الله تبارك وتعالى يقول يوم تجازى العباد بأعمالهم اذهبوا إلى الذين كنتم تراءون بأعمالكم في الدنيا فانظروا هل تجدون عندهم جزاء

“Sesungguhnya yang paling saya  (Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam) takutkan pada kalian adalah SYIRIK KECIL” Para sahabat bertanya : “Apa yang dimaksud SYIRIK KECIL itu?” Beliau menawab : “Riya`” Sesungguhnya Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa berfirman pada hari semua amal hamba dibalas (hari kiamat) : “ Datangilah orang yang dulu kalian tunjukkan amal (RIYA) kalian padanya di dunia, lihatlah apakah kalian mendapatkan balasan dari mereka.” (HR Ahmad no 22742 dan Al Baghawi. Syekh Al Albani berkata : sanadnya baik (jayyid) (lihat Silsilah Hadits Shahihah no 951)

Abu Umamah al Bahiliy melihat seorang lelaki di dalam masjid sedang menangis ketika sujud, kemudian beliau berkata : “Anda, seandainya ini anda lakukan di rumah anda (tentu lebih baik).” ……. bersambung insya Allah ……..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s